Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
38. Wanita Asing Berwajah Juwita


__ADS_3

"Iya, Tante, ini udah di bandara. Bentar lagi mau lepas landas."


"Nanti kalo sampe di sana, temen Tante bakal jemput kalian ke hotel. Istirahat dulu, jangan langsung main-main yah," balas Juwita.


"Iya, Tante."


Rara meladeni Juwita bicara sampai semua pesannya selesai dan panggilan dimatikan. Memang baru saja Abimanyu dan Rara pulang dari Bali, memastikan semua sepupu Rara pulang dengan selamat sementara mereka sudah siap untuk penerbangan selanjutnya menuju Papua, Raja Ampat.


Kepala Rara sebenarnya sudah pusing dan ia mau pulang saja buat tidur, tapi tiket yang Juwita berikan padanya terlalu mahal buat dibuang-buang. Apalagi penginapan mereka di sana pun sudah disiapkan oleh Juwita.


"Nanti kalau sampe, kamu boleh makan," ucap Abimanyu seraya memasang selimut baik-baik ke tubuh Rara. "Sekarang tidur aja. Kalau enggak kuat nanti turun aku gendong."


Ya, Rara memang belum makan dari kemarin. Kecuali air kelapa dan potongan buah disebut makanan. Tapi selain dari itu Abimanyu masih melarangnya hingga saat terpejam, Rara berharap pesawat cepat sampai ke tujuan.


Begitu tiba Abimanyu sungguhan menggendong Rara turun. Pria itu membawanya sampai ke kamar hotel, lalu datang bersama semangkuk bubur ayam yang wangi.


"Kalau kamu sampe nekat ngobat lagi, even alasannya karena mau misi kamu lancar," Abimanyu menyuapkan bubur ke mulutnya, "kamu enggak boleh makan seminggu."


Rara memakan buburnya sambil cemberut. "Kamu enggak kasian sama istri kamu?"


"Justru karena sayang aku harus mastiin narkoba di badan kamu keluar semua."


Sayang. Kata yang tiba-tiba dan tidak terprediksi. Rara memang kadang lupa kalau ini semua cuma hubungan kontrak tapi karena sekarang ia sedang ingat, Rara jadi mempertanyakan. Sayang itu maksudnya apa?


"Kenapa? Buka mulut." Abimanyu malah tidak sadar.


Itu membuat Rara berpikir kalau kata sayang di mulutnya cuma sebatas kalimat.


Hah, tidak. Rara juga tidak boleh terlalu baper. Sudah ia bilang sekarang bukan waktunya sayang-sayangan dengan seseorang.


"Views video unboxing-nya udah lumayan." Rara harus segera ingat dengan tujuan pernikahan ini. "Banyak juga DM di instagram aku buat bikin vlog bulan madu. Mbak Anita bilang bakal ngirim timnya ke sini buat jadi fotografer sama kameramen sementara. Aku udah beliin tiket buat mereka jadi mereka nyusul besok lusa."


Abimanyu langsung berhenti mengaduk-aduk bubur di mangkuk. "Ranaya."


"Hm?"


"Ini bulan madu. At least jangan buka sama urusan kerjaan."


"Eh?" Rara jelas tercengang. "Tapi kita kan emang kerja bareng."


"Oh, jadi maksud kamu aku nyuapin partner kerja yang lagi jetlag plus hari ketiga menstruasi?"

__ADS_1


Rara menelan ludah. "Kalo bukan partner terus aku apa?"


Tatapan Abimanyu seketika menjadi 'dasar manusia bodoh yang sangat tidak tertolong sampai-sampai malaikat pun pasti muak dengan kebodohanmu'. Tatapan yang membuat Rara seketika merengut. "Enggak usah segitunya ngeliatin!" protes Rara sebal.


"Pertanyaan kamu terlalu jelas. Kalo mau nanya aku nganggep kamu apa, aku sayang atau enggak, cinta atau enggak, ya langsung tanya. Enggak usah berbelit-belit."


"Siapa juga yang—"


"Aku sayang sama kamu, Ranaya." Abimanyu mendekat, menjemput satu kecupan manis di bibir Rara. "Kita emang partner kerja tapi hubungan suami istri kita itu asli. So if you're in love with me ... I will love you eventually. Have I made myself clear?"


Rara sendiri tidak tahu mengapa kadang ia tidak percaya akan cinta Abimanyu padanya. Namun setelah mendapat kalimat itu, wanita mana yang tidak terbuai?


