
Sudah jadi rahasia umum kalau pria berbahaya justru pria yang mampu menghanyutkan—walau setelah itu memporak-porandakan. Rara berusaha keras untuk meredam detak jantungnya sendiri, bahkan memukul-mukuli dadanya yang justru semakin berdebar.
Apa Sakura dilarutkan dalam perasaan seperti ini hingga dia menggila? Kalau begitu Rara harus segera berhenti.
Setengah jam Rara di kamar mandi, sekalian melakukan rutinitas sebagai wanita alias skin care-an. Baru kemudian Rara berani keluar, menemukan Abimanyu ternyata sudah tidur duluan di sisi kanan kasur.
Rara berusaha melangkah pelan-pelan. Duduk pun sangat pelan di kasur agar Abimanyu tidak terusik. Setelah mematikan lampu dan membiarkan lampu tidur saja yang tersisa, Rara pun ikut terlelap.
Esok harinya Rara terbangun akibat rasa sakit di lengannya. Baru saja Rara membuka mata, wajah Abimanyu yang terlampau dekat membuatnya nyaris berteriak.
Untung Rara buru-buru menutup mulut. Rasa sakit di tubuhnya gara-gara ditindih lengan juga kaki Abimanyu tidak bisa membuat Rara teralihkan dari pemandangan wajah itu.
Ya Tuhan, kenapa pria ini malah terlihat sangat tampan sekarang? Perasaan kemarin-kemarin walau tetap tampan dia setidaknya biasa saja.
Maksud Rara—argh! Intinya itulah!
Rara pelan-pelan menyingkirkan lengan Abimanyu darinya, hendak bangkit agar jangan sampai ketahuan dalam tidur mereka berpelukan. Itu memalukan bahkan kalau status mereka suami-istri. Tapi baru saja Rara duduk, Abimanyu kembali menariknya, mengurung Rara dalam pelukan sekali lagi.
Walau setidaknya kali ini wajah mereka tidak berhadapan. Abimanyu mengubur wajahnya ke pundak Rara.
"Jam berapa?" tanya pria itu dengan suara seraknya.
Rara menelan ludah gugup. "Setengah enam."
Abimanyu malah terang-terangan bernapas seolah dia menghidu aroma Rara. "Tidur meluk perempuan ternyata enak juga," gumam dia.
"Kayak enggak pernah aja." Rara berusaha santai walau jantungnya berdisko.
"Jarang." Abimanyu mengeratkan pelukannya. "Tidur sama selingkuhan saya ya emang cuma ****, bukan tidur kayak gini."
Perkataan dia mungkin adalah fakta yang diutarakan tapi entah kenapa ada bagian dari diri Rara yang tak nyaman. Jantungnya yang berdebar-debar tadi sedikit lebih terkendali dan Rara mengepal tangannya diam-diam.
"Selingkuhan kamu emangnya berapa?" Sebagai istri kontrak alias istri pura-pura Rara tidak boleh sampai terlihat cemburu.
Dirinya tidak punya hak. Dan memang seharusnya tidak perlu.
"Mana saya ngitung." Abimanyu kembali menjawabnya jujur.
"Tapi kamu kan hormat sama mama kamu, mama tiri kamu. Kok kamu malah main perempuan?"
"Main perempuan? Ngapain saya mainin perempuan?" Abimanyu terus mengeratkan pelukannya. "Saya cuma tidur sama mereka, mau sama mau. Saya enggak pernah janjiin sesuatu atau ngomongin saya cinta mereka. Yah, mungkin perempuan terakhir yang saya mainin perasaannya cuma Sakura."
Sayangnya tanpa itupun dia sudah bisa mengacaukan hati perempuan mana pun.
"Kamu ...." Rara menahan mulutnya sendiri.
__ADS_1
"Apa?" Abimanyu menggerakan tangannya dari perut Rara menuju tangannya.
Tanpa basa-basi dia menggenggam tangan itu, membuat Rara spontan balas menggenggamnya.
Rara merasa ia tak boleh menanyakannya namum genggeman Abimanyu membuat Rara kelepasan. Pada akhirnya mulut itu kembali terbuka untuk bertanya, "Kamu bakal tetep tidur sama perempuan lain?"
Kesan dari pertanyaan itu sangat jelas. Kesannya Rara takut dan cemburu. Padahal sudah ia bilang tidak boleh. Tidak boleh terlalu besar kepala karena ini cuma sandiwara.
Tentu saja tidak diperlukan kesetiaan. Yang terpenting adalah kesan orang-orang kepada Rara dan Abimanyu selama pernikahan mereka berlangsung.
