
"Kamu sebenernya ngapain?"
Rara bingung harus bertanya atau tidak sejak tadi dan akhirnya baru bisa bertanya setelah sekian lama ia menahan diri. Bagaimana tidak? Pagi-pagi buta yang membangunkannya bukan suara alarm tapi justru remasan tanpa henti di dadanya.
Pemilik tangan mesum itu malah tidur nyenyak sambil menyandarkan keningnya di bahu Rara.
"Bi? Enggak ada kegiatan lain gitu kamu kerjain pagi-pagi? Kamu kira punya aku apaan? Mainan?"
"Hm." Abimanyu malah menyahut. "Squishy," ucapnya lebih spesifik.
"Enggak paham aku megang begitu enaknya apaan." Rara menunduk, melihat tangan Abimanyu malah lebih semangat lagi.
Setelah berulang kali dibolak-balik oleh Abimanyu, Rara jadi sedikit lebih terbiasa dan tidak terlalu sensitif lagi, terutama kalau hanya sekadar remasan dada begini. Daripada mengurusi itu, Rara malah sibuk melihat tangan Abimanyu yang sempat terluka.
"Tangan kamu udah enggak sakit?"
"Masih."
"Kalo masih kenapa malah digerakin terus?"
"Soalnya megang ini lebih penting." Abimanyu malah berbisik, "Biar cepet gede."
Rara melotot. Spontan memukul punggung tangan suaminya itu dan memaksa untuk lepas. "Dasar otak kotor!" tudingnya sebelum masuk ke kamar mandi.
Abimanyu yang melihat itu malah tertawa kecil. Padahalnya niat Abimanyu mau malas-malasan dulu karena ia masih pusing, tapi Abimanyu menyusul Rara biar sekalian minta jatah.
"Bi."
"Hm?" Setelah diberi jatah di kamar mandi, Abimanyu masih saja sibuk menyusu seperti bayi.
"Kalo misal kamu dikasih uang semiliar tapi enggak dikasih jatah atau dikasih jatah tapi enggak punya uang, kamu milih apa?"
"Jatah."
Rara mencibir. "Kok gitu?"
"Ya kalo uang semiliar mah gampang dicari."
"Semiliar kamu bilang gampang?!"
Abimanyu memiringkan wajah. "Semiliar mah uang bulanan Boba doang."
Rara tersedak. "Adek kamu uang jajannya semiliar?!"
"Uang bulanan bukan jajan, elah." Abimanyu menyentil kening Rara. "Papa sama Juwita emang udah dari sekarang nyiapin uang buat masing-masing anaknya. Papa punya bisnis buat masing-masing anaknya dari Juwita. Hasilnya nanti masuk ke tabungan mereka. Yang aku inget terakhir buat Boba, Juwita beli emas sekilo lebih. Buat Lila kayaknya lebih banyak lagi."
Rara mendadak nyesek. "Dengan kata lain adek kamu lebih kaya dari aku? Haha, kayaknya enggak bakal ada anak Tante Juwita yang jadi beban keluarga."
Pria itu cuma mendengkus, kembali sibuk menyusu.
__ADS_1
"Kalo uang setriliun gimana, Bi? Kamu mending jatah atau uang?"
"Uang." Nominal bertambah ya jawaban berubah, dong.
"Kok uang? Tadi jatah."
"Kalo ada uang setriliun, aku bisa nikahin seribu perempuan biar jatahnya beda-beda."
Ujung-ujungnya buat jatah juga. Memang dasar pria mesum ini!
Rara menangkup pipi Abimanyu lalu mencubit pipi itu sesuka hatinya.
"Bi."
"Apa?"
"Jangan bosen sayang sama aku, yah."
Abimanyu langsung tersenyum. "Kalo gitu panggil Mas."
"Gak mau." Rara membuang muka.
"Kenapa sih? Susah banget kamu manggil suami kamu Mas?" protes Abimanyu kesal. "Atau kamu mau manggil aku Abang?"
"Nama kamu kan Abimanyu, bukan Mas atau Abang."
Abimanyu balas mencubit kedua pipi Rara hingga memerah. Berbeda dari Abimanyu yang tadi diam saja, Rara langsung menjerit.
"Makanya kalo disuruh ya lakuin aja."
Abimanyu dibuat terkejut ketika Rara ternyata menangis sungguhan. Wanita itu terus mengusap-usap pipinya sambil air mata berjatuhan.
"Baperan banget sih kamu." Abimanyu meledek, tapi buru-buru dipeluk tubuh perempuan itu, mencium pipinya yang memerah manis. "Maaf, yah. Aku salah. Maafin."
