
Abimanyu menggeser pintu kamar Rara dan menuntun wanita itu sampai ke tempat tidur. Diambil remot AC di atas meja, mengatur suhunya agar tidak terlalu dingin atau panas. Setelahnya Abimanyu menarik kursi, duduk di dekat tempat tidur.
"Kalo Juwita tau, pasti dia langsung hubungin aku." Abimanyu menatap wajah Rara baik-baik. "Kenapa enggak ngomong?"
"...."
Karena dia diam, Abimanyu tidak memaksa. Tapi pria itu beranjak, membuka satu per satu lemari Rara, berpindah ke semua tempat yang bisa dijadikan penyimpanan sampai ia menemukan test pack perempuan itu di laci meja riasnya.
Positif, seperti dugaan Abimanyu.
"Jangan ke rumah sakit," kata Abimanyu setelahnya. "Jangan pernah. Nanti aku minta dokter langsung dateng ke sini."
Rara menarik selimut untuk menutup wajahnya. Ia tak mau melihat Abimanyu terlalu lama, apalagi menikmati kebaikannya yang akan berakhir begitu dia pergi lagi.
Sesuai kesepakatan mereka, Abimanyu memberinya anak jadi dia boleh pergi sejauh yang dia mau.
"Ranaya."
"Aku enggak nangis," kata Rara cepat, kalau dia mau bilang jangan nangis. "Aku mau tidur jadi kamu pergi aja. Rose nanti marah lagi."
"Kamu cemburu sama Rose?"
Pada kecantikannya, ya. Tapi kalau pada kemungkinan dia adalah wanita baru di hidup Abimanyu, 0,001 persen pun tidak. Mana mungkin Abimanyu bersama perempuan sentuh\=patah itu.
"Enggak usah nanya macem-macem, Bi. Aku udah dapet yang aku mau jadi kamu boleh pergi."
"...."
"Kenapa masih di sana? Buruan pergi. Aku mau tidur. Ohya, sekalian suruh Banyu bawain es krim kalo nanti Rose udah pulang."
Kok dia tidak pergi-pergi? Mungkin dia mau bertanya sedikit soal anaknya tapi demi Tuhan Rara takut tidak kuat jika dia lama-lama.
"Abimanyu, sana buruan—"
Perkataan Rara terhenti sendiri ketika ia membuka selimut, ingin mengusirnya lebih keras namun justru melihat Abimanyu tertunduk. Dia memejamkan mata, keningnya berkerut dalam, meringis antara tertawa tapi gelisah.
"Enggak keren sama sekali."
Eh?
"Aku enggak ada keren-kerennya sama sekali."
Rara mengerjap. "Bi?"
"Rose sialan." Abimanyu tertawa walau benar-benar terlihat kecut. "Padahal aku udah siap ninggalin kalian. Sekarang kesannya aku yang plin-plan. Kenapa di depan kamu sama Juwita, aku enggak pernah ada harga diri sih?"
"Maksud kamu?"
Abimanyu menghela napas. Menatap mata Rara pasrah. "Rose ... nyuruh aku pulang ke kamu."
".... Apa?"
__ADS_1
"Dia bilang dia berbaik hati. Setengahnya mungkin dia kasian sama anak di perut kamu."
Rara masih tercengang.
"Aku udah enggak ada hak buat minta lagi. Semuanya terserah kamu. Hampir lima tahun pernikahan kita, kamu jelas udah tau rasanya jadi istri aku. Udah enggak perlu banyak omong lagi."
Abimanyu menadik napas panjang, lalu menghelanya.
"Pilihan di tangan kamu. Kamu mau aku sesekali nengokin kalian, atau enggak sama sekali. Kalau kamu sakit hati sama semuanya, kamu punya hak buat ngelarang aku ketemu anak kamu. Mana pun yang bikin kamu lebih bahagia, kamu boleh pilih. Enggak ada yang bakal ngelarang kamu sama sekali."
Rara tampak diam saja hingga Abimanyu memutuskan beranjak.
"Pikirin dulu baik-baik. Minggu depan aku bakal dateng lagi. Kamu bisa jawab nanti."
Ini bukan karena Abimanyu tidak mau mengemis pada Rara atau tidak mau berjuang. Tapi bukankah itu justru tidak tahu diri? Meminta setelah menyakitinya, itu sangat keterlaluan. Makanya biar dia yang memutuskan sendiri apa yang dia mau.
Tangan Abimanyu meraih tali gorden, menutup kaca agar Rara bisa istirahat. Setelahnya baru ia mau menggeser pintu, keluar menuju meja makan lagi jika sepasang lengan tidak menahannya.
Rara baru saja melingkarkan lengannya di perut Abimanyu, mencegahnya pergi.
