Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
92. Hamil Besar


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


"RANAYA SYIHAM!"


Rara langsung tersentak mendengar teriakan murka Juwita. Perempuan yang perutnya sudah sebesar semangka jumbo itu menggaruk pipinya, pura-pura menengok ke arah lain walau percuma.


"SINI KAMU, BOCAH!"


Juwita datang, menyambar telinga Rara hingga ia meringis.


"Aduh duh duh! Sakit, Bu!"


"Rasain!" Juwita berkacak pinggang. "Udah Ibu bilang berkali-kali sama kamu, ya! Berkali-kali sampe berbusa! Kamu itu lagi hamil! Udah dipasangin lift masih aja pake tangga!"


Rara cemberut. "Habisnya pusing, Bu, pake lift. Enggak tau kenapa."


"Halah, enggak peduli! Tahan-tahan kek sedikit!" Juwita tampak kesal, tapi kemudian menghela napas khawatir. "Kamu itu pernah hampir jatuh dari tangga, Rara. Ibu enggak mau lagi ah. Jangan naik tangga dulu, kecuali ada Banyu atau Cetta megangin."


"Iya, Bu." Rara cuma bisa pasrah. Padahal dulu waktu hampir jatuh itu bukan salah hamilnya tapi salah Rara pakai sepatu hak. Itupun waktu masih sangat awal.


Sekarang Rara hati-hati kok. Ia melepaskan alas kakinya, bahkan sandal, saat naik turun tangga. Tapi setiap kali Juwita tahu, pasti Rara dimarahi.


"Ssshhh." Rara tiba-tiba meringis, merasakan tendangan yang cukup kuat dari perutnya.


"Kenapa? Nendang anakmu?"


"Iya nih. Ibu sih marah-marah."


"Halah, salahmu juga." Juwita menarik tangannya. "Sini, naik ke kamarmu aja. Banyu kalo disuruh tiduran happy banget dia, kamu kok disuruh tidur doang susah bener."


Rara seperti anak kecil yang diseret pulang oleh ibunya dari tempat bermain karena harus tidur siang. Juwita menyeretnya sampai ke lift, menekan lantai kamar Rara berada dan lift pun bergerak.


Saat bergerak itu Rara mengerutkan keningnya pusing.


"Bawaan hamilmu itu, Nak. Lain kali enggak usah turun dulu. Di kamar aja."


Rara mengusap-usap perutnya.


"Papanya nanti malem mau pulang, Bu, jadi aku bikinin sesuatu."


"Ohya? Abi udah pulang?" Juwita ikut semangat. "Lama juga dia di Dubai. Hampir sebulan kan yah? Kalo gitu jatah dia pulang bakal lama juga dong?"


Rara sayangnya harus menggeleng. "Katanya lima jam aja. Itu udah paling lama. Soalnya Rose harus ke istana negara besok. Harus ditemenin sama Abi."


"Gitu yah. Mau gimana lagi." Juwita mengembuskan napas. "Kalo gitu nanti kalo Abi dateng, enggak usah turun. Kalian berdua aja."

__ADS_1


Rara cuma meringis kecil, tapi tidak menolaknya.


Abimanyu tidak bisa tinggal di rumah ini lagi ataupun di rumah sebelah, tempat yang dibangun khusus untuk Rara. Dia harus selalu berada di sisi Rose, dua puluh empat jam. Karena itu lima jam adalah waktu yang sangat singkat bagi Rara.


Tapi tidak masalah.


Asal dia selalu pulang setiap kali dia pergi.


*


Rara sudah setengah tidur ketika samar-samar ia merasakan sentuhan familier di perutnya, mengusap-usap naik turun dari balik dress tidur.


Meski ngantuk, Rara tersenyum karena tahu itu Abimanyu.


"Telat," gumamnya saat menerima kecupan lembut di pipi.


"Maaf." Abimanyu mencium seluruh sudut wajahnya. "Tadi sengaja tidur dulu pas nyampe."


"Hmmmm. Capek?"


"Lumayan." Abimanyu merapikan anak-anak rambut di sekitar kening Rara. "Kalo kamu ngantuk lanjut tidur aja. Enggak pa-pa."


Maunya begitu tapi kalau Rara tidur sampai pagi, Abimanyu pasti sudah hilang lagi karena kembali ke tempat Rose. Setengah tidur pun tidak masalah, asal Rara merasakan keberadaannya.


"Tadi aku dimarahin Ibu," adu Rara agar ada percakapan. "Aku turun pake tangga enggak pake lift."


