Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
40. Ketakutan Abimanyu


__ADS_3

Perempuan itu bernama Kisa. Kisa Mariani. Dari identitas yang Abimanyu terima gadis itu berusia dua puluh tiga tahun, lulusan fakultas ekonomi yang kini bekerja sebagai investor saja. Dia sepenuhnya orang berbeda dan bukan Juwita.


Tapi Abimanyu tidak bisa melupakannya begitu saja. Dada Abimanyu sesak, ia gelisah bukan main sampai rasanya detik ini Abimanyu ingin turun, pergi menemui gadis itu untuk bicara sekali lagi. Padahal Abimanyu tidak tahu apa sebenarnya yang mau ia bicarakan.


Begitu selesai mandi, Abimanyu keluar, menemukan Rara sudah berselimut membelakangi tempat kosong untuk Abimanyu. Dada Abimanyu semakin sesak. Ia ingat akan janjinya pada Juwita untuk tidak merusak pernikahannya kali ini dan jika sampai Abimanyu benar-benar merusaknya, ia pasti tidak pantas disebut manusia lagi.


"Maaf." Abimanyu naik ke tempat tidur, datang memeluk tubuh istrinya yang ia tahu belum tidur.


Abimanyu cuma bergumam satu kata itu saja. Memejamkan matanya di dekat tengkuk Rara yang sedikit membuat Abimanyu tenang.


Malam ini seharusnya malam 'pertama' mereka di sesi bulan madu ini, tapi Abimanyu rasa Rara tidak sedang siap. Maka Abimanyu pun memutuskan tidur ... andai saja Rara tidak berbalik, menciumnya tiba-tiba.


"Ranaya."


"Sshh." Rara menggeleng. Dia duduk di atas perut Abimanyu, menunduk sendiri untuk menjemput ciuman selanjutnya.


Sebagai seorang pria Abimanyu jelas mudah tergoda. Pikirannya yang sempat kusut pelan-pelan tergantikan oleh gairah yang terpancing. Tangannya meremas tubuh Rara, menerima cara perempuan itu melampiaskan diri atas frustasinya sendiri.


*


"Tangan aku sakit."


Abimanyu mengambil tangan yang Rara sodorkan, memijatnya lembut.


"Bagian atasnya. Berasa kayak batu." Rara menunjuk bagian yang menurutnya paling tidak nyaman dan sekali lagi Abimanyu memijatnya sesuai keinginan.


"...."


"Udah." Rara menarik lengannya, justru berganti memeluk tubuh Abimanyu.


Aroma segar dari tubuh mereka yang sama-sama baru selesai mandi—karena beberapa waktu lalu berkeringat—membuat Rara merasa lebih baik. Apalagi Rara merasakan telapak tangan besar Abimanyu mengusap-usap punggungnya naik-turun.


Debaran jantung Abimanyu yang terdengar tenang ikut membuat Rara tenang.


"Curang, yah?" gumam Rara. "Aku bilang belum ngerasa pantes bahagiain diri sendiri tapi ujung-ujungnya aku takut ini selesai."


Abimanyu meletakkan bibirnya di puncak kepala Rara. "Enggak ada yang bakal selesai."

__ADS_1


Tapi Rara tidak bodoh. Perempuan tadi, gadis yang sangat amat mirip dengan Juwita itu pasti tidak akan pernah lepas dari pengawasan Abimanyu.


Jika besar cinta Abimanyu untuk Juwita membuat dia bisa melakukan semua yang selama ini dia lakukan, maka siapa Rara dibanding perempuan asing tapi berwajah Juwita itu?


"Ranaya." Abimanyu menunduk. Menyapukan telapak tangannya di wajah Rara dan lembut mengecup keningnya. "Perjanjian awal masih berlaku. Kalau aku bikin kamu sakit hati, pergi ke Juwita, suruh dia ledakin anaknya yang enggak guna ini."


*


"Lo bisa nyusul gue ke sini?" Hanya itu yang Abimanyu katakan dan Olivia terbang dari Kalimantan menuju Papua hari itu juga.


Mungkin selain Sakura, Olivia adalah orang terbodoh selanjutnya yang menyimpan rasa pada Abimanyu tanpa balasan. Bahkan dulu ketika Olivia cuma dijadikan objek pemuas nafsu sesaat, sedikitpun dia tak protes dan justru betah bersama Abimanyu sekalipun sakit hati.


Tidak mungkin Olivia tidak datang jika Abimanyu membutuhkannya. Namun sejujurnya Olivia pikir Abimanyu butuh teman tidur karena dia bosan dengan istrinya.


"Namanya Kisa." Abimanyu malah menyerahkan foto seorang perempuan yang sukses membuat Olivia tertegun. "Dia orang Bandung, enggak punya hubungan keluarga sama sekali sama Juwita."


Olivia menatap nanar pada Abimanyu. "Ini serius?"


