
"Abi." Sebuah tangan mengguncang lengan Abimanyu. "Bi, bangun dulu minum obat."
Pria itu membuka matanya, dipertemukan oleh wajah wanita yang setengah mati ia cintai. Juwita. Ibu tirinya yang Abimanyu tahu tidak mungkin berada dalam pelukannya.
"Bangun," kata perempuan itu lembut. "Aku udah siapin makanan. Kamu perlu minum obat."
Abimanyu duduk sesuai katanya, menerima uluran gelas dari perempuan itu. Selama makan, Abimanyu justru merasakan sesuatu yang tidak ia mengerti.
Ia merasa seperti ada kesalahan dalam tindakannya. Tapi Abimanyu tidak bisa memikirkan kesalahan apa itu. Dan kenapa Abimanyu tidak merasa bahagia sekalipun ada Juwita di hadapannya?
Padahal dialah alasan Abimanyu menghancurkan hidup Abimanyu sendiri.
"Bi." Kisa menyentuh punggung tangan pria itu. "Kamu mikirin apa?"
Abimanyu menggeleng. Dengan satu tangannya yang tidak terluka, Abimanyu mengusap wajah cantik itu dan mau tak mau tersenyum.
"Kamu cantik."
Abimanyu berbisik begitu tapi ia justru bisa merasakan kebekuan di hatinya. Rasanya seperti Abimanyu menghadapi Sakura dan Abimanyu harus berpura-pura baik padahal tidak peduli padanya.
Kenapa perempuan ini tidak terasa seperti Juwita walaupun dia berwajah mirip dengan Juwita?
"Aku ada kerjaan di rumah." Abimanyu beranjak lepas makan dan meminum obatnya.
Baru saja Abimanyu ingin pergi, perempuan itu menahan lengannya.
"Aku boleh ikut?"
".... Boleh." Abimanyu mengangguk.
Walau tak bisa ia menepis perasaan aneh itu.
*
Para pelayan di kediaman Abimanyu merasa heran ketika mereka dikumpulkan persis setelah Nyonya Baru mereka pulang. Sudah lebih dari sebulan tuan rumah mereka, baik yang wanita ataupun pria tidak memunculkan diri jadi tentu saja aneh kalau tiba-tiba dikumpulkan.
Beberapa berpikir mereka akan dipecat.
"Saya cuma mau ngasih kabar singkat," ucap Rara dengan nada pelan. Kemuraman terlihat jelas di wajahnya. "Sebulan kemarin Bapak, suami saya, Abimanyu pergi karena tugas. Alhamdulillah sekarang Abimanyu sudah bisa pulang tapi ada beberapa luka. Kedepan, seaneh apa pun tingkah suami saya, saya mau kalian semua diem aja. Tolong anggep aja enggak ada apa-apa, semuanya biasa aja, biar Bapak enggak terganggu."
"Baik, Bu!" jawab mereka serempak.
__ADS_1
"Maaf yah ngerepotin." Rara mengakhirinya dengan senyum singkat dan membiarkan mereka bubar.
Malam hari setelah Rara membuat pengumuman, Abimanyu akhirnya pulang. Kehadiran seorang wanita yang mengikutinya pasti mengejutkan pelayan tapi mereka dengan cepat mengerti untuk tidak meributkan apa pun.
"Bapak udah pulang, Pak?" Rara menyambutnya seperti seorang asisten ramah menyambut bosnya. "Air mandi Bapak sudah saya siapkan. Makan malam juga sudah saya buatkan. Bapak mau makan dulu atau mau mandi dulu?"
Abimanyu mengerjap kaget. Seumur hidup kayaknya tidak ada pembantu Abimanyu yang sok dekat dan sok akrab begini datang padanya. Wajah Abimanyu yang katanya galak dan dingin membuat siapa pun sungkan. Apalagi katanya Abimanyu tidak tahu cara membalas senyum jadi mereka takut tersengun padanya.
Tapi perempuan kiriman Juwita ini kenapa ramah sekali? Ah, atau karena Juwita menyuruhnya?
"Saya mau mandi dulu." Abimanyu menjawabnya pelan. Tidak tahu kenapa tapi ia merasa sulit bersikap ketus pada wanita kecil ini. "Banyu udah pulang?"
"Belom," jawab sebuah suara, pemilik dari nama itu sendiri. "Juwita nyuruh gue nginep di sini. Kenapa? Mau ngusir?"
Abimanyu mendengkus. Adik keduanya ini memang paling tahu cara membuat kesal orang. Dia yang numpang dia yang nyolot.
"Anterin tamu saya ke Kamar Biru," pinta Abimanyu pada pelayan. Tentu saja tamu yang dia sebut adalah Kisa atau Juwita di belakangnya, bukan Banyu.
