Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
73. Pulang, Abimanyu!


__ADS_3

Rara menangis sangat lama sampai rasanya kepala itu serasa mau pecah. Ketika Juwita dan Nayla datang buat memeluk dan mengelus-elus punggungnya, tangisan Rara justru semakin pecah tanpa kendali.


Rara bersabar kok. Sumpah demi Tuhan ia bersabar. Tapi bukan berarti Rara tidak sakit hati jika benar Abimanyu menemukan perempuan baru setelah dia memutuskan buat pergi dengan alasan demi kebahagiaan Rara.


Itu sangat tidak adil.


Ketika Juwita dan Nayla pergi untuk memberi waktu Rara tenang, perempuan itu justru menarik sweater dan diam-diam pergi meninggalkan penginapan. Sekarang sudah jam setengah satu malam, jalanan tidak lagi seramai awal malam dan siang hari. Rara membawa langkahnya menuju sebuah tempat yang diberitahukan Olivia padanya sebagai tempat Abimanyu di kota ini.


Rara harus bertanya. Abimanyu boleh pergi, boleh mengambil waktu sendiri berapa lama pun itu tapi Rara mau bertanya untuk satu hal ini saja.


Apa dia sudah melupakan semua hal di antara mereka?


"Permisi." Rara menekan bel pagar raksasa itu. "Saya mau ketemu Pak Abimanyu."


Seseorang yang tengah bertugas menjaga keamanan malam dari dalam posko keluar setelah melihat dari CCTV. Dia tampak terkejut menemukan Rara ada di pagar markas.


"Mbak Rara?"


Rara mendongak. "Rendi." Itu adalah anak buah Abimanyu dulu saat masih di Aliansi. "Rendi, Abimanyu mana? Tolong bilang sama dia saya mau ketemu sebentar."


Rendi buru-buru datang membukakan pintu pagar untuk istri bosnya itu.


"Kenapa malem-malem datengnya, Mbak? Mbak Rara jalan sendiri ke sini?"


"Saya enggak pa-pa. Saya mau ketemu Abimanyu sebentar, tolong." Rara pikir ia bakal dihentikan karena Abimanyu selama ini menghindarinya, tapi ternyata Rendi tanpa pikir panjang membawanya ke dalam rumah besar itu.


Dia menuntun Rara naik ke lantai atas, berhenti di depan sebuah ruangan. Rendi mengetuk pintunya dan berkata, "Bos, ada Mbak Rara."


Rara meremas ponsel yang ia pegang di depan dadanya. Ada rasa khawatir yang sangat dalam kalau Abimanyu tidak mau bertemu denganya, beralasan entah apa pun itu agar mereka tak perlu bicara.


Namun saat pintu ruangan terbuka dan sosok Abimanyu keluar dengan tenangnya, emosi lain justru menguasai Rara.


Kenapa? Kenapa Abimanyu bersikap sangat tenang padahal mereka baru bertemu setelah empat tahun? Mungkinkah benar perempuan keterlaluan cantik itu wanita barunya dan sekarang dia sudah tidak peduli pada Rara?


"Ranaya."


Rara menerobos masuk ke ruangan itu karena ia mau bicara hanya berdua. Seolah mengerti, Abimanyu ikut masuk, menutup pintunya rapat-rapat.


Tatapan Rara beredar ke sekitar ruangan itu. Menemukan ternyata ini bukan kamar melainkan ruang kerja dengan berbagai rak-rak buku dan sejumlah komputer.

__ADS_1


"Ranaya—"


"Kamu selingkuh?" tanya Rara, langsung pada intinya. "Kamu nemuin orang baru di hidup kamu sekarang, Bi, makanya aku udah enggak penting?"


Abimanyu sempat tertegun. Tapi itu hanya sesaat sebelum pria itu membalas, "Aku pernah minta cerai."


Abimanyu memahami apa maksud Rara dan itu semuanya salah paham. Demi Tuhan Abimanyu tidak pernah bermain perempuan lagi, bahkan Olivia sekalipun. Keberadaan Abirama sudah cukup membuat Abimanyu sadar bahwa sekalipun ia berhati-hati, ada sangat banyak risiko yang akan ia tanggung jika terlalu bersenang-senang.


Dan Abimanyu sudah berjanji pada Juwita dulu.


Ia sudah berjanji tidak akan merusak pernikahannya dengan perselingkuhan.


Tapi Abimanyu tidak perlu menjelaskan itu karena ia memang ingin melepaskan Rara.


"Enggak." Rara menggeleng. "Kamu enggak pernah minta cerai."


