
Lima belas menit kemudian Abimanyu masih tidur pulas. Malah dari yang tadi hanya sekadar menyandar di bahu mendekati dada Rara, kini dia berbaring di pahanya.
Rara tidak punya keinginan membangunkannya.
Waktu Mama pulang dan melihat menantu yang dihukumnya malah asik-asikan tidur di paha Rara, Mama mau menegur. Tapi Rara menggeleng, memohon agar Mama tidak terlalu keras.
"Udahlah, Ma," ucap Papa menegurnya. "Jangan keterlaluan juga sama Abimanyu. Kan bukan salahnya juga Rara begitu. Yang penting lain kali dia jagain Rara."
Mama membuang muka saja, masuk tanpa berkomentar lagi. Papa melempar senyum geli pada Rara yang ikut tersenyum kecil.
Entah berapa lama Abimanyu tidur tapi yang jelas itu tidak sebentar Rara mengubah posisi payung mengikuti posisi matahari yang juga berpindah. Suaminya malah tidur terlalu nyenyak.
Dan akhirnya ....
"Ugh ...." Abimanyu menenggelamkan wajahnya ke perut Rara.
Tangan Rara mengerat menyisir rambut lepek Abimanyu, mengacak-ngacak pelan. "Kamu udah tidur dari tadi. Mama udah pulang."
Abimanyu diam saja.
"Bangun dong. Tadi kamu bilang lima belas menit, taunya dua jam lewat."
"...."
"Abimanyu, kalo mau lanjut tidur, mending ke kamar aja."
Dia tampak sangat malas tapi akhirnya bangun. Rambutnya yang acak-acakan terlihat lucu tapi malah membuat dia terlihat lebih tampan dan manis.
"Kalo capek banget harusnya kamu bilang. Jangan maksain diri."
Abimanyu menatap Rara intens. Hal yang membuat Rara seketika gugup karena tatapan Abimanyu yang baru bangun tidur malah lebih tajam dari biasanya.
"A-apa?" Rara sampai memundurkan wajahnya padahal Abimanyu tidak mendekat.
"Ranaya."
Rara menelan ludah.
Apalagi ketika Abimanyu mengulurkan tangan, mengusap wajahnya. "Aku," gumam pria itu, "enggak akan lepasin kamu."
Eh? Kenapa tiba-tiba?
Setelah mengatakan hal yang membuat Rara cengo Abimanyu malah langsung beranjak, masuk ke rumah tanpa mau bertanggung jawab pada wajah merah Rara.
Tentu saja Rara tidak mengerti kenapa Abimanyu mengatakan itu, tapi Abimanyu sangat mengerti.
Rasanya sudah lama Abimanyu tersesat. Sejak Abimanyu mencintai Juwita yang berstatus sebagai ibu tirinya, Abimanyu telah lama tersesat dalam hutan luas. Hanya tangan Juwita yang Abimanyu sebut rumah tapi karena dia ibunya, Abimanyu berlari menjauh dari rumah itu.
Dan sekarang Abimanyu mulai merasa telah menemukan rumah baru. Rumah di tangan wanita kecil yang bisa membuatnya aman bahkan dalam tidurnya. Karena itu, bagaimanapun juga Abimanyu tidak akan pernah melepaskan tangan Rara.
__ADS_1
Abimanyu sudah lelah tersesat.
*
"Mbak Rara," celetuk Windy, salah satu adik sepupu Rara yang hari ini ikut ke Bali sesuai janji Abimanyu dulu, "kok mukanya Mas Abi badmood gitu? Jangan-jangan marah yah soalnya kita maksa-maksa?"
"Itu udah tau." Rara menjawab demikian tapi langsung tertawa melihat Windy merengut sebal. "Enggak. Sebenernya aku ...."
"Hm?"
Rara menghela napas, datang lebih dekat untuk berbisik, "Aku lagi tanggal merah. Barusan banget."
Mereka baru sampai di hotel kurang dari lima menit dan hal pertama yang Rara lakukan adalah pergi ke toilet, menyadari kalau tamu bulanannya sedang datang tanpa permisi.
Rara juga lengah sampai lupa jadwal bulanannya makanya ....
"Pfft! Bukannya dua hari lagi mau ke Raja Ampat bulan madu, Mbak?" Windy langsung tertawa keras, menertawakan kemalangan nasib Abimanyu.
Rara mendorong bahunya agar dia berhenti tapi Windy malah pergi sambil terus tertawa.
Suara tawa Windy nampaknya terdengar oleh Abimanyu. Pria itu menatap tajam pada Rara, tatapan dendam yang malah lucu bagi Rara.
Ya masa Rara mau menolak hukum alam? Kan bukan Rara juga yang minta datang bulan pas mereka akan bulan madu.
