Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
41. Tuduhan Kejam


__ADS_3

"Karena kamu pelakor, pasti kamu ngerti konsep kayak gini." Kisa menyibak rambutnya ke belakang dan menatap Rara tanpa ekspresi. "Perempuan itu suka jadi parasit di hidup laki-laki sukses jadi ... bukan cuma kamu yang mau sama Abimanyu. Kamu kira dia diciptain buat kamu sendiri?"


Rara terhuyung mundur oleh fakta.


Bulu kuduknya meremang dan Rara merasakan takut yang tak bisa dipungkiri. Apa ini karma? Apa Tuhan sedang menunjukkan persis seperti Rara mempecundangi Sakura, dirinya pun sekarang akan dipecundangi oleh perempuan berwajah mirip Juwita ini?


Rara tiba-tiba berbalik, terlalu takut untuk menghadapi ini sekarang hingga ia merasa harus lari. Tapi baru saja kakinya mau melangkah, Kisa tiba-tiba menjerit.


"Argh!"


Tentu saja Rara menoleh, terkejut melihat perempuan itu malah sudah duduk memegangi pergelangan tangannya. Padahal tadi dia ... terlihat baik-baik saja.


Rara spontan berlutut, niat membantunya karena mungkin dia terluka tapi justru suara lain menusuk telinganya.


"Juwita!"


Oh, tidak. Jangan bilang dia juga ....


"Kamu enggak pa-pa?" Abimanyu berlutut, memegang tangan Kisa seolah itu patah tulang dan dipenuhi darah. "Tangan kamu sakit?"


Kisa yang tadi tampak sangat baik-baik saja dan dingin menatap Rara kini malah lemah gemulai mengatakan, "Tangan aku memar, Kak."


"Bekas kemarin? Sakitnya masih ada?"


Kisa membuka perban di tangannya dan terlihat bekas remasan tangan yang membiru. Abimanyu langsung pucat dibuatnya.


"Maaf," ucap pria itu seolah-olah dia berdosa besar. "Maaf. Maafin saya. Saya enggak sengaja."


".... Enggak pa-pa." Kisa nampak sangat rapuh saat dia melindungi tangannya sendiri. Lalu tampak ragu-ragu padahal sengaja dia melirik Rara.


Membuat Abimanyu akhirnya menatap istrinya juga.


"What did you do with her, Rara?" tanya Abimanyu tajam.


Rara menahan napas bukan hanya pada asing nada dan bahasa Abimanyu tapi juga bagaimana dia menyebutnya Rara padahal dia selalu memanggil Ranaya.


"Aku enggak ngapa-ngapain." Rara membalas dingin. "Dia jatuh sendiri terus tiba-tiba kamu muncul."

__ADS_1


Abimanyu kan pintar. Seharusnya dia sadar. Tapi kenapa dia malah ....


"Kamu cemburu masalah kemarin sampe-sampe kamu dateng ke sini buat nambahin luka anak orang?"


Rara terbelalak. Apa pria sialan ini baru saja menuduhnya?! Dia sangat pintar tapi demi Tuhan ternyata dia bodoh!


"Aku enggak ngapa-ngapain dia!" teriak Rara tertahan bersama air matanya yang jatuh.


Tak ia sangka Abimanyu yang pintar itu ternyata memang sangat tolol. Dia padahal menghina Sakura habis-habisan dan ternyata dia sama saja!


"Aku tau kenapa kamu peduli sama dia!" ujar Rara yang akhirnya emosi. "Cuma karena dia punya muka mirip sama Tante Juwita, kamu buta ngeliat dia sebagai Tante Juwita. Padahal kamu sendiri tau namanya Kisa."


"SHUT UP!"


Rara tersentak. Seumur hidup baru kali ini ia dibentak dan itu oleh suaminya sendiri.


"Fine." Rara menatap Abimanyu dengan segenap kebencian. "Kamu bisa lanjutin bulan madu sama dia karena aku mau pulang sekarang!"


Rara berbalik pergi begitu saja, meninggalkan Abimanyu yang mengumpat frustrasi.


Tapi alih-alih mengejar istrinya, Abimanyu justru fokus pada Kisa yang kini tertunduk muram.


Mereka memang berada persis di depan kamar hotel Kisa.


"Maaf, Kak." Kisa meremas tangannya sayu sama lain, tampak sangat gelisah dan merasa bersalah. "Aku enggak tau kalau ternyata Kakak punya istri. Aku sumpah enggak tau. Aku cuma ...."


