
Rara membeku di tempatnya. Tak menduga Abimanyu tiba-tiba bersikap sangat dingin.
Bahkan Olivia juga merasakan hal sama. Wanita itu menarik bahu Abimanyu ketika mereka keluar. "Lo kenapa nyuekin Rara?"
"Lo kasian?" Abimanyu malah balik bertanya.
"Yaiyalah! Dia udah repot-repot ngurusin lo jadi harusnya—"
"Gue juga kasian." Abimanyu menepis tangan Olivia dan kembali berjalan. "Kasian dia ngabisin waktunya buat gue. Makanya mending enggak usah."
Ketika mereka duduk berdampingan di dalam mobil, Abimanyu menoleh padanya. "Olivia, enggak ada yang lebih tau soal gue daripada lo. Bahkan mungkin Juwita."
"...."
"Makanya gue tanya, menurut lo, gue ini bisa bikin anak orang bahagia?"
Olivia tak mampu menjawab. Terlebih ketika mereka sekarang akan menemui 'dosa masa lalu' Abimanyu yang tentu saja akan menyakiti Rara.
Tapi ....
"Lo emang pengecut brengsek, Abimanyu." Olivia hanya bisa mengatakan itu.
Dan Abimanyu sedikitpun tidak membantahnya.
*
"Mulai lagi." Banyu mendengkus. "As always. Begitu ada masalah yang enggak bisa dia selesaiin, Abimanyu ujung-ujungnya bakal lari."
Pria itu menghampiri Rara, bermaksud untuk mengajaknya duduk dan mungkin mendiskusikan bagaimana dia bercerai dengan Abimanyu karena jalan keluar tercepatnya memang itu. Tapi sebelum Banyu mengatakan sesuatu, Rara duluan menghela napas.
"Abang kamu emang manis banget, yah?"
Banyu tercengang. "Itu lo bilang manis?!"
"Sometimes kamu jangan ngeliat tindakan aja, Banyu." Rara menoleh. "Sometimes niat yang nentuin segalanya. Enggak selalu bisa kayak gitu, tapi seenggaknya buat aku, niat Abimanyu jauh lebih penting."
".... Bego."
"Emang." Rara tidak membantahnya, tapi ia tidak peduli pada pendapat siapa pun selain keinginannya sendiri.
Pria yang kemarin menangis, berkata bahwa dia adalah kepingan yang tidak sesuai di semua tempat, itu bukan pria sampah yang layak dibuang. Dia hanya terlalu mau melindungi sampai-sampai dia lupa bahwa Rara tidak mau dilindungi dari perasaannya sendiri.
"Denger yah, Banyu," ucap Rara pada adik iparnya, "yang milih sayang sama abangmu itu aku sendiri. Jadi aku enggak butuh siapa pun, termasuk dia, buat ngelindungin aku dari sakit hati."
Abimanyu mau menjauh demi kebahagiaan Rara? Hah, dasar kakek-kakek protektif. Mau dia, mau Mama dan Papa, semuanya selalu melihat Rara seperti bayi.
"Sekarang anterin aku nyusulin dia. Takutnya nanti dia nangis soalnya kangen."
__ADS_1
Banyu mengembuskan napas kasar. Sepertinya Rara dan Abimanyu berjodoh untuk satu alasan. Mereka berdua sama-sama tidak waras.
"Gue masuk departemen kementerian sementara Aliansi itu non kementerian. Ada aturan enggak tertulis kalo gue enggak bisa masuk markas Aliansi kecuali ada urusan negara."
Rara mengerjap. "Terus aku nyusul sama siapa?"
*
Ketika Abimanyu tiba di markas, Papa sudah duduk di sana menunggunya bersama seorang perempuan. Dia perempuan yang sangat cantik. Rambutnya diwarnai kemerahan, dadanya besar, dan kulitnya putih cerah.
Abimanyu tidak ingat dia tapi ia tahu satu hal.
"Selera lo," bisik Olivia.
Ya, itu dia. Abimanyu sepertinya memang tidak akan ingat pada semua perempuan yang pernah mampir ke pelukannya, tapi yang pasti semua perempuan itu sekelas ini. Tentu, laki-laki ya laki-laki.
"Kondisi kamu gimana?" tanya Adji basa-basi.
"Udah baik." Abimanyu tak tahu harus menjawab apa selain itu. "Papa enggak perlu ikut campur lebih. Dari sini, semuanya urusan aku."
"Yaudah." Adji tak banyak bicara. Langsung beranjak karena mengerti Abimanyu menyuruhnya untuk pergi saja. "Ranaya apa kabar?"
Abimanyu menahan napas. Spontan saja tubuhnya berbalik pada Adji, namun ternyata pria itu sengaja pergi, seolah-olah cuma mau membuat anaknya kebingungan.
Ranaya.
