Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
21. Suami-Istri Kontrak


__ADS_3

Tahu dari mana kalau diam-diam Abimanyu dan Rara punya hubungan? Melihat dari internet saja tidak mungkin membuat mereka yakin ada hubungan. Orang yang termakan isu perselingkuhan itu cuma orang bodoh sementara mereka yang punya otak jelas tahu itu settingan. Lagipula mereka tahu selingkuhan Abimanyu lebih banyak dari jumlah murid sekolah khusus perempuan.


Dengan kata lain orang itu pernah melihat secara langsung interaksi mereka dan merasa bahwa di sana ada percikan yang berbeda.


Kembali ke pertanyaan awal : siapa?


Ada kemungkinan itu Sakura memang tapi Abimanyu merasa ini sedikit lebih rumit.


"Udah selesai mikir?" sindir Rara yang mengikuti langkah Abimanyu sejak tadi. "Saya butuh penjelasan soalnya saya korban atau saya lapor polisi!"


"Simpelnya saya banyak musuh." Abimanyu baru menjawab setelah mereka di dalam, duduk di ruang santai meski ekspresi Rara sedikitpun tidak santai.


Abimanyu mengisyaratkan pelayan datang membawa sesuatu untuk tamunya sementara tangan pria itu mengangkat pion catur di atas meja.


"Kadang-kadang raja bisa mati karena pion yang enggak penting mati sia-sia di awal."


Rara memicing. "Maksud kamu saya pion?"


Ternyata dia sangat pintar, setidaknya dalam urusan memahami sindiran orang.


"Kalau saya bilang kamu enggak penting, kamu bakal gimana?" tanya Abimanyu terus terang.


Pertanyaan yang membuat Rara diam-diam mengepalkan tangan. Bukan marah tapi entah kenapa saat dia menanyakan itu ekspresi Abimanyu terlihat sangat dingin.


"Saya enggak bisa maksa kamu ngeliat saya penting," jawab Rara apa adanya. "Walaupun jelas saya marah tapi intinya ya terserah kamu."


Abimanyu mengangguk. "Kamu penting."


Gadis di depannya tampak membeku.


"Buat saya, kamu penting."


Rara menelan ludahnya susah payah. Dengan canggung gadis itu berpaling, mengambil gelas minumannya walau tidak haus.


Sedangkan Abimanyu paham bahwa Rara mau tidak mau akan bereaksi demikian. Tidak ada wanita yang tidak melambung saat dikatakan mereka penting bagi seorang pria, terutama jika pria itu tampan dan mapan.


Walau Abimanyu tidak bicara soal dirinya sendiri. Rara bukan penting bagi Abimanyu tapi buat 'kepentingan' Abimanyu. Juwita pasti akan kecewa kalau Abimanyu menelantarkan Rara begitu saja jadi dia sangat penting.

__ADS_1


"Intinya," Rara berdeham, "tadi itu apa?"


"Kalo saya ngambil tas kamu, walaupun itu bukan nyawa kamu, tetep aja kamu susah, kan?" Abimanyu menjatuhkan raja dari caturnya. "Kalau kamu kenapa-napa, saya pasti bakal susah."


"Tapi mereka kan cuma jambret tas bukan nyerang saya. Maksud saya, emang kalau tas saya ilang, kamu ikutan susah?"


Yang tadi cuma tes. Cuma buat memastikan apakah Abimanyu membiarkan dia atau menolongnya. Sudah Abimanyu bilang hanya orang gila yang mau berbuat jahat persis di depan markas mafia.


Dengan status Abimanyu sebagai eksekutif Aliansi, bahkan polisi berhati-hati berurusan dengannya.


Yah, dijelaskan panjang lebar juga merepotkan jadi Abimanyu persingkat saja.


"Saya juga ikut sedih kalau kamu sedih."


Rara tersedak. Tersedak sungguhan karena dia lagi minum. Abimanyu cuma menatap datar pemandangan itu.


"Enggak usah ngaco kamu!" teriak dia dengan wajah memerah. "Ah, udahlah! Pokoknya kalo lain kali saya kenapa-napa saya laporin kamu ke polisi!"


Sesuka hati dia sajalah. Abimanyu malas bicara hal tidak berguna.


"Mending kamu tenangin diri dulu di kamar tamu. Kita ngomong kalau makan malam udah jadi."