Lalu setelahnya Abimanyu menatap Rara lagi. "Kamu anterin saya ke kamar."
Rara tersenyum lebar. "Baik, Pak."
Kalau saja tidak banyak orang dan Abimanyu tidak melihat Rara, kayaknya sekarang Rara mengangkat dagu dan tersenyum mengejek Kisa.
*
Bukan cuma kepala yang bisa punya memori, jantung manusia juga punya neuron yang bertugas menyimpan memori. Karena itu Rara percaya sekalipun kepala Abimanyu kacau, jika perasaan dia pada Rara itu nyata, setidaknya ada tersisa jejak-jejak di jantungnya untuk Rara.
Sedikit saja.
"Bapak mau saya bantuin buka baju?" tawar Rara dengan muka polosnya.
Sedangkan Abimanyu menatapnya seolah Rara itu kurang waras. Tapi sebagai laki-laki mana mungkin Abimanyu menolak tawaran manis dari wanita.
Tangan Rara bergerak melepaskan pakaian Abimanyu yang memang susah dilepas lantaran tangannya terluka.
"Tangan Bapak bakal cepet sembuh, kan?" tanya Rara, berusaha menyembunyikan kecemasan dalamnya. "Tangan Bapak keseleo atau patah, Pak?"
"Kamu cerewet banget." Abimanyu mendengkus.
"Bapak enggak suka orang cerewet?"
__ADS_1
Abimanyu menatap Rara lekat. Menghela napas dan berkata, "Bukain aja buruan."
Rara berusaha keras tidak tersenyum. Dan memang ia tak bisa tersenyum saat pakaian Abimanyu lepas, memperlihatkan banyaknya luka-luka goresan dan lebam. Entah neraka apa yang dia lihat selama sebulan kemarin tapi Rara hanya bisa berusaha keras setelah melihat ini.
"Sudah, Pak."
Abimanyu menatap perempuan di depannya yang tengah tersenyum manis. "Celana saya enggak?"
Mata Rara kontan melotot. Si Brengsek ini, masa dia meminta pelayan membukakan celana buatnya?!
"C-celana juga, Pak?"
"Sekalian aja kamu mandiin saya. Kamu kan pelayan saya."
Apa Rara tonjok saja dia biar kepalanya berdarah dan mungkin ingat lagi sesuatu tentang moral dan seterusnya? Memang sih dia meminta Rara, notabene istrinya, tapi bagaimana kalau dia melakukan ini juga dengan pelayan lain?!
"Bercanda." Abimanyu mendengkus geli, berlalu dari hadapan Rara yang tengah memerah padam. "Tapi lain kali kalo kamu deketin saya begini, jangan salahin saya lalo kamu saya kangkangin. Itu salah kamu sendiri."
Rara mengerjap pilon.
Barusan ... itu terasa seperti Abimanyu yang Rara kenal. Abimanyu di awal-awal pernikahan mereka, lebih tepatnya.
Rara termotivasi melihat ternyata tidak sesulit itu untuk mendekatinya. Ia berdiri menunggu Abimanyu mandi, sampai akhirnya pria itu keluar hanya dengan handuk melilit di pinggangnya.
Penampilan Abimanyu yang terlihat sensual itu mengingatkan Rara pada keintiman mereka. Biasanya jika habis mandi, Abimanyu punya kebiasaan datang minta dipeluk atau minimal bersandar di dada Rara sambil menyuruhnya mengeringkan rambut dia.
"Ngapain kamu ngeliatin saya? Mau perkosa saya?" sahut Abimanyu, membuyarkan lamunan Rara. "Saya tau saya ganteng tapi iler kamu tolong dikontrol."
"Hidih." Rara membuang muka. "Saya enggak ngiler ke Bapak."
"Dusta kamu boleh juga." Abimanyu meletakkan tangannya yang tidak terluka di pinggang, malah semakin pamer pada Rara. "Kamu ini emang sengaja godain saya kayaknya. Kenapa kamu enggak ke kasur aja buka kaki? Saya jago bikin cewek keenakan, loh."
Rara pura-pura sibuk mengambil handuk tambahan untuk pria itu. "Maaf, Pak, tapi saya ini mahal."
"Mahal," dengkus Abimanyu. "Semahal apa sih?"
"Emas setengah kilo, cincin berlian, sertifikat rumah, mobil BMW."
Abimanyu langsung menatapnya datar. "Cuma cowok gila yang mau ngasih mahar kayak gitu, dasar cewek halu."
Ya orang gilanya kamu!
__ADS_1
*
maaf yah kalo belakangan cuma 1 chapter per hari. kadang-kadang author lancar banget nulisnya, kadang-kadang juga enggak. kadang-kadang senggang, kadang-kadang sibuk. author paham kalian enggak sabar, tapi tolong maklum juga yah.