Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
63. Jalan Hidup Pilihan Rara


__ADS_3

"Ini apa?" Mama langsung melempar ponsel ke atas meja agar Abimanyu melihat. "Bilang kalo ini cuma gosip, Abimanyu."


Abimanyu tampak sangat terkejut melihat semua itu. Selama ini Abimanyu yang mengejutkan Sakura dengan berbagai berita yang dia sebarkan secara sengaja di sosial media, namun sekarang serangan sama persis datang padanya.


"Ma." Rara buru-buru menengahi. "Itu bohong. Cuma gosip. Suami aku enggak—"


"Ranaya." Abimanyu memegang lengan Rara, lalu menggeleng agar dia berhenti.


Meski sejenak ia terdiam, Abimanyu pun menatap mertuanya dengab sorot tegas.


"Itu fakta." Abimanyu tahu kalau ia dan Rara bisa kompak berbohong. Mereka bisa menciptakan alasan yang cukup masuk akal diterima agar mertuanya tidak salah paham bahkan jika nanti berita-berita lain bermunculan.


Tapi ... kebohongan selalu menciptakan kebohongan baru.


Abimanyu merasa harus mengakhiri ini.


"Pergi." Mama mengepal tangannya kuat-kuat. "Pergi kamu dari rumah saya!" teriaknya kemudian.


"Ma!" Rara ikut menangis melihat Mama tampak sangat terluka. Ia tahu itu sulit diterima tapi Rara baik-baik saja. "Aku udah tau soal anaknya! Aku nemenin Abi jemput dia kemarin! Aku enggak pa-pa!"


"KAMU UDAH GILA?!" Mama menggebrak meja. "KAMU KIRA MAMA BESARIN KAMU BUAT PUNYA SUAMI KAYAK GINI?!"


"Ma—"


"CERAI KALIAN! MAMA ENGGAK SUDI PUNYA MENANTU TUKANG SELINGKUH KAYAK DIA!"


"MAMA!" Jeritan Rara menggelegar di seluruh tempat, membuat Mama dan Papa terkejut menatapnya.


Putri kesayangan mereka, anak satu-satunya yang sejak kecil mereka jaga baik-baik baru saja mengangkat suara sangat tinggi di depan orang tuanya.


"Bisa enggak Mama berenti ngatur hidup aku?! Bisa enggak Mama berenti ngeliat aku kayak anak kecil?!"


Papa beranjak. "Rara, jangan teriakin Mama kamu—"


"Tapi semuanya mau Mama atur! Semuanya harus sesuai pendapat Mama! Aku juga punya hak buat hidup aku, Pa! Aku tau siapa suami aku lebih dari kalian semua tau soal dia! Aku tau dia tapi seenaknya kalian nge-judge dia buruk!"

__ADS_1


"Ranaya." Abimanyu ikut berdiri, menarik sedikit keras lengan Rara. "Kamu lagi ngomong sama orang tua. Jangan teriak-teriak."


"Tapi Mama—"


"Aku yang salah. Mama sama Papa kamu bener." Abimanyu menoleh pada mertuanya dan tenang berkata, "Saya bakal dateng lagi kalo Om sama Tante udah siap dengerin penjelasan. Buat sekarang saya pamit dulu."


Abimanyu mengusap kepala Rara sekilas, memintanya untuk baik-baik di sini karena ia harus pergi.


"Jangan bentak orang tua kamu cuma karena takut cerai." Abimanyu sejenak menasehatinya. "Aku justru bakal cerai sama perempuan yang berani bentak-bentak orang tua even kamu ngerasa kamu bener."


Setelah mengatakan itu Abimanyu keluar. Setidaknya untuk sebentar saja ia mau memberi waktu mereka berpikir.


Sementara Rara yang ditinggal pergi mengepal tangannya kuat. Ada emosi yang menggumpal di dada Rara tapi berusaha keras untuk ia kendalikan, karena pelan-pelan ia juga sadar sudah salah mengangkat suara.


"Maaf, Ma, Pa." Rara kembali duduk, menatap mereka dengan wajah bersimbah air mata. "Tolong dengerin aku sebentar aja."


"Rara—"


Papa menghentikan Mama yang hendak bicara, memberinya isyarat untuk duduk.


Rara mengangguk. Mengatur napasnya baik-baik, mengusap wajahnya yang terasa lengket akibat tangisan.


"Aku cuma mau nyari uang buat kalian."


