
"Hei, cepat kemari sebelum aku kesal!" perintah Rose sekali lagi yang membuat Abimanyu tersadar.
Pria yang sempat tertegun melihat istri dan adiknya itu langsung datang, mendekati Rose.
"Ada apa?" tanyanya.
"Aku terjatuh karena kamu tidak becus mengawasi."
"Kenapa jadi—"
"Bang." Banyu melotot pada kakaknya. "I-ini siapa lo?"
Walau dia peduli pada Rara dan tidak akan membiarkan Abimanyu menyakitinya lagi, tapi sekarang Banyu bertanya buat dirinya sendiri.
Jangan bilang ini sungguhan selingkuhan dia?! Serius?!
Wah, anjir sih kalau benar. Banyu kayaknya bakal mengirim misil, kalau perlu nuklir ke rumahnya Abimanyu buat memusnahkan dia.
Tidak bisa ia biarkan bidadari macam ini bersama sampah macam Abimanyu! TIDAK BAKAL IA BIARKAN!
"Dia—"
"Pa." Saat Abimanyu ingin menjelaskan, suara Abirama menghentikannya. Anak yang di tangannya penuh mainan itu menatap Abimanyu. "Abi lapal, Pa. Mau es klim."
Abimanyu menghela napas. Ia tahu ada sesuatu yang perlu dikatakan tapi Abimanyu lebih tahu bahwa ini tidak akan mudah.
Terutama ketika ada Abirama dan Rose.
"Iya, Nak, tunggu sebentar." Abimanyu menggendong Rose di atas lengannya, lalu berjalan pergi diikuti Abirama dan seorang asisten.
Kepergian Abimanyu yang tanpa penjelasan itu tak pelak membuat Rara termenung muram.
Siapa perempuan itu? Kenapa Abimanyu langsung menggendongnya dan bahkan tidak menjelaskan apa-apa pada Rara?
Demi Tuhan, kalau itu Sakura atau bahwa Kisa, Rara kayaknya tidak terlalu peduli walau cemburu. Namun Rose ....
Dia terlalu cantik buat Rara tidak cemburu sampai ke ubun-ubun.
*
"Enggak bisa." Banyu meletakkan belanjaan Rara di depan kamarnya dan kembali mengucapkan hal sama. "Enggak bisa begini, enggak bisa. Enggak bakal gue biarin itu Bangsat begini!"
Beraninya dia! Beraninya dia mengembat perempuan secantik itu padahal dia cuma sampah!
Tidak bisa. Banyu harus menuntut ke pengadilan, kalau perlu langsung baku hantam sampai Abimanyu mati. Ia tidak bakal pernah rela kalau sampai bidadari surga itu jatuh ke tangan Abimanyu!
Sedangkan Rara yang mendengarnya berpaling pada Banyu. "Secantik itu?" tanyanya pelan. Padahal tahu karena melihat langsung.
"Itu mah bukan cantik lagi! Itu tuh udah mahakarya! Enggak bisa begini. Enggak gue biarin lo, Setan!" Banyu dengan sangat serius mencari kontak asisten pribadinya buat dia suruh menyelidiki perempuan itu.
Kalau sampai dia tertawan oleh Abimanyu, bakal Banyu selamatkan dia malam ini juga!
Tapi sesaat sebelum Banyu menghubungi asistennya, pria itu tiba-tiba tersadar. Dia menoleh pada Rara, mendapati kakak iparnya kini menangis tanpa suara.
"Rara." Banyu menelan ludah. "Lo enggak pa-pa?"
Sialan, rutuk Banyu pada dirinya sendiri. Jelaslah kenapa-napa! Si Kunyuk mah impoten kalo enggak demen cewek begitu! Enggak, impoten pun cowok bakal demen!
__ADS_1
Banyu buru-buru pergi meninggalkan Rara, tapi bukan buat kabur. Pria itu turun ke bawah memanggil Juwita dan Nayla untuk pergi menghibur Rara dulu.
"Kenapa?" tanya Juwita sebelum pergi.
"Kita ketemu Bang Abi di depan." Banyu menggaruk kepalanya bingung. "Sama cewek."
Juwita langsung mengerang frustasi. "Dasar bocah!"
Tapi buru-buru dia pergi bersama Nayla untuk menemani Rara sekarang. Banyu pun datang mendekati Cetta buat melampiaskan emosinya.
"Cetta, kira-kira kalo gue kirim pembunuh ke Abimanyu, persentase keberhasilannya berapa?"
"Tergantung," jawab Cetta cuek. "Kalo kelasnya internasional, lima puluh sampe tujuh puluh persen bisa. Kalo kelas lokal doang, kayaknya belum sanggup."
Soalnya setelah keluar dari Aliansi, Abimanyu resmi tergabung dalam organisasi rahasia milik Mahardika yang beroperasi dalam skala internasional. Ibarat kalau ditembak pistol biasa, Abimanyu kebal peluru. Jadi senjatanya harus sekelas bom nuklir.
"Emang kenapa?"