Rara jelas cemberut. "Ya abis sejak hamil aku kalo naik lift langsung pusing, Bi. Kalo aku muntah-muntah pas perut aku begini, nanti Baby kenapa-napa."


"Kalo gitu jangan banyak gerak dulu. Nanti udah lahiran baru naik turun tangga lagi kalo enggak mau pake lift."


"Yakan bosen juga di kamar terus seharian." Rara mendadak ingat alasan kenapa tadi ia turun sampai dimarahi. "Ohiya, aku bikinin kue buat kamu tadi. Ada di bawah."


"Biar aku aja yang ngambil."


Rara menggeleng. "Sama aja. Sekalian pindah ke rumah sebelah."


Tanpa banyak membantah, Abimanyu mengulurkan tangan, bantu memegang Rara berjalan. Bahkan cara jalan Rara sudah berbeda sejak terakhir Abimanyu melihatnya.


"Aku gendong aja?" tawar Abimanyu, daripada dia kesusahan.


Tapi Rara menggeleng. "Enggak enak." Dia menuruni tangga satu per satu sambil memegang tangan Abimanyu. "Udah enggak nyaman semua posisi. Punggung aku pegel, perut aku keram, kadang-kadang kalo malem sampe nangis nyusahin Ibu."


"Juwita pasti ngerti. Dulu dia juga cengeng kalo hamil."


"Tapi tetep aja."

__ADS_1


Abimanyu tersenyum kecil saja. Begitu sampai di lantai bawah, ia merangkul pinggang Rara, mengusap-usap punggungnya. "Sabar yah? Aku enggak ngerasain tapi kalo butuh apa-apa bilang aja."


"Kamu sering pulang. Udah itu aja."


Abimanyu mengangguk. Satu bulan kurang, perkiraan Rara akan melahirkan. Dalam jangka waktu itu, Rose sudah memastikan tidak ada pekerjaan yang akan membuat Abimanyu tertahan apalagi melewatkan kelahiran anak keduanya.


Setelah mendapatkan puding yang Rara buat untuknya, Abimanyu menggandeng istrinya ke rumah mereka sendiri. Hanya ada satu lantai di rumah itu, permintaan Rara, dan lebih terlihat seperti rumah santai saja.


Di teras rumah terdapat ayunan tempat Rara biasa duduk bersama adik-adik iparnya. Abimanyu membantu Rara mengambil posisi di sana dan memilih untuk duduk di kursi saja.


"Ummm."


"Sakit?"


"Belakang aku." Rara terpejam nyaman saat Abimanyu mengusap kecil punggungnya yang nyeri. "Ibu kok bisa yah banyak anak? Aku baru segini aja udah banyak ngeluhnya."


Abimanyu seketika tertawa. "Juwita sok kuat doang depan kamu. Aslinya mah dia kebanyakan ngeluh."


"Tapi Ibu banyak anak kok. Berarti ngerasa baik-baik aja kan? Kalo aku aja udah ngerasa satu aja."


Abimanyu semakin tertawa. "Kamu tau kalimat paling pertama Juwita setiap kali habis lahiran?"


"Apa?"


"Enggak mau lagi."


Tapi ujung-ujungnya dia hamil lagi.


Abimanyu dan Banyu sempat protes juga pada Adji. Karena mereka takut jika Adji memperlakukan Juwita sebagai mesin anak yang kerjanya cuma hamil, melahirkan, lalu hamil dan melahirkan. Tapi Adji bilang itu kemauan Juwita sendiri. Aslinya Adji sudah ingin berhenti—karena kasihan—setelah Juwita melahirkan Milo.


"Enggak ada yang bakal sayang sama dia lebih dari kamu." Abimanyu mencium perut buncit itu. "Juwita pernah bilang kalau dia enggak pernah sebahagia waktu dia meluk anaknya. Kamu mungkin nanti enggak nungguin aku pulang lagi saking sibuk ngurusin dia."


"Enggak. Aku bakal terus nungguin kamu pulang kalo kamu pergi. Malah aku bakal lebih nungguin kalo Baby lahir."


Rara menarik kepala Abimanyu agar berbaring di dadanya dan Rara bisa mencium rambutnya.


"Kamu kali yang kalo Baby lahir enggak sayang aku lagi. Katanya bapak selalu lebih sayang sama anak perempuan daripada istrinya."


"Emang."


"Kok emang?!"


"Ya emang."


Elusan Rara berubah jadi getokan keras. Walau begitu Abimanyu tertawa, lanjut mengusili ibu hamil itu.

__ADS_1


*


__ADS_2