
Lepas mandi, Abimanyu turun untuk makan malam. Banyu dan Kisa bergabung dengannya di sana, tapi makan malam berlangsung tanpa banyak percakapan.
Di tengah-tengah acara makan, Abimanyu mendongak, "Siapa yang masak?"
Rara tersenyum di dekat kursinya. Seperti seorang pelayan ia memang cuma berdiri di samping Abimanyu dan mengambilkannya makanan juga minuman.
"Saya, Pak," jawab Rara lantang.
"Juwita yang ngajarin?"
"Iya, Pak."
Jangan remehkan usaha Rara sebulan ditinggalkan. Ia bahkan sudah hafal betul takaran manis di kopi susu kesukaan Abimanyu. Semuanya Juwita ajarkan sampai Rara melakukannya dengan sangat sempurna.
"Kalo gitu mulai sekarang kamu yang tanggung jawab soal makanan saya."
"Baik, Pak."
Abimanyu kembali menyantap makanannya. Setelah makanan di piringnga habis, Rara tanpa disuruh menuangkan air lagi ke gelas Abimanyu. Pria itu tidak banyak bersuara sekalipun tahu pelayan barunya itu sedang caper.
"Bi." Kisa yang sejak tadi diam akhirnya buka suara. "Kamu mau pergi ke markas lagi habis ini?"
"Enggak. Zero ngasih waktu buat pemulihan jadi sementara aku libur." Abimanyu mengulurkan tangan pada gadis itu. "Kenapa? Kamu mau jalan-jalan?"
Rara mengatup mulutnya. Walau Abimanyu sepertinya samar-samar mengenali Rara, dia tetap tidak bisa menolak wajah ibu tirinya, kah?
Tapi Rara tidak boleh terganggu hanya karena hal ini!
"Ah, Rara." Banyu tiba-tiba menyeletuk. "Jam sembilan lo udah free, kan? Kata lo kemarin mau belanja baju, biar gue temenin."
Kapan aku bilang? Adalah tatapan yang langsung Rara kirim.
Tapi Banyu malah membuang muka, pura-pura cuek.
Untungnya otak Rara berfungsi normal. Detik berikutnya ia paham maksud anak ini apa.
"Oiya yah, Mas." Rara tersenyum sangat manis pada Banyu. "Mas enggak keberatan kan nemenin? Siapa tau gitu Mas ada yang marah."
"Gue nih milik semua cewek cantik—"
"Kamu mau belanja apa?"
Kalau ini acara Mancing Mania, maka sekarang Rara dan Banyu sama-sama mengacungkan jempol ke kamera, mengangkat ikan besar hasil tangkapan mereka (yaitu Abimanyu) lalu berkata 'mancing mania, mantap!'.
Rara pura-pura tolol melihat tatapan tajam Abimanyu padanya dan Banyu.
"Itu, Pak, baju saya kurang dari luar kota." Rara membuat alasan konyol. "Kemarin Bu Juwita udah nyuruh saya belanja sendiri tapi enggak sempet."
__ADS_1
Abimanyu kini mendelik pada Banyu. "Terus apa hubungannya pembantu gue sama lo?"
Adiknya itu mengangkat bahu tak peduli. "Cewek cantik mah enggak ada hubungan juga dihubung-hubungin. Kayak enggak ngerti aja."
Nampaknya skill brengsek Abimanyu ada juga pada tubuh adiknya.
"Lagian suka-suka gue, dong." Banyu tersenyum brengsek. "Pembantu lo ya pembantu lo, urusan kerjaan. Kalo gue jadiin pacar gue ya urusan gue. Toh Juwita sama Papa juga enggak ngurusin status gituan. Yang penting mereka berkualitas. Iya kan, Rara?"
Rara tertawa manis. "Bisa aja, Mas."
"Enggak usah ketawa," ketus Abimanyu yang seketika membungkam Rara. "Baju kamu nanti saya suruh orang bawain jadi enggak usah godain adek saya."
Perkataan dia menusuk, tapi waktu melihat ekspresi sebal Abimanyu yang beranjak, Rara malah geli sendiri.
"Dasar perempuan," gerutu Abimanyu. "Kamu kira ngerayu sana-sini bikin hidup kamu enak? Hah, berkualitas apaan!"
Rara menjulurkan lidah hingga pelan-pelan lain menahan tawa. Abimanyu yang tidak melihat Rara tapi melihat pelayan lain sontak berbalik, menemukan Rara tengah sibuk merapikan piring.
"Mulai sekarang jam kerja kamu dua puluh empat jam!" tegas pria itu.
Abimanyu pergi begitu saja, diikuti oleh Kisa yang terdiam seribu bahasa.
