Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
23. Uang Saya Enggak Cukup


__ADS_3

"Saya mau melamar anak Bapak."


Perkataan dari suami orang yang istrinya kemarin membuat masalah sampai-sampai Rara mau dijodohkan demi menghindari dia ... kini bahkan tak bisa sembarangan dijawab. Mama dan Papa juga pasti sudah menyadari seserius apa situasi sampai Abimanyu datang membawa backingan sekuat itu.


Papa berulang kali mengintip ekspresi Pak Menteri sebelum memberi kata pada Abimanyu. "Niat baiknya saya pahami, Nak, tapi bukannya Nak Abimanyu ini punya istri? Bukan apa-apa tapi kami sebagai orang tua kan berharap yang terbaik biat anak kami. Satu-satunya ini, masalahnya."


"Istri saya kabur ke luar negeri."


Jawaban Abimanyu singkat sekali dan minim penjelasan yang memuaskan tapi sungguh duduk di dekat Pak Menteri membuat pertanyaan di mulut Papa dam Mama pun jadi tertelan ke perut saja.


"Abimanyu itu anaknya bertanggung jawab," timpal Pak Menteri. "Kami sudah kenal lama pun sama keluarganya. Kalau istri pertamanya bermasalah itu enggak selalu karena Abimanyu yang kurang dalam bersikap."


Papa tertawa meringis. "Iya, Pak."


Pembicaraan pun berlanjut dan meski berusaha sangat halus, Rara melihat penolakan dari orang tuanya. Meski begitu Abimanyu berpura-pura tidak tahu sampai akhirnya kedua orang tua Rara menyerah.


"Kamu gimana, Nak?" Seperti yang sudah semestinya, mereka harus bertanya pada anak yang dilamar. "Kamu mau menikah sama Abimanyu?"


Rara merasa aneh karena ia gugup, padahal ini kan kesepakatan bersama dan bisa dibilang lamaran ini ya settingan mereka berdua. Tapi kenapa jantungnya malah berdebar seolah-olah ia benar dilamar oleh jodohnya?


Mulut Rara terkunci rapat dan ia cuma menunduk. Tiga kali pertanyaan diberikan dan Rara tetap diam yang berarti ia setuju.


*


Malam harinya kediaman Rara ramai didatangi oleh keluarga karena lamaran Abimanyu yang terlalu mencolok itu. Tapi Rara memutuskan buat mengurung diri di kamar, tidak mau turun menemui siapa pun atau di tanya-tanya soal apa pun.


Membiarkan keluarganya sibuk sendiri, Rara justru menghubungi Abimanyu.


"Dari semua pilihan kamu kenapa ngelamar saya sambil bawa Menko Polhukam?!" sambar Rara seketika, bahkan sebelum Abimanyu sempat berkata halo.


"Kalo saya bawa Menteri Keuangan nanti dikira saya mau ngasih kamu mahar uang negara," jawab pria itu santai.


"SIAPA YANG NGAJAK KAMU BECANDA?!" Rara ngegas, tapi suaranya juga berusaha ditahan agar tidak ada yang tahu. Biarkan mereka berpikir Rara sedang tidur pulas atau depresi karena terpaksa menikah gara-gara Pak Menteri yang datang melamar.


"Terlalu buang-buang waktu kalo harus ngikutin drama lamaran ditolak." Abimanyu menjawab serius seperti keinginannya. "Toh ujung-ujungnya saya sama kamu udah sepakat buat menikah. Manipulasi jawaban juga termasuk eksekusi kesepakatan."


"Iya sih." Rara menghela napas pasrah setelahnya.

__ADS_1


Tangan gadis itu meraih boneka di dekatnya untuk dipeluk erat. Memandangi kamarnya sambil merenungi sesuatu yang mungkin akan jadi masalah selanjutnya.


"Kamu bilang kamu nawarin mahar besar dan saya harus rendah hati buat nolak, kan?" Rencananya begitu. "Tapi gimana kalau orang tua saya minta banyak? Apalagi keluarga saya yang lain juga pada ngomong. Kamu tau kan urusan begini itu enggak cuma satu kepala. Kadang-kadang saya minta sederhana aja, tapi tau-tau dari pihak keluarga enggak mau kalo sederhana."


Abimanyu di sana sempat diam yapi kemudian berkata, "Kamu tau maksud saya bawa Pak Menteri?"


"Buat mastiin kamu enggak ditolak." Kan dia sendiri yang tahu jawabannya. "Emang kenapa?"


"Itu maksudnya ... batas saya itu Pak Menteri."


