
Sesuai kata Abimanyu, Rara langsung dapat telepon dari makelar yang siap memberinya narkoba pelepas stres. Rara memesan kamar paling mewah di hotel bintang lima, buru-buru membuat kesan seolah dirinya adalah wanita elit dengan pikiran sulit karena setelah jadi pelakor ternyata ia ditikung pelakor baru.
"Semangat, Rara." Wanita itu menghela napas mempersiapkan dirinya. "Kayak Sakura. Harus kayak Sakura."
Untungnya Rara sangat mengenal Sakura. Setengah jam ia duduk di depan cermin unruk memaksimalkan ekspresi wajahnya sampai kemudian tamu pembawa narkoba itu datang.
"Lama banget!" Rara langsung menbentak. "Kalian kira waktu saya itu nungguin kalian doang?!"
"Duh, sabar dong, say." Makelarnya ternyata seorang waria yang tampak seperti penata rias artis. "Nge-fly tuh ada waktunya juga."
"Bacot! Sini buruan!"
Dalam hati Rara meringis karena sumpah mengumpati orang lain bahkan jika dia seorang makelar narkoba itu sangat tidak sopan. Kok Sakura tahan yah dengan kepribadian ini?
Tapi pokoknya Rara harus fokus dulu!
Buru-buru dirampas bungkusan obat di tangan waria itu, bersikap seakan-akan ia sudah tak sabar untuk memakainya. Lalu saat benda itu sudah di tangan, Rara melirik sang makelar. "Nungguin apa lagi lo? Sana pergi!"
Masa dia mau menunggu sampai Rara ngobat sungguhan? Bisa disembelih ia oleh Abimanyu jika benar-benar memakai ini lagi. Dilarang makan hampir dua hari sudah cukup neraka. Rara tidak mau dilarang makan sampai seminggu.
"Idih, santai atuh, nek. Dese nih lebih nyebelin dari Sakura ternyata!" gerutu waria itu sebal.
Dia berbalik pergi, meninggalkan Rara yang tampak siap nge-fly di kamar hotel sendirian. Tapi tanpa Rara melihat waria itu menyeringai persis setelah melewati pintu.
Dan saat pintu kamar hotel Rara benar-benar terurup, asap putih tahu-tahu sudah memenuhi kamar hotel itu.
*
Sakura pasti membocorkan detail bagaimana Abimanyu akan memperlakukan Juwita, karena itu Abimanyu harus menunjukkan kesan seakan-akan ia memang menganggap Kisa adalah Juwita.
Menjemput dia di bandara adalah keharusan bagi Abimanyu. Walau tangan Abimanyu terkepal kuat oleh amarah, perasaan muak akan mereka yang menjadikan Juwita sebagai alat bermain, Abimanyu harus menahannya demi sebuah pencapaian besar.
Ini semua juga demi Juwita, adik-adiknya dan semua orang yang bergantung pada misi Aliansi.
"Juwita." Abimanyu menghampiri Kisa yang menarik kopernya sendiri. Berpura-pura seakan ia tak bisa menyebut dia dengan nama aslinya.
"Kakak." Kisa tersenyum teduh. Cara dia tersenyum bahkan menirukan cara Juwita. "Aku udah bilang nama aku bukan—"
__ADS_1
"Adek." Abimanyu mengulurkan tangan ke wajahnya. "Intinya itu. Perjalanan kamu gimana? Enggak pusing, kan?"
Kisa menggeleng. "Agak pusing," jawab dia lemah. "Habis ini mau langsung pulang ke apartemen."
"Yaudah, sama Kakak. Sini kopernya."
Ketika Abimanyu memegang koper itu, ponselnya tahu-tahu berbunyi. Abimanyu merogoh sakunya, menemukan itu panggilan dari Olivia.
Firasat Abimanyu langsung buruk. Sebab Olivia sekarang ia tugaskan untuk mengawasi Rara secara diam-diam.
"Halo, Liv? Gue lagi sibuk sekarang jadi jangan ganggu dulu," kata Abimanyu frontal tapi berisi pesan yang Olivia pasti mengerti.
Sekarang Abimanyu berasumsi bahwa panggilan ini bisa saja disadap maka dari itu Abimanyu tidak mau memberi celah.
"Gue denger kabar dari pembantu lo katanya bini lo enggak balik-balik," kata Olivia yang melakukan hal sama. "Lo bukannya udah maksa dia pulang kemarin? Lo tuh yah, Abimanyu, ngabisin idup lo lamaaaaaaaaa banget buat mainin anak orang. Boleh aja demen sama nyokap tiri lo sendiri, tapi enggak perlu kali sampe bikin anak orang ilang-ilangan mulu!"
Abimanyu menahan napas.
