
Kelahiran anak perempuannya menjadi salah satu momen paling berarti dalam hidup Abimanyu. Walau notabene ia bukanlah bapak baru karena sudah punya Abirama, namun kehadiran seorang gadis kecil yang mengemban darahnya serasa berbeda dan luar biasa.
Abimanyu tidak dapat menjelaskannya dengan kalimat tepat.
"Papa, udah waktunya minum susu loh. Dipantengin gitu enggak bikin anak kenyang."
Rara menegur tapi tertawa haru melihat Abimanyu seperti enggan melepaskan bayinya.
Sudah dua minggu berlalu sejak kelahiran anak mereka yang diberi nama Nabila itu, dan untuk pertama kali setelah bekerja dengan Rose, Abimanyu benar-benar pulang setiap hari.
Padahal biasanya dia cuma pulang tiga atau paling sering empat kali seminggu, lantaran sulitnya bolak-balik dari kediaman Rose ke kediaman ini.
Namun demi anaknya, Abimanyu rela pulang sekalipun cuma dua jam.
"Pinjem dulu anaknya yah, Papa." Rara meraih bayinya hati-hati untuk diberi susu. "Liat deh, kalo sama kamu tuh tidurnya nyenyak banget."
Abimanyu menyengir lebar. "Tau dia sama papanya. Iya, Nak?"
Walau lahir normal, Nabila bisa dibilang sangat kecil, hampir bisa disebut prematur. Di usia dua minggu ini, dia belum bisa banyak bersuara dan masih jarang menggerakan anggota tubuhnya.
Senyum pun hampir tidak pernah. Namun seperti kata Rara, Abimanyu bisa merasakan kesenangan bayinya saat Abimanyu ada.
"Papa minta maaf yah enggak bisa nginep sama Bila," bisik Abimanyu sambil mencium pipinya yang membulat saat menyedot ASI. "Papa kerjanya susah, Nak, makanya susah juga pulang. Nanti kalo Bila udah agak besaran, Bila nginep sama Papa yah?"
"Emang boleh?" Justru Rara yang merespons. Tentu saja, mana mungkin Nabila.
"Rose bolehin." Abimanyu tersenyum. "Kan normalnya emang ada cuti khusus buat kasus begini. Cuma Rose enggak boleh ditinggalin lama, jadi Rose bilang kamu aja yang dateng."
__ADS_1
Rara langsung terlihat senang. Sudah sangat lama ia dan Abimanyu tidak menginap bersama.
"Kapan-kapan yah?" balasnya antusias.
"Iya. Nanti kalo Bila udah bisa dibawa." Abimanyu lagi-lagi mencium anaknya gemas. "Cepet besar kamu, Nak."
Lalu dia menggeleng-geleng.
"Enggak deh. Pelan-pelan aja. Biar Papa nikmatin."
Abimanyu menggeleng lagi.
"Pokoknya sehat aja."
Rara yang melihat tingkahnya jadi gemas. Dicubit pipi Abimanyu dengan tangannya yang bebas. "Biasa aja dong, Sayang."
Abimanyu malah semakin terlihat konyol. "Mana bisa biasa, yah? Papa bucinnya Bila."
"Bila, mau Papa bucin ke Bila atau ke Mama?"
"Mama," jawab Rara seolah-olah itu jawaban Nabila.
Tapi secara kebetulan, mungkin karena terganggu saat menyusu, Nabila menggeliat seolah akan menangis.
Hal itu langsung dijadikan senjata oleh Abimanyu.
"Tuh, kan. Cemburu dia kalo Papa diambil. Mama, jangan ambil Papanya Bila dong, ah."
__ADS_1
"Udah ah, kamu ngaco." Rara mendorong punggung Abimanyu. "Udah sana. Mau jam enam loh. Entar Rose marahin kamu."
"Telat dikit bisa." Abimanyu berkilah. Pria itu berputar ke belakang Rara, memeluk tubuh wanita itu dalam posisi yang ikut membungkus tubuh kecil bayinya. "Cantik banget anak Papa."
Rara mendengkus. "Please yah stop. Kamu enggak segitunya sama aku."
"Beda."
"Idih."
"Yaudah." Abimanyu mencium puncak kepala Rara dari belakang, mengusap-usapkan dagunya di rambut perempuan itu. "Cantiknya istri aku, apalagi anak aku."
"Emang tuh kamu yah, Bi!"
"Hehe, namanya juga anak."
"Aku yang lahirin."
"Iya, iya."
Abimanyu menunggu sampai Nabila selesai menyusu, hanya agar bisa mencium-ciumi anak itu sampai puas sebelum pamit pergi untuk bekerja.
Imbasnya Abimanyu telat sepuluh menit, membuatnya dimarahi oleh Rose, namun Abimanyu terus tersenyum lebar memikirkan anak perempuannya.
*
bab ini sangat kontras dengan bab di ceritanya Nabila.
__ADS_1
btw, udah keluar yah ceritanya. sekali lagi langsung cek di sini 👇👇