"Kamu ngerobek surat cerai yang aku titipin—"


"ITU BUKAN SURAT CERAI!" Napas Rara naik turun akibat emosinya yang terlalu bergejolak. "ITU BUKAN SURAT CERAI, ABIMANYU! ITU SURAT KAMU BUAT AKU, YANG ISINYA CUMA SOAL KAMU NGERASA TERLALU SAMPAH BUAT AKU!"


"...." Abimanyu menunduk muram. Meski sempat ia terdiam bisu, bibirnya bergerak membalas, "Emang."


"...."


"AKU BISA!"


"Sakura harusnya jadi pelajaran buat kamu." Perempuan itu mati gara-gara Abimanyu jadi seharusnya Rara mengerti sedalam itulah luka yang bisa dia terima jika dia memaksa bersamanya.


Abimanyu tak mau dia mengalami hal sama. Abimanyu tak tahu kapan dirinya bisa menyakiti dan mungkin tak sadar melakukannya.


"Kamu enggak bisa jadiin Sakura alasan buat semuanya," tukas Rara gemetar. "Aku tau dia bunuh diri karena kamu tapi faktanya itu juga karena aku."


Perkataan dia menyulut emosi dalam diri Abimanyu hingga tanpa sadar tangannya merampas lengan Rara kuat, mendorongnya ke tembok.


"JANGAN SEMBARANGAN NGOMONG!" bentak Abimanyu kalut. "ENGGAK USAH SOK NGERASA DEWASA NANGGUNG NYAWA ORANG!"


Abimanyu yang salah, bukan Rara. Abimanyu yang menyeretnya jadi jangan sampai dia berpikir dia juga bertanggung jawab.


Itu terlalu berat. Demi Tuhan, terlalu berat buat ditanggung oleh wanita sekecil dan selugu ini.

__ADS_1


"Abimanyu." Rara bergumam sebelum melakukan sesuatu yang sangat amat tidak disangka oleh Abimanyu.


Kepalan tangan kecilnya meninju perut Abimanyu sangat kuat, sampai-sampai Abimanyu terhuyung.


Tapi tak sempat ia protes, Rara mendorongnya terjatuh hingga telentang di atas karpet. Dia duduk di perut Abimanyu, meletakkan telapak tangannya di bahu Abimanyu dan berteriak frustasi.


"AKU BUKAN ANAK KECIL!"


Abimanyu hanya terpaku.


"KAMU PIKIR ALASAN AKU BERTAHAN SAMA KAMU SELAMA INI KARENA AKU TERIMA SAMA OMONG KOSONG KAMU?! KAMU PIKIR AKU TERIMA SAMA ALASAN 'KAMU ENGGAK MAU NYAKITIN AKU JADI KAMU JAUHIN AKU'. AKU ENGGAK TERIMA!"


"Ranaya—"


"AKU TAHAN EMPAT TAHUN NUNGGUIN KAMU KARENA AKU TAU, SOMEDAY KAMU BAKAL SADAR KALAU SEMUA ITU ENGGAK ADA GUNANYA! ENGGAK ADA GUNANYA, ABIMANYU! ENGGAK ADA GUNANYA!"


Rara menjatuhkan wajahnya di dada Abimanyu, menangis terisak-isak.


"Kamu enggak bisa ngelindungin aku dari perasaan aku sendiri," isak Rara. "Kamu boleh pergi jauh, kamu boleh ngirim surat cerai lewat Tante Juwita, kamu boleh bilang kita enggak pantes sama-sama tapi AKU ENGGAK PERNAH BERENTI SAYANG SAMA KAMU!"


Tidak peduli apa yang Abimanyu lakukan, tidak peduli sekeras apa dia berusaha lari dari pelukan Rara, itu semua tidak ada artinya karena perasaan Rara padanya tidak pernah berubah.


Justru mungkin semakin hari ia justru semakin menyayanginya. Bahkan ketika Rara marah dan membencinya, Rara masih menyayanginya. Ia masih sangat mencintainya dan menunggu dia pulang.


"Kamu bilang kamu ninggalin aku karena sayang." Rara memejamkan matanya, menangis tanpa menahan semua luka yang ia tanggung selama inu. Di sela tangis itu, Rara merintih, "Tapi kenapa kamu enggak pulang karena sayang juga?"


Abimanyu menahan napas.


"Aku takut, Bi. Aku takut."


"Ranaya, aku—"


"Aku enggak mau lagi. Badan aku udah enggak sanggup."


"...."


"Pulang, Abimanyu!"


*

__ADS_1


__ADS_2