Rara hilang? Barusan Olivia secara halus memberitahu Rara tidak keluar dari hotel sesuai waktu kesepakatan dan kalau Olivia sudah memakai kata 'hilang', berarti dia sudah memastikan Rara tidak ada di sana?
"Bodo amat." Abimanyu berusaha keras tidak mengepal tangannya. "Kalo dia mau kabur juga gue enggak peduli. Lo tuh bisa enggak sih enggak perlu ikut campur urusan pribadi gue terus? Lo tuh bukan siapa-siapa di idup gue, Olivia. Terserah gue mau ngapain!"
"Fine! Terserah lo!"
Olivia menutup panggilan dan Abimanyu mendengkus pura-pura marah. Kisa yang melihatnya tentu saja bertanya, "Kakak kenapa?"
Abimanyu mengeraskan rahangnya. Siapa pun yang menjadi otak di balik semua ini, Abimanyu benar-benar akan membunuhnya dengan tangan ini sendiri. Dia menyodorkan wajah Juwita dengan sangat kurang ajar lalu sekarang bermain-main menggunakan trik penculikan.
Tenang, bisik Abimanyu pada dirinya sendiri. Ranaya pasti enggak pa-pa. Mereka enggak mungkin nyakitin sandra yang punya nilai jual.
Keamanan Rara sejauh ini delapan pulun persen terjamin.
"Istri enggak guna bikin masalah lagi." Abimanyu mengantongi ponselnya. "Kakak enggak peduli. Yang penting sekarang itu Adek."
Saat Kisa tersenyum, Abimanyu bersumpah satu-satunya yang menyelamatkan dia adalah karena wajahnya mirip dengan Juwita.
Jika tidak ... mungkin sekarang juga Abimanyu mencekiknya.
__ADS_1
*
"Kamu udah sadar?"
Rara berusaha keras menahan ringisan sakit di bibirnya. Wanita itu membuka mata perlahan, disambut oleh wajah tersenyum Mahen.
"Lama enggak ketemu, Mantan Calon Istri."
Rara merasakan kepalanya luar biasa berat. Ia berusaha bergerak tapi ternyata tangan dan kakinya diikat. Rara juga merasa sesak napas, sepertinya itu efek samping dari asap pelumpuh yang memenuhi paru-parunya tadi.
"Mahen," bisik Rara. "Jadi karena ini kamu dulu mau tiba-tiba nikah?"
Mahen tersenyum. "Ternyata selingkuhan pilihan Abimanyu emang pinter."
"Sayangnya aku ini tukang bohong sampe dibilang punya bakat." Rara berusaha tertawa walau susah payah. "Kadang aneh aja kenapa aku ngerasa jauh lebih bisa percaya sama Abimanyu daripada sama kamu."
"Hmmm, makanya kamu bohong soal mau fokus berkarier buat orang tua padahal ujung-ujungnya nikmatin juga sama Abimanyu?"
"Kenapa? Ngerasa kalah dari Abimanyu?"
Sebuah tamparan tiba-tiba melayang di wajah Rara. Wanita itu sempat tak percaya Mahen menamparnya tapi Rara langsung mengeraskan rahang, menatap wajah dingin pria itu.
"Banyak bacot," gerutu Mahen lalu berbalik dari Rara. "Apa pun itu percuma kamu susah-susah akting sama Abimanyu. Kamu inget gelang yang aku kasih? Makasih banget loh kamu jadi repot-repot ngasih informasi."
Sialan. Harusnya Rara lebih peka lagi. Padahal Abimanyu sempat menyinggung ada seseorang yang bukan Sakura dan pernah melihat Abimanyu berinteraksi dengan Rara, lalu menyimpulkan Rara adalah sosok penting.
Kalau dipikir-pikir cuma Mahen yang pernah melihat itu selain dari Olivia. Tidak, bahkan Olivia juga tidak pernah melihat langsung, kan?
"Kisa itu siapa?" Rara tidak punya waktu meratap jadi setidaknya ia harus mencari tahu yang ia bisa. "Bahkan kalo kalian organisasi besar, enggak mungkin nemuin manusia yang beneran mirip, persis kayak muka manusia lain. Seenggaknya buat kasus ini enggak mungkin."
"Itu bukan urusan kamu, Rara." Mahen menoleh setelah dia sempat sibuk menatap ponselnya. "Urusan kamu itu sama orang yang repot-repot ngebayar buat bales dendam."
"Caca?" tebak Rara tenang.
"Pinter."
Mulut Rara terkatup. Bukan karena ia takut tapi Rara khawatir pada Abimanyu.
__ADS_1
Kalau dia terlambat sadar dengan permainan mereka ini, Abimanyu pasti akan tertinggal jauh. Rara berdoa dia bisa segera menyadarinya.
*