Masalah Abimanyu tidur dengan siapa itu bukan urusan Rara.
"Masih."
Tuh, kan.
"Kalau kamu cari-cari alesan terus enggak ngasih saya jatah."
Abimanyu melepaskan pelukan itu, beranjak dari ranjang. Rara pun terduduk, memandang pria itu dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Kamu mau tau tugas istri itu apa?" Abimanyu melepas pakaiannya hingga bertelanjang dada. "Ngasih jatah."
"Maksud saya—"
Wajah Rara kontan memerah. "Ma-maksud saya bukan gitu juga! Saya kan cuma nanya! Kamu mau ngapain juga bukan urusan saya!"
"Saya enggak main-main."
"Udah saya bilang bukan urusan—"
"Ranaya." Abimanyu yang sempat menikmati wajah memerah dan sikap tsundere Rara kini memberinya sorot serius. "Saya serius soal pernikahan kita ini."
Rara tertegun.
"Yah, kalo kamu mau kita cerai sesuai kontrak pun saya bakal setuju tapi selama kita suami-istri saya bakal serius. Alasan saya selingkuh dari Sakura itu karena saya emang enggak punya hubungan sama dia lagi. Tapi kamu beda."
Abimanyu mengulurkan tangan, menepuk kecil puncak kepala gadis itu.
"Saya enggak akan pernah jahat sama orang yang enggak jahat sama saya. Itu yang Juwita sama Mama saya ajarin."
Dengan kata lain Abimanyu tidak akan mengkhianati pernikahan ini. Abimanyu tidak akan tidur dengan wanita lain bahkan Olivia selama pernikahan ini berlangsung.
Kecuali ... jika Rara membuat masalah dengan Juwita seperti Sakura dulu.
*
__ADS_1
Pengantin baru itu keluar dari kamar pukul setengah delapan. Berbeda dari seorang wanita yang malu-malu jika datang ke rumah mertua, Abimanyu bertingkah biasa saja ketika turun untuk sarapan.
Beberapa keluarga Rara masih tersisa dan ketika Abimanyu duduk di meja, mereka mengajaknya bicara seperti seorang pangeran. Pengaruh uang memang luar biasa.
Rara agak khawatir Mama bersikap kurang baik. Bagaimanapun Mama agak menentang hubungan ini dan menolak Abimanyu bahkan kalau Abimanyu punya banyak uang. Tapi Mama ternyata cukup bersahabat. Entah karena masih ada keluarga lain atau karena mau dibuat apa pun sekarang Abimanyu sudah jadi menantunya.
"Ngomong-ngomong kalian mau bulan madu ke mana?" tanya sepupunya Rara. "Liburan baru kayaknya seru nih, Mas Abi. Sepupu time juga dong."
Rara melotot, memperingati mereka untuk tidak usil tapi malah terdengar suara persetujuan dari mana-mana. Hadeh, mereka ini kenapa gemar sekali memoroti harta orang? Rara yang malu, demi Tuhan!
"Tante Juwita udah ngasih tiket bulan madu." Rara harus memberitahu mereka atau nanti hasutan itu disetujui oleh Abimanyu. "Ke Raja Ampat, khusus dua orang."
"Ck, enggak asik."
"Yaudah pergi aja bareng, nanti." Abimanyu malah sungguhan mengiyakan.
"Tiketnyakan buat dua orang doang!" Rara mendelik.
"Maksudnya sebelum itu. Toh tiketnya Juwita buat dua minggu lagi."
"Tapi kan—"
"Yey, liburan berarti yah, Mas?" Sepupu Rara pada ricuh sendiri. "Ke mana nih? Bali? Lombok?"
"Bali."
"Yes! Semua ikut kan, Mas?"
"Hm."
Rara akhirnya cuma geleng-geleng. Memang dasar orang pamer. Buat apa coba dia buang-buang uang lagi?
Perhatian Rara untungnya teralihkan ke ponsel yang berdering. Gadis itu mengambilnya, menerima panggilan dari Anita.
"Halo, Mbak?"
"Yang lain pada nanyain soal bikin konten bareng."
"Konten?" Rara beranjak ketika menyadari ini pekerjaan besar. "Konten soal aku, Mbak?"
"Iya. Konten unboxing kado dari mertua kamu. Gimana? Tertarik? Adsense-nya kita bagi."
Nampaknya kerja keras Rara akhirnya terbayar juga, pelan-pelan.
*
__ADS_1