Jadi benar Rara itu Ranaya. Tapi seberapa dekat mereka sampai Adji menanyakan kabarnya?
Dia langsung datang memeluknya.
"Enggak usah sok drama." Olivia menarik perempuan itu agar melepaskan pelukannya. "Nenek-nenek pikun juga tau lo dateng ke idup Abimanyu lagi buat duit."
Wanita itu langsung mendelik. "Lo siapa sih?! Lepasin! Urusan gue sama Abimanyu!"
"Gue siapa? Intinya kalo lo enggak tau gue siapa, berarti kasta lo sebagai mainannya Abimanyu itu cuma level bawah." Olivia mendelik jengkel.
Hawa perempuan ini sangat menyebalkan. Dia benar-benar kentara punya sifat jelek dan hanya mementingkan uang di atas segalanya.
Dan yang paling menjengkelkan, sembilan bulan ditambah tiga bulan dia bersama anaknya Abimanyu, baru sekarang dia muncul? Sudah jelas dia sengaja merawat anak itu besar dulu biar punya senjata pamungkas!
"Apa sih lo?! Lepasin gue enggak?! Lo berani sama calon istrinya Abimanyu?!"
"HAH?! CALON ISTRI LO KATA?!" Olivia bahkan langsung mau mencekiknya gara-gara emosi. Ia sudah capek mengurusi banyak hal pasca perang kemarin sekaligus menggantikan Abimanyu sementara, tapi sekarang perempuan tolol ini malah muncul dan berkata dia calon istri Abimanyu?!
Olivia sangat mau mencekiknya. Sudah cukup omong kosong bulan ini. Tapi sebelum bisa melakukan itu, Abimanyu lebih dulu menengahi.
"Olivia." Pria itu menatapnya tajam.
__ADS_1
Membuat si Perempuan Sialan itu tersenyum pongah.
"Lo belain dia?!" amuk Olivia geram.
"Jangan ngajak ribut orang enggak waras," kata Abimanyu datar. "Atau lo juga enggak waras?"
Senyum pongah perempuan itu retak dan Olivia tertawa puas. "Hah! Makan tuh! Lo kira muncul bawa anak bikin lo jadi Ratu?!"
Abimanyu tidak mau ikut campur pada perdebatan tidak berguna. Kakinya melangkah ke kereta bayi di sana, menemukan bayi tengah sibuk mengisap chuppy. Mata anak itu bersitatap dengannya dan saat dia mengeluarkan suara 'ummm' yang lucu, Abimanyu tahu.
Anak ini memang anaknya. Dia dosa yang Abimanyu tinggalkan dan ia lupakan.
"Bi." Perempuan itu tiba-tiba datang, meremas lengan Abimanyu. "Aku nyembunyiin ini karena takut. Aku bukan enggak mau ngasih tau kamu. Tapi aku butuh waktu. Sekarang anak kita udah besar, Bi. Kamu udah siap kan tanggung jawab?"
"Heh, brengsek! Lo kira Abimanyu—"
"Abirama." Abimanyu mengangkat bayi itu ke pelukannya. "Namanya Abirama."
"Dari Abimanyu yah namanya?" celetuk seseorang yang bukan mereka bertiga.
Abimanyu, Olivia dan perempuan yang namanya belum disebutkan itu sama-sama terkejut akan suara itu. Rara malah melangkah masuk dengan santainya, datang menghampiri Abimanyu yang masih menggendong bayi itu.
"Abirama? Berarti nama panggilannya Rama? Atau Abi Junior?" ucap Rara lembut.
"Rara—"
Rara tersenyum manis. Tangannya mengelus pipi Abi Junior sebelum beralih pada si Abi Senior. "Mirip yah kalian."
Namun senyum Rara berubah menakutkan ketika wajahnya mendekat, melotot pada pria itu.
"Sekali lagi kamu nyuekin aku, aku bikin kamu sekalian lupa sama nama kamu sendiri."
Abimanyu menahan napas. Tak ia sangka Rara bisa memberinya tatapan setajam itu padahal dia selalu terlihat lembut dan manis.
"Rara, aku—"
"Bi." Rara meremas tangan Abimanyu yang berada di punggung bayi itu. "Aku bukan anak kecil."
"...."
"Please. Jangan selalu ngerasa aku enggak bisa ngelakuin apa-apa."
Rara memang anak tunggal tapi ia bukan anak manja. Jadi bisakah dia berhenti berpikir kalau Rara itu cuma tahu menangis di ketiak ibunya? Dia pikir Rara tidak bisa menghadapi rasa sakit ini?
Rara bisa dan Rara mau menghadapinya.
"Dan ngomong-ngomong, mbaknya." Rara menoleh pada perempuan itu. "Suami saya enggak ada rencana nikah sama parasit, blweek."
__ADS_1
Olivia langsung tertawa keras.
*