
Banyu melepaskan tangannya yang menahan serangan Kisa, tapi perempuan itu tanpa diminta juga membuang pisau di tangannya. Dia terhuyung mundur, lalu meringkuk seperti anak kecil yang menyembunyikan wajah di lututnya sambil menangis.
Pemandangan agak terlalu menyedihkan untuk seorang agen yang dikirim menjadi 'bom' bagi mafia sekelas Abimanyu, tapi bagi Banyu itu adalah sikap normal. Pria itu memberi isyarat orang-orangnya pergi, meninggalkan mereka agar setidaknya dia tidak perlu malu menangis di depan semua orang.
Kisa terus menangis sampai-sampai suaranya terdengar serak. Walau sempat Banyu diam dan memilih menyaksikan, tangisan itu pelan-pelan mengganggunya. Dia menangis dengan wajah Juwita, itu membuat Banyu seperti melihat Juwita asli.
Tangan Banyu pada akhirnya terulur, menimpa puncak kepala perempuan itu.
Perbuatannya sukses membuat Kisa mendongak terkejut.
"Udah gue bilang gue janji," ucap Banyu pelan. "Gue janji nyelametin nyokap lo kalau lo setuju kerjasama. Gue enggak bohong soal itu."
Kisa menggigit bibirnya kuat. Mata dia terpejam sangat erat tapi air matanya meleleh seperti tetesan air yang tak bisa berhenti.
"Kisa." Banyu menarik tangannya. "Sakura di mana?"
*
Meski Abimanyu memperkirakan banyak tempat di mana Sakura berada, tak ia sangka kalau salah satu tebakannya benar. Atau setidaknya dari sekian pilihan, kemungkinan paling besar Sakura berada adalah di seberang pulau, markas rahasia organisasi Anti-Mahardika Internasional.
Walau memiliki nama sama dengan organisasi Mahen dulu bernaung, skala organisasi kali ini jauh berbeda. Ini benar-benar seperti kematian di depan mata dan Abimanyu tinggal memilih bagaimana ia harus mati.
"Skalanya terlalu besar," ucap pria itu di persembunyian mereka. "Kalo kita bawa pasukan ke sini, warga sipil juga bakal kena imbasnya. Kalo kita berdua pergi ke sana, sama aja milih mati dicincang-cincang."
Hara diam.
"Kita enggak punya banyak pilihan, Bos."
"Maksudnya pilihan selain gue nembak lo di sini?"
Abimanyu tidak menjawab tapi jawabannya sudah jelas.
Mereka tidak boleh gegabah melawan organisasi internasional, tapi mereka juga tidak bisa mundur begitu saja hanya karena gentar. Pertikaian ini akan redam sejenak jika Abimanyu mati.
Dari awal Abimanyu adalah sasaran utama mereka dalam strategi melemahkan Aliansi. Jika Abimanyu mati, maka setidaknya butuh waktu beberapa saat untuk mereka memilih target baru dan merencanakan strategi baru.
Dan keberadaan Sakura di tangan mereka akan sia-sia. Satu-satunya kelemahan yang Sakura pegang itu kelemahan Abimanyu, bukan kelemahan Aliansi. Jika Abimanyu hilang maka kegunaan Sakura juga akan hilang.
__ADS_1
"Bos."
"Lo ngerti lo ngomong apa, Abimanyu?"
"Enggak." Abimanyu menggeleng. "Gue enggak ngerti. Sama sekali."
"...."
"Sakura punya banyak amunisi, Bos. Terlalu banyak. Kisa, orang yang mukanya dibikin semirip mungkin sama Juwita. Terus Dian, yang ternyata punya anak dari gue. Kalo ini dilanjutin gue enggak tau apa lagi yang bakal dikeluarin sama Sakura. Faktanya, mungkin Sakura jauh lebih tau banyak kelemahan gue daripada gue sendiri."
"...."
"Do it, Boss. I'm doing my best, so do you."
Jika Abimanyu pulang, dengan kata lain berhasil pun dalam misi ini, mungkin kedepannya akan bermunculan satu demi satu hal yang telah ia lakukan di masa lalu. Namun jika Abimanyu tak pulang maka hal itu akan berhenti bermunculan. Rara, Juwita, dan semua orang setelah itu yang merasakan pahitnya perbuatan Abimanyu juga akan berhenti merasakannya.
Mungkin diam-diam Abimanyu berpikir itu yang paling terbaik.
