
Ketika Rara membuka matanya, ia sudah bisa merasakan pelukan erat Abimanyu. Wajah Rara menempel erat di dada bidang Abimanyu, merasakan dengan jelas detak jantungnya yang bertalu-talu. Itu menandakan bahwa Abimanyu sudah bangun setidaknya sejak beberapa waktu lalu.
Rara pun kembali memejam. Secara alami ia mencoba untuk meresapi detik demi detik irama jantung Abimanyu yang sudah sangat lama tidak ka dengarkan. Setelah empat tahun lebih, ini adalah kedekatan pertama mereka lagi dan Rara takut jika ini berakhir.
Ia takut jika Abimanyu menyuruhnya tetap pulang, lalu berpura-pura seakan tidak ada sesuatu di antara mereka lagi.
Rara belum puas. Ia masih merindukan Abimanyu. Ia tak mau menuruti dia lagi, berpisah bertahun-tahun lagi. Walau Rara tahu Abimanyu bukannya mau berpisah, tapi tetap saja Rara tidak mau.
Mungkin dia benar. Rara egois. Hanya memikirkan perasaannya sendiri. Tapi Rara bisa apa jika ia juga tetap mau egois?
"Kamu udah bangun?" Suara lemah Abimanyu tiba-tiba terdengar.
Rara seketika mengeratkan kedua matanya, tak mau bangun ataupun menjawab.
Namun Abimanyu ternyata bangkit hingga secara otomatis Rara yang menempel di tubuhnya juga harus duduk. Masih keras kepala, Rara memeluk punggung Abimanyu, tetap menenggelamkan wajah di dadanya dan menolak terjaga.
Ketika Rara pikir Abimanyu ingin menyuruhnya pergi, pria itu justru tersenyum samar, mengusap kepala Rara.
"Aku enggak ke mana-mana."
"Emang," jawab Rara serak. "Kamu nyuruh aku pulang, kan? Aku enggak mau. Aku mau di sini."
"Kamu kan lagi liburan sama tim kamu, Ranaya."
"Mereka bakal ngerti." Rara tetap memeluknya erat. Pokoknya ia tak akan melepaskan pelukan ini. "Ada Ibu juga sama Nayla."
"...."
"Kamu mau ngusir aku kan?" Rara menggigit bibirnya, berusaha tidak menangis walau pada akhirnya gagal. "Kamu mau nyuruh aku pergi, kan? Enggak bakal. Aku enggak sudi. Aku punya hak sebagai istri kamu."
"...."
Rara terisak-isak. "Jangan nyuruh aku pulang."
"...."
"Aku enggak mau pulang. Aku mau di sini."
Abimanyu tahu-tahu melingkarkan lengannya di punggung Rara, mengusap lembut tengkuknya.
"Kamu boleh di sini," bisik Abimanyu. "Aku cuma mau minum obat sama ambil makanan. Kamu tunggu sini, yah?"
__ADS_1
Rara akhirnya mau melepaskan pelukan itu, membiarkan Abimanyu beranjak. Barulah Rara sadar kalau perban sudah menghiasi kepala Abimanyu dan dia terlihat sempoyongan saat berjalan.
Tak lama dia pergi, Abimanyu kembali bersama Abirama dan Olivia. Juga pelayan yang datang membawa makanan.
"Sini." Abimanyu duduk di tepi ranjang, mengisyaratkan Abirama buat datang. Dia memangku anak itu dan mengarahkannya berbalik pada Rara. "Ini istri Papa, namanya Rara. Kamu panggilnya Tante Rara."
"Tante Lala?"
Rara tersenyum kecil. "Iya, Tante Lala aja."
Apa boleh buat kan kalau lidahnya belum bisa menyebut Rara? Dan Rara juga tidak ingin dipanggil Mama oleh Abirama. Bukan karena dia anak Abimanyu dengan wanita lain, tapi karena Dian tetaplah mamanya Abirama mau perempuan itu cuma perempuan mantre sekalipun.
"Tangan lo gimana?" Olivia ikut bersuara.
Rara mengangkat lengannya yang tertekuk. Seperti kata Abimanyu, lengan Rara luka cukup parah sampai tulangnya terasa ngilu.
"Sori," gumam Olivia. "Gue kelepasan."
"Enggak pa-pa." Rara juga sadar bahwa ia memang berbuat salah. Apalagi soal mereka bertengkar sehebat itu di depan Abirama yang notabene cuma anak usia empat tahun. Memang wajar Olivia marah.
