Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
26. Pernikahan Sandiwara


__ADS_3

Benar. Semua omongan mereka benar.


Rara itu menjijikan. Wajahnya polos tapi otaknya menerima banyak kelicikan tanpa peduli risiko. Terlepas dari bagaimana hubungan Abimanyu dan Sakura, Rara-lah yang berhasil merusak pernikahan mereka lalu masuk tanpa rasa malu sebagai istri kedua.


Ini bukanlah kebanggaan. Semua yang ia lakukan adalah merampas milik orang lain untuk kepentingannya sendiri.


Semua perasaan ini, rasa sadar diri akan kesalahannya adalah perasaan yang harus Rara pelihara agar Rara tak lengah.


Dan hari pernikahannya pun tiba.


"Saya terima nikah dan kawinnya Ranaya Putri Syiham binti Rahmat Syiham dengan mas kawin 500 gram emas dibayar tunai."


Rara yang berada di ruangan berbeda hanya terpejam mendengarkan suara lantang Abimanyu meresmikan hubungan mereka. Terima kasih pada teman-teman Rara yang sangat jujur dan bijaksana. Berkat mereka, Rara yang sempat merasa terbawa suasana jadi lebih tahu mengendalikan diri.


Ini semua hanya sandiwara.


*


Abimanyu menyibak tirai tempat Rara berada untuk menjemputnya setelah akad nikah selesai dilangsungkan. Pria itu mengulurkan tangan dan Rara menyambutnya dengan tangan yang dipenuhi henna putih.


Mereka mengikuti beberapa sesi setelahnya sesuai acara yang disusun keluarga Rara. Baru kemudian duduk di atas pelaminan, menyaksikan tamu-tamu berdatangan memenuhi aula hotel.


"Kamu kenapa?" Abimanyu bertanya nyaris tanpa suara agar Rara saja yang mendengarnya.


Mereka berdua tetap fokus duduk menatap ke arah tamu, menyembunyikan percakapan yang sebaiknya hanya diketahui oleh mereka berdua.


"Saya kenapa?" balas Rara datar.


"Kamu lama di cermin tadi jadi harusnya kamu tahu ekspresi kamu kayak gimana."


Atau dia sendiri tidak menyadari? Bahwa dia memasang wajah muram seolah-olah hatinya sedang terluka namun dia berusaha menahannya dan itu tidak berhasil.


"Udah saya bilang saya enggak boleh bahagia atau orang ngatain saya."


Sepertinya dia pikir Abimanyu itu bodoh. Berpura-pura sedih dan benar-benar sedih adalah dua hal yang sangat berbeda. Rara belum berada dalam tahap dia bisa menbuat Abimanyu percaya pada kepura-puraannya bahkan kalau Abimanyu mengakui itu.


"Jangan bilang kamu mikirin Sakura?"


Rara langsung diam.


Abimanyu mau tak mau menoleh dan menemukan wajah cantik yang dipulas make up tebal itu kini justru terlihat sangat muram.

__ADS_1


"Ranaya—"


Ucapan Abimanyu terhenti oleh keributan yang mendadak terdengar. Mereka berdua langsung terfokus ke arah pintu masuk dan ketika itu terlihat, Abimanyu mendadak berdiri.


Karena Abimanyu berdiri, Rara pun berdiri. Mereka sama-sama melihat seorang pria paruh baya namun masih terlihat sangat terawat berjalan masuk bersama seorang wanita cantik yang memakai gaun putih mewah. Di belakang mereka sekumpulan anak-anak yang nampak juga tampan dan cantik berjalan mengekori dan di belakang anak-anak itu sejumlah orang mengikuti bersama kotak-kotak transparan yang dihias sedemikian rupa.


"Juwita." Abimanyu merasa napasnya memberat.


Kenapa Juwita datang? Bukankah mereka berjanji tidak akan pernah bertemu lagi karena Abimanyu mungkin akan gila lagi?


Semua omongan Sakura itu benar. Semua yang Sakura dulu katakan itu benar meski terdapat juga tuduhan. Alasan kenapa Abimanyu menikahi Sakura dulu adalah karena perasaan terlarang di hati Abimanyu untuk ibu tirinya. Alasan Sakura menggila adalah karena dia memergoki Abimanyu berusaha mendekati Juwita.


Karena itulah Abimanyu tidak pernah pulang lagi. Abimanyu sudah berjanji pada Juwita tidak akan menggila lagi tapi untuk bisa waras, Abimanyu harus menjauh sejauh-jauhnya.


