
Pada ngira Juwita ternyataa 😅
***
Angin berembus menerbangkan selendang Rara. Rok selutut yang ia pakai pun berkibar akibat angin kencang namun tatapan Rara terfokus pada wajah pria dewasa yang justru memerah akibat air mata.
Seumur hidup baru kali ini Rara melihat pria menangis selain dari film. Bahkan ia tak pernah melihat Papa menangis hingga Rara pikir pria memang tidak tahu cara menangis.
Sedangkan Abimanyu yang tertangkap basah terlihat bingung harus berkata apa. Walau pada akhirnya dia berkata, "Kamu ngapain di sini? Tau dari mana saya di sini?"
Nada suaranya terdengar sangat tidak senang.
Rara juga merasa canggung. Tak berani lagi lebih dekat karena mungkin ia akan disuruh pulang.
"Temen kamu nelfon saya," jawabnya terus terang. "Dia bilang kamu habis berantem sama Sakura terus minum-minum. Kalau orang sampe tau, usaha kita bisa gagal jadi dia minta saya jemput kamu."
Olivia sialan itu. Maksudnya sekarang dia menyodorkan Rara sebagai pengganti Juwita, begitu?
"Saya enggak berantem sama siapa-siapa." Abimanyu beranjak.
Rara tidak memaksa dia mengaku. Sebagai orang dewasa Rara juga kadang merasa malu jika orang tahu ia menangis karena masalahnya. Padahal kalau dipikir secara logika masalah Rara sebagai orang dewasa jelas lebih berat daripada masalah yang ditangisi anak kecil, tapi anak kecil justru bebas menangis dan dimaklumi.
"Orang tua kamu ngomong apa?" tanya Abimanyu.
"Saya cuma bilang ada kerjaan jadi saya mau ke rumah temen dulu."
Abimanyu membuang rokoknya yang belum habis lalu mengeluarkan rokok baru untuk diisap. Ketika melakukan itu Rara diam-diam mendekat, bersandar di ujung lain kap mobil Abimanyu.
Setelah itu hanya hening.
Hanya embusan angin yang menerpa kulit mereka. Asap rokok Abimanyu pun diterbangkan sementara Rara diam-diam meremas tangannya sendiri karena kikuk.
"Lupain," ucap Abimanyu akhirnya. "Yang tadi lupain."
Rara yakin bahkan kalau ia terkena benturan, geger otak sampai amnesia mungkin ia tidak akan pernah lupa suaminya Sakura diam-diam menangis di bukit sambil merokok.
Tapi Rara malah berkata, "Saya enggak ngerti kamu ngomong apa." Gadis itu lurus menatap ke depan, pemandangan kota. "Saya enggak liat apa-apa. Maksudnya soal kamu ngerokok?"
Perkataan dia justru menyiratkan dia melihat jelas.
__ADS_1
Abimanyu membuang rokoknya lagi. Kali ini tak memaksakan diri pura-pura santai dan membiarkan bahunya terkulai lemas. Namun sampai akhir Abimanyu memilih diam saja, tak ingin memberitahu siapa pun sekacau apa pikirannya.
*
"Rara, kamu udah bangun?"
Rara yang sedang fokus memandangi iPad-nya pun berpaling pada Mama. Menerima uluran semangkuk salad buah darinya. Sebagai anak satu-satunya Rara memang diperlakukan seperti tuan putri oleh orang tuanya sejak kecil. Bahkan dulu kalau bukan Rara yang berinisiatif sendiri mencuci pakaiannya, membereskan kamarnya dan pekerjaan-pekerjaan yang normal dilakukan untuk diri sendiri, Mama pasti akan melakukan semua itu buat Rara.
Karena itu Rara sering berpikir bahwa ia hidup di keluarga yang baik-baik saja. Tapi sebenarnya tidak sebaik itu. Di belakang Rara, kedua orang tuanya menyembunyikan banyak kesulitan dan tak pernah ingin Rara menanggungnya. Makanya Rara berharap bisa jadi tulang punggung keluarga.
"Kamu ngeliat apa?"
"Akunnya Sakura," jawab Rara apa adanya. Memperlihatkan hal itu pada Mama. "Dia enggak posting apa-apa lagi dari kemarin."
"Mama juga liat." Wanita itu menatap wajah putrinya lekat. "Podcast kamu kemarin mojokin Sakura. Mama juga liat banyak fansnya komentar jelek di foto-foto kamu."
