
Kesan pertama Rara bertemu Juwita jauh berbeda dari kesan yang ia pikirkan. Mendengar dia adalah wanita lima anak, ditambah tiga anak tiri dan digosipkan berselingkuh dengan anak sulungnya, Rara pikir dia berwajah tante-tante nakal dan terlihat memiliki seribu pengalaman.
Tapi wanita yang Rara temui justru wanita dewasa, berwajah lembut, dan punya mata yang terlihat hangat.
"Kamu Ranaya?" Begitu dia bertanya. "Duduk."
Rara duduk di sofa seberang wanita itu duduk, berusaha tidak memperlihatkan bahwa ia gugup dan sejujurnya kurang percaya diri.
"Saya penasaran ada maksud apa kamu mau ketemu saya," kata Juwita tenang tapi terlihat agak mengintimidasi.
"Abimanyu minta saya dateng ketemu Tante." Rara berusaha agar ucapannya terdengar natural. "Dia bilang restu hubungan kami itu di tangan Tante."
Tentu saja bohong.
"Bukannya kamu bilang kamu enggak ada hubungan apa-apa sama Abimanyu?"
"Sosial media itu tempat kita bohong dan jadi sosok ideal semua orang. Saya enggak mungkin ngerugiin orang tua saya dengan ngaku saya beneran selingkuhan suami orang."
"Jadi artinya kamu selingkuhan Abimanyu." Juwita masih terlihat kokoh. "Dan kamu bangga sama itu?"
Rara harus sangat berhati-hati di sini. Kalau ia sampai salah jawab maka wanita ini akan melihatnya sebagai wanita bermasalah dan tidak ada bedanya dari Sakura.
"Ada waktu saya ngeliat Abimanyu nangis sendirian."
Juwita tampak langsung berkedip.
"Dia enggak tau saya di belakangnya. Dari semua hal yang bisa aja dia ucapin, saya cuma denger satu kata." Rara menatap mata wanita itu. "Satu nama."
Ibu tirinya Abimanyu nampak menegang.
"Juwita."
Wanita itu mendadak terlihat muram.
"Itu awal mula hubungan saya sama Abimanyu."
Juwita sempat terdiam memandang tangannya sendiri tapi kembali dia menatap Rara. "Dia cerita soal apa?"
"Enggak banyak. Anak Tante enggak suka banyak omong." Rara merasa suasana agak lebih baik sekarang. "Tapi kalau boleh dibilang dia paling cerewet kalau udah ngomongin Tante."
"Saya?"
"Dia bilang orang bilang dia anak kesayangan, tapi menurut dia bukan. Abimanyu juga bilang kalau dia udah banyak bikin Tante susah, udah terlalu sering bikin Tante nangis, tapi dia masih ngerasa belum ada jasa dia buat Tante."
__ADS_1
Semua itu tentu cuma karangan Rara. Walau ia mengambilnya dari berbagai percakapan antara Abimanyu.
"Dia paling nyalahin dirinya sendiri karena Sakura." Rara berkerut muram. "Dia bilang itu salahnya bikin Sakura benci sama Tante."
Juwita tersenyum. "Orang dewasa nanggung kesalahannya sendiri," gumam wanita itu. "Bahkan kalau terpengaruh orang lain, karena kita yang berbuat kita yang tanggung jawab."
"...."
"Menurut kamu siapa di antara saya sama Sakura yang salah?"
Ini adalah tes dari ibu tirinya Abimanyu. Rara berpendapat kalau ia menjawab salah pertanyaan ini, maka restu darinya mungkin tidak akan didapatkan. Tapi kalau harus jujur, Rara tidak tahu jawaban yang benar apa.
Baiklah. Ayo jawab apa adanya saja.
"Enggak ada orang yang enggak punya kesalahan." Rara meremas tangannya sendiri dan menatap mata Juwita lagi. "Bahkan kebodohan itu bisa jadi kesalahan. Kita terlalu bodoh makanya kita ditipu, bahkan kalau kita korban, kebodohan kita juga terhitung kesalahan."
"...."
"Tante pasti juga punya kesalahan sampe Sakura nuduh Tante yang salah. Mungkin justru karena Tante 'diam' sama kondisi dia, Sakura jadi makin kacau dan mau enggak mau itu bikin Tante salah."
"...."