"Ranaya—"
"Enggak perlu seminggu." Rara menenggelamkan wajahnya di punggung Abimanyu. "Ngapain harus nunggu seminggu kalo bisa jawab sekarang?"
Abimanyu tercengang. Tunggu, semudah itu? Setelah semua air mata yang dia keluarkan, semuanya bisa semudah itu—
"Aku kangen, Bi." Rara menariknya berbalik, menyengir lebar. "Mulai sekarang jangan tinggalin aku lagi yah?"
"...."
Abimanyu justru memejam.
Kebodohan perempuan, kah? Kebodohan yang benar-benar sulit ditiru oleh laki-laki. Padahal Rara pintar, tapi kenapa untuk hal ini dia bodoh?
"Abimanyu, buruan. Janji dulu."
"...."
"Abimanyu!"
"Enggak mau." Abimanyu membuka mata. Menemukan wajah cantik yang tengah cemberut karena tidak diberi jawaban. "Aku enggak mau janji."
"Kenapa?!"
Karena entah kenapa setiap kali Abimanyu berjanji, ia lebih sering ingkar. Bahkan ketika Abimanyu berusaha keras untuk tidak, akan ada hal yang membuatnya harus mengingkari janji.
Abimanyu tidak mau.
"Badjingan enggak bisa dijinakin pake janji, Ranaya." Abimanyu menyentuh pipi Rara, membawa wajahnya lebih dekat untuk menciumnya.
Itu hanya ciuman kecil dan sederhana namun membuat Rara tersenyum lebar. Abimanyu meletakkan bibirnya di kening wanita itu, sementara tangannya mengusap-usap perut di bawah sana.
__ADS_1
"Ini udah cukup."
***
"Tumben lo baik," komentar Olivia saat duduk di kamar yang dipinjamkan untuk Rose.
Hari ini Rose memutuskan menginap saja karena malas harus berkendara lagi. Tentu saja, itu adalah alasan utama tapi tidak menutup kenyataan bahwa dia memberi kesempatan untuk Abimanyu bersama Rara.
Rasanya hari ini Rose datang ke sini pun bukan semata untuk urusan kerja, melainkan untuk Abimanyu.
"Kiamat udah deket kali yah, makanya iblis kayak lo mendadak tobat."
"Paling tidak kebaikan hatiku tidak gratis," balas Rose. "Lagipula apa salahnya berbelas kasihan? Toh anak itu juga akan melihat neraka."
"Kalo Abimanyu balik ke Rara, paling enggak kemungkinan soal itu lebih kecil, kan?"
"Tidak." Rose tersenyum. "Mau Abimanyu bersamanya, mau Abimanyu tidak bersamanya, anak itu dalam bahaya."
Olivia mengerutkan kening. Kemarin-kemarin ia memperkirakan hidup anak itu dalam bahaya karena tidak ada yang bisa melindunginya. Arina melarang Abimanyu terlibat dengan seseorang, termasuk istrinya sendiri, jadi tangan Abimanyu terbelenggu dari melindunginya. Tapi sekarang bukankah sudah berbeda?
Rose secara langsung memberi izin. Dengan kata lain dia juga menjamin keamanan anak itu, kan?
"Sepertinya kebodohanmu tidak bisa memahami, yah?"
"Berisik!"
Rose tertawa kecil, bersandar pada kursi goyang baru yang dibeli Adji khusus untuknya saja. "Saat mendengar soal perempuan sialan bernama Sakura yang jadi penyebab Zero tertangkap, sejujurnya aku berharap bisa mencincang perempuan gila itu. Atau paling tidak melihat dia dimakan ikan piranha peliharaanku."
Olivia mendengkus.
"Tapi semakin kesini sepertinya dia jadi semakin menarik." Rose lagi-lagi tersenyum. "Dia meninggalkan dendam yang tahu cara berpikir."
Butuh waktu untuk Olivia sadar apa maksud perempuan ini.
Ketika memahaminya, Olivia menahan napas terkejut. "Ada orang yang bakal nerusin dendam Sakura, maksudnya? Siapa? Kisa? Enggak, Kisa enggak mungkin. Dia sama Sakura enggak ada hubungan romantis kayak gitu."
"Kisa? Maksudmu perempuan tidak berguna yang dilindungi adiknya Abimanyu itu? Hah, kamu ini bodoh keterlaluan, ya. Sudah kubilang dia bisa berpikir."
Dia bisa berpikir.
Dia itu siapa?
"Aku tidak akan memberitahu." Rose tersenyum kecil. "Aku bukan orang baik, sayangnya."
Lagipula itu cuma perkiraan. Tidak ada bukti nyata. Kalau terjadi ya terjadi, kalau tidak ya berarti tidak.
Walau Rose lupa kapan terakhir kali perkiraannya terhadap sesuatu meleset.
*
clue besar untuk cerita selanjutnya ada di sini 👆
__ADS_1