Rara tanpa sadar menarik lengan Abimanyu, menjangkau tengkuknya untuk menyatukan bibir mereka.


"Eits, santai dong." Abimanyu melepaskan ciuman itu penuh keusilan. "Makan dulu. Baru habis itu kamu bisa diacak-acak."


Rara menggigit tangan Abimanyu tanpa peduli dia berteriak sakit.


Siapa suruh usil!


*


"Kamu mau bawa aku ke mana sih, Bi?" Rara menggerutu tak sabaran ketika matanya ditutup oleh kain tebal, sebagai penghalang.


"Bi, buka aja dong."


"Sabar, Sayang." Abimanyu akhirnya berhenti. Lalu saat dia melepaskan penutup matanya, Rara mau tak mau menahan napas.


Ya ampun.


"Abimanyu."


"Hm?"


"Kamu sinting?" Rara menoleh dan melotot lebar padanya. "Bisa-bisanya kamu bawa ranjang ke deket kolam renang hotel yang sebelah kita tuh restoran! Romantis dari mana kamu mau main ditontonin orang?!"


"Siapa tau kamu mau."


"Abimanyu!"


Pria itu tertawa. "Lagian kamu lawak banget. Siapa juga yang naro kasur di sana buat main? Itu buat bahan foto, Ranaya."

__ADS_1


Rara membeku sesaat. Pikirnya karena Abimanyu sudah bersabar menunggu selama seminggu tidak keluar-masuk di sarangnya, pria itu jadi gila. Apalagi tiap malam dia jelas-jelas meminta Rara memuaskannya dengan mulut dan tangan, menunjukkan kalau pria ini hyper.


Tapi untunglah dia belum segila itu.


"Ini ceritanya konten surprise." Abimanyu menengok kamera yang menyorot mereka. "Tapi kayaknya mesti take ulang gara-gara reaksi kamu terlalu datar. Dasar artis baru."


"Cerewet!" Rara merengut sebal tapi ujung-ujungnya patuh juga disuruh datang ulang, lalu mengaget-ngangetkan dirinya sendiri.


Entah kenapa itu sangat memalukan ketika Rara pura-pura mau menangis melihat dekorasi romantis itu, padahal sejujurnya biasa saja. Kok bisa yah Sakura benar-benar terlihat kaget, terharu dan bahagia di kamera padahal ternyata semua surprise itu buatan dia sendiri?


Namun terlepas dari itu, sisanya Abimanyu meminta Rara untuk bersikap biasa. Mereka berbaring di ranjang, menerima arahan dari fotografer yang akan mengabadikan momen itu untuk konsumsi publik.


"Break dulu." Abimanyu melepaskan pelukannya dari Rara, beranjak dari kasur. "Aku mau ke toilet sebentar. Tunggu sini, oke?"


Rara membentuk 👌 pada tangannya dan pergi untuk mengecek hasil foto tadi. Awalnya semua berjalan biasa saja. Akan tetapi mungkin semesta tidak bisa semudah itu membiarkan seseorang bahagia tanpa rasa sakit terlebih dahulu.


Seorang staf yang membantu sesi pemotretan itu tiba-tiba berkata, "Kak Rara, itu bukannya Mas Abimanyu?"


Rara menengok ke arah yang dimaksud dan seketika itu keterkejutan paling besarnya hari ini muncul justru karena hal lain.


Suara wanita di Klub Gempita malam itu mendadak terulang, berputar di kepala Rara untuk mengingatkannya sebuah kenyataan.


"Abimanyu suka sama ibu tirinya."


Di sisi lain kolam renang yang dekat dengan pintu masuk menuju restoran hotel, Abimanyu memegang tangan seorang wanita yang terlihat seperti ibu tirinya.


Rara tak tahu kenapa spontan ia meminta ponselnya, menelepon Juwita tanpa mengalihkan pandangan dari Abimanyu dan wanita itu.


"Halo, Sayang?"


Rara menahan napas. Secara jelas ia melihat perempuan di sana dan Abimanyu sedang bicara, tidak memegang ponsel tapi kenapa Juwita menjawab panggilannya?


"Tante? Tante di mana sekarang?"


"Eh? Tante di rumah, Nak. Lagi nyusuin Milo ini. Emang ada apa?"


Ya Tuhan.


Apa ini hanya kebetulan? Bagaimana bisa orang di sana punya wajah persis seperti Juwita sampai-sampai kalau dia mengaku sebagai Juwita maka Rara percaya seratus persen?


Siapa dia?

__ADS_1


*


__ADS_2