
4 tahun kemudian.
"Kita beri tepuk tangan yang meriah dulu untuk Bu Owner kesayangan kita!"
Suara tepuk tangan memenuhi hall gedung hotel itu. Rara berdiri dari kursinya, berjalan naik menuju panggung yang telah didekorasi sedemikian rupa.
Hari ini adalah perayaan ulang tahun keempat Rara Group. Perusahaan kecil yang selama empat tahun ini Rara bangun dibantu oleh mertua dan adik iparnya.
Ketika Rara melangkah di atas panggung, untuk kesekian kali ia tak percaya bahwa dirinya bisa berdiri di sini. MC menyerahkan mic dan Rara berdiri menatap tamu-tamu ekslusif, tentu saja orang tuanya, keluarganya di mana tokoh paling utama adalah ibu mertuanya. Mereka adalah support system terbaik Rara hingga bertahan sejauh ini.
"Kalau manggilnya Bu Owner, kayaknya paling pantes tuh Mama Mertua saya, Mama Juwita. Tepuk tangan dulu buat beliau."
Juwita tertawa kecil.
"Dan terima kasih paling besar kami ucapkan buat kedua orang tua, Papa, Mama, thank you so much buat doa-doanya."
Mama tersenyum.
"Dan, enggak boleh dilupain CEO terhormat kita yang paling berjasa dan paling-paling bekerja keras buat Rara Group, adek ipar tersayang, Cetta."
Rara tertawa saat melihat Cetta cuma membuang muka sementara istrinya malah bertepuk tangan paling semangat.
"Juga yang paling-paling-paling rajin bikinin saya kopi, Cahnya Mama Juwita."
Banyu melotot ketika semua tamu tertawa. Matanya terlihat protes karena jasanya yang disebutkan malah cuma soal kopi. Tapi memang benar kok dia pembuat kopinya Rara. Terutama ketika semua orang lembur di rumah, Banyu selalu jadi pencetus menu pesanan.
"Dan yang paling utama," Rara tersenyum ke arah kamera, "buat suami yang lagi berhalangan hadir."
Sejumlah ekspresi orang-orang, terutama Juwita dan Mama langsung sedih mendengar penuturan Rara. Empat tahun mereka merayakan ulang tahun ini, dan empat tahun itu tanpa berkecil hati Rara selalu menyebutkan Abimanyu di pembukaan kalimatnya.
Padahal sudah banyak yang tahu bahwa Rara tidak bersama suaminya. Sejumlah orang bahkan bicara kalau Rara sebenarnya sudah cerai dari Abimanyu. Tapi Rara menulikan telinganya. Tak pernah sekalipun, sekali saja, ia menganggap hubungannya dan Abimanyu terputus.
Rara tak sedang berbuat bodoh. Tidak sedang menipu dirinya sendiri bahwa ia sudah dibuang tapi masih tidak tahu diri untuk sadar. Rara diam karena ia tahu Abimanyu tidak membuangnya.
Abimanyu yang membuang dirinya sendiri karena tidak percaya diri bisa membahagiakan Rara. Maka Rara memberi dia waktu. Pergi dan kembali saat dia sudah cukup percaya diri.
Atau setidaknya sampai Rara mau berhenti bersabar. Untuk sekarang Rara masih sangat bersabar.
__ADS_1
Sangat.
*
"Ah, capek banget." Rara menjatuhkan tubuhnya ke sofa empuk khusus yang dibeli Juwita untuk siapa pun yang lagi super capek. Sensasi emput dari kursi itu bisa membuat kalian serasa duduk di atas awal, dan seketika ngantuk.
"Aku yang nonton doang juga capek, Kak." Nayla, istrinya Cetta datang memberi segelas jus dingin dari dapur. "Tapi sukses yah. Repost buat acara tadi banyak banget. Aku liat tadi pesanan enggak berenti-berenti."
Rara tersenyum lebar. "Alhamdulillah kalo gitu, Dek."
"Guys, laki semua pada tepar!" seru Juwita yang datang membawa camilan.
"Ya wajarlah, Bu." Rara langsung mencomot camilan di piring. "The real yang kerja kan mereka semua."
