
Abimanyu menatap ponselnya sejenak begitu panggilan dimatikan tanpa isyarat. Cukup mengerti bahwa Rara mungkin merasa sudah berbuat jahat pada Sakura, tapi Abimanyu tidak peduli.
Tatapannya kembali fokus pada layar, memantau laporan keuangan organisasi.
"Bos," panggil Tomoya, bisa dibilang tangan kanan Abimanyu dalam organisasi.
"Hm?"
"Lima orang tambahan udah berangkat ngawasin keluarga lo."
"Hm, bagus."
"Tapi emang perlu, Bos? Lo kan udah kayak bukan keluarga lagi sama mereka. Buat apa ningkatin keamanan di sana?"
Karena besar kemungkinan Sakura menyalahkan Juwita, lagi. Abimanyu mengenal Sakura bahkan sekalipun mereka tidak dekat. Abimanyu yang menghancurkan kewarasan gadis itu dan ia tahu orang yang paling Sakura salahkan dari hilangnya cinta Abimanyu adalah Juwita, ibu tiri Abimanyu.
Tentu saja dia tidak akan bisa menyentuh Juwita, tapi Abimanyu tidak ingin memberi celah.
"Iya juga, sih." Tomoya mengangkat bahu. "Dari persepsi bini lo ya nyokap tiri lo yang salah."
"Dia bisa nyalahin gue," balas Abimanyu tajam. "Sakura tau gue yang salah bukan Juwita tapi dia enggak mau nyalahin gue. Harus Juwita."
Sebab kalau dia menyalahkan Abimanyu, dia seperti meminta berpisah dan Sakura tidak mau itu.
"Bos, lo masih cinta sama nyokap lo?"
Abimanyu menarik napas. Lengannya terangkat menutup matanya yang tampak lelah akibat begadang. Sempat dia terdiam, tapi Abimanyu masih sempat bergumam, "Enggak ada di dunia ini yang kayak dia."
Bukan karena dia sempurna melainkan karena ... jika dia ingin Abimanyu meruntuhkan dunia ini untuknya, Abimanyu akan melakukannya.
Abimanyu berdiri di tempat ini juga karenanya. Mendapatkan semua yang ia miliki ini juga karenanya.
"Lo bilang Sakura yang terobsesi sama lo sampe milih nyalahin orang lain, Bos," Tomoya mendengkus, "tapi bukannya lo sama juga? Terobsesi sama nyokap lo sampe milih nyalahin Sakura."
"Makanya manusia enggak bisa jadi Tuhan, kan?" Abimanyu beranjak. "Terlalu egois dan cuma peduli sama diri sendiri."
"Mau ke mana?" tanya Tomoya yang merasa kalau dua jam kedepan Abimanyu seharusnya tidak punya rencana pertemuan di luar.
"Ketemu Olivia."
*
"So, lo beneran mau cerai sekarang?" Olivia langsung mengajukan topik itu begitu Abimanyu tiba di lokasi pertemuan mereka, lapangan golf tempat Olivia memang sering nongkrong belakangan.
Wanita itu bicara sambil tangannya sibuk memegang stick dan memperhitungkan kekuatan dorongan pada bola.
__ADS_1
"Bukannya lo bilang enggak buruk juga nikah sepuluh tahun dulu baru cerai?"
"Gue enggak bilang berarti enggak boleh cerai."
"Lo tuh munafik, yah. Jelas lo kasian juga sama Sakura. Lo yang bikin dia begitu." Olivia mendengkus melihat bolanya tidak berhasil masuk ke lubang sasaran. Lantas dia berpaling pada Abimanyu. "Lo rusak, lo rusakin anak orang, terus lo jadiin dia penjahat karena dia udah enggak guna buat lo."
Abimanyu hanya diam. Sibuk mengotori paru-parunya dengan rokok.
"Abimanyu." Olivia menghela napas. "Lo pernah enggak sih mikirin masa depan yang normal?"
"...."
"Fine, lo cinta sama nyokap tiri lo, terus selamanya gitu lo bakal begini? Like 'ah, gue Abimanyu, gue cinta sama Juwita tapi Juwita enggak cinta sama gue karena dia nyokap gue makanya gue mau hidup serampangan aja karena yang penting Juwita bahagia'. Nyokap tiri lo udah bahagia terus kenapa kesannya lo enggak panyes bahagia?"
Omelan panjang Olivia yang mungkin patut disebut berfaedah malah tidak dipedulikan karena ponsel Abimanyu berbunyi. Abai pada sahabat-sekaligus-selingkuhannya itu, Abimanyu mengecek si Pemanggil, menemukan itu dari perempuan yang tadi seenaknya memutus panggilan.
"Ya?" Abimanyu tentu menjawabnya.
"Sakura update story."
Abimanyu menoleh pada Olivia. "Liat story Sakura dulu," pintanya pada wanita itu.
