Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
22. Lamaran Susah Ditolak


__ADS_3

"Maksud kamu?" tanyanya tajam.


Rara yang dipandang seperti penjahat seketika berpaling, menggaruk pipinya canggung. "Orang tua saya malah mau jodohin saya biar enggak dikira pelakor."


"Terus maksudnya kamu mau saya jadi suami kamu?"


"Kontrak!"


Abimanyu memutar mata. "Terus maksud kamu mau saya jadi suami KONTRAK kamu?" ulangnya penuh penekanan pada kata yang dia mau.


"Ya karena terlanjur ada kesepakatan di antara saya sama kamu." Rara masih membuang muka. "Juga ... saya enggak mau ngelibatin orang lain di hidup saya."


Baru setelah itu Rara berani menoleh karena ucapannya mengusir rasa canggung. Mata gadis itu serius saat berkata, "Saya sekarang mau fokus berkarier buat orang tua saya. Saya enggak mau nikah—dalam arti cinta—sama orang sebelum saya berhasil bikin orang tua saya puas."


Abimanyu diam menyimak.


"Ya mungkin orang tua saya ngerasa enggak perlu saya segitunya. Mereka juga enggak sesusah itu sampe makan pun enggak bisa. Tapi saya dari dulu selalu dimanja. Saya capek jadi pihak yang nyusahin. Makanya sebelum saya ngerasa punya bakti ke mereka, saya enggak mau ngurusin cinta-cintaan dulu."


Anak yang baik.


Abimanyu tertunduk mendengar anak baik itu mengutarakan kesungguhan niatnya dalam berbakti.


Itu benar. Kadang-kadang walau orang tua kalian terlihat tidak susah, akan ada masa kalian berharap memberi mereka yang terbaik dari hasil kerja keras kalian.


Abimanyu mengerti itu. Lima tahun ini ia nyaris setiap malam menangis karena alih-alih berbakti pada orang tuanya, alih-alih membahagiakan mereka, Abimanyu justru meninggalkan mereka karena sebuah masalah yang menyakiti hati. Kadang-kadang Abimanyu merasa tidak berhak hidup sebab ia hanya tahu membuat Juwita menangis dan kurang ajar pada Papa.


"Kalau sama kamu, di atas kontrak, kita bisa sepihak tanpa nyakitin satu sama lain." Rara menautkan tangan di atas meja dan menatap tegas pada Abimanyu. "Tapi karena masalah Sakura, saya enggak mau pihak luar tau. Cukup orang tua saya aja. Skenarionya gimana udah saya pikirin juga. Tinggal kamu setuju atau enggak."


Sungguh sebuah kebetulan.


Abimanyu sangat tertarik dengan pernikahan itu. Awalnya ia tak mau melibatkan kontrak karena Abimanyu tidak keberatan membina rumah tangga dengan wanita normal, waras, dan paling tidak bertanggung jawab bahkan tanpa cinta.


Abimanyu sudah bukan bocah dua belas tahun, lima belas tahun, tujuh belas tahun yang egois dan merasa dunia dikontrol oleh perasaan. Selama semua bisa seimbang, tanpa cinta pun bisa jalan.

__ADS_1


Namun kalau Rara mau kontrak ... itupun tidak masalah juga.


"Saya enggak mau sembunyi-sembunyi." Abimanyu tersenyum. "Kalo mau nikah, bikin pesta meriah."


Rara terbelalak. "Kamu gila?!" seru dia tak habis pikir. "Itu sama aja ngumumin saya emang pelakor! Padahal saya udah bilang bukan!"


"Suaminya Sakura nawarin mahar dua miliar, sertifikat rumah, hadiah villa dan saham hotel bintang lima kalau Ranaya Syiham mau terima lamarannya."


Rara cengo. "Kamu gila?" balas dia tapi kali ini dengan suara mencicit.


"Kalau beritanya kayak gitu, satu dunia pun enggak ada yang berani hujat kamu. Mereka enggak bakal bilang kamu pelakor atau tadinya bilang enggak mau tau-taunya mau juga. Mereka semua bakal bilang : udah enggak waras kalo enggak terima."


Rara masih cengo. "Kamu serius mau ngasih itu?"


"Jelas enggak." Abimanyu tertawa kecil melihat wajah Rara langsung berubah kesal.