Begitu Abimanyu sepenuhnya hilang, Rara langsung mengajak Banyu tos.
"Iyey!" Rara tertawa cerah. "Makasih yah, Adek Ipar."
"Ceh. Bantuan gue enggak gratis," balas Banyu ketus. "Kalo itu Kampret nanti udah waras, lo mesti beliin gue BMW seri baru!"
Banyu melirik. "Lo ini ngeremehin perasaan Abimanyu kayaknya."
"Eh? Apanya?"
"Itu Kampret masuk Aliansi, yang sekarang disebut-sebut bayangan militernya negara, cuma buat Juwita. Yang kalo lo masuk ke sana, mati di mana lo juga enggak bakal tau, itu semuanya buat Juwita. Karena Juwita."
Banyu menatap kosong gelas minuman di tangannya.
"Lo kira cuma karena lo ngubah muka, Abimanyu bakal sujud buat lo? Terlepas dari fakta Juwita siapa buat dia, perasaan dia ke Juwita itu bukan sesuatu yang bisa diacak-acak sama orang baru."
Rara tertegun.
"Makanya ... jangan remehin gilanya dia ke Juwita."
*
"Kamu ... siapa?"
Kisa tertegun saat Abimanyu berbalik, menatapnya dengan sorot mata tanpa rasa.
__ADS_1
"Maksud kamu apa, Bi? Aku—"
"Aku enggak bodoh, Juwita." Abimanyu kini sepenuhnya menghadap pada Kisa, menyentuh wajahnya itu. "Kenapa aku ngerasa asing sama kamu padahal harusnya enggak?"
"...."
"Kamu sebenernya siapa?"
Kisa hanya terdiam menatap wajah Abimanyu.
Kalau dibiarkan begini terus, ingatan Abimanyu akan terus terangsang dan akhirnya pulih total. Memang tidak banyak yang Kisa harapkan karena proses cuci otak Abimanyu hanya berlangsung beberapa jam.
Semakin orang itu pandai mengontrol dirinya, semakin dia akan cepat menyadari kesalahan dalam dirinya sendiri. Tapi ... Kisa tidak bisa membiarkannya.
"Kamu yang ngasih aku nama Juwita." Kisa memegang tangan Abimanyu yang masih berada di wajahnya, berbisik halus. "Kamu yang bawa aku ke sini karena kamu mau aku selalu sama kamu."
Abimanyu membeku. Benarkah? Tidak, secara logika itu pasti benar. Abimanyu tahu betul betapa ia tergila-gila pada Juwita sampai pada titik jika ada orang yang sepertinya di dunia ini, Abimanyu rela menyelam ke lautan untuk mendapatkannya.
"Bi, kamu ngerasa asing karena kamu masih luka. Dokter udah bilang ada masalah sama memori kamu."
"...."
"Dan kalo kamu ngomong kayak gitu, aku jadi enggak nyaman." Kisa menunduk muram. "Seakan-akan kamu udah enggak butuh aku lagi di sini."
Abimanyu menahan napas. Matanya yang secara jelas melihat kesedihan Juwita di wajah itu sontak menyakiti jantungnya sendiri.
"Maaf." Abimanyu buru-buru menarik Kisa ke pelukannya, mendekap gadis itu erat. "Aku salah. Enggak usah dipikirin."
Kisa diam-diam melirik dingin pada pria itu. Dari suara detak jantungnya pria ini sedang gelisah.
"Bi," bisik Kisa. "Kamu jangan terlalu deket sama pembantu baru itu."
"Rara? Emang kenapa? Kamu cemburu?"
"Dia keliatan enggak sungkan sama majikannya sendiri. Kalau pembantu kamu yang lain ngikutin dia, kamu bakal susah sendiri."
Abimanyu diam beberapa saat. "Oke," jawabnya patuh. "Kalau kamu enggak suka."
Pembicaraan berhenti di sana. Abimanyu meminta Kisa meminjamkan pahanya untuk pria itu tidur, beristirahat karena sakit kepala.
Saat Kisa melihat Abimanyu terlelap, wajah wanita itu hanya diselimuti muram yang pekat.
"Dokumen negara yang dipegang sama Abimanyu." Perintah itu masih terdengar jelas di kepala Kisa. "Gimanapun caranya kamu harus ngambil itu. Orang tua kamu bakal dibebasin begitu misi kamu selesai."
Kisa menahan tangannya terkepal sekaligus menahan gemetar di tubuhnya.
Bagaimanapun caranya, dokumen entah apa itu di tangan Abimanyu harus ia dapatkan. Harus.
__ADS_1
*
sekali lagi yah, Kisa itu bukan Sakura. tapi dia ganti muka memang karena Sakura.