
Kebetulan yang kurang menyenangkan. Kenapa Rara datang ke restoran ini dari sekian banyak tempat? Dan siapa pria yang datang bersamanya?
Abimanyu merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Mengirim pesan pada Rara karena seharusnya dia langsung memberitahu Abimanyu hasil pertemuan dia dan Juwita.
Abimanyu : Saya liat kamu sama cowok. Juwita gimana?
"Menurut lo nyokap tiri lo bakal ngasih restu?" tanya Olivia tiba-tiba.
"Maksudnya?"
"Secara kan lo kayak mainin hubungan pernikahan. Like, lo punya istri tapi lo malah bikin kisah cinta baru sama cewek baru."
Juwita pasti juga menyadari bahwa dia tidak bisa memaksa Abimanyu menjadi seseorang yang dia inginkan. Hidup Abimanyu pada akhirnya hidup Abimanyu jadi Juwita juga tidak akan ikut campur lebih.
Alasan Abimanyu mengirim Rara adalah untuk memberitahu Juwita bahwa sekarang ia bertemu dengan gadis baru yang ia dicintai—walau itu bohong—jadi jangan khawatir lagi.
Balasan dari Rara datang setelah beberapa saat. Yang isinya membuat Abimanyu berkerut kesal.
Rara : Saya liat kamu sama perempuan. Selingkuhan ke berapa?
"Kenapa?" Olivia bertanya melihat perubahan ekspresi Abimanyu.
Karena mulut Abimanyu tak menjawab, Olivia mengambil ponsel pria itu, melihat teks yang dikirim Rara.
"Kayak cewek cemburu aja." Olivia mendengkus. "Kenapa? Emang sengaja lo godain?"
"Hm."
"Terus lo mau bales apa?"
Abimanyu mengangkat bahu. Menarik untuk dilihat apakah Rara sungguhan cemburu yang berarti dia sudah menyimpan perasaan pada Abimanyu, tapi sejujurnya ia juga penasaran dengan siapa pria di samping Rara.
Setahu Abimanyu gadis itu tidak dekat dengan seseorang karena terhalang restu orang tuanya.
"Abimanyu."
"Hm?"
"Lo kayaknya lumayan suka sama selingkuhan baru lo ini."
Abimanyu melirik Olivia. "Suka dalam arti?"
"Entah. Menurut lo, lo suka dalam arti apa?"
Jebakan kata yang sangat membosankan. Maksudnya dia mau berkata Abimanyu kemungkinan punya rasa pada Rara? Abimanyu memang tertarik tapi itu bukan untuk urusan romantis.
"Gue jadi bayangin lo kemakan sendiri sama mainan lo." Olivia menopang dagu. Tersenyum kecut memandangi permukaan meja daripada wajah Abimanyu.
Mungkin dia tidak mau Abimanyu melihat sedikit kecemburuan di sana karena walau mereka ini dekat, bergelar sahabat sekaligus selingkuhan, perasaan Olivia padanya tidak akan terbalas.
__ADS_1
*
"Lo yakin mau nungguin Rara? Siapa tau itu keluarganya."
Abimanyu cukup yakin itu bukan keluarga dan juga bukan seseorang dari dunia kerjanya karena pekerjaan Rara ditangani Abimanyu sekarang.
"Lo duluan aja," katanya sekali lagu pada Olivia. "Rutin lapor ke gue."
"Hah, fine." Olivia menjawab malas dan pergi menuju mobilnya sendiri.
Abimanyu melipat tangan dalam diam, menunggu sampai Rara muncul dari restoran bersama Mahen. Kini satu sama lain tidak bisa pura-pura tidak melihat. Abimanyu berhenti bersandar pada mobilnya, datang mendekati Rara.
"Kayaknya ada urusan yang perlu kita omongin."
Rara secara jelas memandang ke arah lain alih-alih Abimanyu. "Bisa lain kali. Saya juga sibuk."
Apa dia benar-benar cemburu? Abimanyu tidak merasa Rara menyukainya sebagai lawan jenis, walau dia pernah terlihat salah tingkah. Tapi masih tertawa awal untuk itu jadi kenapa dia marah?
"Kayaknya enggak." Abimanyu bisa menyerah tapi ia putuskan melihatnya lebih jauh. "Lagian urusan saya sama kamu juga penting."
"Kalo saya bilang sibuk ya saya sibuk." Rara menatapnya tajam. "Bukannya kamu juga bilang lagi sibuk?"
Abimanyu memang sibuk. Lima belas menit lagi ia harus berangkat ke markas lagi. Dirinya bisa datang ke sini juga karena Olivia memaksa. Berhubung dia sahabat Abimanyu dari jaman kuliah dan sampai sekarang membantunya dalam pekerjaan juga urusan pribadi, ya Abimanyu memaksakan diri datang.
"Ya," Abimanyu melirik Mahen, "saya sibuk."
"Kalo gitu lain kali." Rara berniat pergi namun Abimanyu menahannya.
Rara tampak tersentak. Dia langsung menoleh, menatap wajah Abimanyu seolah dia tak percaya akan ucapan itu.