Dalam bisnis mereka yang mana pun, termasuk bisnis Rara bahkan bisnis yang baru dibangun oleh Nayla, ownernya selalu nama mereka. Bu Owner Rara, Bu Owner Juwita, Bu Owner Nayla, tapi yang sebenarnya owner siapa?
Ya siapa lagi kalau bukan Adji, Banyu, Cetta. Makanya yang benar-benar capek sebenarnya mereka.
"Ohiya, Bu," Rara menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Juwita, "anak-anak kemarin pada ngomongin makan-makan bareng. Katanya barbeque-an depan rumah juga enggak pa-pa. Perayaan ulang tahun ekslusif aja katanya."
"Yaudah, sekalian bawa aja liburan." Juwita mengusap-usap kepala Rara. "Enaknya ke mana? Nayla, ada saran? Berhubung kamu yang paling suka liburan."
Iri bukan karena tak mampu, tapi karena berpikir liburan setahun sekali saja mereka sudah pusing. Berbeda dari Nayla yang belum terlalu banyak kerjaan atau bisa dibilang nyaris tidak ada kerjaan, Juwita dan Rara terlalu banyak kerjaan buat memikirkan liburan.
"Ke Jogja aja gimana, Bu? Aku denger katanya ada tempat liburan baru di sana. Bisa disewa ekslusif gitu. Kita bawa full team ke sana kan seru."
"Habis berapa?" tanya Rara.
"Hmmm, Kisaran dua ratus juta kayaknya. Soalnya terakhir temen aku nyewa buat ulang tahun, cuma setengah hari lima puluhan."
"Udah termasuk makanan?"
"Udah. Udah full semua."
Rara menghitung timnya yang berjumlah seratus lima puluh orang. Kalau dihitung-hitung itu tidak terlalu mahal. Maka segera Rara mengangguk.
"Yaudah, ke sana. Kamu yang pesen yah, Dek. Aku terima beresnya."
__ADS_1
"Siap!"
"Tapi kalo dipikir-pikir udah lama kita enggak liburan bareng, yah?" Juwita menjatuhkan kepalanya ke sandaran. "Ohya, panggil Olivia enggak, Sayang?"
Rara menggeleng. "Kemarin dia bilang mau trip ke Hawaii."
"Sama Abi?"
"Enggak tau sih. Enggak bilang. Tapi mungkin bareng kan? Soalnya aku denger kemarin proyeknya sukses jadi dia lagi santai-santai."
Walau mungkin Rara berharap Abimanyu tidak ikut. Karena kalau berita Abimanyu liburan dengan Olivia, lagi, maka gosip soal rumah tangga mereka pasti bakal ramai. Olivia mengaku pada Rara bahwa dia dan Abimanyu sudah tidak pernah berhubungan sejak awal pernikahan Rara, dan mereka sekarang hanya sebatas teman kerja, tapi Rara jujur juga cemas.
Ia takut jika Abimanyu terlalu nyaman dengan Olivia.
"Sayang," panggil sebuah suara yang membuat semua orang menoleh, terutama Nayla. Cetta di sana mengisyaratkan perempuan itu datang dan Nayla sudah mengerti apa.
Panggilan buat itulah pasti.
Begitu Cetta dan Nayla menghilang di lantai atas, Rara langsung mengerang di perut Juwita.
"Huaaa, Ibuuu. Mau juga dipanggil ke kamar."
Juwita mencubit telinga Rara. "Mulutmu itu."
"Ya abis." Rara cemberut. Lalu diam merenungi bagaimana Cetta selalu, sampai semua orang termasuk tim Rara hafal, kalau dia habis kerja gila-gilaan pasti setelahnya dia bakal memanggil Nayla ke kamar sepulangnya dari kerja.
Tentu saja suaranya tidak kedengaran tapi ya Rara tahu soalnya ia juga sudah menikah.
"Bu."
"Hm?"
"Abi kangen enggak sih sama aku?" Rara semakin menenggelamkan wajahnya ke perut Juwita, untuk kesekian kali menangis karena sesak ini. "Inget enggak sih dia sama istrinya?"
Karena terus terang saja Rara sangat amat merindukan dia.
Tiap hari.
__ADS_1
*