"Aku enggak peduli soal istri. Itu cuma sekadar status enggak jelas." Abimanyu berlutut di depan gadis muda itu, menatap penuh damba wajahnya. "Aku jatuh cinta sama kamu detik aku ngeliat kamu. Kamu enggak keberatan nerima cinta orang kayak aku?"


"Kak, tapi ... Kakak punya istri."


"Aku bisa tinggalin dia detik ini juga kalau kamu mau. Aku bakal lakuin apa pun, apa pun, Sayang, buat bikin kamu percaya aku sayang sama kamu. Jadi plis, jangan jadiin istri aku alasan buat nolak aku."


*


Rara menangis terisak-isak saat kembali ke kamar hotelnya untuk mempersiapkan barang-barang pulang. Rara bahkan langsung memesan tiket pesawat untuk pulang tanpa memedulikan hal lainnya lagi.


Rasa perih di hati Rara kian menguat ketika Abimanyu sedikitpun tidak mengejarnya. Bahkan ketika Rara keluar bersama kopernya dan bersiap untuk langsung pergi ke bandara padahal penerbangan masih lama, Rara bukannya melihat Abimanyu tapi melihat Olivia.

__ADS_1


Dasar badjingan brengsek. Semua bisikan manis dia sangat menjijikan. Bagaimana bisa Rara memihak dia alih-alih memihak Sakura? Bahkan kalau Sakura juga brengsek, tapi setidaknya Rara tidak perlu menambah sakit hati dan beban mentalnya dengan berpihak lada Abimanyu.


Dia benar-benar hanya pria menjijikan yang ingin Rara lenyapkan.


Baik, lakukan saja apa pun yang dia mau jika dia mau. Karena Rara juga akan melakukan apa pun yang ia mau.


"Rara?"


Enam jam kemudian Rara kini memijak lantai rumah mertuanya, datang memeluk Juwita yang langsung menerimanya.


"Tante," rintih Rara. "Abimanyu selingkuh lagi, Tante."


Juwita tertegun.


"Dia janji sama aku bakal berenti main sama cewek lain, tapi kenyataannya dia masih main sama Olivia. Terus di depan aku, dia malah nemuin perempuan baru dan belain dia. Dia bahkan enggak peduli aku ninggalin dia di sana."


"Abimanyu kayak gitu?" Juwita bergumam seolah sangat tak percaya namun juga percaya. "Ya Allah, Nak. Tante minta maaf. Tante bener-bener minta maaf."


"Hiks." Rara menangis terisak-isak melampiaskan rasa sesaknya.


Bahkan ketika Juwita membawanya masuk ke dalam dan anak-anak Juwita sampai berkumpul mengelilingi Rara, wanita itu masih menangis. Lila ikut menepuk-nepuk punggung Rara, Nia tampak mau menangis sementara Yunia malah sudah terisak-isak juga. Boba dan Milo memeluk Rara sebagai bentuk simpati bahkan kalau mereka tidak mengerti ada apa.


Cetta yang baru pulang dari sekolah terkejut melihat itu.


"Rara?" Anak itu mengenali kakak ipar barunya meski mereka belum banyak berinteraksi. Dan saat istri abangnya itu menangis, Cetta bahkan tidak perlu bertanya untuk tahu masalahnya apa. "Abang ngapain lagi?"


Juwita menatap anak tiri bungsunya itu dengan sorot nanar. "Kamu tolong telfon Papa, Nak. Biar Papa yang bantu selesaiin."


"Enggak usah Papa. Biar aku aja yang mukul Abang. Emang Abang Abi udah gila. Semua aja orang dia bikin nangis. Gitu aja terus tiap pulang bawa masalah."


"Cetta—"


"Biar aku telfon Bang Banyu aja." Cetta berlalu murka. "Biar sekalian rumahnya dibakar terus mampus!"


Juwita menghela napas tapi memutuskan tidak menghentikan. Jika Abimanyu membuat istrinya menangis lagi, bahkan secepat ini dan dengan masalah yang dia bilang janji tidak akan ulang lagi, maka Juwita akan menyebut itu sebagai penyakit.


Anak sulungnya mungkin punya penyakit mental sampai-sampai dia terus mengulang kesalahan yang sama terus-menerus.

__ADS_1


*


apa abimanyu bakal kumat lagi, yah?


__ADS_2