"Mas Abi." Rara usil mencolek pipinya dan memanggil dengan cara sepupu-sepupunya memanggil Abimanyu. "Jangan marah dong. Masa ngambek karena itu sih?"
Abimanyu menepis tangannya. Sangat amat datar menatap saudara-saudara Rara yang sibuk sendiri berfoto di setiap sudut hotel bintang lima ini.
Tapi Rara sudah mulai mengenal Abimanyu, makanya Rara tersenyum geli. Wanita itu sejenak mengecek sepupu-sepupunya sebelum tiba-tiba mencium pipi Abimanyu.
Perbuatan Rara sontak membuat Abimanyu berpaling.
"Maksudnya apa?" tanya pria itu.
"Enggak ada." Rara memeluk lengannya, bersandar pada bahu Abimanyu agar wajahnya tidak terlihat.
Tapi Abimanyu sebenarnya melihat. Diam-diam pria itu tersenyum geli. Lucu karena Rara berpikir cium pipi bisa menghibur Abimanyu yang bete karena hal itu. Jelas tidak sepadan, tapi anehnya Abimanyu benar-benar terhibur.
"Mulut kamu yang atas enggak berdarah," bisik Abimanyu. "Masih bisa dipake."
Rara melotot. "Kamu ngeliat aku apaan sebenernya?!"
"Seex toy," jawab Abimanyu tanpa ragu.
Wanita itu beranjak pergi, gantian dia yang misuh-misuh.
*
Suara ponsel Abimanyu mengalihkan perhatian Rara yang tengah berdandan sebelum turun ke bawah, di mana sepupunya ingin berpesta bersama. Kebetulan Abimanyu sedang mandi hingga Rara berinisiatif melihat siapa penelepon itu.
__ADS_1
Cantik 💋
Ekspresi Rara mendadak beku. Apalagi ketika melihat wajah Olivia di profilnya yang memastikan bahwa si Cantik kontak Abimanyu ya Olivia.
Bisa-bisanya dia menamai kontak sahabatnya si Cantik. Pakai emoticon kiss pula.
Rara kembali duduk, pura-pura tidak melihat. Ponsel itu terus berbunyi sampai akhirnya Abimanyu keluar, melihat sendiri ponselnya.
"Halo?" Dia segampang itu menjawab. "Lo di Bali juga?"
Rara menahan napas. Jangan bilang karena Rara tidak bisa melayaninya, Abimanyu jadi pergi ke ranjang sahabat tapi mesranya itu?!
"Oke, gue ke sana habis ini."
Persis setelah panggilan diputus, Rara menoleh.
"Mau ke mana?" tanya Rara dengan nada super dingin.
Ia berharap suaminya yang cerdas dan sangat peka ini setidaknya menjelaskan sebuah alasan logis kenapa dia harus bertemu sahabatnya yang secara kebetulan ada di Bali juga saat Rara sedang datang bulan.
Tapi dengan singkat Abimanyu berkata, "Ketemu Olivia."
DIA PIKIR ITU ALASAN?!
"Oh." Rara membuang muka. Ia mau mengamuk tapi bukan karakternya suka mengamuk.
"...."
"Perut aku keram." Rara lebih ahli berbohong. "Kayaknya enggak bisa turun ke bawah."
"Yaudah istirahat."
Kenapa Rara mendadak mau membunuh pria ini? Bukankah seharusnya dia—cih, sudahlah.
Rara meletakkan bedaknya di atas meja rias begitu saja, pergi ke tempat tidur karena sepertinya ia tidak mood turun sekarang. Wanita itu masuk ke selimut, menggulung dirinya sendiri bersama bantal guling.
Kalau Abimanyu sungguhan pergi ke selingkuhannya karena Rara tidak bisa memuaskan dia beberapa hari kedepan, demi Tuhan dia telah jadi badjingan sungguhan.
Awas aja, gumam Rara dalam hati. Kuaduin Tante Juwita.
Tapi ketika Rara sibuk mengumpati Abimanyu dalam hati, tiba-tiba sebuah tangan menyibak selimut dari kepalanya, disusul kecupan kecil mendarat di pipinya.
"Olivia mau bahas soal pesta drugs di deket sini," bisik Abimanyu lirih.
Rara tertegun.
"Kalau rencananya lancar, nanti malem bakal ada yang bawa undangan ke kamu buat dateng ke sana. Mereka enggak bakal dateng kalau aku ada di sini, mesra-mesraan sama kamu."
Abimanyu tersenyum. "Bahkan kalau kamu enggak ngasih jatah selama haid pun aku enggak bakal tidur sama Olivia. So can you trust me now, Princess?"
__ADS_1
*