
Abimanyu masih bisa merasakan telinganya berdengung. Hal yang sama dan selalu terjadi tapi tak pernah membuatnya terbiasa setelah pertarungan. Pria itu mengerang di antara kesadarannya yang semakin terkumpul.
Ingatan demi ingatan terpicu dalam otaknya secara cepat hingga Abimanyu sendiri tidak bisa menanganinya.
"Ranaya," bisik pria itu di sela-sela rasa sakitnya.
Sekarang Abimanyu ingat. Sesuatu yang sangat mau ia sampaikan pasa Rara namun ia tunda selama sebulan karena berharap setelah itu, hidupnya bisa sedikit lebih santai.
Ayo ubah kesepakatan, itu yang mau Abimanyu katakan. Ayo hilangkan batas waktu kontrak pernikahan mereka jadi selamanya.
Ayo jalani hidup mereka lebih normal.
Abimanyu sudah baik-baik saja. Ia sudah tidak terkubur dalam gelap perasaannya pada Juwita.
Rara adalah harapan barunya. Dia seseorang yang membuat Abimanyu ingin cepat pulang dan melihatnya.
Lalu ....
Ayo punya anak.
Abimanyu sangat ingin mengatakannya.
Ayo punya anak untuk membuktikan cinta mereka satu sama lain. Abimanyu selalu merasa takut tiap kali memikirkan ia harus punya anak, punya seseorang yang hidupnya bergantung pada Abimanyu. Tapi jika dengan Rara, Abimanyu merasa akan baik-baik saja. Masa depan anak itu akan baik jika ibunya adalah Rara.
Ya, Abimanyu mau mengatakan itu. Ia mau mengatakan bahwa, sekalipun tubuhnya berlumur lumpur, ia harap Rara mau mengerti dan menerimanya. Abimanyu akan berusaha membersihkan dirinya sendiri san memantaskan dirinya jadi tolong bersabarlah sebentar saja.
Hanya sebentar.
"Ranaya."
"Udah bangun, Pahlawan?"
Suara asing itu seketika membuyarkan seluruh pikiran Abimanyu. Mau tak mau ia mendorong tubuhnya sendiri, yang ternyata hanya berbaring tanpa alas di sebuah lantai, mendongak pada seorang pria yang wajahnya tidak Abimanyu kenali.
"Setelah ngebiarin istri pertama lo berminggu-minggu ilang, akhirnya lo dateng nyariin dia juga. Tapi wala, ternyata yang nungguin cuma hujan peluru. Lucunya," kata pria itu dengan senyum tenang namun mengejek.
Abimanyu terbatuk-batuk. Masih dengan kepala pening berat, Abimanyu menoleh ke sekitaran, menemukan dirinya berada dalam sel.
Jadi begitu, kah? Mereka tertangkap. Tapi di mana Hara? Kalau dia selamat, itu lebih baik untuk Aliansi. Kehilangan pemimpin utama dalam Aliansi sekarang pasti akan sangat memukul mereka.
"Nyariin Zero? Kalo Zero dia masuk ke sel khusus."
__ADS_1
Abimanyu menegang. Sesuatu tiba-tiba terpikir di kepalanya dan saat ia mendongak lagi, pria asing itu tersenyum penuh arti.
"Ya, Abimanyu. Emang. Emang tujuan utama gue mancing lo ke sini itu Zero. Kepalanya Aliansi, wakil langsung Mahesa Mahardika. Terus terang gue enggak butuh lo juga sih. Kalau mau gue pulangin sekarang juga gue pulangin lo. Anggep aja ucapan terima kasih karena udah repot-repot nganterin Zero sampe ke sini."
Ah, brengsek. Jadi begitu. Jadi semua permainan dia yang seakan-akan menyerang Abimanyu ini cuma sekadar pancingan agar Zero alias Hara, kepala Aliansi, merasa geram dan akhirnya turun tangan?
"Sakura." Abimanyu terbatuk-batuk. Bercak darah membasahi lantai saat pria itu melakukannya, menandakan ada luka yang cukup dalam di tubuhnya. Tapi sebelum memedulikan luka, Abimanyu perlu menanyakan ini. "Sakura ... mana?"
Pria asing itu memicing. Tatapannya sejenak terlihat dingin tapi sesaat kemudian dia tersenyum, melempar kepalanya ke belakang dan tertawa.
"Sakura, kah? Truth be told sih yah, bini lo oke juga."
"...."
