
Seminggu Rara menginap di tempat mertuanya, Rara merasa sangat nyaman sampai-sampai waktu tak terasa. Suasana rumah Juwita tidak ia temukan di rumah siapa pun dan itu membuat Rara bermimpi punya kehidupan sama.
Juwita terlihat sangat dekat dengan anak-anaknya, bahkan anak tirinya. Daripada terlihat seperti ibunya mereka, Juwita malah seperti kakaknya mereka. Kakak yang sangat usil.
"PAPA, BANYU TRANSFER DUIT LAGI KE CEWEKNYA!" teriak wanita itu, mengadu pada suaminya. "CEWEKNYA DUA!"
Banyu melotot panik. "Juwita!"
"PAPA, ITU BANYU BENTAK AKU, PA!"
Adji geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka. "Banyu, kamu kan udah dikasih tau jangan transfer duit sembarangan ke orang."
"Tauk tuh!" Juwita balas melotot pada Banyu. "Kalo udah jadi istri baru kamu transfer! Ini belum apa-apa udah transfer! Yang ada entar cewek nempelin kamu biar dikasih duit!"
"Yaelah, pelit banget sih. Kan pacar gue juga, Juwita."
"Congormu pacar pacar! Kunikahin baru tauk rasa kamu!"
Rara terkekeh. Sambil tangannya menyuapi Milo makan, ia menatap Adji di sebelahnya. "Kok Banyu belum nikah sih, Pa? Kan udah cukup umur juga."
"Bang Banyu enggak cukup satu cewek doang," jawab Cetta yang menarik kursi di dekat Rara.
"Hmmm, kalo kamu udah punya pacar?"
Cetta mengangkat tangannya, pamer cincin. "Udah tunangan."
Rara melotot. Bukannya Cetta itu baru mau lulus SMA? Tapi dia sudah tunangan?! Kok bisa?
"Apa? Emangnya aneh? Ini kemauan sendiri bukan dipaksa Papa atau Kak Juwita. Orang suka salah paham."
"Ohiya?"
"Halah," cibir Banyu, "kebelet kawin kok bangga."
Cetta mendelik. "Daripada kawin sana-sini," sindirnya tak kalah tajam.
"Oke, guys, obrolan kalian sungguh sangat bersih dan sehat sampe aku overdosis." Juwita bertepuk tangan mengakhirinya. "Karena Cetta udah ngasih tau Rara soal tunangannya, gimana kalo entar malem kita barbeque-an bareng? Sekalian Rara kenalan sama tunangannya Cetta."
"Ibu, aku mau ayam juga!" teriak Lila seketika.
"Sosis juga, Bu!" Nia ikut-ikutan.
"Wokey! Banyu, sana belanja!"
"KOK GUE?!"
__ADS_1
"Suka-suka aku dong. Udah sana buruan!"
Rara hanya tertawa melihat Juwita bersedekap, tertawa puas melihat wajah sebal Banyu. Tapi tawa Rara mendadak surut saat ia menyadari kalau semua ini tidak lengkap tanpa Abimanyu.
Dia di sana baik-baik saja, kan?
"Rara." Suara Cetta memaksa Rara untuk berpaling.
"Ya?"
"Ada tamu." Cetta menunjukkan ponselnya yang menampilkan sudut kamera di depan pintu. "Kayaknya buat kamu."
Itu Olivia.
*
"Gue dateng ngomongin Kisa." Olivia mengulurkan sebuah map ke tangan Rara berisi informasi mengenai gadis berwajah Juwita itu. "Abimanyu minta gue buat ngasih tau lo semua yang gue dapet soal dia."
Rara membaca informasi itu dan kemudian menipiskan bibirnya. "Jadi dia operasi buat bikin mukanya mirip sama Tante Juwita?"
"Itu kemungkinan paling pasti sejauh ini. Tapi yang lebih penting gue enggak ketemu motif dia sama sekali."
Rara mendongak. "Bukan buat ngelemahin Abimanyu?"
"Kemungkinan itu bukan tujuan utamanya. Ibarat kata lo pengen ke kota A terus lo sekalian mampir beli di toko pinggir jalan. Ngelemahin Abimanyu itu cuma tujuan dia yang 'sekalian' dilakuin. Bukan goals sebenernya."
"Enggak. Abimanyu enggak mau lagi lo bahayain diri sendiri." Olivia menatap Rara dengan sorot mata yang sulit diartikam. "Tapi dia mau lo tau semuanya soal Kisa biar lo percaya."
Rara tertegun.
