Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
24. Pertunangan


__ADS_3

Tidak salah lagi, list permintaan itu memang pemalakan, pemerasan, perampasan berkedok mahar pernikahan. Makanya Abimanyu butuh beberapa waktu memikirkan haruskah ia menuruti atau tidak.


Tapi setelah memikirkan lagi, Abimanyu melihat itu tidak masalah kecuali satu hal : seserahan buat keluarga Rara.


Ngapain juga Abimanyu harus memberikan sesuatu pada mereka padahal mereka nampaknya cuma melihat Abimanyu sebagai ladang timun? Tentu saja merekalah kancil-kancilnya.


Daripada memberikan pada keluarganya Abimanyu lebih rela memberikan pada Rara. Mahar kan hak pribadi perempuan. Sedangkan seserahan itu pasti akan dibagi-bagi ke mereka yang tidak berkontribusi apa-apa dalam hidup Abimanyu dan Rara setelah pernikahan.


Maaf tapi kalau soal uang Abimanyu sangat perhitungan.


"Abimanyu." Rara memanggilnya setelah dia lama cengo. "Kamu serius mau ngabulin ini? Bahkan saya ngerasa ini keterlaluan."


Sepertinya dia salah paham. Apa dia pikir Abimanyu akan memberikannya secara cuma-cuma? Jelas tidak. Setelah pernikahan itu Abimanyu akan memanfaatkan seluruh potensi Rara untuk kepentingannya sendiri.


Jadi walaupun memang sangat keterlaluan mahal tapi bukan berarti akan sia-sia.


"Saya kan udah bilang," Abimanyu menjawab seraya tersenyum congkak, "batas saya itu Pak Menteri. Kalo masih di bawah itu ya berarti saya sanggup."


"Emangnya gaji Pak Menteri sebulan bisa beli emas 500 gram, sama mobil, rumah, plus berlian?"


Abimanyu tertawa. "Intinya saya terima."


"Enggak, saya enggak bisa—"


"Ranaya." Abimanyu menatap dia tajam. "Kamu ngerasa lebih tau soal untung-rugi daripada saya?"


Abimanyu tahu apakah ia rugi atau tidak jadi dia tidak perlu terlalu merasa bersalah. Walau rasa bersalah itu menunjukkan dia masih lebih waras dari keluarganya tapi Abimanyu tidak butuh itu.


Ia tahu apa yang ia lakukan.


*


Lima hari kemudian pertunangan mereka diadakan. Abimanyu memakai pakaian yang lebih rapi dari biasanya karena sekalian hari ini mereka akan menggelar sesi prewedding. Semua biaya untuk pernikahan adalah tanggungan Abimanyu jadi Abimanyu bebas mengatur kapan ini dan itu diadakan.


Hampir selesai penata rias menata penampilannya, pelayan datang membawa kabar.


"Pak, ada saudara Bapak di depan, katanya mau ketemu Bapak."


Abimanyu menoleh. "Adek? Siapa?" Abimanyu punya tujuh adik jadi harus diperjelas yang mana dulu.


"Lupa siapa adek lo?" kata suara di belakang pelayan yang membuat Abimanyu langsung menghela napas.

__ADS_1


Banyu ternyata.


"Mau tunangan tapi enggak ngundang-ngundang keluarga sendiri. Emang dasar bangsat," cerca Banyu pedas yang Abimanyu abaikan.


Anggap saja itu bahasa kasihnya Banyu.


"Lo sendiri?" tanya Abimanyu, khawatir kalau Juwita juga datang. Abimanyu tidak siap bertemu Juwita dan ia merasa seumur hidup mereka tidak perlu lagi saling bertemu.


Tapi baru saja pertanyaan itu dilayangkan, suara keributan terdengar mendekat. Lalu ....


"Abang!"


Dua anak gadis kecil datang menerjang Abimanyu penuh semangat. Abimanyu terhuyung karena kaget tapi kemudian langsung tersenyum manis.


"Abang ganteng banget!" puji Lila, anak pertama Juwita.


"Badan Abang wangi," timpal Nia yang memeluk erat leher Abimanyu. "Abang, Nia kangen."


Abimanyu tertawa tulus. Bahkan ekspresinya membuat beberapa pelayan yang belum pernah melihat itu jadi syok. Mereka selalu berpikir Abimanyu adalah pria dingin karena hubungan dia dan istrinya kacau, tapi bagaimana dia bersama adik-adiknya memperlihatkan hal berbeda.


"Abang." Yunia, anak ketiga Juwita pun datang meminta ruang agar dipeluk.


Abimanyu memeluknya erat-erat untuk melepaskan rindu. Memang sudah cukup lama ia tidak bertemu dengan adik-adik kecilnya.


