
Abimanyu sempat terdiam tapi kemudian dia melangkah, datang mendekati Rara. "Kerjaan saya ini berhubungan sama kriminal."
Rara yang mendengarnya agak tersentak. "Apa?"
"Jual-beli organ, jual-beli anak, jual-beli perempuan, alkohol, narkoba, semacam itu." Abimanyu berhenti di depannya, menunduk menatap wajah Rara. "Ada kalanya kalau saya telat satu jam kerja, puluhan anak bisa mati, perempuan yang bisa saya amanin justru dikirim ke luar negeri, anak-anak remaja bisa fly di ruang kelas mereka. Makanya kalau saya bilang sibuk artinya sibuk."
"...."
"Saya nepiin kamu karena saya rasa kamu juga setuju nyawa orang, masa depan orang, itu lebih penting daripada kebutuhan kamu."
"...."
"Tapi kalau kamu ngerasa rugi pun saya minta maaf. Jadi bisa saya anggap kita damai?"
Jadi maksudnya dia mau bilang Rara bertindak terlalu gegabah karena emosi?
"Udah telat." Rara berbalik. "Tadi saya bilang kalau kamu ngerasa rugi kamu bisa bales saya juga. Semua uang kamu yang saya abisin itu bakal saya balikin jadi anggep aja kesepakatan kita batal."
Abimanyu justru melipat tangan. "Saya enggak bilang saya rugi."
Rara jelas tercengang. Bukankah dia merasa kurang senang karena Sakura kini bertindak lebih berani dan berhenti membodoh-bodohi dirinya sendiri? Abimanyu kan sangat senang jika Sakura membuat dirinya terlihat menyedihkan dan layak ditertawakan.
"Toh Juwita juga enggak bakal dateng."
"Bahkan biarpun Sakura udah ngomong kayak gitu?"
"Juwita mau dateng. Jelas Sakura tau omongan dia bakal bikin Juwita dateng." Abimanyu memasukkan tangan ke sakunya, lalu berucap datar namun terdengar snagat angkuh. "Tapi saya enggak bakal biarin mama tiri saya sakit hati lagi."
"Lagi?"
"Saya selalu jadi alasan Juwita mau nyerah sama keluarga kami. Orang bilang karena saya anak kesayangan dia, bahkan lebih dari anak kandungnya. Walaupun saya enggak percaya. Tapi Juwita selalu milih nyalahin dirinya sendiri daripada orang lain, terutama saya."
Abimanyu terlihat muram saat berkata, "Dia mungkin lagi nangis nyalahin dirinya sendiri karena jadi alasan saya enggak pernah pulang lagi."
Sekarang Rara jadi agak merasa bersalah, walau ia tidak menyesal karena ia pun punya alasan melakukan ini. Jika Rara terlihat remeh di mata Abimanyu, dia bisa seenaknya memperlakukan Rara seperti alat saja.
"Kalau kamu bolehin saya bales kamu karena ngedukung Sakura, saya mau kamu temuin Juwita."
Rara terbelalak. "Saya?"
"Kamu udah ngaku ke Sakura kalau kamu bukan selingkuhan saya, kan? Gantinya ngaku ke Juwita kalau kamu orang baru yang bikin saya jatuh cinta lagi."
"Kenapa jadi—kenapa saya?" Rara hampir bertanya kenapa jadi dirinya yang harus berusaha melakukan sesuatu lagi padahal Abimanyu belum membantunya tentang perjodohan itu. Malah Rara belum sempat bilang karena Abimanyu tidak memberinya kesempatan bicara. Tapi Rara merasa itu juga penting ditanyakan.
Kenapa dirinya? Memang dirinya ini terlihat mencintai Abimanyu, begitu?
"Kamu manipulatif."
__ADS_1
Rara menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu enggak sadar? Lima tahun Sakura ngebodoh-bodohin dirinya sendiri buat saya dan baru kali ini dia agak pake otak. Walaupun yah ngomong di sosial media kayak gitu juga bukannya disebut pinter. Tapi intinya omongan kamu ke Sakura bikin dia ngelakuin sesuatu diluar kebiasaan dia."
Abimanyu menunjuk tepat di tengah keningnya.
"Kamu," ucap pria itu, "punya bakat jadi pembohong."
"...."
"Lagian siapa yang percaya perempuan muka polos kayak kamu ngancem saya pake cara kayak gini."
