
"Rara." Ketukan pintu untuk kesekian kali terdengar di kamar wanita itu. "Rara, keluar dulu makan, Nak. Mama masak udang kesukaan kamu."
Andai saja Rara hanya anak kecil belasan tahun yang mampu digoda oleh makanan kesukaannya niscaya sekarang wanita itu sudah loncat, bergegas turun ke bawah untuk makan dengan lahap. Tapi sayangnya Rara tidak lapar. Atau setidaknya ia tidak merasa lapar meski perutnya kosong.
Wanita itu hanya berbaring di tempat tidur, memandangi ruang kosong yang selalu diisi oleh Abimanyu.
Jadi begini yah rasanya jadi Sakura? Padahal Rara tahu ia masih punya Mama, masih punya Papa, masih punya orang-orang yang mencintainya, tapi ruang kosong yang biasa diisi oleh satu orang itu cukup untuk membuat Rara merasa ia sendirian.
Kesepian di tempat ini.
"Rara, pintunya buka, Nak." Kini suara Papa yang terdengar. "Rara, ayo turun makan. Papa temenin, Nak, sini."
Rara justru memejam, memgusap air matanya yang berjatuhan. Maaf. Sungguh, ia minta maaf pada kedua orang tuanya yang khawatir tapi sekarang Rara tidak ingin baik-baik saja.
Ia tidak ingin baik-baik saja sampai Abimanyu pulang.
Tok tok tok.
Lagi-lagi ketukan pintu terdengar.
"Rara."
Tapi suara itu sontak membuat Rara berpaling.
"Rara," panggil suara yang ia yakin itu milik Juwita. "Nak, ini Tante. Bisa bukain enggak?"
Rara bergegas turun dari kasurnya, menarik pintu terbuka dan langsung menghambur pelukan pada Juwita. Sedangkan Juwita yang menerima pelukan itu tak ragu membalasnya.
"Enggak pa-pa," bisik Juwita halus. "Enggak pa-pa, Nak. Sedih aja enggak pa-pa."
Kedua orang tua Rara hanya menyaksikan itu dalam diam. Selama ini mereka berpikir sudah sangat mengenal Rara. Sangat amat mengenalnya. Tapi ketika anak perempuan mereka sampai mengurung diri karena seorang laki-laki, entah kenapa itu terasa asing.
Seakan-akan ada sisi Rara yang tidak mereka mengerti dan hanya bisa dimengerti oleh Rara sendiri.
Sangat lama rasanya Rara menangis di pelukan Juwita, sebelum kemudian Juwita meminta mereka duduk bersama di bawah karena ada hal yang mau ia sampaikan.
Perasaan Rara sudah tidak enak.
__ADS_1
Terutama ketika Juwita mengulurkan map di atas meja.
"Ini surat cerai dari Abimanyu."
Rara menggeleng sambil berusaha terus menahan teriakannya. "Enggak," gumamnya sepelan mungkin. "Enggak mau. Aku enggak mau."
"...."
"Aku enggak mau, Tante! Aku enggak mau!"
Juwita sempat terdiam walau terlihat jelas bibirnya bergetar hebat. Wanita itu menatap kedua orang tua Rara dan tersenyum lemah pada mereka.
"Dia anak saya yang spesial," kata Juwita. "Dari sejak awal saya berusaha jadi istri Papanya, dia yang selalu ada bantuin saya. Enggak salah kalau orang bilang dia anak kesayangan saya."
"Tante!"
"Mungkin emang saya enggak bisa jadi orang tua yang baik buat anak tiri saya. Mungkin saya enggak cukup buat bikin Abimanyu jadi manusia yang baik di mata semua orang."
Juwita mengulurkan tangan pada Rara, meremas kencang jemarinya yang juga sama dingin seperti Juwita.
Abimanyu selalu berusaha. Tapi dia hanya selalu dibuat gagal oleh semesta. Mungkin agar dia di masa depan menjadi semakin dewasa dan mengerti tentang betapa pentingnya menjaga diri dari kesalahan.
Tapi sekali lagi, Abimanyu berusaha. Dia selalu berusaha. Dia selalu mencoba untuk berhasil walau masih selalu gagal.
