Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
81. Keputusan Abimanyu


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Rose terbangun dari tidur nyenyaknya. Gadis itu menggerakan kepalanya lembut, ke kanan dan ke kiri sambil tetap berbaring di bantal seempuk awan. Kelopak matanya masih sulit terbuka namun terpaksa harus terbuka saat suara gelas diletakkan di atas meja.


"Hngh."


"Diam saja di tempatmu," kata Abimanyu, orang yang meletakkan gelas. "Ini air kelapa. Kalau sudah bisa bangun, langsung habiskan."


Rose mendengkus. Bukan tidak mau bangun, tapi memang tidak bisa bangun. Tatapan Rose bergeser dari Abimanyu ke langit-langit kamarnya, menghela napas kesal.


"Kita akan pindah lagi?" gumamnya.


Abimanyu tidak menjawab karena jawabannya juga sudah jelas.


"Jika kamu bertemu Arina, beritahu dia untuk berhenti memerintah aku. Memang dia pikir dia siapa?"


Abimanyu masih diam. Fokus saja memasang dasi di lehernya.


"Aku tidak mau pindah lagi," kata Rose lebih keras dan terdengar merengek. "Aku tidak suka naik kendaraan. Sekalipun itu helikopter atau pesawat jet. Apalagi mobil."


"...."


"Hei, Bodoh! Berhenti pura-pura tuli!"


Abimanyu menghela napas lelah. Pergi ke sisi Rose, ruang kosong di dekat lututnya. Tangan Abimanyu terulur, menggenggam tangan kurus itu, hingga terselimuti oleh genggaman Abimanyu.


"Saya ninggalin sisa kebebasan saya cuma buat jagain kamu," kata Abimanyu. "Berat hidup kamu juga tanggungan saya, Rose."


Gadis itu membuang muka.


"Saya boleh nanya sesuatu ke kamu?"


"Apa?"


"Dari tiga calon penerus Mahesa, kamu yang paling berpotensi gantiin dia." Abimanyu mengusap-usap kecil punggung tangan gadis itu. "Kamu lemah dari lahir, sampe-sampe jalan pun susah buat kamu. Tapi dari seluruh sudut dunia, kamu punya banyak musuh yang mau nyakitin kamu. Cuma karena kamu 'keponakan'nya Mahesa Mahardika."


Rose tampak tidak menyukai topik ini. Namun dia mendengarnya dan menunggu sampai Abimanyu selesai.


"Kamu enggak nyesel lahir di dunia, Rose?"


Rose langsung mendengkus jengkel. "Kamu mau membanding-bandingkan nasib anakmu nanti dengan nasibku? Dasar menyebalkan. Hah! Tentu saja nasibku yang terbaik dan nasib siapa pun selain aku itu sudah jelas buruk."


"...."

__ADS_1


Gadis itu menarik tangannya dari Abimanyu, memutar posisi tidurnya membelakangi pria itu.


"Olivia benar," bisik Rose. "Jangan memaksa seseorang lahir menanggung takdir menjengkelkan."


"...."


"Tapi setidaknya aku tidak menyesal." Rose berucap sungguh-sungguh. "Di seluruh sudut dunia, aku salah satu orang yang lahir dengan darah terhormat. Terlalu terhormat sampai-sampai semua orang ingin aku menghilang. Bagiku, takdir menjengkelkan ini adalah caraku menghina mereka. Caraku merendahkan semua orang. Lihat saja, demi menjagaku, semua orang termasuk kamu harus mati jika memang perlu. Siapa orang yang bisa dilindungi seberlebihan aku?"


"...."


"Jika anakmu tidak bisa menjadi aku, dia cuma akan menderita. Tapi kalau dia bisa menjadi seperti aku, yah, kurasa setidaknya dia baik-baik saja."


*


1 minggu kemudian.


"Oi." Banyu menegur wanita yang masih saja sibuk di meja kerjanya itu. Banyu datang, meletakkan segelas kopi di mejanya, lalu mencubit pipinya agar dia mau berhenti sok tuli. "Ini kopi terakhir. Habis ini udah."


"Makasih yah, Babuku." Rara menyengir, tapi spontan meringis waktu pipinya malah tambah dicubit. "Aw, aw, aw! Sakit, Banyu!"


Rara memukul keras tangan adik iparnya itu.


"Sakit tauk! Tangan kamu nyubit tuh sakit, tau enggak sih kamu?!"


"Ck, udah deh diem. Aku bukan anak kecil!"


"Yang butuh tidur bukan cuma anak kecil."