"Tapi Tante tadi bilang kita cuma bisa nanggung kesalahan kita masing-masing. Cuma karena Tante berkontribusi di masalah hidup Sakura sama Abimanyu, bukan berarti Tante yang harus tanggung jawab penuh. Cuma karena Abimanyu enggak bertanggung jawab penuh sama pernikahannya bukan berarti dia yang harus nanggung semua kesalahan Sakura. Dan Sakura juga sama."
"...."
Juwita tiba-tiba tersenyum sangat teduh sampai jantung Rara berdebar karenanya.
"Sakura juga korban," kata wanita itu. "Tanggung jawab saya itu biarin mereka nikah sekalipun saya udah ngerasa itu bukan pernikahan yang sehat. Di perjalanan saya ke pernikahan, saya udah bisa bayangin Abimanyu cerai sama Sakura."
Rara menahan napas.
"Tapi saya setuju sama kamu. Saya enggak berlarut-larut dalam kesalahan. Saya udah mau mulangin Sakura ke rumahnya dan nanggung malu juga omongan orang. Abimanyu yang enggak mau."
Juwita beranjak. "Detik itu juga tanggung jawab saya selesai. Walaupun saya masih ngerasa bersalah."
"...."
"Sekarang semuanya itu urusan Sakura sama Abimanyu. Walaupun nama saya dibawa-bawa lagi, saya udah lepas tangan. Mereka berdua yang mau berlarut-larut. Saya enggak bisa karena anak saya tujuh perlu diurusin semua."
Juwita mengulurkan tangannya hingga spontan Rara menerima itu.
"Kalau Abimanyu mau nikah lagi, entah cerai dulu atau poligami, bilang kalau kami sekeluarga dengan senang hati datang."
__ADS_1
Ah, jadi maksudnya ini adalah restu?
Rara menghela napas lega karena bisa menyelesaikan tugas dengan baik. Habis ini Abimanyu harus mentraktirnya makanan.
*
Lepas bertemu Juwita, Rara pun langsung menuju tempat janjiannya bersama Mahen. Rara tak menghubungi Abimanyu dulu karena lebih baik isi pertemuan ini dibicarakan secara langsung.
Juga ada hal yang mau Rara sampaikan mengenai Mahen pada Abimanyu. Hal yang sudah Rara pikirkan sejak ia diberitahu oleh Mama untuk segera menikah saja.
"Kamu mau makan dulu atau habis kita beli kado aja?"
"Makan dulu." Rara merasa agak lapar sehabis bicara hal berat dengan ibunya Abimanyu.
"Oke." Mahen menyetujui dan mereka bergegas menuju restoran. "Beef teriyaki di sini favorit keluarga aku. Kamu mesti cobain," ucap pria itu setiba di tempat pilihannya.
Rara mengangguk saja, cuma ingin makan karena sungguhan lapar. Mereka turun dari mobil, berjalan memasuki restoran beriringan. Mahen memesan lebih dulu menu sebelum mereka mencari tempat duduk.
Tapi ketika semua pesanan telah ditulis, pembayaran pun dilakukan, Rara justru menemukan sesuatu yang diluar ekspektasi.
"Abimanyu?"
Pria itu duduk di salah satu kursi restoran, berhadapan dengan wanita cantik modis yang di pergelangannya terlilit jam tangan bermerek. Gadis itu terlihat sedang sibuk bicara sesuatu dan Abimanyu hanya diam mendengarnya.
Apa itu selingkuhan dia yang sebenarnya? Selingkuhan dari sekian selingkuhan yang dia miliki?
"Rara, kamu liat apa?" Mahen menepuk punggung Rara.
Membuat gadis itu buru-buru berpaling. "Enggak. Enggak ada."
Semoga Mahen tidak menyadari Abimanyu karena Rara malas bicara tentangnya. Tapi pria itu bukankah dia sibuk? Dia bilang dia sibuk, tapi ternyata punya waktu juga untuk makan bersama selingkuahnya yang lain.
Harusnya tadi aku jelek-jelekin dikit depan Tante Juwita, pikir Rara. Jauh lebih mending belain Sakura daripada cowok macem dia.
"Kita duduk di atas aja, Mahen."
"Yaudah."
Di sisi lain, Abimanyu dan Olivia tengah sibuk bicara tentang wanita-wanita malam yang hilang di beberapa klub besar. Olivia sebagai mata Abimanyu di pergaulan para wanita pun menceritakan infomasi yang dia ketahui.
Tapi tak sengaja Olivia melihat Rara naik ke tangga.
"Itu bukannya selingkuhan lo?" Olivia mengedik ke sana.
__ADS_1
Membuat Abimanyu seketika berpaling.
*