*


Setelah Abimanyu pikir-pikir kalau tujuan mereka mau menjatuhkan Abimanyu lewat Rara itu tindakan yang agak kurang otak. Bahkan kalau ada percikan di antara dirinya dan Rara, itu tidak cukup membuat Rara jadi kelemahan Abimanyu.


"Yang paling mungkin tujuannya cuma informasi." Abimanyu menautkan tangan di bawah dagu. "Tapi soal masalah yang mana gue belum tau."


"Rendi lagi ke tempat Samuel, Bos. Mungkin ada petunjuk di sana."


"Gue lebih penasaran dari semua orang kenapa harus Rara?" Abimanyu menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. "Kenapa bukan Olivia?"


Kalau itu Olivia, Abimanyu pasti akan melakukan apa pun untuk menjaganya. Karena bagaimanapun dia sahabat Abimanyu dan banyak hal terjadi di antara mereka. Tapi bukan Olivia yang jadi sasaran melainkan Rara. Itu aneh mau dipikir bagaimanapun.


"Mungkin karena belakangan lo jadi sering ketemu dia, Bos." Tomoya menarik kursi untuk duduk. "Gimana kalau sementara lo kurangin dulu ketemu dia? Bikin kesan seakan-akan lo udah enggak butuh karena kasus istri lo udah kelar. Kalo mereka enggak ngapa-ngapain lagi, berarti cuma kebetulan Rara dianggep penting buat lo."


"Enggak. Itu strategi buat ngusir kan? Biar mereka mundur kita juga harus keliatan mundur." Abimanyu menopang dagu. "Gue lebih suka strategi jebakan."

__ADS_1


"Maksud lo, Bos?"


"Sekalian aja nunjukin dia penting." Abimanyu tersenyum. "Lama-lama juga keluar orang yang lagi nunggu momen."


"Tapi kalo Rara sendiri yang mata-mata, Bos, itu namanya ngundang pencuri ke brankas."


"Bakat bohong enggak berarti bakat nipu. Kadang beda."


Tomoya pasti juga menyadari bahwa Rara itu punya hawa keberadaan yang murni. Walau dia pembohong yang baik, dia tidak menakutkan sama sekali. Orang sekelas dia tidak bisa jadi mata-mata.


Abimanyu berfirasat kalau Rara cuma dijadikan umpan saja. Mereka mau menunggu Rara masuk ke kandang Abimanyu lalu mereka akan menariknya lewat Rara setelah itu. Entah informasi atau apa pun yang tertarik bersama Rara nantinya.


"Terus lo bakal ngapain, Bos?"


"Tergantung omongan Rara nanti." Hasil dia bicara dengan Juwita itu apa? Kalau tidak direstui ya Abimanyu hanya akan memanfaatkannya tanpa mengusik keinginan Juwita.


Tapi kalau dia direstui, hmmmmmm, bagaimana kalau menikahinya? Gadis itu mungkin akan menolak karena menikah berarti menghancurkan semua usaha mereka di sosial media kemarin, tapi kalau itu harus dilakukan, Abimanyu bisa memberi penawaran yang tidak bisa dia tolak.


Maka malamnya Abimanyu bersiap untuk menanyakan. Mereka bertemu lagi di meja makan, ditemani oleh hidangan lezat di meja yang masing-masing nikmati secara damai.


"Diliat dari ekspresi kamu, saya tebak obrolan sama Juwita enggak buruk," kata Abimanyu di tengah acara makan mereka.


"Kamu kan muji saya berbakat jadi tukang bohong." Rara tersenyum sedikit congkak. "Sekalian latihan buat akting. Jadi publik figur kan berarti jago bohong."


"Kalo gitu sekalian kamu—" kata Abimanyu yang ternyata bersamaan dengan Rara berkata, "Makanya saya mau bahas soal—"


Keduanya berpandangan tanpa rencana dan mengatakan, "—jadi istri saya," "jadi suami saya."


Abimanyu dan Rara sama-sama terkejut setelah ucapan mereka. Tapi yang duluan bereaksi adalah Rara.


"Maksud kamu apa?" Rara secara harfiah mengajukan hal sama tapi tetap saja dia merasa habis mendengar hal konyol. "Kenapa tiba-tiba saya jadi istri kamu?"


"Kamu juga bilang saya suami kamu."


"Kontrak!" Rara merasa wajahnya memerah karena gengsi. Jangan sampai Abimanyu salah paham. "Maksud saya tuh kontrak. Soalnya saya dijodohin tapi saya enggak mau!"


Abimanyu baru dengar itu.

__ADS_1


*


__ADS_2