
"Aku enggak terima!" teriak Dian, perempuan cantik mantan pemuas nafsunya Abimanyu itu. "Kalo kamu enggak mau tanggung jawab, anak aku enggak bakal ikut sama kamu!"
"Hah, bego!" Rara melipat tangan, berdiri di hadapan Abimanyu seolah melindunginya. "Kamu kira dateng ke sini ngakuin kamu punya anak itu enggak ada resiko? Lagian kamu kira kami semua ini tolol? Kasus saya sama Sakura kemarin udah viral, sementara kamu keliatannya terlalu cakep buat dibilang kudet. Artinya kamu udah tau Abimanyu barusan nikah tapi kamu malah mau dateng minta dinikahin juga! Dasar betina enggak tau malu!"
Rara sepertinya tidak ingat bahwa Abimanyu sedang melupakan status mereka. Semua ucapan Rara hanya bisa memberi efek syok pada Abimanyu, sedangkan Olivia cengo.
"Rara." Perempuan itu berbisik. "Lo kan kemaren jatohnya pelakor juga. Lo ngatain diri sendiri ceritanya?"
Wajah Rara lurus lempeng tanpa rasa bersalah. "Yang namanya betina emang enggak tau malu, Liv," balasnya pelan sebelum kembali menunjuk Dian. "Kamu kira modal cantik sama ***** besar kamu menangin suami saya?! Hah! Dia ini emang mata keranjang, tapi kalo soal ***** doang, saya juga punya!"
Dian sepertinya juga syok melihat kelakuan Rara yang diluar dugaan. Bukankah seharusnya sekarang dia menangis karena tahu suaminya punya anak dari perempuan lain? Kenapa dia malah terkesan cuma main-main?
"Lo gila, hah?!"
"Enggak." Ekspresi Rara mendadak dingin. "Gue cuma ngasih kemudahan karena tau lo cuma orang bego."
"LO BILANG APA?!"
"Stop." Abimanyu akhirnya buka suara. "Kalian berdua, stop."
Olivia melipat tangan. "Kenapa? Biarin aja kali. Hajar aja, Ra, hajar tuh cewek gatel."
"Olivia, lo diem."
"Cih."
"Lo bawa Rama dulu." Abimanyu memindahkan Abirama ke pelukan Olivia. "Jangan lo kasih ke siapa pun."
"Biar aku aja." Dian ingin mengambil anaknya tapi Abimanyu langsung menepis. "Bi—"
"Diem." Abimanyu menatapnya dingin. "Masalah gue bakal apa itu bakal gue omongin. Bukan lo yang nentuin. Sekarang pergi sama Olivia atau gue suruh orang nyeret lo pergi."
"...."
Kini tersisa Rara di ruangan itu. Entah kenapa mendadak Rara ciut karena Abimanyu menatapnya tajam.
Sebenarnya sih dokter tidak melarang Rara menyebutkan status pernikahan mereka. Ia cuma disuruh hati-hati karena bisa saja Abimanyu bertindak kasar saat dia melupakan sesuatu di antara mereka. Tapi semua orang kompak tidak memberitahu Abimanyu sebab Rara ingin dia mengingatnya sendiri.
Jadi mungkin ... bisa dibilang ... Rara punya salah.
"Abimanyu—"
__ADS_1
"Pembantu, huh?"
Rara menelan ludah. "K-kalo waktu itu aku langsung ngaku istri kamu padahal kamu lupa, yang ada kamu ngiranya aku nipu. Jadi Banyu improvisasi terus aku—"
Ocehan panjang lebar Rara yang diselingi kegugupan akut itu mendadak berhenti. Pikirnya Abimanyu mau marah tapi yang dia lakukan justru memeluk Rara.
"Pantesan." Abimanyu berbisik lirih. "Pantesan aku enggak bisa berenti kangen sama kamu."
"...." Rara tersenyum. "Ohya? Terus tadi kenapa kamu mau ninggalin aku?"
Abimanyu bernapas lemah. "Beda sama aku yang cuma kepingan enggak berharga, kamu enggak ternilai."
"Itu cuma perasaan putus asa kamu." Rara menangkup wajah Abimanyu. "Aku mau kamu. Enggak peduli gimana kamu takut sama risikonya. Kamu lupa sama kita? Bodo amat. Kamu punya anak lain? Bagus malah. Aku jadi termotivasi punya anak juga."
