
Malam harinya Rara sudah berada di rumah karena memang selain luka luar yang kecil, tidak ada lagi perawatan yang dibutuhkan. Tapi baru saja Rara tiba di rumah, kunjungan tak terduga dari mertuanya langsung menggegerkan mereka.
Juwita dan Adji, ayah mertua dan ibu mertuany datang dengan kecemasan di wajah mereka.
"Rara." Juwita mengulurkan tangan ke wajahnya hati-hati, melihat luka-luka di sana seolah dia yang siap menangis. "Kamu kenapa mesti begini, Nak?"
Di kamar Rara memang hanya ada Rara dan Juwita. Walau Rara terkejut Juwita tahu ini disengaja olehnya sendiri, tapi wanita itu tampak mengerti.
"Manipulasi sesuatu enggak berarti harus nyakitin diri kamu. Banyak orang yang khawatir. Pikirin juga perasaan Mama kamu."
"Maaf, Tante." Rara tahu ia memang agak mengabaikan perasaan Mama soal ini. "Saya janji enggak bakal nyusahin Mama atau Tante."
"Kamu janji, yah. Tante pegang loh janji kamu." Juwita meremas tangannya dan tersenyum teduh. "Abimanyu perlakuin kamu baik-baik kan? Dia enggak nyuekin kamu sengaja atau nyuruh kamu ngelakuin sesuatu yang enggak masuk akal, kan?"
Rara tertawa kecil. "Anak Tante bilang ke saya kalau saya ngerasa sakit hati sama dia, katanya saya mesti ngadu ke Tante. Bilang : anak Tante kayaknya mati aja."
Mama mertuanya ikut tertawa. "Emang. Awas aja kalo dia macem-macem. Enggak idup dia sama Tante."
Obrolan itu berlangsung hangat setelahnya. Beberapa menit berinteraksi akrab dengan Juwita, Rara jadi mengerti kenapa Abimanyu sangat menyayangi ibu tirinya ini.
Dia menyenangkan. Tidak sekolot ibu-ibu yang terlalu mengekang, memahami perasaan lawan bicaranya, dan paling Rara rasakan adalah sentuhan hangat Juwita yang menghanyutkan.
Rara bahkan tidak sadar kepalanya sudah berbaring di dada Juwita, tertidur pulas dalam usapannya.
Sungguh, Rara bersimpati pada Sakura. Kalau saja dulu dia memperlakukan Juwita dengan baik, pasti dia yang akan menikmati kasih sayang ini dan bukan justru kebencian Abimanyu.
Di sisi lain Abimanyu yang datang mengecek Juwita bersama Rara langsung terdiam melihat istrinya tertidur pulas di pelukan Juwita.
"Juwita." Abimanyu tidak mau mengganggu tapi harus memanggilnya. "Milo nangis di bawah."
"Ow, oke." Juwita pelan-pelan memindahkan kepala Rara ke bantal.
Ketika wanita itu akan melewati pintu, sejenak dia berhenti, mengulurkan tangan ke puncak kepala Abimanyu.
"Makasih yah," bisik dia, "udah bikin istri kamu seneng jadi istri kamu."
Abimanyu hanya diam, tak membalasnya dan membiarkan Juwita pergi. Tapi setelah itu Abimanyu mendekati ranjang di mana Rara tidur, datang mengecup pelipisnya.
__ADS_1
"Makasih," bisik Abimanyu, "udah bikin Juwita seneng."
Dulu Juwita pernah bilang bahwa dia berharap punya menantu yang menyukainya dan menganggapnya sebagai ibu kandung. Juwita bilang dia takut kalau sampai istri-istri anaknya menganggap dia menyebalkan dan mengganggu seperti mertua-mertua di cerita orang.
Makanya Abimanyu senang jika Rara bisa mewujudkan itu.
Abimanyu pernah jadi yang pertama memberi Juwita menantu terburuk, karena itulah Abimanyu berharap ia jadi yang pertama memberi Juwita menantu terbaik.
*
Beberapa hari setelah itu Rara bungkam sepenuhnya dari kasus yang ia buat. Tapi tanpa harus angkat bicara pun Rara tidak merasa harus khawatir. Ia tahu Caca pasti mudah melepaskan diri dan pada akhirnya urusan ini diselesaikan secara 'kekeluargaan'.
Itu sebenarnya sudah cukup memuaskan ketika Caca harus membuat video permintaan maaf. Tentu saja setelah pihak Rara mengancam akan membeberkan pencurian barang yang Caca lakukan.