"Egois kalau saya minta anak kesayangan Bapak sama Ibu harus berjuang sama anak saya yang lagi berantakan. Kalian sebagai orang tua juga enggak akan sanggup ngeliat anak kalian tersiksa demi selalu ngejar anak saya." Juwita menoleh pada Rara. "Makanya Rara boleh mundur. Enggak perlu ngabisin waktu sama Abimanyu yang sekarang."
Rara mengerang dalam tangisannya, tak bisa bahkan untuk menyuarakan penolakan.
Juwita mengelus punggung rapuh wanita itu, berusaha untuk tetap tersenyum walaupun ia menangis.
"Abi terlalu sayang sama kamu sekarang, Rara," bisik Juwita. "Makanya dia enggak bisa biarin kamu kenapa-napa lagi."
*
"Oi, Bi, bangun kek!" seru Olivia pada pria yang kini malah sibuk main game sambil menidurkan anak di dada bidangnya. "Ini kan barang-barang lo semua, kampret! Kenapa jadi gue yang nyusunin?!"
Abimanyu hanya fokus pada game-nya.
__ADS_1
"Hah, emang dasar pengangguran. Baru juga sehari lo kismin." Olivia menggerutu tapi pada akhirnya tetap menarik semua koper-koper Abimanyu untuk dipindahkan ke dalam rumahnya.
Ya, Abimanyu kedepan akan tinggal di kediaman Olivia. Sebenarnya sih bukan karena Abimanyu sudah terlalu miskin sampai dia harus bergantung pada Olivia. Delapan puluh persen kekayaan Olivia itu semuanya berasal dari Abimanyu jadi bisa dibilang semua ini juga fasilitas milik Abimanyu.
Tapi Abimanyu harus membuat dirinya terlihat miskin sampai-sampai perlu numpang hidup di perempuan kaya agar orang seperti Dian pergi dari hidupnya. Karena untuk kedepan Abimanyu tidak punya waktu meladeni orang-orang seperti mereka dan harus fokus membangun kembali kesuksesannya.
"Ngomong-ngomong, tadi asistennya Tante Juwita mampir ngasih ini." Olivia menuangkan isi kantong plastik di tangannya dan hamburan sobekan surat cerai langsung jatuh ke dekat sofa. "Rara enggak mau tanda tangan."
Abimanyu langsung berhenti bermain game. Pria itu meletakkan ponselnya, pelan-pelan duduk sambil menahan Abirama tetap tidur di dadanya sementara Abimanyu melihat surat cerai yang sobek-sobek itu.
Sudah ia duga tidak mudah. Rara itu keras kepala. Dia pasti akan berkata dia siap dengan segala risiko dan mau menghadapinya bersama.
Tapi Abimanyu tidak mau. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun untuk Abimanyu bisa memulihkan dirinya sendiri dan apa harus Rara menunggu bertahun-tahun hanya demi sampah sepertinya?
Itu sangat tidak layak. Perempuan itu pantas dengan sesuatu yang lebih baik.
"Enggak masalah." Abimanyu menjawab setelah lama diam. "Kalo dia tau gue tinggal sama lo, dia pasti yang bakal ngirim surat cerai sendiri."
Ini juga alasan lain kenapa Abimanyu memilih tinggal dengan Olivia sekarang.
"Hmmm, entah sih." Olivia mengangkat bahu. "Asisten nyokap lo bilang kalo Rara pindah ke rumah nyokap lo."
"Apa?"
"Katanya dia minta Tante Juwita ngebolehin dia tinggal di sana sampe lo mau ketemu dia. Dan Tante Juwita setuju."
Abimanyu menghela napas. Harusnya Juwita tidak menerima permintaan itu. Tapi kalau dia mau melakukan itu pun terserah Juwita.
"Abimanyu." Olivia tiba-tiba saja menatapnya dengan sangat serius. "Lo serius mau begini? Lo enggak mau milih opsi lain misal biarin Rara tetep sama lo?"
"Gue itu ibarat racun buat Rara, sementara Rara ibarat obat gue." Abimanyu tersenyum muram. "Lo nyuruh gue biarin dia ngobatin gue sementara dia terus-terusan bakal keracunan karena gue?"
"Tapi—"
"Sometimes sayang itu mesti lo buktiin lewat jarak, Olivia. Lo perlu ninggalin orang yang sakit hati karena kelakuan lo. I'm doing my best. This is the best for her."
*
__ADS_1