Bahwa sosok dirinya ini lenyap saja dari dunia agar tidak ada lagi kesedihan apalagi kekecewaan di wajah Rara dan Juwita.
"Bos, gue—"
"Abimanyu," gumam Hara, "udah telat."
Persis setelah itu hujaman peluru menembus dinding kayu persembunyian mereka. Hara dan Abimanyu secara insting bertahan, meraih senjata dan pertahanan yang mereka bisa sebelum dinding-dinding roboh, disusul kepungan musuh berpakaian perang lengkap.
Dalam hatinya Abimanyu hanya berharap kalau Rara di sana tidak menangisi apa pun tentang mereka lagi.
*
"Sakura udah enggak ada."
Pada saat kalimat itu dilontarkan, telinga Banyu yang sempat mendengar detakan jam per detiknya seketika berdengung dan tak lagi mampu mendengar apa pun. Matanya hanya bisa terpaku pada sosok Kisa, sementara napasnya tertahan secara internal.
Perempuan itu mengusap air mata yang menbasahi wajahnya sendiri. Tersenyum muram saat dia berpaling pada Banyu.
"Sakura udah lama enggak ada."
__ADS_1
Banyu kini menjadi patung.
"Dia bunuh diri di hari Abimanyu sama Rara nikah."
Hah? Bagaimana bisa itu adalah faktanya? Jelas Sakura yang menggerakan semua hal ini karena hanya dia satu-satunya—
"Dia cuma ninggalin cerita buat jatuhin Abimanyu." Kisa menutup wajahnya sekali lagi, mendadak ketakutan. "Dia bilang dia sadar kalau kedepan, biarpun dia hidup, militer negara yang bakal ngejar dia karena dicap sebagai pengkhianat. Jadi daripada hidup buat nunggu kapan dia disiksa, dia milih bunuh diri, ninggalin semuanya."
"...."
"Jadi percuma Abimanyu ngejar Sakura. Percuma dia pergi nyari Sakura sekarang. Yang bakal dia dapet cuma karma."
Kisa bahkan masih punya cerita selanjutnya untuk meyakinkan Banyu bahwa itulah kenyataannya. Hal-hal yang menyerang Abimanyu selama ini cuma sesuatu yang bisa disebut 'wasiat' Sakura bersama dendamnya.
Tapi sebelum Kisa bisa mengatakannya, Banyu tiba-tiba tertawa. Pria itu tertawa dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin membasahi pelipisnya.
Mungkin Kisa tidak memahaminya sampai sejauh itu tapi Banyu masih ingat. Orang yang mendesak Abimanyu menikah saat itu, agar perasaan Abimanyu pada Juwita terbukti sudah hilang, adalah Banyu sendiri.
Banyu yang memaksanya.
Walau memilih Sakura adalah sepenuhnya keputusan Abimanyu, tapi Sakura tidak akan menjadi istri Abimanyu jika Banyu tak mendesak abangnya menikah. Dan kalau Sakura mati lantaran siksaan jiwa atas pernikahannya maka ... itu berarti Banyu penyebabnya?
"Shiit." Kini Banyu yang menyembunyikan wajahnya seperti pecundang. "Shiit, Sakura. Shiit!"
"Aku bilang sama kamu, Bocah." Suara Juwita tiba-tiba terdengar, membuat wajah Banyu semakin pucat.
Mereka mendongak, melihat wanita itu turun dengan ekspresi muram pertanda dia mendengarnya. Paling tidak mendengar soal kematian Sakura.
"Aku bilang sama kamu dulu, itu bukan keputusan baik. Kamu enggak mau dengerin aku," kata Juwita penuh penekanan.
Banyu hanya bisa mengatup mulutnya. Menjadi penyebab kematian seseorang ternyata lebih menakutkan dari apa yang bisa ia bayangkan.
"Tapi udah." Juwita berjongkok, mendekap Banyu seolah-olah ingin mengambil semua ketakutan itu. "Kalau kita salah, kita harus tanggung jawab."
Sakura pasti telah mengambil seluruh karma dari perbuatannya dengan kematian itu. Siapa pun tahu kematian adalah sesuatu yang bahkan tidak bisa disesali, apalagi diperbaiki. Sekali itu datang, selamanya akan demikian.
Tapi Juwita selalu berkata pada anak-anaknya, terutama Banyu dan Abimanyu, bahwa Sakura bukan berarti penjahat yang harua terus disiksa karena dia pantas.
__ADS_1
Karena jika hal seperti ini terjadi, bahkan orang tak berdosa pun akan merasa bersalah.
*