
"Balikin jam tangan gue, Ca."
Caca tentu saja terkejut mendengar perkataan Rara yang tanpa tedeng aling-aling. "Lo manggil gue ke sini cuma buat ini? Buat nuduh gue nyuri?!" bentak gadis itu emosi.
Rara memiringkan wajah. "Tau dari mana jam tangan gue dicuri? Gue kan cuma bilang balikin. Siapa tau lo minjem."
Lantas Rara tersenyum. "Tapi karena lo ngaku jadi tolong balikin."
Wajah Caca langsung memerah. Dia mungkin tak menyangka kalau Rara bisa menemukannya secepat ini. Dan sejujurnya Rara juga tidak berharap menemukannya secepat ini, apalagi pencurinya adalah Caca yang secara ekonomi itu tidak miskin. Kalau Caca tidak jadi artis pun dia masih bisa membeli barang-barang mahal dari uang jajannya, tapi bagaimana bisa dia mencuri?
Semua itu Rara temukan berkat bantuan Abimanyu. Pria mengerikan yang membuat Rara sempat merinding. Suaminya hanya melihat rekaman CCTV di ruang tengah yang memperlihatkan teman-teman Rara datang dan pulang, lalu dia memerhatikan gerak-gerik mereka, ukuran tas mereka, sampai akhirnya Abimanyu memastikan kalau jam tangan itu ada di tangan Caca.
Sedangkan tas Rara dicuri oleh Livia.
"Awalnya gue nuduh Livia kalau bukan Hana. Soalnya mereka yang paling punya motif." Kalau dilihat dari sisi keluarga Livia dan Hana itu memang lebih sederhana, bahkan di bawah keluarga Rara. Namun mereka kaya secara pribadi dari pekerjaan mereka jadi kadang-kadang orang mengira mereka anak-anak elitis.
"Livia ngambil tas Gucci gue karena dia emang suka tas, tapi lo ngambil itu karena marah sama gue kan, Ca?" Rara tersenyum kalem. "Gue enggak bakal bilang siapa-siapa jadi sekarang balikin."
Plak!
Tangan yang barusan menampar Rara tampak bergetar oleh amarah pemiliknya.
"Enggak usah sok lo, pelakor!" teriak Caca penuh kebencian. "Cuma karena ngambil lakinya Sakura, lo kira bisa satu kasta sama kita?! Gue udah enggak suka sama lo dari dulu! Dari dulu lo tuh cuma lintah yang nempel-nempelin kita semua biar ikut tenar! Tapi liat ujung-ujungnya gimana? Lo nusuk Sakura, ngambil lakinya terus pura-pura seakan lo tuh pantes buat diperjuangin sama dia!"
Rara menyentuh pipinya yang terasa perih. Seumur hidup baru kali ini ia merasakan wajahnya ditampar. Ternyata sakit.
Tapi Rara sudah memutuskan sikapnya sebelum datang ke sini. Maka dari itu Rara kembali tersenyum.
"Enggak enak banget yah ngeliat orang miskin diperlakuin lebih baik daripada lo yang kaya dari lahir?"
Caca mengambil gelas minuman Rara dan langsung menyiramnya begitu saja. Tapi saat Rara malah menertawakan kemarahannya, Caca menggila, menerjang Rara dengan makian dan cakaran kuku tajamnya.
*
"Rara!!"
__ADS_1
Mama berteriak histeris melihat putri semata wayangnya kini duduk di ruangan rumah sakit, mendapat perawatan intensif setelah perkelahian tadi.
Beberapa orang polisi berdiri di depan ruangan, baru saja selesai meminta keterangan dari Rara selaku korban kekerasan yang viral baru-baru saja.
"Ya Allah, Rara!" Mama menangis melihat kulit tubuh Rara diperban sana-sini akibat luka. "Kamu kenapa bisa kayak gini sih, Nak? Mama kan udah bilang berenti aja begituan! Mama enggak kuat liat kamu begini terus!"
Rara tidak bisa menjawab.
Bagaimana ia bisa menjawab kalau semua ini sebenarnya rencana Rara juga? Walau yah Rara tidak berencana sampai dicakar-cakar dan terluka parah, tapi Rara memang berencana memviralkan pertengkaran itu sebagai balasan dari tindakan Caca.
Dalam circle mereka, Rara tahu bahwa ia masih diremehkan. Maka dari itu Rara mau menunjukkan pada mereka bahwa dirinya sekarang tidak semudah itu dipermainkan. Tapi Rara akui ia agak kelepasan.
