Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
39. Skandal Abimanyu Nyata


__ADS_3

Abimanyu pernah mengalami fase di mana ia berhalusinasi Juwita di sekitarnya. Abimanyu sering mengalami itu saat ia benar-benar sangat merindukan Juwita dan mulai kehilangan akal sehat seperti orang yang habis minum obat.


Tapi Abimanyu tidak pernah seperti ini. Ia sampai lupa diri dan mengejar wanita ini untuk memastikan apakah dia Juwita atau bukan.


"Juwita?" Abimanyu bernapas terputus-putus. Kelelahan oleh kenyataan bahwa dia benar-benar tampak seperti Juwita.


Perempuan itu berusaha melepaskan diri. "Lepasin saya, Kak."


Abimanyu tertegun. Juwita tidak pernah memanggilnya Kak. Jelas tidak pernah. Dia malah lebih suka memanggil Abimanyu dengan sebutan Bocah atau Cahku atau bahkan Sontoloyo.


Meski detik itu Abimanyu sadar perempuan ini bukan Juwita, pegangan Abimanyu padanya justru menguat.


Bagaimana bisa seseorang begitu mirip hingga seperti duplikat? Bagaimana bisa dia nampak seperti Juwita sampai-sampai terlihat kembar sedarah? Juwita itu anak tunggal dan kalaupun punya kerabat semirip ini Abimanyu pasti sudah tahu dari dulu.


"Kak, sakit."


Abimanyu tersentak. Buru-buru ia lepaskan dam melihat bekas tangannya di pergelangan kurus perempuan itu.


"Maaf." Abimanyu berhati-hati menyentuhnya lagi. "Maaf. Gue enggak—enggak, maksud saya ... saya enggak sengaja."


Dia meringis seolah pergelangannya sangat sakit. Hal itu tak pelak membuat Abimanyu panik.


"Kamu duduk dulu. Biar saya ambilin kompres," pinta Abimanyu padanya.


Walau dia bukan Juwita, Abimanyu tidak bisa berhenti merasa panik seolah dia Juwita. Pria itu buru-buru meminta pelayan hotel datang untuk membawakannya kompres lalu duduk memegang tangan perempuan itu seolah patah.


Padahal sebenarnya baik-baik saja.


"Sakit?" Akal sehat Abimanyu tahu bahwa ini berlebihan tapi Abimanyu tidak bisa dibutakan oleh wajahnya.


Ketika dia meringis, demi Tuhan dia benar-benar mirip Juwita. Yang berbeda hanya dia terlihat lebih muda, mungkin sekitaran usia Rara.


"Udah, Kak. Udah enggak pa-pa," kata perempuan itu hendak menarik tangannya.


Tapi Abimanyu hanya spontan menahan. Abimanyu justru menggenggamnya erat.


"Maaf, Kak, Kakak ini siapa yah? Kenapa manggil saya Juwita? Nama saya—"


"Kamu," potong Abimanyu panik. Pupil matanya melebar dan keringat membasahi pelipis Abimanyu. Tak tahu kenapa tapi Abimanyu sangat tidak mau mendengar namanya.


Abimanyu tidak mau mendengar fakta yang lebih jelas bahwa dia bukan Juwita.


"Kamu," Abimanyu menelan ludah, "orang asli sini?"

__ADS_1


"Bukan, Kak." Perempuan itu menunduk canggung. "Saya asli Bandung. Dateng ke sini cuma buat liburan."


"Oh." Abimanyu terus memandangnya tak peduli jika wanita itu tak nyaman. "Udah berapa hari di sini?"


".... Baru sehari, Kak." Dia menelan ludah. "Anu, Kak, ini tangan saya lepasin, tolong."


Abimanyu tidak mau. Tubuhnya justru mau bergerak memeluk wanita ini dan membawanya pergi ke tempat mereka hanya bisa bicara berdua.


Tapi Abimanyu juga sadar bahwa ia tak bisa.


"Maaf." Abimanyu akhirnya mengalah. Melepaskan tangannya dengan ekspresi muram. "Kamar kamu nomor berapa?"


".... Kenapa yah, Kak?"


".... Cuma mau tau." Abimanyu menatap lekat padanya tanpa henti. "Kamu keberatan kalau saya minta nomor kamu? Gimana kalau sarapan besok?"


Perempuan itu justru beranjak buru-buru. "Maaf, Kak, saya ditungguin temen saya. Permisi."


Abimanyu beranjak dan siap mengejar perempuan itu. Bahkan Abimanyu sendiri tidak sadar seberapa menakutkan dirinya sekarang karena tiba-tiba bertanya nomor kamar, nomor telepon, mengajak makan bersama padahal nama pun belum tahu.


