Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
55. Rencana Gagal


__ADS_3

Rara pada akhirnya bermalam di kamar Abimanyu dan memeluknya sepanjang malam seperti yang selalu ia lakukan sebelumnya. Ketika pagi Abimanyu masih tidur, Rara terbangun dan berniat pergi untuk mandi dulu.


Di depan kamar, ternyata Kisa sudah berdiri.


Rara langsung tersenyum.


"Kemarin kamu ngancem saya, kan?" Kini gantian Rara yang melewatinya bersama bisikan, "Coba aja ... kalo bisa."


Kalau sekadar bermain licik dan kotor, pikirnya Rara tidak mampu? Maaf saja tapi orang-orang sering salah paham terhadap Rara hanya karena wajahnya ini kurang ketus.


Sedangkan Kisa yang ditinggalkan bersama bisikan itu cuma mengepal tangannya kuat-kuat. Perempuan itu mendorong pintu kamar Abimanyu, menemukan pria itu baru saja terbangun dari tidurnya.


"Kamu bukannya mau jauhin Rara?"


Abimanyu melirik Kisa seketika. Mulutnya tidak bersuara walau matanya melihat jelas wajah Juwita di wajah perempuan itu.


"Kenapa kamu repot-repot bohong, janji sama aku soal itu padahal kenyataannya kamu mau main belakang?"


"...."


"Kenapa? Kamu enggak punya jawaban?"


".... Punya." Abimanyu menurunkan kakinya ke atas permukaan lantai tapi tetap duduk di tepat tidur, mendongak pada Kisa. "Soal yang kemarin, Juwita, kamu ... enggak, lo ... siapa?"


Kisa bahkan sampai menggigit lidahnya sendiri. Abimanyu masih menyebutnya Juwita jadi dia tidak mengingat nama Kisa, tapi bagaimana bisa dia secepat ini menyadarinya?


"Gue enggak tolol apalagi bisa digoblok-goblokin." Abimanyu kini menatapnya tajam. "Kalo lo emang Juwita, penggantinya Juwita buat gue, kenapa enggak ada sama sekali perasaan dari lo atau dari gue satu sama lain?"


"...."


"Bahkan sama Sakura, gue enggak seasing ini. Sebenci-bencinya gue sama Sakura, ada kesadaran di diri gue kalau dia istri gue."


Abimanyu bangkit, menatap Kisa dengan sorot mata dinginnya.


"Kenapa lo yang mukanya kayak Juwita enggak bikin gue ngerasa lagi sama Juwita?"


"Abimanyu—"


"Atau sekalian mau gue buktiin, pulang buat ketemu Juwita, ngerasain gimana rasanya kalo gue ngeliat dia?"


Abimanyu menunduk pada Kisa, menatap dalam-dalam matanya yang tengah berkaca-kaca.

__ADS_1


"Tiap kali Sakura marah soal cewek, gue bisa tau dia cemburu. Bukan cuma dari ekspresi, dari nada suara, dari gestur badan, dari cara dia napas juga ketahuan dia cemburu. Dia marah, sakit hati, sedih karena gue suaminya nyakitin dia."


Keringat dingin membasahi pelipis Kisa.


"Terus kenapa gue enggak bisa ngerasain lo cemburu, Juwita? Lo bilang lo di sini buat gue, buat jadi Juwita yang gue mau tapi kenapa ... seakan-akan lo sama gue itu cuma orang asing yang kebetulan satu tempat sekarang? Lo bisa tolong jawab itu?"


Kisa mengepal kuat-kuat tangannya. Sejak menerima misi ini ia tahu risikonya besar. Tidak mungkin orang sekelas eksekutif Aliansi bisa semudah itu ditaklukkan. Tapi Abimanyu yang kelemahannya terpampang nyata membuat siapa pun pasti berpikir bisa menyerangnya.


Seharusnya begitu.


Seharusnya begitu tapi kenapa dia sekarang malah seperti dilindungi oleh tembok baja yang lebih kokoh?


Kalo ngarang cerita yang lebih absurd bisa-bisa Abimanyu makin curiga, pikir Kisa di antara kepanikannya yang bisu. Lari dari sini juga pasti langsung ditembak mati.


Kalau begitu satu-satunya cara memang cuma itu, kah?


"Perempuan selain Juwita emang selalu jadi mainan kamu, kan?" Kisa tersenyum miris. "Bukan cuma Sakura, aku, Olivia, dan siapa pun lagi yang jadi pelampiasan kamu karena perasaan kamu yang ketolak, itu semuanya cuma mainan."


Abimanyu tertegun.


