Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
57. Potongan Puzzle


__ADS_3

"Mau sampe kapan lo diem?" tanya Banyu pada perempuan itu.


Banyu sudah memandangi Kisa semalam suntuk dan menunggu kapan dia menyerah. Dia setidaknya pasti pintar. Dia tahu nasibnya kedepan akan bagaimana. Apalagi jika Abimanyu sudah pulih dan bukti bahwa Kisa mata-mata ditemukan, hukuman paling ringannya adalah ditembak mati dan kemungkinan paling besarnya dia disiksa hidup-hidup sampai mati.


Walau tahu itu Kisa ternyata tetap diam.


"Gue udah bilang bakal janjiin lo bebas—seenggaknya dari Aliansi—kalau lo ngasih tau Sakura sekarang di mana. Atau lebih bagus lagi kalo lo ngasih tau Sakura sekarang kerjasama sama siapa?"


Kisa tetap diam.


"Keluarga lo?" tanya Banyu seraya menumpukan dagunya pada sandaran kursi. "Yang ditahan sebagai jaminan, bokap nyokap lo? Atau adek lo? Kakak? Gimana kalau lo ngomong dan gue bantuin nyelametin mereka?"


"...."


"Lo tau kan enggak bakal ada keajaiban kayak Abimanyu tiba-tiba nyelametin lo di sini? Itu Bangsat kalo udah enggak peduli sama orang, enggak bakal dia kejar mau lo sengaja lari."


Persis seperti Sakura. Walau Abimanyu sekarang mengira dia masih bersama Sakura, sedetikpun dia tak pernah mencarinya.


Karena Abimanyu cuma akan mencari seseorang yang dia butuhkan.


*


"Kamu dari mana?" tanya Abimanyu ketika Rara datang bersama nampan makanan di tangannya.


"Dari mana lagi? Ya masaklah buat Bapak."


"Mas."


"Bapak." Rara menjulurkan lidahnya main-main. Pokoknya ia tak mau memanggil Abimanyu Mas atau apa pun itu sebelum dia memanggil Rara dengan benar.


"Nih." Rara duduk di tepi kasur, meletakkan makanan di pangkuan Abimanyu. "Bapak makan dulu, yah. Habis makan baru minum obat."


Abimanyu menatap Rara tajam. Lalu tanpa diduga dia membuang muka. "Aku enggak mau makan sebelum kamu manggilnya yang bener."


"Yaudah, enggak usah." Rara mengambil makanannya lagi, gantian dirinya yang ambil sendok. "Kalo gitu saya aja yang makan yah, Pak. Permisi. Aaaam."


Abimanyu mendengkus. Tapi Abimanyu tidak bicara apa pun lagi dan hanya melihat Rara makan di depannya.


Masih sulit rasanya Abimanyu mengingat siapa perempuan ini di hidupnya. Yang aneh, Abimanyu semakin merasakan ikatan dari interaksi mereka selama ini.


Seolah-olah dia memang sosok yang Abimanyu harapkan ada di hidupnya.


"Bapak ngapain ngeliatin saya, hm? Tuh kan mau juga. Gengsi sih. Saya suapin sini."

__ADS_1


Abimanyu mendekat tapi bukan untuk menerima suapan. Ia justru menjatuhkan keningnya pada bahu Rara, bernapas dalam aroma manis wanita itu.


"Kenapa?" Nada suara Rara berubah. Ada keakraban yang sulit dijelaskan ketika tangannya mengusap punggung Abimanyu. "Kepala kamu sakit lagi?" tanya dia, sehalus dan senyaman yang Abimanyu impikan.


Abimanyu membuka telapak tangannya dan Rara secara alami menggenggam tangan itu. Padahal tangan Abimanyu jauh lebih besar, tapi tangan kecil dan dingin itu terasa membungkus seluruh kesepian di hatinya.


Abimanyu memejamkan mata. Menikmati usapan lembut Rara di punggungnya yang seperti menyuruh Abimanyu untuk terus bersandar. Seolah dia berkata dia akan menerima seluruh kelemahan Abimanyu, tidak peduli apa, jadi teruslah bersandar padanya.


Detik itu akhirnya Abimanyu menyadari perasaan apa yang terus menggerogotinya ini.


"Rara."


"Hm?"


"Kalau dunia ini puzzle, aku ini cuma potongan yang enggak cocok di mana pun." Abimanyu masih merasakan sakit di tangannya yang terluka, tapi Abimanyu memaksa tangan itu bergerak agar ia bisa memeluk Rara dengan kedua tangannya.


"Aku pernah ngerasa kalau Tuhan punya kesalahan, berarti kesalahan Tuhan adalah ngebiarin aku ada dunia." Abimanyu memuntahkan hal yang bahkan tidak pernah ia katakan pada Olivia. "Aku selalu salah. Selalu ngambil keputusan yang salah. Selalu ada di jalan yang salah."