Tapi Abimanyu tidak peduli. Wajah Juwita di wajah perempuan itu membuat nya gila.


"Tomoya." Abimanyu akan menyusul dia secepatnya. "Hubungin Denis sekarang juga. Kirim foto Juwita ke dia dan bilang kasih gue infomasi soal cewek Bandung yang mukanya mirip Juwita."


"Buruan!" bentak Abimanyu hilang kendali. Tapi sesaat kemudian pria itu menutup wajahnya, terduduk frustrasi. "Buruan," bisiknya lemah. "Kalo perlu tanya ke Salim soal cewek yang kemarin masuk ke teritorinya."


".... Alright." Tomoya setidaknya mengerti bahwa Abimanyu sedang gelisah. "Gue usahain cari yang lo mau, Bos."


Abimanyu menurunkan ponselnya setelah panggilan terputus. Pria itu menautkan tangan di depan keningnya, menunduk gelisah bersama detak jantung yang menggila.


Juwita.


Ternyata ada Juwita lain di dunia ini selain Juwita.


Tidak, dia bukan Juwita. Dia pasti berbeda dari Juwita yang Abimanyu kenal. Meskipun mereka terlalu kembar, bukankah kasus kembaran dengan seseorang itu sendiri bukannya hal aneh? Abimanyu tidak boleh terlalu larut dalam perasaan ini.


Tapi ... tapi dia setidaknya memiliki wajah Juwita. Dia bukan Juwita namun dia memiliki sesuatu yang Juwita miliki. Bagaimana kalau dia menjadi Juwita saja dalam hidup Abimanyu? Bagaimana kalau Abimanyu menikahinya dan memastikan dia selalu berada di sisinya?


"Abimanyu."


Lamunan Abimanyu buyar seperti balon yang dipecahkan saat suara Rara terdengar. Pria itu seperti baru sadar kalau dirinya sedang bersama sang istri, sedang berbulan madu dan seharusnya kembali secepat mungkin untuk melanjutkan sesi pemotretan.


"Kamu kenapa?" Rara berdiri di hadapannya. "Kok pucet? Kamu sakit?"

__ADS_1


".... Enggak." Abimanyu beranjak. "Sesinya selesai di sini," kata pria itu lagi. "Suruh tim kamu bubar."


"Bi, tapi kamu—"


Abimanyu berlalu pergi begitu saja, merasa harus menjauh dulu untuk menata ulang pikirannya sendiri.


*


Rara langsung menyusul Abimanyu ke kamar mereka begitu selesai membubarkan tim pinjaman Anita. Mereka semua Rara biarkan makan di restoran dan menikmati fasilitas sesuka mereka sebagai bentuk ucapan terima kasih.


Sedangkan Abimanyu ternyata sedang di kamar mandi, merendam dirinya sendiri.


"Bi." Rara ikut masuk setelah melepas pakaiannya dan menutup tubuhnya hanya dengan jubah mandi. "Mau mandi bareng?"


Abimanyu menatapnya tanpa eskpresi. "Enggak malem ini. Kamu tidur duluan," kata dia pelan tapi Rara dapat merasakan penekanan dan perintah mutlak di ucapannya.


Dia menyuruh Rara menjauh. Padahal selalu dia yang mendesak Rara bermesraan dengannya.


"Besok kamu mau ngomongin ini kan, Bi?" tanya Rara memastikan. Malam ini ia mengalah tapi besok maukah dia membicarakan soal siapa perempuan itu?


"Ranaya." Abimanyu menatapnya tajam.


Membuat Rara paham bahwa pria ini tidak akan bersikap lembut seperti yang selalu dia lakukan selama ini.


Rara beranjak dari sana, pergi ke tempat tidur dan berusaha untuk tidak menangis.


Jangan sedih. Rara tidak boleh bersedih. Bisa saja Abimanyu cuma sedang banyak pikiran dan dia terlalu lelah untuk banyak bicara.


Jangan sampai Rara menjadi Sakura kedua yang gila dan justru dibuat semakin gila lantaran terlalu emosional. Pasti ada penjelasan jadi jangan terlalu cepat bersedih.


"Nikmatin neraka sama ahli neraka kayak Abimanyu, dasar bi-tch murahan." Itu adalah pesan Sakura untuk Rara sebelum dia kabur ke luar negeri.


"Skandal Abimanyu sama mama tirinya itu fakta." Lalu itu kata wanita asing yang Rara lihat di klub sewaktu masih di Bali.


"Juwita." Dan itu adalah rintihan Abimanyu saat dia menangis diam-diam di bukit.


"...."


Jadi begitu, yah.


Sekarang Rara mengerti. Abimanyu punya perasaan terlarang untuk Juwita dan dia masih menyimpan semua itu sampai detik ini.


*

__ADS_1


__ADS_2