Tapi merayu wanita adalah pekerjaan Abimanyu sebelum ia benar-benar bekerja untuk uang. Dulu salah satu hobi Juwita adalah meneriaki Abimanyu karena koleksi wanitanya yang terlampau banyak. Mengucapkan kalimat semacam itu sangat enteng baginya.
"Kenapa jadi—" Rara berucap dengan nada agak panik tapi dia batal mengucapkannya, tersadar bahwa Mahen melihatnya sejak tadi. "Maksud saya, kamu apa-apaan?"
Mata dia melotot lebar, seolah menyuruh Abimanyu berhenti mengatakan hal konyol itu.
Tentu saja Abimanyu tidak takut, tapi setidaknya ia sudah memastikan sesuatu.
"Fine." Abimanyu mengangkat bahu cuek. "Lain kali." Pria itu berbalik ke mobilnya, masuk dan dengan cepat kendaraan itu melaju pergi.
Rara yang ditinggalkan merasakan emosinya bercampur aduk. Dasar pria sialan itu. Seenaknya saja membuat kesalahpahaman.
Rara menoleh pada Mahen. "Jangan salah paham, tolong. Itu tadi cuma urusan lain. Bukan aneh-aneh."
Pria itu nampaknya menangkap sesuatu dari sana tapi dia tak bersikap menyebalkan. Mahen mengangguk, pura-pura percaya saja.
"Kita beli hadiah sekarang?"
"Ya."
__ADS_1
Rara diam-diam mengepal tangannya. Tadi ia sedikit kesal tapi sekarang entah kenapa sudah tidak. Makanya Rara baru ingat kalau ia harus menemui Sakura diam-diam.
Ada sesuatu yang Juwita titipkan untuk Sakura.
*
Untuk menemui Sakura sekarang, mungkin Rara akan sulit sendirian. Sebab terakhir kali ia pikir Abimanyu mengkhianatinya dan Rara berniat beralih pihak pada Sakura, tapi ternyata Abimanyu menarik Rara kembali ke pihaknya hingga secara otomatis Sakura terpecundangi. Mungkin kalau dia melihat Rara maka sekarang dia tidak akan segan membunuhnya.
Tapi Rara berjanji pada Juwita akan menyampaikan ini pada Sakura tanpa sepengetahuan Abimanyu. Maka dari itu Rara butuh bantuan teman-teman artisnya.
Secara sengaja Rara mengajak mereka ke sauna terkenal yang katanya menjadi favorit artis papan atas ibu kota. Tentu saja menggunakan uang Abimanyu. Lalu saat mereka berkumpul, Rara pun mendekati Anita, mungkin bisa dibilang orang paling tenang dalam perkumpulan ini dan tidak suka melibatkan diri dalam masalah.
"Mbak denger kabar Sakura?" tanya Rara berusaha alami. "Dia kira-kira sekarang gimana, yah?"
"Yang jelas enggak baik. Apalagi kemarin dia bikin video kayak gitu." Anita memejamkan matanya dan menikmati uap panas di sekitar mereka. "Kemungkinan karier Sakura udah hancur total. Kecuali kalau dia mau muncul enggak tau malu."
Tentu saja. Fans itu paling tidak suka mendengar kejujuran. Kalau idola yang selama ini mereka puja-puja berhenti berbohong dan melepas topeng mereka, pujian akan seketika berubah hujatan.
"Emang kenapa? Kamu bukannya mau ngindarin Sakura?" tanya Anita kemudian.
Mata itu pun memandang Rara. Dan saat Rara melihatnya ia sadar bahwa Anita telah menilai Rara sebagai wanita licik yang membayar mereka semua datang ke sini untuk didengarkan.
Kalau begitu Rara akan bersikap sedikit jujur.
"Abimanyu enggak biarin Tante Juwita ketemu Sakura," jawab Rara. "Gantinya dia nyuruh aku yang pergi ketemu mama tirinya."
"Ohya?"
"Mama tirinya Abimanyu nitip pesen ke aku buat Sakura. Surat sebenernya. Beliau bilang kasih ke Sakura diem-diem."
"Kenapa harus diem-diem?"
"Mungkin karena Abimanyu enggak mau sama sekali biarin mereka ngomong bahkan lewat surat."
"Hmmmm." Anita tiba-tiba menoleh. "Hana kayaknya tau sesuatu."
Rara menoleh pada Hana. Ia masih berpikir tapi Anita sudah memanggil perempuan itu dan menanyakan tentang Sakura.
Jawaban Hana selanjutnya membuat Rara tercengang.
"Kayaknya dia ke luar negeri."
Apa?
"Terus dia nitip ke kita 'massage' buat lo, Ra. Katanya 'nikmatin neraka sama ahli neraka kayak Abimanyu, dasar ***** murahan'."
Lalu mereka tertawa. "Habis bikin fansnya ngata-ngatain dia, ujung-ujungnya kabur juga ke luar negeri. Emang dasar enggak ada otak Sakura."
Rara mengatupkan mulutnya dalam diam.
__ADS_1
*