Rara terpaku. "Abimanyu—"


Tapi pria itu menggeleng, memintanya untuk diam sejenak dan mendengarkan kejujurannya itu.


"Aku ini cuma sampah kotor yang enggak pantes ada sampe-sampe rasanya enggak ada tempat di dunia ini buat aku. Enggak ada sama sekali."


"...."


Ketika Juwita menyerah padanya, Abimanyu pun menyerah terhadap dirinya sendiri. Abimanyu membenci dirinya sendiri.


"Enggak ada rumah buat sampah kotor kayak aku."


Telapak tangan Rara menyapu pipi Abimanyu dan sedikitpun tidak keberatan pada jejak basah air matanya. Rara justru meletakkan bibirnya di pelipis Abimanyu, tersenyum lembut dengan mata terpejam.


"Abimanyu," bisiknya lirih. "Kamu boleh lupain apa pun di dunia ini termasuk nama aku. Tapi buat satu ini aja, kamu harus selalu inget."


"...."


"Bahkan kalau semua orang bilang kamu sampah, aku bakal selalu jadi tempat kamu pulang."


"...."


"Aku enggak keberatan sama apa pun masa lalu kamu. Apa pun yang bikin kamu kotor, itu semuanya cuma masa lalu."


"Mungkin kamu ngomong semanis itu karena enggak tau," balas Abimanyu. "Kamu enggak tau apa-apa jadi—"

__ADS_1


"Emangnya penting?" Rara mendorong pelukan itu terlepas dan mengumbar senyum manis. "Emangnya kalo kotor banget, itu penting? Atau mungkin kamu sekarang masih mau ngelakuin kesalahan yang sama? Kamu selalu nyakitin orang yang kamu sayang dulu, ngecewain mereka sampe kamu ngerasa enggak pantes ada di dunia ini. Sekarang kamu mau ngelakuin hal sama? Kamu ada niat nyakitin aku atau bikin aku kecewa sampai aku nyesel sama kamu?"


Abimanyu tertegun. Tapi kepalanya secara alami menggeleng, berterus terang.


"Kalo gitu udah, kan? Kalau kita permasalahin masa lalu terlalu lama emangnya ada yang untung?"


"...."


"Lagian aku suka kamu apa adanya kamu. Walaupun yah rada nyebelin juga sih."


Rara menarik dia terjatuh ke pelukannya lagi.


"Sekarang kamu bukan puzzle yang enggak cocok di mana pun lagi, kan? Karena aku udah jadi potongan yang cocok buat puzzle kamu."


Ketika Abimanyu balas memeluknya lagi, Rara menyengir sangat lebar sekalipun air matanya jatuh.


Ia tidak bersedih. Sedikitpun bahkan tidak. Karena sekalipun Abimanyu sekarang melupakan hal penting di antara mereka, dia masih Abimanyu yang membuat Rara jatuh Cinta padanya.


Makanya Rara bahagia.


*


"Abang gue gimana?"


Rara yang hendak menutup pintu kamar seketika berpaling. "Barusan tidur," jawabnya sambil pelan-pelan menutup pintu agar Abimanyu di dalam tak mengusik. "Dia bilang kepalanya sakit. Tapi tangannya tadi udah mulai gerak."


"Hmmm." Banyu menyerahkan tas yang ia sita dari Kisa ke tangan Runa. "Dia mau ngeracunin lo."


Runa terbelalak.


"Tapi yah, bisa dibilang bukan karena dia juga. Kisa atau siapa pun dia itu cuma orang yang terpaksa dateng ke sini. Kemungkinan keluarganya jadi korban."


Runa menelan ludah. "Kamu udah nangkep Kisa?"


"Buat sekarang masih gue awasin. Tapi, Rara, menurut gue ini masih permulaan."


"Apa?" Bagaimana bisa perang dan segala macam ini disebut masih permulaan?


"Lo tau cermin?" Banyu menunjuk cermin yang berada persis di samping mereka, hiasan di tembok. "Kalo lo ke sana yang lo liat itu diri lo sendiri. Bantu lo buat ngeliat diri lo sendiri. Tapi kalo lo pecahin, itu bisa bantu lo nusuk jantung orang."


Banyu menarik napas dalam-dalam.


"Sakura cinta sama Abimanyu sampe dia buta, sampe dia gila, sampe dia rela ngelakuin apa aja buat Abimanyu. Sama kayak cermin, kalo itu pecah, hal yang tadinya sekadar bantuin, ngasih manfaat ke diri lo, bisa tiba-tiba berubah jadi hal yang nyakitin lo."

__ADS_1


Sakura dulu rela melakukan apa saja demi Abimanyu. Makanya sekarang dia mungkin ... rela melakukan apa saja demi balas dendam pada Abimanyu.


*


__ADS_2