
Tidak ada dari Aliansi yang tidak tahu bahwa Olivia adalah bayangan Abimanyu, karena itulah jika ada orang pertama yang mereka hubungi untuk kabar apa pun, orang itu pastilah Olivia.
Kini wanita itu berlari tergesa-gesa memasuki bangunan tempat di mana semua anggota dan eksekutif Aliansi tengah diobati. Jantung Olivia serasa diremas saat ia melewati foto raksasa Samuel yang menandakan pria itu gugur dalam perang kemarin.
"Abimanyu!"
Olivia merasakan tubuhnya langsung lemas oleh rasa lega melihat di pintu ruangan Abimanyu tidak terpajang foto. Itu berarti dia masih hidup.
Tapi kelegaan Olivia berubah tegang saat melihat seseorang lebih dulu berada di sana.
"Lo ...." Olivia menahan napas. "Lo ngapain di sini, Kisa?"
Kisa hanya menatapnya tanpa ekspresi. "Nama gue Juwita."
"Enggak usah ngaco!" teriak Olivia murka. "Mau lo gangguin Abimanyu juga enggak harus sekarang waktu dia—"
"Olivia."
Wanita itu tertegun melihat Abimanyu keluar dari ruangannya tanpa bantuan siapa pun. Dia terlihat baik-baik saja kalau Olivia mengabaikan tentang perban di kepalanya dan tangan Abimanyu yang nampak disangga dalam posisi terlipat.
"Bi." Olivia langsung menghampirinya. "Lo enggak pa-pa? Tangan lo enggak patah, kan?"
"Sehat." Abimanyu menjawab cuek. "Yah, jauh lebih mending daripada yang lain. Mending sekarang lo ganti baju. Kita ke upacara pemakaman."
Olivia masih kebingungan namun kata pemakaman membuat ia sadar diri. Benar juga. Aliansi pasti sedang berduka. Walau dari berita yang ia dapat mereka menang, namun sejumlah orang harus mati dan itu pasti sangat menyakitkan.
Olivia langsung pergi untuk berganti baju. Saat ia berbalik, samar-samar Olivia melihat Abimanyu dan Kisa bicara.
Apa Abimanyu yang mengundang gadis itu? Mungkin dia langsung masuk ke rencana selanjutnya? Kalau benar begitu maka Olivia harus mengikutinya juga.
Tak lama setelah itu mereka berdiri menyaksikan pemakaman massal dari semua anggota dan eksekutif Aliansi yang gugur. Olivia ikut muram melihat Samuel, Rohan, dan Salim dikuburkan bersama. Padahal mereka semua orang-orang hebat. Olivia sangat bersyukur Abimanyu masih diberi kesempatan berdiri di dunia ini sekarang.
"Ada rapat eksekutif habis ini," kata Abimanyu setelah semua selesai. Namun anehnya itu pada Kisa bukan Olivia. "Kamu tunggu aku di apartemen, yah?"
"Iya." Kisa mengulurkan tangan ke wajah Abimanyu. "Jangan maksain diri."
Ada yang aneh. Olivia merasa ada yang aneh dari mereka, terutama Abimanyu. Bukankah Abimanyu bilang sandiwara Kisa sudah berakhir karena perempuan itu mengaku sendiri?
__ADS_1
"Abimanyu." Olivia langsung menghampirinya begitu Kisa pergi. "Lo mau ke apartemen Kisa? Bukannya lo pulang dulu? Istri lo udah nungguin."
Abimanyu menoleh. "Kisa? Kisa siapa?"
Olivia memicing. "Enggak lucu, Abimanyu."
"Lo yang kenapa, Liv. Lagian lo ngajak ribut? Lo nyuruh gue pulang? Gue? Karena Sakura nungguin gue? Itu yang harusnya 'enggak lucu'."
Napas Olivia langsung tersekat. "Gue enggak ngomongin Sakura."
"Hah? Terus siapa?" Abimanyu mendengkus dingin. "Gue tau lo khawatir tapi gue bukan bocah. Mending sekarang pulang."
Ketika Abimanyu berbalik pergi dan Tomoya datang menyusulnya, Olivia entah kenapa merasa harus berlari ke satu tempat. Wanita itu masuk kembali ke markas, menemui orang paling penting yang pasti menyadari keadaan Abimanyu.
"Maksudnya apa, Pak?!" teriak Olivia tertahan akibat emosinya yang kacau. "Abimanyu, dia ... dia kenapa?!"
Hara menghela napas. "Itu kemungkinan dampak perang."
"Jadi maksudnya dia lupa ingatan?!"
"Lebih tepatnya memori Abimanyu lagi kacau. Kondisi dia sekarang masih terhitung 'beruntung' daripada yang lain."