Meski sebal karena repot-repot ceramah tapi malah teralihkan, Olivia membuka aplikasi untuk melihat maksud Abimanyu. Spontan wanita iti membelalak atas tulisan Sakura.
"Enggak nyangka ternyata temen bisa kayak gini," ucap Olivia membacanya. "Padahal makan minum bareng tapi suami gue pun mau lo ambil. Kurang gue apa sih, Rara?"
"Enggak seagresif perkiraan gue," gumam Abimanyu.
"Publik lebih simpati sama korban yang nangis-nangis," kata Olivia.
Di seberang sana Rara berujar gelisah, "Akun saya langsung banjir. Dari temen-temen saya juga belum ada yang ngomong. Sekarang fansnya Sakura mulai ngatain saya pelakor. Apalagi berita di akun gosip juga udah terbit."
Abimanyu mengerti. Sepertinya teman-teman influencer Rara belum mau ikut campur karena nama mereka juga belum terseret dan Sakura mungkin menahan diri agar mereka tidak merasa terserang lalu membela Rara.
"Saya tutup."
"Abimanyu!" Rara berseru panik. Bukannya diberi solusi, Abimanyu malah seperti lari.
"Biar saya yang urus. Kamu nonton aja." Panggilan itu Abimanyu matikan, beralih pada panggilan lain. "Kirim foto gue sama Rara ke akun gosip. Foto yang kesannya gue sama dia ketemu diem-diem di hotel."
Olivia yang kembali fokus pada permainan golf sempat ikut menimpali, "Itu bukannya bikin si Rara resmi jadi pelakor?"
"Bikin berita lain kalau gue yang ngejar," perintah Abimanyu lagi. "Kalo perlu bilang kalo gue ditolak berkali-kali."
"Kenapa enggak sekalian lo bayar aja temen gengnya Sakura buat ngaku? Kayak seakan-akan dia nanggapin gosip itu dari sudut pandang sahabat terus bilang 'gue emang beberapa kali ngeliat Abimanyu diem-diem deketin Rara tapi Rara selalu risi'." Olivia memberi saran.
__ADS_1
"Siapa?" balas Abimanyu, meminta pendapatnya lebih lanjut karena itu cukup baik.
"Si Livia? Setau gue dia sama Sakura emang enggak saling demen dari lama, terus konten-kontennya Livia ya isinya banyak gosip. Natural kalau dia yang ngomong."
Abimanyu setuju dan meminta orangnya untuk segera mengambil tindakan.
*
"Rara, ini maksudnya gimana?" tanya Mama yang pucat mendatangi kamar Rara. "Kamu kenapa dibilang pelakor? Maksudnya apa? Jelasin sama Mama, Nak!"
Salah satu yang paling Rara cemaskan memanglah ini. Orang tuanya akan ikut terlibat masalah gara-gara gosip tentang Sakura. Mereka bahkan tidak mengizinkan Rara pacaran sekalipun di lingkungan mereka normal memiliki hubungan itu, mana mungkin mereka tenang ketika Rara jadi selingkuhan suami orang.
Rara juga sejujurnya bingung mau menjelaskan bagaimana. Haruskah ia jujur atau haruskah ia bohong? Tapi kalau jujur, orang tuanya malah akan cemas dan menghentikan Rara.
"Rara, ini enggak bener kan, Nak? Kamu difitnah, kan?" Mama mengguncang tangannya berharap Rara berhenti diam.
"Aku ...." Rara berusaha mengatur napasnya yang terasa berat. Baiklah, ia akan berbohong sebaik mungkin. "Itu ... enggak bener."
Mama langsung bernapas lega.
"Tapi suaminya Sakura bener ngejar aku."
Mama terkesiap lagi. "Astagfirullah, Rara!"
"Aku enggak respons, Ma. Sama sekali. Aku enggak ngeladenin dia. Aku juga sadar dia suami orang."
Rara buru-buru meraih tangan Mama, meremasnya cukup kuat berharap dia juga merasakan kuat keyaninan Rara. Walau semuanya dusta.
"Aku enggak ngapa-ngapain sama dia. Sumpah. Percaya sama aku."
"Terus ini kenapa Sakura nyebut-nyebut kamu?"
"Karena dia enggak mau nyalahin suaminya." Rara berimprovisasi dengan informasi yang ia tahu. "Dia terlalu cinta sama suaminya makanya dia enggak mau cerai, padahal hubungan dia sama suaminya enggak sebagus yang dia tunjukin. Katanya itu semua bohong."
"Kata siapa?"
"Suaminya Sakura."
Mama membuka mulutnya tak percaya. Wanita itu kemudian menggeleng pucat, menepikan tablet yang sejak tadi dia pandang.
"Pokoknya jangan keluar-keluar dulu sekarang," putus Mama tegas. "Dan jangan berurusan lagi sama suami orang!"
"Iya, Ma. Maaf."
Ini masalah Abimanyu, kan? Pokoknya kalau dia masih mau ini berlanjut, dia harus menyelesaikannya sendiri.
__ADS_1
*