Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
86. Permintaan Seumur Hidup Abimanyu


__ADS_3

Beberapa jam sebelum Rose mendatangi Rara.


Gadis itu mengambil alih komando di meja strategi. Menyerap berbagai informasi yang bahkan sulit untuk diterima oleh Abimanyu dan seketika memberi perintah demi perintah untuk meredam kekacauan.


Wajah Rose terlihat semakin pucat dan napasnya tersekat-sekat. Keringat dingin membasahi wajahnya, sampai tak heran kalau sebentar lagi gadis itu pingsan. Namun dia memaksa tubuhnya agar terus sadar.


Abimanyu serasa melihat sosok Mahesa dari bagaimana Rose melakukannya. Karena itulah Abimanyu harus tetap di sana, menjaga Rose, memastikan dia bertahan hidup demi masa depan banyak orang.


Akan tetapi ....


"Abimanyu," Olivia tiba-tiba berbisik. "Tomoya barusan ngabarin gue."


Wanita itu meringis seolah-olah menahan rasa sakit di dirinya.


"Mobil yang bawa nyokap bokapnya Rara ... masuk ke jurang."


Abimanyu tersekat. Jantungnya serasa diremas dari dalam. Ia tidak mau percaya pada kabar itu dan menangisinya, tapi untuk melakukan itu saja mereka tidak punya waktu.


Malam ini ... rasanya seperti malaikat pencabut nyawa berbondong-bondong turun ke dunia.


"Gitu." Abimanyu harus menelan pahitnya tanpa ekspresi apa pun. "Kirim orang tambahan ke rumah bokap gue."


"Susah, Bi. Semua orang udah nyebar ke mana-mana." Olivia menggigit lidahnya kuat-kuat untuk menahan rasa gelisah.


Mereka tidak punya pilihan selain menyerahkan semuanya pada Banyu di sana.


Namun malam ini memang bukan malam yang penuh kelegaan. Hanya beberapa waktu setelah itu, Olivia kembali menerima laporan.


"Satu kompi pasukan Faksi Anti-Mahardika ngepung rumah lo."


Abimanyu terbelalak. "Enggak mungkin!" timpalnya langsung, lupa pada kondisi di sekitarnya. Rasa cemas dan takut membuat Abimanyu tak bisa berpikir sehat. "Mau tujuannya Rara sekalipun, sekompi enggak mungkin! Buat apa Kapten Pasukan sampe turun ke lapangan cuma buat istri gue, Liv?!"


Abimanyu berharap Olivia berkata dia bercanda, bahkan sekalipun sekarang tidak mungkin ada candaan. Namun yang Olivia lakukan justru membuat wajah putus asa, melipatgandakan keputusasaan Abimanyu.


"Karena lo penjaganya Rose."


Jawaban yang singkat namun menjawab segalanya.


Dan jawaban yang cukup membuat Abimanyu kehilangan ketenangan, bermaksud pergi menjaga keluarganya sendiri.


Tapi sebelum itu terjadi, sebuah tangan menangkap pergelangannya, menarik Abimanyu disusul sebuah tamparan keras.


"AKU TUANMU!" Rose sudah tidak bisa mengatur napasnya lagi. Asmanya kambuh dan tampak jelas dia sekarat, menuju kematiannya. Tapi perempuan itu seolah menahan kematiannya sendiri agar bisa tetap berdiri, agar bisa tetap di sini. "KE MANA KAMU MAU PERGI HAH, ANJING TIDAK BERGUNA?!"


"ROSE!" Olivia hendak menenangkan Rose namun ditepis.

__ADS_1


"Aku tahu soal keluargamu! Tapi memang kenapa?! Kamu mau lari ke sana bunuh diri dan melupakan tugasmu, hah?! Tetap di sini! Masa bodo dengan keluargamu mati! Kamu pikir hanya kamu?!"


Rose mungkin terlalu memaksakan dirinya sampai-sampai dia bisa mendorong Abimanyu terjatuh, atau mungkin karena Abimanyu terlalu kacau hingga melemah. Tak peduli yang mana jawabannya, Rose kembali terhuyung menuju meja strategi.


Ketika itu darah segar mengucur dari hidungnya. Tanda tubuhnya mulai tidak kuat.


"Rose, jangan maksain. Kalo lo kenapa-napa—"


"DIAM!" Rose mengusap darahnya begitu saja. "Aku ini penerus Paman, orang yang namanya diakui samapi ke ujung dunia. Aku bukan orang lemah seperti kalian."


"Jadi maksudnya itu." Abimanyu kembali berdiri. "Mereka ngerahin sekompi orang ke rumah masing-masing penjaga penerus Mahesa daripada langsung ke sini ngincer kamu. Buat mancing siapa pun, termasuk saya, ninggalin kamu."