"Kita enggak turun?" Rara menyadarkan Abimanyu dari kekosongan.


Membuatnya mau tak mau berjalan turun bersama untuk menyambut keluarganya.


Sedangkan di sana, Juwita lebih dulu mendatangi mamanya Rara.


"Maaf yah, Mbak, kami terlambat datang." Juwita tersenyum menjabat tangan besannya. "Anak-anak dandannya lama jadi enggak keburu ikut akad."


Katanya dia perempuan ular yang menikah demi harta, tapi kenapa dia malah terlihat lebih suci daripada orang yang mengaku suci?


"Enggak pa-pa." Mama baru menjawab setelah sempat bengong. "Enggak pa-pa, um?"


"Panggil Juwita aja, Mbak." Juwita menarik anak-anaknya lebih dekat. "Ini anak-anak saya semua. Banyu, Cetta, Lila, Nia, Yunia, Sila, sama Gara."


"Anaknya semua, Dek? Satu ibu semua?"


Juwita tertawa mengusap punggung Banyu dan Cetta. "Ini beda ibu, Mbak. Sisanya anak saya."


"Kuat yah ngelahirin banyak. Masih muda loh kamu."


"Emang rencana mau dua puluh, Mbak."


Perkataan Juwita mengundang tawa kecil yang hangat. Bersamaan dengan itu Rara dan Abimanyu pun berhenti di dekat mereka.


Adji alias papanya Abimanyu lebih dulu menoleh pada mereka. Tak banyak bicara pria itu menepuk punggung Abimanyu lalu membiarkan Rara mencium punggung tangannya.


"Abang." Adik-adiknya Abimanyu berseru seperti biasa tapi mereka menahan diri tidak minta dipeluk karena sudah diwanti-wanti.

__ADS_1


Untuk sesaat Abimanyu lebih memilih fokus menatap Sila alias si Boba. Anak perempuan Juwita yang lahir setelah Abimanyu pergi hingga dia tidak terlalu akrab dengan Abimanyu.


Tapi Juwita tak membiarkan Abimanyu lari dari pertemuan ini. Wanita itu datang, menyentuh pipi Abimanyu agar menatapnya.


"Cahku," bisiknya selembut sutra. "Apa kabar?"


Mata Abimanyu memanas. Dadanya terasa terbakar dan ia tahu matanya memerah. Namun meski itu memalukan, Abimanyu tidak bisa menahan perasaannya.


Sungguh ia rindu Juwita. Ia rindu dan menyesal atas semua kerusakan di hubungan mereka akibat keegoisannya. Ketika Juwita memeluknya tanpa ragu lagi, Abimanyu membiarkan air matanya jatuh.


Dan Rara yang menyaksikannya kini mengerti alasan terbesar Abimanyu malam itu menangis diam-diam.


Ternyata dia sangat menyayangi ibunya.


*


Ketika pesta selesai dan Rara masuk ke kamar pengantin bersama Abimanyu, Rara melotot pada tumpukan kado di kamarnya.


"Ini semua dikasih Tante Juwita?!" Rara syok berat lantaran kado dari Juwita malah lebih banyak daripada kado dari keseluruhan tamunya yang lain. Semua kado itu malah dipisah. Satu di sisi kanan satu di sisi kiri dan kasur adalah pdmbatasnya.


Tapi hadiah Juwita malah nampak lebih tinggi.


"Selamat," kata Abimanyu cuek, "akting kamu waktu ketemu Juwita pasti bagus banget sampe ada bonusnya."


Rara ternganga.


"Enggak usah dipikirin. Walaupun saya enggak suka ngaku begini tapi uang Papa saya lebih banyak dari saya. Kalo beginian mah kayak pinggiran roti."


Rara mendekati salah satu kotak hadiah kecil yang berada di atas. Diambil kotak transparan itu dan sumpah, kotaknya saja dari kaca!


Ketika penutup kotaknya ia buka, Rara mengambil kunci mobil yang cukup ia kenali karena Anita punya mobil sejenis ini.


"Abimanyu."


Suaminya yang sedang sibuk melepaskan jas pengantin pun menoleh. "Hah?"


"Kayaknya hadiah Tante Juwita lebih mahal dari mahar kamu."


Sekarang Rara bingung kalau nanti anaknya Juwita ada yang menikah, dirinya mampu memberi apa?


*

__ADS_1


__ADS_2