"Banyu—"


"Abimanyu tau jalan pulang, Ra." Banyu menyentil kening Rara sebelum berbalik meninggalkannya. Persis sebelum ia menutup pintu, Banyu menambahkan, "Kalo lo ngerasa yang lo nikahin tuh orang brengsek yang enggak peduli sama lo, tanda tangan surat cerai, cari suami baru, bahagiain diri lo. Tapi kalo lo ngerasa dia enggak sebrengsek itu ... enggak ada gunanya kan lo galauin? Dia tau jalan pulang."


Rara menutup wajahnya bersamaan dengan suara pintu ruang kerja yang tertutup rapat.


Belakangan Rara sendiri tidak mengerti lagi dengan isi kepala dan isi hatinya. Berbagai hal terlalu campur aduk sampai Rara sendiri kadang bertanya-tanya ia sebenarnya ada di mana dan sedang melakukan apa?


Tapi kalau Rara larut dalam hal ini pun, memang hasilnya apa?


"Pantesan lo gila, Sakura," gumam Rara dengan napas terhela.


Ia berusaha untuk tidak gila walau merasa ingin gila, jadi buru-buru Rara beranjak, memutuskan buat keluar dan cari angin sebentar.

__ADS_1


Pekarangan rumah mertuanya sangat luas. Cukup untuk Rara lelah berjalan-jalan. Tak tentu arah ia melangkah, hanya agar pikiran beratnya terbawa sejenak oleh angin dingin malam. Entah berapa lama Rara berjalan, tapi seiring waktu ia lelah dan memutuskan pergi ke ayunan, di bawah pepohonan tempat keluarganya biasa bersantai.


Rara menyandarkan kepalanya pada rantai ayunan. Menatap kosong rerumputan yang hijaunya terlihat gelap akibat tak ada cahaya. Hampir-hampir Rara tertidur di sana ... andai sebuah mantel tidak memeluknya tiba-tiba.


"Tengah malem begini, harusnya di kamar."


Rara tertegun. Ia tak mau berbalik karena takut itu hanya halusinasi, namun Rara yakin betul bahwa itu memang suara Abimanyu.


Wanita itu menggigit bibirnya yang mendadak gemetar.


"Ngapain pulang lagi?" tanya Rara di antara tangis tertahan. "Katanya enggak mau pulang lagi."


".... Aku belum ngasih jawaban, kan?"


"Ngilang seminggu tiba-tiba itu udah jawaban."


"Aku cuma butuh waktu mikirin semuanya." Abimanyu berpindah persis ke hadapan Rara, membuatnya sadar bahwa itu memang bukan khayalan. "Juga butuh waktu buat mindahin Rose. Dia hampir mati, lagi, gara-gara perjalanan buat pindah kemarin lumayan panjang."


Rara mendongak, tapi tak ingin menjawabnya.


"Lagian," Abimanyu mengulurkan tangan ke wajahnya, "kemarin-kemarin kamu berdarah kan? Enggak bisa bikin anak."


Perkataan Abimanyu itu sukses membuat Rara tercengang.


Apa secara tidak langsung dia mau berkata setuju? Meskipun Olivia sebagai orang kepercayaannya menentang itu?


"Kenapa? Kamu ngambek dulu? Harus aku minta maaf dulu baru kamu mau masuk, bikin anak?" kata Abimanyu, yang setengahnya dibuat seperti guyonan.


Mungkin dia bermaksud memancing Rara agar berhenti bersedih. Tapi Rara masih terkejut untuk meladeni guyonan.


"Kamu mau ngasih?" Rara mengerjap tak percaya. "Biarpun Olivia enggak ngijinin?"


"Sejak kapan butuh izin Olivia buat keputusan hidup aku?" Abimanyu menarik tangan Rara abar berdiri, seketika itu memeluknya. "Permintaan kamu terlalu berat, emang. Mungkin Olivia bener. Tapi ... aku tau berat buat kamu juga."


"...."


"Aku bakal berusaha nanggung risikonya. Jadi kalau nanti dia ada, janji sama aku buat mastiin dia bahagia sama kamu."


Abimanyu mengelus-elus puncak kepala Rara, lalu menunduk, mencium keningnya bersamaan dengan Rara balas memeluknya.


Diam-diam, Abimanyu terpejam dan menarik napasnya dalam-dalam. Ia sudah membuat keputusan yang mungkin saja salah tapi ... untuk terakhir kali saja, Abimanyu ingin percaya bahwa ini pasti baik-baik saja.

__ADS_1


Selama Abimanyu menjaganya, meskipun dari jauh, anak itu dan Rara pasti baik-baik saja.


*


__ADS_2