"Aliansi enggak lepas tangan, Olivia. Abimanyu masih eksekutif." Hara menautkan tangan di atas meja. "Tapi kamu tau sendiri kan Abimanyu yang dulu gimana?"
Jadi pria ini sedang berkata bahwa Abimanyu sekarang memakai kepribadian Abimanyu yang dulu? Abimanyu yang sangat keras kepala, dingin, tidak mau dinasehati dan tidak peduli pada apa pun selain yang mau dia pedulikan?
"Juwita," ucap Olivia dengan suara tercekik. "Kalo Juwita?"
Abimanyu sekarang, atau setidaknya sebelum perang ini, adalah Abimanyu yang sudah berdamai dengan perasaannya pada Juwita. Dia sudah menerima semuanya dan tampak pelan-pelan jatuh cinta dengan istrinya yang baru.
Kalau dia kembali jadi yang dulu, berarti Abimanyu ... kembali menggila?
"Dari laporan," jawab Hara, "kemungkinan yang dia ingat cuma sampai ... dia berantem sama Juwita dan enggak pulang ke rumahnya karena sakit hati."
Olivia mematung.
"Dan samar-samar ada tanda manipulasi ingatan." Hara menatap lekat pada Olivia. "Dia nganggep Kisa itu orang yang susah payah dia temuin buat ganti posisi Juwita di hatinya. Dengan kata lain dia sekarang ... cuma mau sama Kisa."
__ADS_1
"Omong kosong!"
"Enggak. Itu mungkin." Hara beranjak dari kursinya, berputar menghampiri Olivia. "Dengerin saya, Olivia. Kemungkinan yang Kisa mau itu dokumen rahasia yang Abimanyu punya."
Olivia mengerjap. "Dokumen rahasia? Soal Aliansi?"
"Enggak. Soal negara. Kamu tau kan Abimanyu punya hubungan khusus sama Mahardika. Saya pribadi enggak tau itu apa tapi kemungkinan itu berkas yang enggak boleh sampe jatuh ke tangan orang lain. Mahesa punya kebiasaan kayak gitu. Dia bakal ngasih sesuatu yang penting soal negara ke orang-orang yang dia pilih buat masa depan negara."
Hara menepuk bahu Olivia. "Itu kemungkinan ada di rumah keluarganya Abimanyu. Atau lebih tepatnya dipegang sama Adji."
Olivia menelan ludah. "Kalo sampe Kisa masuk ke keluarganya Abimanyu dan dapetin itu, berarti ...."
"Perang yang lebih besar di depan mata."
Kedua mata Olivia langsung terpejam penat. Sialan Abimanyu. Dia benar-benar memberi beban berat di pundak Olivia selalu dan setiap saat.
"Kenapa enggak Bapak langsung tangkep Kisa aja? Demi Tuhan, saya ini bukan tentara negara!"
"Dengan tempramen Abimanyu sekarang, kamu kira dia bakal diem aja ngeliat kami nangkep orang yang dia anggep belahan jiwanya?" Hara mendengkus. "Itu sama aja minta Abimanyu ngancurin Aliansi dari dalem."
"...."
"Mahardika juga bilang kayak gini : biarin Abimanyu. Kalau demi Juwita dia rela ngasih dokumen negara yang harusnya rahasia, Aliansi cuma perlu jatuhin satu bom ke rumah mereka."
Jadi sekalian mengetes kesetiaan Abimanyu, mereka tak punya pilihan selain membiarkan Kisa berkeliaran?
Hah, Olivia berharap ia tak pernah mengenal Abimanyu. Tapi sialnya Olivia tidak punya pilihan lain kecuali terus terlibat dalam permainan ini.
"Saya boleh bocorin ini ke istrinya Abimanyu, kan?"
"Enggak masalah tapi jangan ngomongin soal dokumen tadi."
Sekarang Olivia harus menceritakan sebuah kisah tentang seorang pria yang hilang ingatan dan melupakan istrinya?Sungguh luar biasa dan sangat menjengkelkan. Tapi ....
"Kalo karena ini lo enggak bisa tahan sama Abimanyu," Olivia bergumam sendirian, "artinya lo enggak perlu lagi ada di hidup Abimanyu, Rara."
Kalau Mahardika sedang mengetes kesetiaan Abimanyu maka mungkin Olivia juga akan mengetes apakah Rara sanggup menerima kondisi Abimanyu sekarang atau tidak.
__ADS_1
Jika tidak, maka Olivia akan mengusirnya jauh-jauh dari hidup Abimanyu. Wanita yang tidak bisa menghadapi tekanan batin semacam ini memang tidak mungkin layak bersanding dengan pria itu.
*