Rose menoleh tajam. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun, terutama kamu, pergi dari sini."


"Kalau gitu," Abimanyu tiba-tiba berlutut, "ini permintaan saya seumur hidup."


Abimanyu menundukkan kepalanya yang terbiasa menengadah angkuh.


"Saya enggak akan pernah, sejengkal pun enggak akan, ninggalin kamu selamanya. Selamanya."


"Memang itu tugasmu, bodo—"


"Gantinya," Abimanyu mengepal tangannya kuat-kuat, "jangan ngorbanin keluarga saya."


"...."


"...."


"Masukin keluarga saya di sana, Rosella. Prioritas kamu hari ini. Tolong. Gantinya, jadi anjing kamu pun saya enggak masalah. Tolong, Rosella."


Olivia memejamkan matanya erat, berusaha untuk tidak menangis.


Ia merasa Rose tidak akan setuju. Karena bahkan kalau Rose tidak setuju, Abimanyu tidak akan meninggalkan Rose.


Ada masa depan di tangan Rose. Jika penerus Mahesa ikut mati bersama Mahesa, maka semua orang termasuk Juwita, Rara, dan adik-adik Abimanyu yang sangat dia sayangi juga akan merasakan neraka penjajahan.


Makanya tidak ada alasan Rose untuk menyetujui itu. Abimanyu, suka tidak suka, mau tidak mau, harus melindungi Rose yang akan melindungi semua orang.


"Baiklah."


Olivia tersentak. Begitu pula dengan Abimanyu yang seketika mendongak.


"Sebagai gantinya ... kamu benar-benar akan kehilangan hak untuk hidupmu." Rose menatapnya dingin. "Malam ini aku tidak tahu siapa yang berkhianat siapa yang diam-diam ingin menghancurkan kerja keras Paman. Karena itu kamu, dan juga kamu, Olivia, jika setelah ini aku masih hidup bersama kalian, sudah dipastikan kalian bukan pengkhianat."


"...."

__ADS_1


"Aku benci pengkhianat. Karena itu aku cuma ingin bawahan yang patuh padaku seumur hidup."


Abimanyu tanpa ragu menerimanya.


Kalau itu bisa memastikan Juwita dan Rara baik-baik saja, Abimanyu tidak keberatan jadi budak seseorang.


Lagipula dari awal memang sudah seperti ini.


*


Berita yang diterima Olivia sama sekali bukan bohongan. Bahkan mungkin disebut kurang. Saat Abimanyu tiba di kediaman orang tuanya, sebagian rumah telah rubuh ke tanah. Dari kerusakannya mereka jelas menggunakan bom.


Dari dalam mobil anti peluru, Abimanyu menggunakan teropong untuk melihat barisan musuh.


Seseorang yang duduk di atas mobil membuatnya tertegun.


"Gimana rasanya, Jagoan? Bikin cewek cinta sama lo sampe dia rela loncat ke jurang karena enggak kuat lagi nanggung cintanya buat lo."


Dia ... orang yang menangkap Zero.


Dulu Abimanyu tidak tahu siapa dia namun sekarang ia sudah mengenalnya.


Zayn. Eksekutif dari organisasi ZERO. Sebuah organisasi yang baru menonjolkan diri setelah mengambil Hara dulu dan hanya punya satu tujuan : memastikan Mahesa Mahardika dan semua penerusnya musnah.


"Olivia, berikan pengeras suara," ucap Rose, mengejutkan Abimanyu.


"Kamu mau ngapain?"


"Diam dan lihat saja."


Rose menarik lepas infus dari tangannya, menyambar pengeras suara dari tangan Olivia. Pintu kecil di atap mobil terbuka dan Rose memunculkan dirinya dari sana.


"Dengarkan, orang-orang bodoh."


Suara Rose bergema di seluruh tempat, membuat semua orang berpaling padanya. Zayn di sana terkejut melihat seseorang yang seharusnya paling disembunyikan sekarang malah muncul persia di depan musuh.


Tapi ....


Zayn mendongak ke langit, tertawa kecil melihat sejumlah helikopter dan dua pesawat tempur berputar-putar seperti lalat. Tuan Putri tidak mungkin keluar tanpa keamanan.


"Aku ini baik hati," kata Rose lagi. "Jadi untuk sekali lagi, kuberi peringatan. Rumah ini akan jadi tempat tidurku sementara jadi pergi dan biarkan aku tidur nyenyak."


"...."


"Jangan buat aku berhenti jadi orang baik."

__ADS_1


Perkataan Rose cuma akan mengundang lebih banyak musuh berbahaya datang ke sini, namun di saat bersamaan tentara pelindung Rose juga akan berkumpul untuk memastikan mereka mundur.


***


__ADS_2