"Apa hubungannya nyari uang sama Abimanyu?!" sela Mama yang masih emosi, tapi sekali lagi dihentikan oleh Papa.


"Dengerin, Ma. Dengerin anak kamu ngomong."


Rara meremas kedua tangannya satu sama lain, menguatkan diri untuk berterus terang. Namun karena merasa gelisah, Rara beranjak, berkata ia harus mengambil sesuatu dulu di atas.


Sambil berjalan itu Rara terus menenangkan diri dan memikirkan kalimat apa saja yang harus ia ucapkan. Lalu setelahnya Rara turun bersama map yang ia simpan baik-baik.


"Mama sama Papa tau aku enggak seterkenal Sakura." Rara akhirnya merasa cukup tenang. "Aku putus asa. Aku pengen punya sesuatu yang bisa kukasih ke Papa sama Mama. Aku enggak mau cuma jadi anak kesayangan. Mau sampe kapan Mama sama Papa kerja buat aku? Sampe tua? Sampe kalian udah enggak bisa tapi harus kerja demi aku? Karena aku anak satu-satunya?"


"Aku enggak mau kayak gitu. Makanya aku nerima tawaran Abimanyu."

__ADS_1


Papa memicing. "Tawaran?"


"Jadi selingkuhan pura-pura." Rara mengepal tangannya. "Dia ngasih aku kasus biar aku terkenal, jadi selingkuhan, tapi dia manipulasi berita biar kesannya bukan aku yang salah. Karena dia mau pisah sama Sakura."


"Jadi semua cerita dia soal mamanya itu bohong?"


"Enggak. Itu asli. Kalo Papa enggak percaya, Papa langsung tanya sama Om Adji sana Tante Juwita. Emang karena itu Abimanyu mau cerai. Tapi dia dulu enggak bisa langsung cerai karena dia enggak mau sampe Tante Juwita dibilang enggak becus ngebesarin anak. Faktanya keluarga Om Adji emang sering ngomongin Tante Juwita dan anak-anaknya Om Adji enggak pernah suka sana omongan mereka."


Rara menghela napas. "Awalnya cuma sebatas selingkuhan. Cuma sebatas kasus sampe Abimanyu cerai." Wanita itu menatap kedua orang tuanya. "Tapi Mama tiba-tiba minta aku nikah."


"Itu karena—"


"Emangnya aneh yah kalo ada anak yang enggak mau bahagia dulu sebelum bisa melihat mereka bahagiain orang tuanya?"


Mama tertegun.


"Aku enggak mau nikah sama Mahen, Ma. Bukan karena dia kurang tapi aku ngerasa ... yaudah gitu terus. Aku bahagia sama orang lain dan enggak ngelakuin apa-apa buat kalian."


"Terus bedanya sama Abimanyu apa, Rara?" timpal Papa. "Maksudnya kalian selama ini juga pura-pura?"


Rara mendorong map di tangannya. Membiarkan Papa melihat kontrak pernikahan antara dirinya dan Abimanyu.


"Kalo dibilang pura-pura ya mungkin aja emang pura-pura. Aku sama Abimanyu sebelumnya udah sepakat jadi selingkuhan makanya aku ngerasa enggak ada salahnya kita nikah di atas kesepakatan. Sebagai ganti aku jadi istrinya, dia janji bakal bantuin aku sukses. Papa udah denger kan? Aku sekarang punya aset, lagi proses ngebangun brand aku sendiri, dan punya pemasukan sekalipun aku jarang ngonten lagi."


Kedua orang tuanya tampak sangat terkejut sampai tak bisa berkata-kata.


"Mama sama Papa selalu ngeliat aku kayak anak bayi." Rara bergunan muram. "Aku tau itu karena kalian sayang banget. Mungkin banyak di luar sana yang berharap jadi aku."


"...."


"Tapi aku punya jalan hidup sendiri. Aku tau di mana aku nemuin kebahagiaan aku sendiri. Dan bahkan kalau aku salah, kalau aku suatu saat nyesel, emang enggak boleh yah, Pa, Ma? Kalo suatu saat engak ada lagi kalian yang manjain aku, dan suami sempurna versi kalian juga udah enggak ada, yang hidupin anak manja ini siapa kalo bukan pengalaman aku sendiri?"


"...."


"Jadi plis biarin aku jalanin pilihan hidup aku sendiri."

__ADS_1


*


__ADS_2