Bahkan mungkin Om Adji, suaminya Juwita pun akan merasa bahwa perempuan di foto ini istrinya saking mirip mereka. Mungkin satu-satunya yang membedakan adalah Juwita sebagai wanita lima anak kandung, tiga anak tiri alias wanita delapan anak punya wajah yang lebih dewasa dan mulai keriput, sementara perempuan di foto ini adalah versi muda dari Juwita yang delapan anak itu.


Sudah jelas ini bukan kebetulan. Jika benar kebetulan, ini sungguh luar biasa. Namun masalahnya Abimanyu memang sedang menunggu 'sesuatu'.


Bukankah salah satu alasan Abimanyu dan Rara menikah adalah untuk menarik dalang dibalik percobaan perampokan hari itu? Sudah cukup lama waktu berlalu dan belum ada yang terjadi, lalu tiba-tiba muncul hal semacam ini.


Tentu saja seseorang sengaja melakukannya.


"Now it gets interesting." Olivia menyilangkan kakinya, fokus menatap wajah Abimanyu yang kusut. "Lo dulu prediksi 'mereka' nganggep Rara itu kelemahan lo dan lo sengaja bikin kesan seakan-akan itu iya. Tapi sekarang 'mereka' nyodorin kelemahan lo yang 'asli'."


Mereka tidak bisa menyentuh Juwita yang sebenarnya karena Abimanyu menjaga ibu tirinya sekokoh dia menjaga presiden negara ini, tapi siapa yang bisa mencegah jika seseorang berwajah Juwita muncul untuk mengecoh Abimanyu?


"So lo manggil gue jauh-jauh ke sini buat ...."


Abimanyu meremas tangannya satu sama lain dan punggungnya melengkung turun. Itu kebiasaan dia sejak lama jika ketakutan. Olivia langsung beranjak, datang memeluk Abimanyu sebagaimana yang selalu ia lakukan selama ini.


"Gue takut," bisik Abimanyu terus terang. "Lo tau gue enggak bisa ngelawan Juwita. Gue enggak pernah bisa. Tapi Ranaya udah naruh hatinya buat gue. Dia sayang sama gue."


Dengan kata lain dia takut pada serangan ini sebab dia tak bisa menyangkalnya namun dia juga berjanji pada Juwita untuk menjaga Rara.

__ADS_1


Sulit dipungkiri bahwa ini memang strategi matang dari seseorang. Abimanyu jelas tidak akan memprediksi seseorang bisa semirip itu dengan ibu tiri yang dia cintai.


Olivia sudah bilang ia punya firasat buruk sesuatu yang besar akan terjadi tapi ... apa benar-benar akan terjadi?


"Bos, sori ganggu lo tapi istri lo datengin cewek yang minta lo awasin."


*


Rara adalah wanita pendiam yang cenderung bersabar, tapi Rara sebenarnya tidak tahu cara untuk diam atas kegelisahan hatinya. Bukankah hari itu Rara juga mengacaukan Abimanyu dengan datang pada Sakura? Hanya karena Abimanyu membuat Rara berpikir dia berkhianat.


Sekarang Rara percaya bahwa Abimanyu tidak akan berkhianat tapi Rara tidak bisa berhenti merasa gelisah. Karena itulah ia harus melakukan ini.


"Yang kemarin megang-megang kamu itu suami saya."


Rara mendatangi Kisa, pengunjung hotel berwajah mirip Juwita itu.


"Saya enggak tau ada apa," Rara melirik perban yang melilit pergelangan Kisa, "tapi karena saya enggak mau overthinking tolong lain kali jangan terlalu ladenin dia."


Tentu saja Rara mengucapkannya secara sopan, bukan ketus apalagi main menilai dia pelakor. Besar kemungkinan memang Abimanyu yang tergoda sebab dia berwajah mirip dengan Juwita. Karena itu Rara hanya berharap dia bekerja sama untuk kedamaian bersama.


"Mungkin kamu ngeliat saya sebagai perempuan nyebelin yang asal nuduh. Saya tau, saya minta maaf. Tapi ada alasan kenapa saya—"


"Kamu enggak perlu jelasin."


Rara tertegun bukan karena perkataannya dipotong melainkan karena tatapan Kisa terlihat sangat familier. Itu ... tatapan seseorang yang sangat memahami situasi dan kondisi medan tempurnya.


"Abimanyu Laksmana, suaminya selebgram sekaligus tiktoker Sakura yang sempet terkenal karena ketahuan selingkuh sama kamu, sahabatnya Sakura yang sengaja manfaatin ini buat ikut terkenal."


Perempuan itu tersenyum penuh arti. "Kamu pikir saya enggak tau?"


Rara seketika tercengang.


Jadi kemarin ... adalah rencana perempuan ini?


*


ayok ayok. ditebak siapakah dia??? 😋

__ADS_1


__ADS_2