"Kalo emang kamu udah bosen sama aku, tinggal bilang, Abimanyu. Enggak perlu pake cara berbelit."


Kisa berbalik setelah melempar serangan yang pasti membingungkan Abimanyu. Ucapan tadi mau tak mau membuat dia bimbang. Dia punya kesadaran tinggi terhadap dirinya sendiri bahwa dia suka menyakiti orang lain, demi melampiaskan emosi.


Ia harus melenyapkan Rara agar Abimanyu tidak terus goyah oleh keberadaannya.


*


Kisa mengeluarkan kotak mini dari dalam kantong rahasia kopernya, tempat di mana ia menyimpan sejumlah benda berbahaya, mulai dari obat dan tentu saja racun.


Tangan gadis itu gemetar meraih botol kecil yang hanya memuat beberapa mililiter racun tapi cukup untuk membunuh sampai ratusan orang.


Ini harus dilakukan, begitu Kisa meyakinkan dirinya saat tangan itu semakin menggigil takut. Ia harus melenyapkan Rara agar tidak mengganggu keberlangsungan misi. Kondisi Abimanyu sekarang itu sudah cukup untuk Kisa manfaatkan, tapi kalau Rara terus-menerus merangsang memori Abimanyu kembali, besok kemungkinan dia akan mengingat segalanya.


"Maaf, Rara." Kisa mengepal tangannya yang kini mencengkram botol kecil itu. "Ini bukan masalah pribadi."


Benar. Menjadi istri dari eksekutif Aliansi jelas berisiko besar. Kalau Kisa menggunakan hati nurani di sini, memikirkan soal penderitaan orang lain, maka ia akan melupakan mereka yang bergantung padanya.


Mereka yang nyawanya juga bergantung pada keberhasilan misi Kisa sekarang.


"Buat mereka, kamu harus mati."

__ADS_1


"Gitukah?"


Napas Kisa serasa dihentikan paksa saat itu juga. Sebuah tangan tiba-tiba memegang pergelangannya, tangan di mana Kisa menggenggam botol racun itu.


Wajah gadis itu pelan-pelan berpaling, mati rasa oleh senyum mengerikan adik Abimanyu, Banyu.


"Lo mau ngasih tau gue 'mereka' yang lo maksud siapa?" tanya Banyu dengan nada ramah.


Tapi cengkraman tangannya seperti mau mematahkan.


"Gue enggak peduli lo mau jadi pelakor keberapa di idup abang gue. Emang tuh orang brengsek jadi jelas cewek-cewek yang nempelin dia rata-rata juga brengsek. Itu loh pribahasa kuno lalet suka ngumpul deket tai. Tau, kan?"


Detik setelah Kisa sadar ia tertangkap basah, gadis itu menyikut Banyu dan bersiap untuk lari.


Sialan, lupakan soal misinya dulu karena ia bisa mati konyol di rumah ini.


Tapi Banyu berhasil menarik tangannya, mengurung tubuh Kisa di lantai walau dia sambil meringis sakit.


"Argh, sakit juga," keluh Banyu atas rusuknya yang disikut. "Walaupun bukan profesional, lo jago juga."


"LEPAS!"


"Berisik."


Ekspresi Banyu mendadak berubah sangat dingin sampai Kisa terkesiap takut. Apalagi saat Banyu mencengkram kedua pergelangannya, menekan itu di dekat telinga Kisa.


"Kisa, nama lo? Nama asli atau masih palsu?"


Kisa tak bisa mengelak lagi jadi setidaknya ia mau membalasnya dengan nada yang sama.


"Bukan urusan kamu."


"Lo nih enggak sadar kalo cuma jadi poin sekali pakai, yah?" Banyu merampas botol racun di tangan Kisa. "Fakta kalo lo sampe harus ganti muka buat dateng ke sini, berarti kalo lo enggak guna ngelemahin Abimanyu, ya lo ditinggalin."


"Berenti ngomong seakan-akan kamu tau soal saya!"


"Gue tau." Banyu melepaskannya. "Cewek antah berantah yang terpaksa harus ganti muka buat ngelakuin sesuatu yang disuruh orang 'tertentu'. Lo pasti miskin, karena satu-satunya yang bisa diatur di dunia ini tuh cuma orang miskin. Lo punya pengalaman jadi agen sebelumnya, tapi bukan profesional."


Banyu menggoyangkan botol racun itu santai.


"Pro enggak bakal ragu ngebunuh kalo emang harus. Dengan kata lain lo ... ya simpelnya enggak guna."

__ADS_1


*


__ADS_2