Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
32. Jangan Takut Jatuh Cinta


__ADS_3

Memberi gadis perawan seperti Rara seorang veteran seperti Abimanyu memang sebuah ketidakadilan. Karena bisa-bisanya setiap kali melakukannya, justru Rara yang terbaring lemas sendirian. Abimanyu sudah tidur setengah jam dan kini sibuk menuangkan susu ke dalam cangkir kopi, sementara Rara bahkan masih tak sanggup membuka matanya.


"Kamu emang sengaja bikin saya begini atau apa?" gerutu Rara dengan suara amat lemah. "Kaki saya sakit semua."


"Lama-lama juga terbiasa."


Memang kurang asem.


Rara memaksakan dirinya untuk bangun—hanya setengah bangun—untuk meraih ponsel di atas meja dekat ranjang. Terdapat beberapa panggilan juga chat yang dikirim dari keluarganya, terutama Mama.


"Mama kayaknya nunggu kita pulang. Tadi kan emang rencananya kita enggak lama."


"Bilang aja kita lagi di rumahnya Pak Menteri diajak makan malem sama istrinya."


Pembohong ulung. Tapi ujung-ujungnya Rara mengikuti karena ia tahu alasan itu tidak bisa ditolak. Sebenarnya sih orang pun akan maklum jika Rara mengaku sedang menghabiskan waktu dengan Abimanyu sebagai pengantin baru, namun Rara juga anak satu-satunya.


Tidak bisa semudah itu orang tuanya memaklumi Rara pergi, bahkan jika ke rumah suaminya.


Lepas membalas chat Mama, Rara pun terduduk memandangi punggung Abimanyu. Kini pria itu berdiri di dekat jendela, menatap ke arah luar yang gelap gulita sambil menyesap kopi susu. Padahal sudah malam namun dia malah mengonsumsi kafein.


Tatapan Rara semakin intens pada otot-otot punggung itu. Sejumlah bekas cakaran tampak memerah di kulit Abimanyu yang putih dan Rara merasa senang saat tahu cakaran itu miliknya.


Berbahaya. Pria ini berbahaya. Rara takut sungguhan jatuh hati padanya.


Ataukah justru sudah?


"Sakura apa kabar?" Untuk menghapus sesuatu yang coba datang, masa lalu kadang memang jadi cara terampuh. "Kalian enggak resmi cerai, kan?"


"Enggak." Abimanyu menoleh. "Masih talak satu."


"Pernah enggak sih ada waktu kamu cinta sama Sakura?"


Abimanyu justru meletakkan gelas kopinya yang telah kosong. Pria itu datang mendekat, berdiri di hadapan Rara yang duduk, mengulurkan tangan ke wajahnya.


"Ranaya."


Belakangan ini tiap kali pria itu menyebut namanya secara lengkap dan bukan sekadar panggilan singkat, Rara merasa jantungnya terbakar. Napasnya pasti memberat dan pikiran Rara sangat sulit dikendalikan.


"Jangan takut," kata Abimanyu.


Rara mendongak. Berusaha tidak merespons usapan kecil di sudut bibirnya. "Takut apa?" Kenapa tiba-tiba dia membahas soal rasa takut?


Maksudnya jangan takut pada Sakura? Rara tidak pernah takut pada Sakura.

__ADS_1


"Ranaya," panggil Abimanyu lagi. "Jatuh cinta sama saya bukan dosa."


Bola mata Rara melebar sebagai respons. Secara spontan ia menepis Abimanyu dan membuang wajahnya ke arah lain. "Siapa juga yang jatuh cinta sama—"


"Kamu boleh nganggep saya punya kamu seutuhnya."


Rara menahan napas.


"Udah saya bilang, asal kamu enggak kurang ajar sama keluarga saya, enggak bakal ada yang ngalangin kamu milikin saya."


Abimanyu membungkuk. Tangannya menjemput wajah Rara agar berpaling, menatap lekat pada bola mata kecil itu.


"Gimana kalau mulai dari ganti 'saya' jadi 'aku'? Hm? Kamu mau?"


Rara seharusnya tersenyum malu dengan pipi memerah karena faktanya, walau Rara berusaha keras membantah, kenyataan yang pasti adalah Rara telah jatuh dalam pesona Abimanyu. Rara telah sepenuhnya mendalami perannya sebagai pelakor dan tidak lagi merasa bersalah atas keinginan memiliki pria itu.


Tapi sekarang Rara justru menangis. Matanya berkilau saat cairan bening memenuhi pelupuk mata itu hingga Abimanyu terkejut.