"Gue udah nelfon Tante Juwita," jata Olivia lagi. "Katanya dia yang bakal nemenin tim lo balik kalau lo emang mau di sini dulu. Tapi kalau menurut gue, mending lo balik dulu mulangin tim lo sendiri. Gimana juga mereka tanggung jawab lo."
"Yaudah." Abimanyu memecah keheningan Rara. "Aku anterin kamu ke Juwita."
Pria itu turut menoleh pada anaknya.
"Kamu mau ketemu Nenek, kan?"
Abirama memiringkan wajah. "Nenek?"
*
"Papa, Nenek capa?"
"Mamanya Papa itu nenek kamu." Abimanyu menjawab anaknya dengan mata terfokus pada jalanan. Abirama duduk di pangkuannya, ikut-ikutan memegang setir seperti papanya. "Papanya Papa itu Kakek."
"Berhenti membicarakan silsilah keluarga. Jalankan saja mobilmu cepat," perintah Rose dari kursi belakang, yang terlihat sangat kesal.
Rara di kursi depan menoleh padanya, baru tahu kalau ternyata Rose itu punya tubuh yang sangat-sangat-sangat lemah sampai bisa disebut cacat. Walau tidak ada bagian tubuhnya yang benar-benar hilang atau rusak, namun dia bisa pingsan jika terlalu lama di kendaraan.
Entah kenapa Rara jadi lega, karena mustahil perempuan macam Rose bisa mendampingi Abimanyu. Kalau dia naik ke ranjang Abimanyu, dia kayaknya mati duluan sebelum Abimanyu melakukan apa-apa.
__ADS_1
"Harusnya tadi kamu bilang, Princess." Banyu kini sudah setia di sebelahnya, jadi budak. "Kalau aku tau, aku bawain helikopter tadi."
"Tanpa harus bilang, seharusnya kamu sudah mengerti." Rose membalas ketus. Seolah-olah dia memang menganggap Banyu sebagai kacung. Namun yang ajaib, Banyu menikmati peran sebagai kacung. "Abimanyu, tunggu saja kuadukan pada Paman. Berani-beraninya kamu memikirkan liburan keluarga saat bertugas menjagaku!"
"Dia sebenernya siapa?" tanya Rara pada Abimanyu, dengan bahasa Indonesia agar Rose tidak mengerti. "Dia nyewa kamu buat jagain dia, gitu?"
".... Bukan." Abimanyu melirik ke belakang sesaat. "Dia ...."
Banyu ikut memasanv telinga, soalnya jaringan informasi Banyu tidak bisa menemukan informasi apa pun mengenai perempuan ini.
".... Pokoknya orang penting. Terlalu penting buat disebutin siapa."
Banyu mendengkus sebal. Sedangkan Rara memilih tidak memaksa karena kalau sepenting itu, Abimanyu pasti akan terkena masalah jika bicara.
Sepanjang perjalanan yang sejujurnya tidak sepanjang itu, Rose sesak napas. Banyu bahkan langsung panik menggendongnya turun dari mobil, buru-buru membawanya masuk dan hampir memanggil dokter terbaik kota ini jika Abimanyu tidak mencegahnya.
"Tiduran sebentar juga entar baik lagi."
"Lo dasar iblis!" cerca Banyu murka. "Bisa-bisanya lo nyuruh gue ngeliatin bidadari sesak napas?! Buruan panggil dokter buat calon istri gue!"
Abimanyu menatap adiknya kasihan. Lebih tepatnya kasihan pada bagaimana dia tertipu oleh khayalan dia sendiri.
"Banyu ternyata bisa goblok juga," celetuk Olivia di sebelah Rara. "Emang dasar cowok. Enggak bisa kalo ngeliat yang cakep dikit."
"Kalo dia sih udah bukan cakep dikit lagi." Rara tersenyum kecut. "Ibarat kata, sembilan puluh persen cantik di dunia dikasih ke dia semua."
Olivia mendengkus, tapi bukan karena membantah melainkan tidak punya pilihan kata buat melakukannya.
Secantik itulah si Rose.
"Tapi lo enggak cemburu sama dia lagi? Kayaknya lo udah biasa aja."
Rara tersenyum. "Cantik sih cantik, tapi kalo dipegang patah-patah ya enggak guna juga. Seenggaknya buat Abimanyu."
Olivia tertawa. "Iya sih."
Walau sebenarnya diam-diam ada sesuatu dalam diri mereka yang gelisah, Olivia dan Rara memutuskan untuk tidak bicara apa-apa setidaknya sekarang.
Untuk sekarang saja.
*
__ADS_1