Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
42. Cuma Akting


__ADS_3

Malam harinya Abimanyu juga berdiri di depan rumah, untuk pertama kalinya setelah sekian tahun ia tak pulang. Tentu saja karena Abimanyu tahu Rara ada di dalam sana.


Abimanyu melangkah masuk, baru saja membuka pintu ketika sebuah bogem mentah melayang padanya.


Walau itu ditangkis oleh Abimanyu.


"NGAPAIN LO BALIK KE SINI, HAH?!"


Abimanyu malah tersenyum. "As always adek gue emosian."


"ENGGAK USAH SOK ASIK LO, ANJING!"


Adji menarik lengan Banyu agar dia berhenti membuat keributan tapi juga menatap Abimanyu tajam. "Angkat kaki kamu dari rumah saya. Ini bukan tempat kamu," usirnya tanpa perasaan.


Kekecewaan begitu dalam di hati mereka karena mereka berpikir ini akan berbeda dari masa lalu, tapi pada akhirnya Abimanyu tetap sama dan sama sekali tidak berubah dewasa. Dia bilang dia akan begini dan begitu, padahal kenyataannya dia cuma membuat istrinya menangis.


Entah harus berapa kali Adji dan Juwita menanggung malu pada besan mereka sebab istri Abimanyu selalu menderita.


"Oke, fine. Aku pergi." Abimanyu mengangkat tangan. "Tapi Ranaya keluar dulu."


"Eh, Babi!" Banyu menyahut murka. "Lo nih ngerasa ganteng banget hah sampe bisa nyakitin orang semena-mena?! Dasar anak enggak tau diri!"


"Itu bikin sakit hati tapi fine, I'm sorry." Abimanyu menghela napas. "Dan, Pa, semuanya cuma akting."


"Kamu kira bisa ngada-ngada lagi sekarang?" balas Adji tajam.


Tapi Abimanyu lebih tajam menjawab, "Udah lebih dari dua lusin orang hilang bulan ini dan Papa pikir ini ngada-ngada?"


Perkataan Abimanyu yang sekilas tidak ada hubungannya dengan Rara itu justru membuat Adji tertegun. Pria itu pelan-pelan menangkap dan sikapnya langsung melunak.


"Kamu ...."


"Ya, Pa, aku mesti kayak gini even ini agak nyusahin. Because I have to protect my wife and I have to trust her and I don't have any other choice."


Abimanyu menurunkan tangannya, mulai memberitahu Adji apa yang sebenarnya terjadi.


Tentang Kisa yang memiliki wajah seperti Juwita, tentang seseorang yang dulu seperti mengetes nilai seorang Rara di sisi Abimanyu untuk tujuan tertentu terutama tentang Abimanyu yang yakin kini ia tak berbuat salah lagi.


Begitu mendengar semuanya, Banyu langsung menginjak kaki Abimanyu.


"Bangsat lo, babi! Anjing!"

__ADS_1


Abimanyu meringis tapi juga melotot. "Enggak kayak lo yang masih beban negara, gue ini army negara enggak resmi. Idup gue emang kayak gini!"


"Halah, taikucing."


Adji berdecak. "Dari semua cara kenapa kamu ... hah, terserah. Masuk, minta maaf sendiri sama istri kamu."


Abimanyu melangkah masuk dengan santai. Sekilas, tingkahnya itu kurang ajar dan tidak tahu diri hingga Cetta bahkan mau melemparnya dengan sandal. Tapi Adji yang melihat anaknya justru merasakan hal berbeda.


Anak itu sudah berbeda. Dulu dia begitu frustrasi masuk ke rumah hingga dia memutuskan tidak pulang berbulan-bulan. Namun sekarang dia masuk dengan senyum dan langsung tertawa kecil melihat istrinya dikelilingi oleh anak-anak Juwita.


"Pa." Banyu nampaknya juga menyadari itu.


Membuat Adji mau tak mau tertawa geli. Sepertinya kali ini Abimanyu sungguhan sudah dewasa. Padahal hampir sana Adji mengirim anaknya ke rumah sakit jiwa.


Di sisi lain, Abimanyu berjongkok di dekat Rara dan langsung menyodorkan ponselnya.


"Karena kamu pelakor, pasti kamu ngerti konsep kayak gini." Itu rekaman suara Kisa berbicara dengan Rara tadi, persis sebelum dia pura-pura terluka. "Perempuan itu suka jadi parasit di hidup laki-laki sukses jadi ... bukan cuma kamu yang mau sama Abimanyu. Kamu kira dia diciptain buat kamu sendiri?"


Rara yang mendengarnya langsung menoleh.


"Ranaya, Sayang." Abimanyu menghela napas. "Kamu pikir aku setolol itu?"