"Abimanyu enggak mau lo cemburu," ucap Olivia lagi, entah kenapa terdengar muram. "Dia bilang kemungkinan dia masih harus berurusan sama Kisa kedepannya tapi yang paling pertama mau dia hindarin itu elo ngerasa kalau dia selingkuh."
"...."
"Dia nyuruh gue bilang : kedepan, apa pun yang terjadi, dia enggak bakal seenaknya ninggalin lo cuma karena ada perempuan baru yang mukanya mirip sama orang yang Abimanyu sayang. Di hidup Abimanyu, Juwita cuma satu orang dan itu nyokap tirinya. Dia enggak mau yang palsu jadi lo jangan takut."
Rara mengulas senyum tak berdaya.
Dasar pria itu. Rara bisa percaya kok tanpa harus dia melakukan ini. Rara juga sudah mengerti bahwa Kisa itu bukan seseorang yang hadir sebagai orang ketiga apalagi alasan untuk Rara cemburu.
"Truth be told, gue enggak beneran percaya Abimanyu serius sama lo." Olivia kembali berucap, sepertinya bukan lagi kalimat titipan Abimanyu melainkan dari hatinya sendiri. "Tapi sekarang mau enggak mau gue mesti percaya. Dia enggak ngeliat lo sebagai pelampiasan."
Rara mengerjap. Tentu saja ia peka kalau wanita ini, Olivia, sebenarnya terluka dengan posisi yang Abimanyu berikan padanya dan Rara.
"Coba aja Abimanyu enggak masuk Aliansi dan hidup dia biasa-biasa aja, gue pasti enggak keberatan jadi antagonis di hubungan kalian," kata Olivia tanpa ragu-ragu.
__ADS_1
Wanita itu kemudian beranjak dan kembali berkata, "Gue bakal bilang : suami lo itu larinya ke gue mau waktu dia depresi karena Juwita, mau waktu dia depresi karena Sakura, ataupun waktu dia takut karena Kisa. Selalu gue ujung-ujungnya yang dia cari."
Tapi Olivia nyatanya berbalik pergi bersama bisikan terakhirnya, "Sayangnya dia masuk Aliansi. Beban idup dia udah berat buat gue tambah-tambahin."
Rara mengepal tangannya diam-diam. Kalau saja Abimanyu terpikat pada cintanya Olivia, pasti dia akan jadi saingan yang sangat berat. Karena jujur saja itu sangat benar.
Selalu ada Olivia di langkah Abimanyu namun perempuan itu tanpa protes menerima posisinya yang hanya 'tambahan'.
"Abimanyu." Rara sekarang hanya bisa berbisik pada angin, berharap suaranya sampai pada sang suami di sana. "Kamu lagi apa?"
*
Abimanyu menoleh pada embusan angin yang terasa kuat di tengah lautan. Aroma asin lautan tercium khas bersama dinginnya malam.
Sekarang ini Abimanyu dalam misi penyergapan kapal asing yang mengangkut narkoba dan organ-organ manusia. Bahaya di depan matanya. Abimanyu telah bersumpah bertahun-tahun yang lalu semua ini ia lakukan demi Juwita dan juga demi adik-adiknya.
Tapi ....
"Ranaya." Abimanyu tersenyum pada angin kencang yang mengacak-acak rambutnya, entah kenapa merasa sangat yakin wanita itu sedang memikirkannya sekarang.
Dia tidak menangis karena harus tidur sendiri, kan? Ah, tidak. Dia pasti tidur dengan adik-adik Abimanyu entah itu Lila, Nia, Yunia, atau si Boba.
"Bos, kapal target terdeteksi."
Abimanyu berpaling. "Siap-siap."
"Persiapan oke!"
Abimanyu naik ke bagian atas kapal, menerima teropong dari Tomoya untuk melihat kapal narkoba berkedok kapal nelayan itu.
"Rudal bawah laut, siap?"
Bagian kontrol langsung menerima perintah. "Rudal bawah laut, siap."
Abimanyu menjauhkan teropong dari matanya, bersamaan dengan dia berkata, "Tembak."
Suara sesuatu meluncur dari bawah laut terdengar sekilas sebelum ledakan besar terjadi, membakar habis kapal demi kapal.
Abimanyu merogoh sakunya, mengeluarkan rokok sambil menonton warna merah menyala dari permukaan lautan yang sepi nan sunyi.
"Persiapan buat tembakan kedua," katanya setelah itu.
"Bos, kapal semuanya udah tenggelam."
"Masih ada puing, kan?" Abimanyu melirik dingin. "Sisa pun mesti diancurin."
__ADS_1
*
siap-siap buat guncangan rudalnya 😋😋