Rara membuang muka. "Saya enggak ngancem," sangkalnya. "Cuma buktiin saya enggak segampang itu ditindas."
"Cuekin telfon kamu emangnya termasuk penindasan?"
"...." Rara buru-buru berbalik pergi, tak mau memperlihatkan wajahnya yang memerah.
Kenapa kesannya jadi ia ngambek karena dicueki? Padahal bukan seperti itu!
"Ohiya, Abimanyu, saya mau—"
Rara berbalik sejenak untuk memberitahu dia tentang perjodohan itu, tapi Abimanyu kini malah sudah menerima telepon dari seseorang.
"Ya, gue ke sana sekarang."
Sekarang Rara juga sudah tahu bahwa dia tidak ingkar janji. Lain kali ia akan lebih percaya.
*
Mahen : Kamu ada waktu? Aku mau beliin Mama kado ulang tahun.
Rara sejujurnya kurang ingin terlibat dengan Mahen agar nanti ia bisa beralasan mereka tidak cocok jadi tidak bisa menikah, tapi Rara ingat Mahen agak membantunya kemarin mengenai perjodohan mendesak itu.
Mungkin tidak ada salahnya bersikap sopan.
Rara : Boleh, tapi agak sorean soalnya saya ada janji dulu.
Sesuai kata Abimanyu, Rara harus bertemu mama tirinya, Juwita.
Rara pun melanjutkan persiapan sebelum beranjak dengan memegang tasnya.
"Ma, aku mau keluar dulu."
"Mau ke mana, Nak?"
".... Ketemu Mahen."
__ADS_1
Mama langsung menoleh semringah. "Ohya? Bagus dong. Salam Mama buat Mahen kalo gitu yah."
"Iya, Ma."
Rara jadi memikirkan perkataan Abimanyu tentang dirinya berbakat jadi pembohong. Sejak dulu Rara sering berbohong pada Mama. Berkata mau ke A padahal ke B. Itu Rara lakukan sebab kalau ia terlalu jujur, Mama pasti akan mengekang.
"Saya udah mau berangkat," ucap Rara pada ponselnya sebelum ia mengirim suara itu pada Abimanyu.
Niatnya tidak mengganggu soalnya dia bilang sibuk, tapi panggilan masuk ternyata datang.
"Kamu ada waktu nelfon?" tanya Rara.
"Kalo kamu ngambek lagi, saya bisa kena masalah baru."
Rara berdehem, pura-pura tidak tersinggung. "Saya cuma bilang udah mau berangkat."
"Terus, saya harus bilang hati-hati di jalan?"
Rara mendelik pada ponselnya. "Kalo enggak mau ngomong enggak usah nelfon saya!" ujarnya sebal sambil mematikan panggilan.
Tapi panggilan masuk dari Abimanyu datang lagi dan Rara mau tak mau menjawabnya lagi.
"Kamu terlalu baperan. Kalo mau jadi artis, baperan itu sifat jelek," kata pria itu.
"Saya tergantung situasi," balas Rara tak mau kalah. "Terus sebenernya kamu mau ngomong apa?"
Untungnya Abimanyu berhenti mengejek Rara di sana. Dia lantas berkata, "Kamu ngerti harus apa, kan? Peran kamu itu jadi selingkuhan saya yang saya sayang."
"Saya tau." Rara sudah memikirkan dialognya sejak kemarin. Intinya adalah Juwita harus melihat Rara berbeda dari Sakura. "Ada lagi?"
"Jangan bikin dia sedih."
Rara tertegun.
"Juwita juga baperan jadi tolong jangan bikin dia ngerasa bersalah. Walaupun harus bohong kayak gimana, saya lebih berharap kamu bikin Juwita tenang."
Pria ini sepertinya sangat menyayangi ibu tirinya itu. Mungkin malah seperti ibu kandungnya sendiri. Rara baru pertama kali melihat seorang anak tiri sampai berlarut-larut mengkhawatirkan orang tua tirinya.
"Jangan salahin saya kalau habis saya bohong kerjaan kamu ngurusin itu makin banyak," balas Rara agar setidaknya suasana lebih tenang.
Ia malah jadi gugup karena takut salah bicara.
"Kalo gitu jangan ngecewain saya."
"Saya tau." Rara hanya menjawab singkat. "Kalo udah, saya tutup."
Panggilan berakhir di sana.
__ADS_1
*