"Kamu kenapa—"


"Ngasih hati buat orang kayak kamu itu ibarat ngasih hak buat orang jahat nyakitin saya sepuas-puasnya." Rara mencengkram selimutnya. "Jatuh cinta sama kamu emang bukan dosa tapi kebodohan."


Abimanyu terdiam. Jika dia pintar dia seharusnya mengerti perkataan Rara tidak sepenuhnya salah. Bahkan justru Abimanyu yang paling mengerti bagaimana itu menjadi kebodohan.


"Kalau saya berani nyakitin kamu secara sadar tanpa alasan jelas, kamu boleh pergi ke Juwita dan bilang ke dia: Tante, anak sialan Tante mending mati aja. Saya yakin Juwita yang bakal ngirim misil buat ledakin saya."


Rara mau tak mau tertawa. "Enggak lucu," katanya menampar pelan wajah Abimanyu.


Pria itu ikut terkekeh kecil. Lantas tanpa berkata apa-apa lagi Abimanyu membaringkan pipinya di paha Rara, melingkarkan tangan ke punggung wanita itu dalam posisi yang terasa menggemaskan.


Walau sempat ragu sesaat, pada akhirnya Rara luluh, balas mendekap punggung Abimanyu.


*


"Jam tangan aku ilang." Esok harinya sebelum pulang ke rumah, Rara menyempatkan diri untuk pergi mengecek hadiah dari Juwita. Dan ternyata sejumlah barang hilang.


Rara menoleh pada Abimanyu yang bersandar di daun pintu.


"Tas kecil Gucci juga ilang."


Bahkan sekalipun Rara tidak memandang mereka sebagai seseorang yang benar-benar kaya, tidak ia sangka ada yang berani mencuri. Jumlahnya memang terlalu banyak untuk diawasi. Dua ratus lima puluh kado, mana mungkin mata Rara bisa mengawasi semuanya sekaligus.


Tapi bahkan jika begitu, apa mereka pikir Rara tidak akan sadar barangnya dicuri?

__ADS_1


"Maaf." Rara merasa harus mengatakannya. "Aku harusnya lebih hati-hati."


Abimanyu diam.


"Kamu marah?" Juwita adalah sosok yang seperti ranjau bagi Abimanyu. Bisa saja dia merasa marah karena Rara tidak menjaga hadiah dari ibu tirinya. Padahal semua itu mahal.


Apalagi jam tangan itu. Rara sudah memastikan harganya 10.000 dolar.


"Aku bakal ganti—"


"Kamu enggak kepikiran siapa yang ngambil?" Abimanyu akhirnya bersuara.


"Enggak pasti." Rara menggeleng. "Tapi," wanita itu ragu sejenak, "pernah ada gosip kalo Livia dulu suka ngambil barang orang. Tapi cuma gosip. Dan jujur aja aku curiga sama yang lain juga."


Abimanyu memejam.


"Kamu enggak marah?" Rara sangat takut dengan itu.


"Daripada marah, ini lebih kayak kesempatan."


"Eh?"


Abimanyu melangkah masuk. Membiarkan pintu di belakangnya tertutup dan mengurung mereka bersama ratusan kotak hadiah.


"Tugas pertama kamu sebagai partner bisnis aku," Abimanyu melipat tangan, "minta narkoba."


Rara cengo. Sepertinya tiap kali berhadapan dengan Abimanyu, otak Rara selalu dipaksa bekerja ekstra untuk mengerti arah pembicaraannya.


Kenapa barangnya yang dicuri malah berkaitan dengan narkoba?


"Maksudnya ganti ngasih jam tangan ... aku minta narkoba? Tapi di circle kita cuma Sakura yang make."


"Itu yang kamu tau. Kamu enggak dikasih tau karena dari awal kamu enggak masuk standar pelanggan mereka." Abimanyu menarik kursi untuk duduk. "Sekarang beda. Sekarang kamu istrinya Abimanyu. Jelas kamu udah masuk standar pelanggan."


"Bentar, jangan bilang maksud kamu ...."


Walau Rara menggantung ucapannya, Abimanyu mengangguk, membenarkan itu. "Organisasi perlu tau siapa yang ngontrol penyebaran narkoba kali ini. Kami perlu petunjuk dan kamu bisa cari itu dengan status kamu sekarang."


Rara mengerutkan bibirnya. "Ngasih jam tangan terlalu berlebihan."


"Yaudah." Abimanyu tersenyum miring. "Ambil lagi. Toh punya kamu."


Benar. Rara pasti akan mendapatkan jam tangan dan tasnya kembali. Juga mendapatkan narkoba yang Abimanyu inginkan.

__ADS_1


*


__ADS_2