
Abimanyu pada akhirnya tidak sanggup berbicara saat menyaksikan wajah pilu istrinya. Badan kecil itu bergetar hebat saat dia menangis. Seolah-olah selama ini dia sebenarnya menahan kerusakan yang memaksanya hancur tapi terus dan terus dia paksa agar tetap bertahan.
Bahkan tanpa dia bicara lagi, suara tangisannya memberitahu Abimanyu.
Dia benar-benar takut sendirian. Dia bahagia dengan keluarga yang dia miliki sekarang dan kesuksesan yang dia raih, tapi ada bagian yang tidak terpuaskan, tidak terpenuhi, begitu kosong dan kesepian karena Abimanyu justru memilih pergi.
"Maaf." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Abimanyu. Pria itu duduk dari posisi berbaring, mendorong Rara untuk ikut duduk walau dia masih menangis. "Aku minta maaf," gumam Abimanyu lemah.
"Jangan minta maaf." Rara menggeleng. "Pulang. Janji sama aku kamu pulang."
Abimanyu justru mengatup bibirnya.
Demi Tuhan ia berharap bisa pulang. Pulang ke pelukan istrinya, wanita yang berhasil membebaskan Abimanyu dari belenggu kegelapan hatinya sendiri. Abimanyu merindukan dia setiap malam sampai-sampai Abimanyu tidak bisa menghitung lagi sudah berapa kali ia memimpikan Rara.
Tapi ....
"Kalau ada yang bikin Juwita nangis deket kolam renang," ucap Abimanyu lirih, "orangnya pasti aku."
"Bi, aku udah bilang aku enggak perlu kamu lindungin dari perasaan aku sendiri!"
"...." Benar. Mungkin dia benar.
Sekeras apa pun Abimanyu berusaha pergi, nyatanya Rara setia menunggunya dan mempercayainya. Tapi ....
"Mungkin aku cuma ngelindungin diri sendiri dari perasaan aku sendiri," gumam Abimanyu. "Aku bisa kasih kamu uang, sebanyak yang kamu mau, tapi bikin kamu berenti nangis pun aku enggak bisa."
Rara mengepal tangannya. "Emang kenapa kalo aku nangis?! Cuma karena aku nangis, enggak berarti aku tersiksa!"
Rara tidak mengerti.
Dia tidak melihat yang Abimanyu lihat.
Bagaimana dulu Abimanyu membuat Juwita menangis, berulang dan berulang kali. Padahal dulu Abimanyu pernah mencintai Juwita, lebih dari segalanya di dunia ini. Tapi dengan itupun Abimanyu masih menbuat dia menangis, sampai dia tersiksa dan berulang kali mau menyerah atas keluarga mereka.
Bagi Abimanyu, tangisan orang yang ia cintai itu menakutkan. Seolah-olah mereka sedang berteriak mengatakan kalau Abimanyu adalah monster terburuk di dunia yang hanya menghancurkan kebahagiaan mereka.
"Ranaya, ini bukan cuma soal kamu." Abimanyu menatap wanita itu lekat. "Hubungan kita bukan cuma soal kamu."
__ADS_1
Ini juga soal Abimanyu. Dan Abimanyu justru tidak bisa tenang jika ia pulang ke pelukan Rara.
"Kamu bahagia kalau aku ada buat kamu? Fine, itu kenyataannya. Tapi aku enggak bahagia."
Abimanyu cuma ketakutan. Karena itu sekalipun Rara berkata dia mau Abimanyu pulang, Abimanyu sudah memutuskan.
Ia tidak akan pulang ke pelukan Rara atau Juwita.
Tidak ke pelukan siapa pun lagi.
"Malem ini, kamu boleh nginep." Abimanyu tak mau melanjutkan pembicaraan emosional itu lagi, hingga dia beranjak, berlalu meninggalkan Rara yang hanya tertunduk.
Seiring pintu kamar tertutup rapat, punggung wanita itu bergetar hebat. Rara sampai harus meletakkan keningnya di lantai, menutup mulutnya kuat-kuat agar ia tak berteriak keras memberitahu seluruh dunia sakitnya sekarang.
Setengah dari hatinya sudah terlalu kacau dan memohon buat menyerah, tapi setengah lagi masih keras kepala.
"It's okay." Rara berbisik pada dirinya sendiri, menggenggam tangannya sendiri. "It's okay, Rara, it's okay. You're gonna make it."
Walau itu hanya dusta, kadang-kadang dusta memang menguatkan walau hanya pura-pura.