"Apalagi waktu dia nangisin kebodohan dia, ketololan dia, kegoblokan dia jadi manusia sebelum loncat ke jurang."
Abimanyu menahan napasnya. Tapi hal itu justru membuat dada Abimanyu tercekik, hingga batuk darahnya semakin parah.
"Lo nyari Sakura? Sayang banget, udah telat beberapa bulan. Kalo lo ke jurang nyari mayatnya, mungkin belatungnya masih ada."
Pria itu kembali tersenyum saat melihat sorot ketakutan di mata Abimanyu.
"Gimana rasanya, Jagoan? Bikin cewek cinta sama lo sampe dia rela loncat ke jurang karena enggak kuat lagi nanggung cintanya buat lo."
*
Olivia terus menunggunya. Ia percaya kalau Abimanyu pasti pulang.
Tidak. Abimanyu harus pulang. Olivia memaksa untuk percaya pada hal itu sebab ... jika badjingan itu tidak pulang ... segala usaha Olivia selama ini membantunya akan terasa sangat, sangat amat sia-sia.
Ditemani segelas kafein entah untuk kesekian kalinya, Olivia duduk di kursi kerjanya yang menghadap pada sejumlah layar komputer. Wanita itu memakai selimut tipis di tubuhnya, beberapa kali menatap kepulan uap panas dari gelas kopi yang ia pegang.
Ketika itu ... bel tiba-tiba berbunyi.
Olivia menengok jam dan menemukan sekarang adalah pukul dua pagi. Sejenak Olivia ragu, tapi pada akhirnya beranjak menuju pintu untuk membukanya.
Baru saja pintu itu terbuka, gelas kopi Olivia lolos dari tangannya, pecah berserakan di atas lantai. Pupilnya bergetar nanar pada sosok Abimanyu yang tampak sangat berantakan, penuh luka, dan begitu kosong melompong.
"Bi!"
Olivia hendak menyerbunya dengan pertanyaan. Begitu banyak pertanyaan. Tapi Abimanyu menatapnya dan seketika mulut Olivia terbungkam tanpa diminta.
__ADS_1
Ada sesuatu.
Ada sesuatu yang besar dibawa pulang oleh badjingan ini.
"Kenapa?" tanya Olivia berusaha tenang. "Lo kenapa lagi?"
"...." Abimanyu justru menunduk. Rambutnya turun menutupi kening pria itu tapi bibirnya yang kering pucat bisa terlihat jelas.
Dengan suara yang begitu serak, Abimanyu bergumam, "Kenapa enggak dari dulu?"
"Hah?"
"Lo bilang ke gue, kenapa enggak dari dulu."
Olivia tercengang. Sedikitpun ia tak paham apa maksud Abimanyu.
"Gue bilang apa—"
"Kenapa!" sentak Abimanyu tiba-tiba. Tapi suaranya kemudian surut dan punggungnya bergetar. "Kenapa lo enggak pernah nyuruh gue mati sih, Liv?"
Olivia terpaku.
Apalagi ketika Abimanyu mendongak, memperlihatkan tangisan pilu yang selama ini dia sembunyikan.
"Kenapa sih?" isak dia begitu lemah. "Kenapa Juwita enggak pernah nyuruh gue ke neraka aja, Liv?"
"Abimanyu, lo kenapa jadi—"
Pria itu terhuyung ke depan, membuat Olivia spontan menangkap tubuhnya yang tentu saja sangat berat. Bau tubuh Abimanyu begitu pekat. Aroma terbakar, besi berkarat, dan bahkan samar-samar aroma amis darah tercium. Tapi Olivia sedikitpun tak mengomentarinya, hanya menarik dia masuk dan menutup pintu rapat-rapat.
Tubuh Abimanyu ia bawa ke tempat tidurnya. Baru saja Olivia hendak melepaskan pakaian kotor Abimanyu, pria itu kembali menangis.
"Gue enggak pantes." Pria itu benar-benar menangis seperti anak kecil. "Buat Juwita, buat Ranaya, gue enggak pantes."
"Kenapa?"
Abimanyu justru terus menangis.
Emosi tiba-tiba memuncak di benak Olivia. Ia tak tahu apakah diam-diam ia cemburu karena yang tersebut di bibir itu justru hanya Rara dan Juwita, atau karena Olivia sudah terlalu lama begadang menunggu dia pulang. Tapi yang jelas Olivia hanya ingin menarik lengan Abimanyu, memaksanya untuk berhenti menangis.
"KENAPA ENGGAK PANTES?!"
__ADS_1
*