Rara tertegun.


"Mau kontrak atau bukan, pernikahan ya pernikahan. Berapa pun hasilnya nanti, selama enggak ngelewatin 'Pak Menteri' kayaknya saya masih sanggup."


*


"Saya minta maaf." Itu yang Rara ucapkan pertama kali pada Abimanyu seminggu kemudian mereka bertemu.


Wajah Rara terlihat sangat bersalah saat Abimanyu diam memandangi daftar permintaan pihak keluarga Rara yang kalau harus jujur ... sangat keterlaluan.


"Orang tua saya biasanya enggak materialis, tapi kayaknya justru karena kamu bikin mereka enggak nolak, Mama saya jadi 'emosi'. Apalagi keluarga saya, dari pihak nenek-nenek saya, semuanya ngusulin nambah ini terus itu."


"Apalagi karena kamu bawa Pak Menteri, mereka jadi ngeliat kamu punya banyak uang."


Memang sih dia punya banyak uang tapi sungguh list itu bukan seperti permintaan mahar melainkan malak, pemerasan.


Sedangkan Abimanyu yang melihat daftar itu masih diam.


1). Emas 200 gram


2). Sertifikat rumah


3). Mobil


4). Cincin berlian


5). Tanggungan biaya pesta keseluruhan

__ADS_1


7). Seserahan untuk pihak keluarga perempuan


Memang kelihatannya mereka agak 'emosi' saat meminta.


"Kita bisa batalin," ucap Rara yang wajahnya sudah memerah lantaran malu. "Mending bikin rencana baru aja. Enggak usah nikah begini. Kalo perlu biar saya aja yang bikin ulah. Kamu kan enggak bisa karena udah bawa Pak Menteri tapi kalo saya bilang enggak mau karena punya pacar, ya pasti batal."


Sumpah, Rara malu. Bahkan ia datang ke sini pun sambil menahan rasa malu yang mau memberhentikan jantungnya. Tak ia sangka keluarganya malah berbuat sejauh ini, padahal Rara sudah bilang ia mau sederhana saja.


Tapi pendapat Rara tidak mau didengarkan. Mama yang marah pun malah berkata, "Kan dia yang maksa-maksa kamu jadi ya tanggung sendiri akibatnya!"


Mama tidak merestui tapi gara-gara takut dipandang negatif oleh pejabat negara, mereka harus menyetujui.


"Kamu enggak perlu ngeluarin uang segitu banyak. Saya sadar diri luar biasa kalo saya enggak pantes. Jangan dengerin keluarga saya." Kalau begini sih Rara lebih memilih dihujat daripada hidup sebagai manusia tak tahu malu.


Apalagi ini cuma hubungan kontrak. Suatu saat akan berakhir. Sungguh tidak pantas.


"Rara."


Panggilan Abimanyu membuat gadis itu terkesiap tegang. "Ya?" Rara menelan ludah saat melihat Abimanyu meletakkan kertas itu di atas meja.


"Uang saya enggak cukup."


Rara menahan napas. Bahkan Abimanyu yang punya kediaman sebesar ini sampai berkata uangnya tidak cukup?


"Maaf." Rara menunduk semakin dalam. "Maaf, Abimanyu. Saya beneran enggak pengen nyusahin sampe sejauh ini."


"Uang saya cuma segini." Abimanyu mengulurkan ponselnya dan memperlihatkan saldo rekening sekian ratus juta.


"Ini emang enggak maksud akal," kafa Rara sambil meraih daftar permintaan keluarganya. "Biar saya yang bilang saya enggak mau ada beginian. Ada banyak cara lain buat saling nolong selain nikah enggak masuk akal begini."


"Saya setuju," balas Abimanyu tanpa ragu. Pria itu meraih cangkir kopi susu di atas meja, menyesapnya dengan tenang. "Makanya gimana kalo kamu bilang ke keluarga kamu, emasnya 500 gram tapi seserahan buat keluarga kamu diilangin?"


Heh? Apa tadi katanya? Rara cengo menatap pria itu ketika dia justru menunjuk ke arah luad.


"Pilih mobilnya sendiri di garasi," lalu menunjuk ke atas, "cincinnya di atas," lalu tangannya memberi isyarat dan seseorang datang membawa map, "sertifikat rumahnya di sini," lalu tersenyum, "dan pestanya di hotel saya. Uang saya enggak cukup beli seserahan buat keluarga kamu. Soalnya saya lebih suka megang emas langsung."


Rara tak sanggup berkata-kata.

__ADS_1


*


__ADS_2