"Adek Milo lagi sakit terus Boba enggak mau ikut kalo Ibu enggak ikut."


Jadi Juwita tidak ada, yah. Abimanyu sedikit lega. "Kalo Papa?"


"Nanti kalo udah nikah baru Papa dateng," jawab Cetta, adik kandung Abimanyu setelah Banyu. "Abang udah selesai? Acaranya bukan jam sepuluh?"


"Abang mau nikah lagi?" Lila mendongak. "Kak Sakura mana? Kok Abang nikah lagi padahal udah nikah?"


"Soalnya dia brengsek, Sayang." Banyu mengejek. "Pokoknya yang namanya Abimanyu tuh nama tengahnya Setan nama belakangnya Babi."


"Abang, kata Ibu enggak boleh ngomong kasar." Nia menasehati tapi Banyu malah menjulurkan lidah pada Abimanyu.


"Kalian turun duluan." Abimanyu harus segera siap-siap. "Nanti Abang nyusul."


Mereka pun patuh turun sambil membicarakan soal acaranya penuh semangat. Yah, walau yang semangat adalah anak-anaknya Juwita alias yang belum terlalu mengerti. Banyu dan Cetta tidak mengikuti anak-anak, melainkan berdiri di sana, menatap Abimanyu yang kembali bercermin.


"Kalo kali ini juga lo berantakin idup lo sendiri, mainin perempuan yang jadi istri lo, Bang," Banyu berucap dingin, "yang ngerasa paling salah itu ujung-ujungnya Juwita."

__ADS_1


Abimanyu mengatup mulut.


"Jadi mending lo mikirin baik-baik lo ngapain. Jangan cuma taunya bikin Juwita susah."


Abimanyu menoleh. "Sampe kapan lo sebenernya iri sama gue, Banyu?"


"Hah? Ngapain gue iri sama orang yang idupnya berantakan kayak lo?!"


"Karena lo enggak pernah jadi anak nomor satunya Juwita." Abimanyu berjalan melewati Banyu. "Lo selalu jadi nomor dua mau sebanyak apa pun lo nemenin Juwita."


Yah, walau itu bukannya sebuah kebanggaan. Abimanyu yang iri pada Banyu. Karena dia bebas berada di sisi Juwita, bebas menemaninya, membantunya, meringankan bebannya, sementara Abimanyu yang nomor satu hanyalah beban berat di pundak Juwita.


"Bang Abi." Cetta sekilas memanggilnya.


Tapi Abimanyu tidak menoleh dan cuma bergumam, "Abang udah dewasa."


Karena itu berbeda dari dulu, Abimanyu tidak akan membuat masalah yang bisa membuat ibu tirinya bersedih.


"Bilang sama Juwita kalau Abang bakal bahagiain istri Abang yang ini."


Abimanyu bersumpah.


*


Sepertinya acara pertunangan dan pernikahan Rara akan sangat menarik perhatian. Karena Pak Menteri sepertinya sudah memutuskan untuk jadi wali dari pihak laki-laki. Rara tak tahu bagaimana dengan orang tua Abimanyu karena entah kenapa, setelah mendengar kisah tuduhan perselingkuhan itu, Rara takut menyinggung. Meskipun Juwita bilang akan hadir, Rara pun tidak masalah jika mereka memilih tidak hadir.


Rara bukan orang yang berhati sempit.


"Tapi surat Tante Juwita enggak sempet aku kasih ke Sakura." Rara menatap surat di tangannya. "Atau balikin aja?"


Lamunan Rara dihentikan oleh ketukan pintu yang memintanya segera keluar karena Abimanyu telah sampai. Rara memastikan penampilannya di cermin lalu keluar, ikut menyambut kedatangan Abimanyu.


"Itu siapa?" bisik beberapa orang di sekitar Rara. "Kayaknya sodara calon pengantin, deh. Yang tinggi mukanya agak mirip."


Rara merasakan jantungnya berdebar aneh ketika tiga adik perempuan Abimanyu berjalan memegangi kotak transparan berisi hadiah. Padahal ini sandiwara tapi kenapa Abimanyu membawa keluarganya juga?


"Saya enggak terlambat?" Abimanyu berhenti di depan Rara dan tersenyum. "Kamu cantik hari ini, Ranaya."


Akting, akting! Itu cuma akting! Rara berteriak mengingatkan dirinya sendiri karena jantung ini malah berdebar terlalu keras.


Tolong sadarlah bahwa ini hubungan kesepakatan antara mereka! Ini bukan hubungan yang boleh diisi terlalu banyak perasaan menyeleneh!

__ADS_1


*


mohon maap author lagi demam tinggi jadi kalo besok absen update, maklumin yah 🙏


__ADS_2