*
"Kamu bahkan bisa mati kalau lari," kata Abimanyu mendekatinya, hendak merebut wine itu. "Bisa-bisanya kamu tengah malem begini malah duduk minum alkohol, Rose."
"Bagaimana aku tidur kalau seseorang berteriak-teriak dari bawah sana," sindir Rose seraya menghindari tangan Abimanyu. "Perempuan tadi, dia istrimu?"
"Hm."
"Kenapa? Dia cemburu padaku? Hah, kalau benar begitu maka dia pasti bodoh." Rose mendengkus remeh. "Kenapa pula aku repot-repot menghabiskan waktuku denganmu? Dilihat sekilas juga sudah terlalu jelas."
Inilah yang disebut penampilan terlalu menipu. Kalau Rose dilihat sekilas, seluruh pria di dunia kayaknya rela bersujud di kakinya karena memuja. Tapi kalau tahu kepribadiannya, mereka bakal lari terbirit-birit.
Abimanyu tidak membalas omongan pedasnya itu, memilih mengambil botol wine di meja untuk ia singkirkan.
"Kamu mencintai dia?" tanya Rose tiba-tiba.
"Hah?"
__ADS_1
"Matamu melihat dia istimewa. Hanya orang buta yang tidak tahu."
".... Pergilah tidur." Abimanyu tidak suka bicara soal perasaannya, terutama perasaannya pada Rara. Tidak perlu ada yang mengerti karena yang terpenting bagi Abimanyu hanya bagaimana ia melindungi wanita itu.
"Aku sudah tahu dari awal kamu penakut."
Abimanyu berhenti.
"Hei, Bodoh, hanya karena aku tidak bisa berjalan dengan benar menurutmu kamu lebih banyak tahu daripada aku? Derajat kita bahkan ibarat langit dan bumi. Mengerti artinya? Kamu hanya bisa melihat bumi, aku melihatmu dari langit."
Abimanyu berbalik, menatap tajam pada Rose. "Bicara yang jelas, Sialan."
"Aku hanya memberi nasehat pada penakut sepertimu." Rose menggoyangkan gelas wine di tangannya, tersenyum sangat santai dan tidak peduli bagaimana tajamnya tatapan Abimanyu sekarang. "Melepaskan sesuatu yang sangat ingin kamu genggam adalah tindakan yang paling sia-sia di dunia."
Abimanyu tahu Rose tidak benar-benar mengerti situasinya dan hanya asal bicara menurut sudut pandang dia terhadap kondisi Abimanyu, tapi perkataannya barusan mengusik emosi terpendam dalam diri Abimanyu.
Pria itu mendekati Rose, merampas gelas di tangannya dan sedetik kemudian, suara gelas pecah berserakan terdengar di keheningan malam.
"Jaga mulut kamu, Rose." Abimanyu mencengkram kuat lengan sofa gadis itu duduk. "Saya memang diminta jagain kamu tapi kalau kamu terlalu banyak omong, saya enggak bisa jamin bukan saya yang nyakitin kamu."
"...."
"Enggak usah ikut campur urusan orang lain."
Rose hanya menatap Abimanyu datar, tanpa sedikitpun terintimidasi. Gadis itu justru beranjak dari kursi, menepis Abimanyu dari hadapannya.
"Aku ini Tuan Putri, dasar rakyat jelata." Rose berlalu. "Itu hakku ikut campur pada apa pun yang aku mau."
Abimanyu hanya mengepal tangannya kuat-kuat, berusaha keras menahan kekesalan. Membayangkan dirinya harus menjaga perempuan itu berbulan-bulan sudah membuat muak. Tapi yang paling memuakkan, setiap kali Rose bicara sesuatu, sesuatu yang terdengar sederhana dan terkesan tidak penting, Abimanyu justru merasa ditampar bolak-balik oleh kebenaran.
"Melepaskan sesuatu yang sangat ingin kamu genggam adalah tindakan paling sia-sia di dunia."
Begitu katanya.
Dasar pembohong. Jika benar begitu, dulu ketika Abimanyu sangat menginginkan Juwita, kenapa justru itu kebenaran jika melepaskannya? Maksudnya dulu saat Abimanyu berhenti mengejar Juwita, ia melakukan tindakan sia-sia, begitu? Seharusnya Abimanyu tetap mengejar Juwita, begitu?
Nyatanya tidak, kan? Nyatanya Abimanyu memang harus berhenti mencintai Juwita karena itulah yang seharusnya. Itu yang terbaik.
__ADS_1
Rara juga sama. Dia dan Juwita sama, karena itu Abimanyu juga tidak bisa menggenggamnya.
*