"Itu Kunyuk bawa cewek cantik, anjing!" seru Banyu frustrasi. "Cantik banget, bro. Cantik! Cantik banget!"
"Lebay."
"Cantiknya yang lebay, Ta! Ah elah, lo belom liat sih!" Banyu jadi gemas sendiri. "Ngeliat dia mah auto pengen selingkuh."
Lalu Banyu mengerang, mengacak-acak rambutnya, sampai terdengar menangis saking tidak relanya.
"Jodoh gue itu, woi! Jodohin, ya Allah! Plis, plis, plis!"
"Secantik apa sih?" Cetta jadi penasaran.
"Enggak usah lo liat dah. Kesian Nayla nanti." Banyu menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa henti. "Punya suami gue tikung sekarang juga. Enggak bisa. Punya gue itu. Maksa gue! Jodoh gue pokoknya!"
*
"Diamlah." Rose mendengkus tak peduli. "Daripada mengoceh lebih baik kamu pergi dan ambilkan aku kompres. Lenganku sakit."
Abimanyu menghela napas capek tapi tetap pergi mengambilkan perempuan merepotkan itu hal yang dia butuhkan.
"Papa, temenin Abi tidul."
Abimanyu menoleh. "Iya, Nak, tunggu bentar. Papa ambilin kompres buat Rose dulu."
Abirama datang bersama mainan baru yang dia pegang. Anak itu mengawasi Abimanyu memasukkan es batu ke kantong kompres, lalu menutupnya rapat-rapat setelah diisi sedikit air.
"Papa, Kak Roce cakit?"
"Hm." Perempuan itu memang selalu sakit sih.
Rose punya tubuh yang lemah. Sangat amat lemah malahan. Dia bisa kelelahan hanya karena berjalan beberapa menit. Ibaratnya sedikit saja dia tersenggol, nyawanya terancam bahaya.
Makanya dia dijaga ketat.
Dan makanya itu Abimanyu ditugaskan sementara menjaga dia, setidaknya selama Rose berada di negara ini.
"Papa, gendong."
"Nanti, Nak."
__ADS_1
"Cekarang." Abirama memeluk kaki Abimanyu, tidak mau terima kecuali dia digendong.
Abimanyu bukan tidak mau menggendongnya tapi ....
"Sudah kubilang jangan bawa dia ke kamarku," protes Rose saat Abimanyu datang dengan Abirama di punggungnya. "Aku tidak suka anak kecil!"
"Terserah, Rose, terserah." Abimanyu sudah bosan mendengarnya. "Kompres lukamu sendiri. Abirama mau main sama saya."
Rose berdecak tapi tak protes menerima kompres itu. Dia sangat tidak suka anak kecil hingga malah senang ketika Abimanyu dan Abirama pergi dari kamarnya.
"Papa, Onti Oliv kapan pulang?"
"Hm? Mungkin minggu depan."
"Abi kangen Onti."
"Iya." Abimanyu cuma menjawab singkat, mengelus-elus kepala anaknya yang kembali sibuk bermain-main.
Pikiran Abimanyu mendadak kembali memutar peristiwa tadi, untuk pertama kali setelah sekian lama ia bertemu Rara.
Perempuan itu jadi semakin tinggi. Dia juga jadi lebih cantik dan menarik. Abimanyu cukup sering melihat dia di foto, entah postingan Nayla atau Banyu dan Cetta. Tapi melihat dia secara langsung ... Abimanyu jadi terbakar oleh perasaannya sendiri.
Empat tahun, yah? Rasanya lama tapi juga sebentar. Empat tahun ini, kira-kira apa yang berubah dari Rara selain penampilannya?
"Papa, ngantuk."
Lamunan Abimanyu terpecah oleh suara anaknya. Bocah itu sudah berhenti memegang mainan, kini datang menjatuhkan tubuhnya di paha Abimanyu.
"Mau ke kamar? Papa anterin sini."
Abirama menggeleng. "Abi mau tidul cama Papa."
"Enggak boleh. Kamu udah besar. Tidur harus sendiri."
"Engh."
"Papa temenin ke kamar aja. Papa tungguin sampe kamu tidur."
Abimanyu menemani Abirama sikat gigi dan cuci muka sebelum membawa dia ke kamarnya yang berada persis di dekat kamar Abimanyu.
Ditemani dengan hening dan kegelapan malam, Abimanyu memandangi wajah putranya sambil kembali merenung.
Abimanyu kesepian.
Selalu.
Sejak dulu, ia merasa kesepian. Tapi ia menahannya untuk Rara. Jadi apa di sana Rara setidaknya merasa lebih baik?
....
Entah kenapa kadang Abimanyu merasa jawabannya adalah tidak.
Rara tidak baik-baik saja entah dulu ataupun sekarang.
*
pada salah paham kalau abimanyu ninggalin rara buat memantaskan diri, yah 😌 yang ngerasa abimanyu pergi buat memantaskan diri itu rara yah, rara percayanya begitu. tapi abimanyu enggak ninggalin rara buat memantaskan diri tapi emang udah mutusin buat pisah.
__ADS_1
apakah mereka harus kembali bersama🤔🤔🤔???