"Mama harusnya enggak perlu liat. Aku aja enggak." Tentu saja bohong. Ia membacanya satu per satu meski mau muntah akibat kasar perkataan mereka.
"Rara, jangan ikut campur lagi. Mama enggak mau kamu kenapa-napa. Kemarin Mama denger kalo fans udah ngebully, biasanya sampe ke fisik. Mama takut tiba-tiba kamu disirem air keras sama orang gila."
"Iya, Ma, doain enggak yah."
Rara tertegun. "Maksud Mama?"
"Biar orang enggak nuduh kamu pelakor, Nak. Kamu sama Abimanyu kan enggak ada apa-apa jadi yaudah kamu sama orang lain aja. Mama bantuin cariin yah? Sama keluarga aja biar enggak perlu jauh-jauh."
"Ma, aku—"
"Rara, Mama sama Papa enggak bisa tidur liat kamu begini." Mama terlihat ingin menangis. "Kamu itu anak Mama satu-satunya tapi semua orang malah ngatain kamu pelakor. Mama enggak bisa. Mama enggak terima kamu begini."
Semua ini adalah pilihan Rara. Ia terima dikatai pelakor asal nanti bisa menemukan penghasilan tetap dan meringankan beban keluarganya, tapi Mama justru melihatnya sebagai anak kecil yang harus melarikan diri dari masalah.
Rara tahu ia akan terluka tapi sebagai orang dewasa, kalian memang harus terluka untuk diri kalian sendiri.
"Kasih aku waktu mikir, Ma." Rara hanya bisa mengucapkan itu sekarang.
"Kamu janji mau mikirin, yah? Mama juga janji enggak akan maksa kamu sama orang yang kamu enggak suka. Mama cariin kamu yang paling bisa bahagiain kamu."
Aku enggak mau dibahagiain, Ma. Rara cuma bisa mengatakan itu dalam hati. Aku mau bahagiain Mama sama Papa, bukan lari buat bahagia sendiri.
__ADS_1
Namun mendebat cara Mama memanjakannya itu sangat sulit. Mama selalu melihat Rara sebagai anak kecil.
Begitu Mama pergi, Rara meraih ponselnya untuk menghubungi Abimanyu.
"Kamu ada waktu? Ada yang mau saya omongin."
"Satu minggu kedepan enggak ada," jawab Abimanyu langsung. "Nanti saya hubungin kamu kalau saya ada waktu."
Panggilan dimatikan begitu saja. Rara menatap ponselnya sedikit kesal. Dari semua waktu kenapa sekarang dia malah tidak bisa?
Jangan bilang dia gengsi bertemu setelah semua yang terjadi? Kalau benar, itu sungguh kekanakan.
Rara putuskan untuk mengirim pesan.
Rara : Ini darurat jadi kalau bisa secepatnya.
*
Abimanyu tidak membalas pesan Rara setelah membacanya karena pria itu sedang duduk di kursi rapat eksekutif Aliansi. Pemimpin Tertinggi duduk di kursinya, menatap kelima belas eksekutif yang memimpin wilayah masing-masing.
"Abimanyu," ucap pria bernama Hara itu. Dia kerap disapa Zero, kode namanya dalam kelompok Number. "Lo suka drama?"
Itu adalah sindiran singkat mengenai kasus Abimanyu bersama Sakura.
"Aliansi enggak ada urusan sama bini lo, keluarga lo, nyokap lo, siapa pun. Tapi sebagai eksekutif, ngumbar-ngumbar diri lo kayak gitu gunanya apa?"
Abimanyu sudah tahu pasti akan ditegur. Tapi ia juga tahu ini bukan kesalahan besar.
"Beritanya bakal pelan-pelan ilang."
"Udah gue bilang punya istri artis tuh nyusahin," timpal eksekutif lain, Rohan. "Gue liat lo kayaknya sengaja mainin bini lo biar diketawain, Bi. Kenapa? Capek sama bini lo yang lebay?"
"Emang udah dari pertama kan dia capek," kata Samuel di samping Abimanyu. "Tapi gue penasaran lo sebenernya mau ngapain. Kenapa dari semua cara, lo permaluin istri lo pake selingkuhan?"
Abimanyu melirik, "Kita di sini mau rapat soal Aliansi atau soal bini gue?"
*
jangan lupa like, komen, dan vote yah biar cerita ini bisa terus berkembang :)
__ADS_1