"Itu cuma buat berita. Lagian saya bilang 'suaminya Sakura nawarin'. Kamu sebagai 'pelakor' yang budiman nolak semua itu dan milih mahar emas seadanya aja. Jelas, saya bukannya ngasih emas satu gram juga."


"Gitu yah." Rara termenung memikirkannya. "Tapi tetep aja orang mungkin bakal ngeliat itu negatif."


Abimanyu tersenyum penuh arti. "Tapi kalau emang kamu ngerasa masih rugi, saya bakal ngajarin kamu cara jadi kaya tanpa harus bikin konten."


"Bisnis?"


"Bagus kamu ngerti."


Rara melipat bibirnya dsn terus berpikir untung dan rugi kesepakatan kni.


"Kalau tujuan kamu mau terkenal, saya bakal bantuin kamu lewat koneksi. Tapi kalau tujuan kamu ngasih kehidupan baru buat keluarga kamu terjun ke bisnis jauh lebih baik." Abimanyu melipat tangan. "Itu saran saya yang punya segalanya tanpa sumbangan orang tua."


Rara melotot. "Kamu bangun semuanya sendiri? Tapi kan Papa kamu orang kaya."


Percaya tidak percaya, Abimanyu memiliki semua ini hanya bermodal kegilaan saja jadi Rara tidak perlu khawatir. Abimanyu punya banyak pengalaman menanjaki tangga kesuksesan.

__ADS_1


*


Yang jadi masalah sekarang cara memberitahu orang tuanya. Rara tahu bahwa Mama pasti akan menolak. Tapi Abimanyu malah cuma berkata, "Itu urusan saya."


Setiap kali dia mengambil satu urusan, Rara pasti cemas. Padahal kalau dipikir lagi ya dia selalu menyelesaikan urusan yang dia bilang 'urusan saya' itu.


Akhirnya Rara cuma menunggu saja. Hingga pada hari minggu Abimanyu pun kembali mendatangi kediaman Rara. Tapi 'hal' yang dia bawa membuat Rara ternganga.


"Pa." Mama mengguncang lengan Papa sambil matanya melotot horor. "Itu Pak Mentri kenapa di rumah kita, Pa?!"


Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Bapak Wiryandi Kusumo keluar dari mobil yang sama dengan Abimanyu, dikawal oleh sejumlah pria berseragam, diikuti oleh banyak wartawan yang tertahan.


Detik itu juga Rara bersumpah kalau Abimanyu sudah berkata 'itu urusan saya' maka Rara harus bertanya detailnya seperti apa.


"Selamat siang," sapa Pak Mentri ramah.


Tapi cukup membuat Papa terlihat gelagapan. "Selamat siang, Pak. Sehat, Pak?"


Mana ada warga yang tidak gugup didatangi oleh menteri. Pertanyaan Rara, buat apa Abimanyu datang melamar bersama Pak Menteri?


Pak Wiryandi tertawa menepuk-nepuk bahu Abimanyu. "Saya dateng ke sini bukan buat urusan negara. Ini keponakan saya minta ditemenin."


DIA KEPONAKAN PAK MENTERI?!


Mama yang tangannya sudah sangat dingin memegang lengan Rara sambil berkata, "Temenin Mama bikin minum. Buruan."


Sedangkan Abimanyu yang melihat mamanya Rara menyeret anak itu masuk hanya tersenyum samar.


Sebenarnya sih Abimanyu bisa melamar dengan cara biasa saja dan melewati sedikit penolakan karena mereka tidak mau anak mereka dijadikan istri kedua, apalagi istri pertama bermasalah. Namun setelah berpikir, itu kan merepotkan dan buang-buang waktu.


Makanya Abimanyu meminta bantuan dari Pak Wiryandi. Tentu saja mereka bukan paman-keponakan sungguhan. Hubungan mereka hanya dekat saja dan saling menganggap satu sama lain sebagai keluarga.


Dengan begini kan penolakan jenis apa pun bakal tertelan di tenggorokan. Warga sipil cenderung sangat takut dengan pejabat negara seolah-olah mereka dewa. Kalau si Bapak yang bicara, memang ada yang mau membantah?

__ADS_1


Juga di sosial media, jika tersebar berita Abimanyu datang melamar dengan Pak Menteri, lalu menawarkan mahar super mahal, memang masih ada di negeri ini yang sanggup berkata Rara itu pelakor?


*


__ADS_2