Disamping itu Abimanyu ... sedang dihukum.
"Semangat, yah." Rara berseru kecil dengan sengaja melihat suaminya tengah panas-panasan di bawah terik matahari sibuk menyemen batako untuk dijadikan kolam ikan.
Iya, Mama menghukum Abimanyu membuat kolam ikan dan memperbaiki tamannya dengan tangan sendiri tanpa bantuan siapa-siapa. Katanya baru setelah itu Mama mau memaafkan Abimanyu. Tentu saja kalau bukan karena bantuan Juwita, kayaknya Abimanyu diusir dari rumah mertuanya.
Dia berani soalnya Mama dan Papa sedang tidak di rumah.
"Pantesan perempuan suka playing victim (sok jadi korban)," kata dia lagi.
Rara tertawa. "Kan Mama marah sama kamu bukan karena aku ngadu."
"Ciri playing victim, ngasih pembelaan biar keliatan bener."
Dasar penggerutu. Setelah jadi istrinya beberapa hari, Rara akhirnya sadar kalau Abimanyu itu bukan sosok dingin. Dia sama sekali tidak cool tapi memang cuma jarang bicara. Kalau dimarahi oleh Mama, Abimanyu selalu diam seperti kucing menyedihkan sampai-sampai Rara sering kasihan. Kalau dipalaki oleh sepupu Rara yang datang, Abimanyu selalu memberi bahkan sekalipun Rara sudah melarang. Kemarin malam saja sepupu Rara sengaja datang minta ditraktir es krim di indomaret yang menghabiskan uang sejuta.
Bagi Rara itu sudah berlebihan, tapi Abimanyu malah diam saja.
"Yaudah, nih." Rara tiba-tiba datang, menghalau matahari dengan payung sekaligus memberikan segelas jus segar. "Istri kamu yang baik hati bikinin jus buat kamu."
Abimanyu langsung menerimanya, ternyata dia haus.
"Tapi ngomong-ngomong kamu kok jago bikin begini?" Rara menatap pekerjaan Abimanyu yang kalau harus jujur sangat bagus. Padahal kan dia pria berjas, jadi bukankah harusnya dia lebih jago menyuruh?
__ADS_1
"Di rumah jarang ada yang bantuin, mau ART mau tukang." Abimanyu mengembalikan gelasnya yang sudah kosong. "Kalo cuma begini sambil merem juga aku bisa."
Dasar tukang pamer.
"Kulit kamu jadi merah." Rara tak canggung lagi langsung menyentuh wajah Abimanyu. Diseka keringat yang membasahi di pelipisnya dengan punggung tangan. "Istirahat dulu. Toh Mama juga enggak ada."
Sepertinya dia memang sangat kepanasan dan sudah mau istirahat tapi takut dimarahi lagi jika nanti Mama pulang. Karena persis setelah Rara mengatakan itu, Abimanyu berpindah duduk di sampingnya, menjatuhkan kepalanya ke bahu Rara sebagai sandaran.
Tentu saja jantung Rara berdebar keras akibat hal itu. Meskipun setiap malam ia memeluk Abimanyu di tempat tidurnya, tapi mungkin masih cukup banyak momen yang bisa membuat Rara jantungan.
"Ranaya."
Bahkan kalau dia memanggilnya Ranaya pun Rara sudah gugup. Di keluarganya cuma Abimanyu seorang yang memanggil Rara dengan sebutan Ranaya.
Cuma dia.
"Apa?" balas Rara pura-pura santai.
"Kamu wangi." Abimanyu memajukan wajahnya ke dada Rara. "Apalagi ini."
Spontan saja Rara mendorong wajahnya. "Enggak usah modus!"
Rara hampir lupa mengatakan ini. Hal paling utama yang membuatnya berhenti melihat Abimanyu sebagai sosok dingin adalah karena dia mesum. Sangat mesum sampai Rara yakin seluruh isi kepalanya cuma tentang hal tak senonoh.
"Sok nolak padahal suka."
"KATA SIAPA?!"
Abimanyu merangkulnya, memaksa Rara kembali jadi sandaran. "Perempuan kalo enggak suka itu mukanya jelas. Bukan teriak 'enggak usah modus' sambil senyam-senyum."
Kadang-kadang Rara mau menggigit kepalanya.
"Nyebelin!"
"Terserah." Abimanyu kembali mendekatkan wajahnya ke dada Rara. Dengan sangat egois dia meletakkan pipinya di sana, terpejam nyaman. "Aku mau tidur sebentar. Lima belas menit lagi bangunin."
*
__ADS_1