"Abimanyu!" Mama tidak bisa tidak menyalahkan suaminya. "Kamu gimana sih jagain anak saya?! Saya berulang kali bilang ke kamu ini anak saya satu-satunya tapi kamu seenaknya mainin hidup anak orang! Kalo kayak gini terus, kamu enggak usah lagi temuin anak saya!"
Abimanyu menunduk. "Maaf, Ma. Ini emang salah saya."
"Jelas salah kamu! Semuanya salah kamu!"
"Ma." Rara menarik lengan Mama karena sudah berlebihan. Orang ini pilihan Rara juga. "Jangan kayak gitu. Kalo Mama ngatain suami aku, sama aja Mama ngatain aku."
Begitu mereka ditinggalkan berdua di dalam kamar, Abimanyu langsung bersedekap.
"Jadi kamu emang sengaja mau aku dimarahin?" tanya dia menuntut penjelasan.
Rara meringis. "Maaf. Bukan kayak gitu."
"Aku percaya kamu itu bukan Sakura yang mendadak bloon karena perasaan, tapi jangan bilang iya?"
"Bukan kayak gitu!" Rara menolak dikatai bloon. "Caca ternyata benci banget sama aku jadi detik itu aku mikir percuma nanyain sesuatu ke dia. Masih ada Livia."
Abimanyu menghela napas. "Padahal jalurnya Caca lebih bagus. Dia lebih sering ngobat."
Rara menelan ludah. "Jadi maksudnya aku ... salah langkah?"
"Enggak juga. Livia mungkin enggak ngobat. Beda dari Caca, Livia itu miskin dari segi ekonomi. Penghasilan dia paling banyak lewat konten dan itu enggak bisa dibilang stabil. Dia sama kayak kamu dulu, enggak masuk standar pelanggan."
__ADS_1
"...."
"Tapi harusnya dia tau sesuatu. Kamu bisa nanya ke dia nanti."
Ya, Rara memang berencana begitu. Setelah kasus ini viral dan Caca dikorbankan, Rara berencana mengancam Livia. Mau tidak mau Livia pasti mulai merasa takut padanya. Setelah Sakura, Rara nyatanya juga berhasil menjebak Caca dan membuatnya dihujat satu negara. Rara mungkin punya hobi menjatuhkan orang, Livia pasti berpikir sesuatu semacam itu dan jika benar, mengancam dia akan lebih mudah.
"Kasus kamu ini ... aku enggak bakal bantu banyak." Abimanyu menarik kursi untuk duduk. "Perlu ngasih kesan ke 'seseorang' kalau kamu sebelas dua belas sama Sakura. Dengan begitu kemungkinan pihak mereka yang bakal deketin kamu duluan."
Rara tersenyum-senyum.
"Kamu kenapa?"
Rara tertawa. "Enggak," jawabnya gembira. "Cuma ngelakuin sesuatu sendiri itu rasanya bikin puas."
Berguna bagi seseorang dan tindakannya memberi manfaat bagi seseorang itu menyenangkan. Selama ini Rara sering merasa ia tidak terlalu berguna. Hidup sebagai anak mama-papa yang dimanjakan oleh kasih sayang membuat Rara jadi tidak tahu rasanya menghadapi tantangan.
Makanya Rara senang. Apalagi jika nanti ia sungguhan bisa membantu Abimanyu mengatasi persoalan narkoba di kalangan artis. Hidup Rara yang selalu tidak berguna mungkin akan jauh lebih baik.
"Bagus kamu seneng." Tangan Abimanyu tahu-tahu sudah terulur ke wajahnya, mengusap bekas pukulan yang memar di sana. "Tapi bukan berarti nyakitin diri sendiri."
"Udah enggak—"
"Sakit?"
Padahal barusan Rara mau berkata sudah tidak sakit lagi, tapi entah kenapa ketika Abimanyu bertanya dengan seraut wajah serius, tatapan mata yang lekat dan kehangatan sentuhan lembutnya; jawaban Rara mendadak berubah.
"Udah enggak kayak tadi." Rara memejam. "Cuma perih dikit."
Abimanyu menarik wajahnya, mengecup kening Rara lembut.
"Ini terakhir kali aku liat muka kamu yang kena sasaran," bisik pria itu.
Kenapa Rara malah ingin tambah melukai wajahnya, yah? Apa otaknya memang mendadak bloon karena perasaan?
*
__ADS_1