"Aku ngomong sesuatu yang kesannya pro ke dia?" Abimanyu mengambil ponselnya lagi dan memutar rekaman lain. "Denger, aku malah bilang janji bakal ninggalin kamu asal dia mau sama aku. Aku juga janji bakal beliin dia rumah, beliin dia berlian, bahkan pesenin dia rumah di Mars."


Rara tertegun. "Maksud kamu ... ini ...."


Ya, ini hanya semacam permainan kecil. Abimanyu sudah menyadarinya saat bertemu wanita itu bahwa dia bukan sekadar orang asing yang kebetulan bertemu Abimanyu. Tapi sebagai manusia tentu saja Abimanyu sempat goyah, kan? Ia juga punya perasaan dan punya kelemahan.


Karena itulah Abimanyu memanggil Olivia untuk meyakinkan dirinya sendiri. Orang yang paling tahu menampar Abimanyu selain Juwita hanyalah Olivia.


Sisanya adalah Abimanyu hanya harus bermain mengikuti permainan Kisa. Dia berpikir memakai wajah Juwita bisa membuat dia menang atas permainan—dan mungkin saja itu bisa terjadi.


Tapi Juwita-nya Abimanyu ... tidak seperti itu.


"ABIMANYU!" Juwita-nya Abimanyu adalah wanita yang sekarang mengangkat sapu di tangannya. "SINI KAMU, BOCAH! BANYU, CETTA, BAWA SINI ABANG SENGKLEK KALIAN INI! ABISIN AJA TELURNYA, DASAR TUKANG BOHONG! KAMU INI IDUP MAU INGKAR JANJI SAMPE MATI, HAH?! SINI KAMU!"


Ya, itu Juwita-nya Abimanyu.


Wanita yang membuat Abimanyu justru tersenyum geli saat dia marah-marah.


"NGAPAIN KAMU KETAWA-KETAWA?!"

__ADS_1


Abimanyu malah langsung masuk ke pelukan Rara.


"Sayang," rengeknya. "Juwita nyeremin. Takut."


Rara justru menjambak rambut Abimanyu. "Enggak lucu!" teriaknya kesal.


Demi Tuhan, Rara sudah berpikir bahkan sampai hidupnya sepuluh tahun setelah cerai dari Abimanyu dan tentu saja setelah balas dendam. Tapi ternyata itu semua cuma akting?!


Ya bagus sih tapi ... dasar brengsek!


"Maaf." Abimanyu berbisik. "Maaf bikin kamu nangis. But I really have to do that. Lawan aku bukan orang sembarangan."


"Papa emang denger soal kasus narkoba yang kamu kerjain." Adji secara alami masuk, membuat pertikaian itu redam meski Juwita masih memegang sapu. "Jadi maksudnya pihak sebelah punya informasi pribadi soal kamu?"


Abimanyu masih setengah berbaring di pelukan Rara dan kini tangannya sibuk membelai kepala botak Milo, adik paling bungsunya dari Juwita.


"Aku asumsiin itu dari Sakura," kata Abimanyu tenang. "Tapi yah yang Sakura tau soal aku enggak juga semua hal. Aku tau ini risky tapi aku udah punya gambaran besar soal mereka. Dan karena itu, kalau aku nolak mereka yang nyodorin Kisa sekarang, mereka mungkin bakal masuk sama strategi yang lebih rumit dan bahaya lagi. I'm not that stupid, Pa, please."


"Lo tuh stupid, njing." Banyu mengumpat tapi Juwita langsung melotot karena anak-anak lain mendengarnya.


Juwita akhirnya menghela napas, meletakkan sapu kembali karena ternyata dia tidak perlu menghajar anak sulungnya.


"Kamu enggak harusnya ngelibatin istri kamu soal bahaya begitu, Abimanyu." Juwita bergabung dengan mereka di karpet dan membiarkan Lila juga Nia bersandar padanya. "Bisa-bisanya kamu jadiin beginian mainan. Gimana kalau tadi Rara pulang ke rumah orang tuanya bukan ke sini?"


Abimanyu melirik wajah Rara. "Harusnya sih kita udah sepakat tapi yah ada orang yang baperan."


Wajah Rara memerah, langsung berpaling pada Yunia.


"Yuni, tolongin Kak Rara," rengeknya manja.


Yunia memukul tangan Abimanyu dan melotot. "Abang enggak boleh nakal."


"Abang enggak nakal, Baby. Abang tuh cuma susah ditebak aja."


*


wkwk, diprank abimanyu 😅


jangan lupa yah kerjaan abimanyu itu ngurusin narkoboy


gak mungkinlah dia jadi bego beneran.

__ADS_1


__ADS_2