Sebenarnya sih Abimanyu tidak merasa bersalah tapi ia tahu kalau minta maaf perasaan Rara pasti lebih baik. Apalagi Abimanyu punya pengalaman dengan Juwita yang baperan parah jika dengan keluarganya.
"Sakit?" tanya Abimanyu pura-pura khawatir. "Ck, nakal banget sih ini tangan aku. Masa istrinya habis ngasih jatah malah dibikin nangis. Emang dasar enggak tau diri."
"Kamu!" Rara menyahut sebal tapi mau tak mau tersenyum. "Udah ah. Entar Mama marah lagi kalo kita telat turun."
Rara beranjak dari bathtub, menarik tangan Abimanyu untuk ikut bersamanya. Mereka saling bantu mengeringkan rambut masing-masing sebelum berpakaian lengkap dan turun.
Jam sebenarnya masih menunjukkan waktu pagi dan masih ada waktu sebelum waktu sarapan, tapi ternyata Mama sudah memasak.
"Besok aku aja yang masak yah, Ma."
"Udah, biar Mama aja." Mama langsung mengambilkan Rara potongan buah yang seakan sudah disiapkan dari tadi. "Nih, kamu makan. Kamu tuh kayak kurusan, Nak. Berat kamu turun berapa, hm?"
"Ma, please."
__ADS_1
"Enggak ada plas-plis plas-plis. Mama enggak mau yah kalo sampe kamu sakit."
Rara menghela napas. Tapi pada akhirnya ia terima saja, pergi duduk di sebelah Abimanyu. Sebelum menyuapkan ke mulutnya sendiri, Rara menyuapi Abimanyu lebih dulu.
"Rara, kemarin mertuamu dateng ke sini." Papa membuka pembicaraan. "Katanya kamu ngasih modal buat investasi?"
"Iya, Pa. Ini juga lagi persiapan buat buka brand kecantikan sama Tante Juwita. Tapi yah aku bagian modalnya aja sih. CEO-nya mungkin nanti Cetta."
Rara menceritakan semua bentuk usaha yang sedang coba ia lakukan bersama keluarganya Abimanyu. Walau Rara tak menceritakan bahwa semua usaha itu sudah ia minta hasilnya diberikan pada mereka berdua.
Sekarang Rara punya Abimanyu yang punya kewajiban memberinya nafkah jadi Rara hanya akan menjalankan bisnis ini murni untuk orang tuanya. Mungkin suatu saat Rara akan melakukannya demi diri sendiri, tapi dari awal sudah Rara bilang, kan?
Ia tak mau membahagiakan dirinya sendiri sebelum orang tuanya.
Walau semesta justru membahagiakan Rara dulu sebelum ia membahagiakan orang tua, tapi tujuan Rara tidak akan berubah.
Di tengah percakapan hangat keluarga ini, ponsel Rara tiba-tiba berbunyi.
"Mbak Anita." Rara memberitahu Mama dan Papa sekaligus Abimanyu. "Aku angkat dulu."
Lantas Rara beranjak, menerima panggilan itu.
"Halo, Mbak?"
"Kamu di mana sekarang?"
"Di rumah, Mbak, ada apa yah?" tanya Rara to the point. "Kalo soal ngonten aku enggak dulu, Mbak. Suamiku baru aja kecelakaan."
"Jadi bisa dibilang ini bukan kerjaan kamu?"
"Maksudnya Mbak?"
"Buka IG."
Anita hanya mengatakan itu lalu mematikan panggilan. Rara bingung tapi Anita bukan wanita yang sembarangan menelepon cuma buat iseng pada seseorang. Segera Rara membuka aplikasi yang sudah sangat jarang ia buka sejak Abimanyu kembali.
Dalam sekejap ekspresi kebingungan Rara ditelan habis oleh ketegangan. Wajah itu seketika pucat pasi.
Entah dari mana asalnya tapi sosial media Rara dibanjiri oleh netizen dan semua itu karena sebuah berita.
Mantan Suami Sakura Ternyata Punya Anak Dari Perempuan Lain.
Foto Dian, anaknya, dan foto Abimanyu dipasang secara gamblang di sana.
Kemudian berita di bawahnya : Setelah Berhasil Jadi Istri Kedua Lewat Jalur Pelakor, Ranaya Syiham Juga Ditikung Pelakor?
Rara merasa jantungnya diremas kasar. Namun jika ada yang membuatnya paling takut, itu adalah saat ia berpaling dan Mama ternyata juga sedang terpaku pada ponselnya.
Argh, Sakura sialan.
__ADS_1
*