"...."
"Aku bakal jadi satu-satunya orang yang ngerti semua hal di hidup kamu jadi jangan lagi, jangan pernah lagi, mikir buat nanggung semuanya sendirian."
Abimanyu hanya diam.
"Ngerti?"
Pelan, pria itu akhirnya mengangguk.
".... Jadi gitu." Abimanyu setidaknya cukup pintar untuk mengerti. "Emang masuk akal Sakura tau sama siapa aja aku pernah tidur."
"Yang dia mau itu kamu ngeliat diri kamu sebagai sampah. Dia nyodorin dosa kamu sambil bilang 'nih, liat Abimanyu, kamu jangan sok-sok ngerasa berhak bahagia karena ujung-ujungnya kamu kayak gini'."
Rara melipat tangan dan tertawa bangga. "Tapi coba pikirin kalo dia yang mau ngancurin kamu, kita, justru enggak kenapa-napa sama rencana dia. Mau dia nyodorin Kisa yang mirip Juwita, mau dua nyodorin perempuan masa lalu yang punya anak kamu, kalau aku sama sekali enggak ninggalin kamu dan kamu siap ngadepin itu, berarti kita yang menang kan?"
*
"Balikin anak gue!" teriak Dian kesal.
"Lo dateng bilang ini anaknya Abimanyu ya berarti ini anaknya Abimanyu dong," balas Olivia cuek.
"Balikin anak gue, brengsek!"
"Ogah."
Abimanyu mendorong pintu tempat Dian dan Olivia sibuk berdebat satu sama lain. Di belakangnya Rara juga ikut, membuat tatapan Dian langsung seratus persen berubah benci.
__ADS_1
"Bi." Dian datang, memeluk lengan Abimanyu. "Aku mau ngomong berdua sama kamu."
Abimanyu menatap Dian tanpa ekspresi. "Lo tau kenapa Sakura ngebiarin lo daripada ngebuang lo ke jurang?"
Nama Sakura membuat Dian terlihat agak pucat. "Aku enggak ngerti—"
"Karena lo lebih bego dari Sakura dulu."
Orang bodoh itu gampang dikendalikan, soalnya orang pintar jelas akan tahu kapan dia berusaha dikendalikan oleh seseorang. Dulu Sakura hanyalah wanita bodoh dan tidak berguna jadi Dian pastilah berada di level lebih rendah dari Sakura itu, makanya Sakura membiarkan dia hamil sekalipun itu anak Abimanyu.
Dan ....
"Lo pikir," Abimanyu menunduk padanya, "dulu gue nidurin lo karena mau nyari istri? Gue enggak keberatan nerima lo jadi istri kalau aja lo punya otak sedikit. Tapi sori yah, nerima istri yang bahkan lebih bego dari istri pertama gue gunanya buat apa?"
Wajah Dian memerah padam. Dia langsung melepaskan lengan Abimanyu dan menjerit, "KALO KAMU EMANG ENGGAK MAU TANGGUNG JAWAB, ANAK AKU ENGGAK BAKAL JADI ANAK KAMU!"
"Tanggung jawab soal apa sih? Soal duit? Kalo lo minta baik-baik, gue enggak keberatan ngasih." Abimanyu menoleh pada Olivia. "Duit simpenan gue di elo berapa, Liv?"
"Sekitar 7 M. Itu udah termasuk gaji lo kemarin dari Aliansi sama bonus."
"Dua M buat lo kalo mau." Abimanyu kemudian berucap santai. "Atau perlu gue tambahin 3 M? Ngomong baik-baik, enggak perlu teriak. Lo ini enggak diajarin sama nyokap lo sopan santun, hm?"
Nominal uang yang disebutkan Abimanyu sudah cukup fantastis. Dengan uang sebanyak itu, Dian pasti bisa memenuhi kebutuhan hidupnya walau tak sampai berfoya-foya hebat.
Tapi ....
"Biarin aku tinggal sama kamu." Dian menatap tegas Abimanyu. "Aku enggak mau uang kamu. Aku mau tinggal sama kamu. Kita bertiga."
Uang 2 M memang banyak, tapi kalau Dian berhasil jadi istrinya Abimanyu, 7 M bahkan lebih bisa jatuh ke tangannya, kan? Buat apa ia menerima recehan kalau ada sesuatu yang lebih berharga?
"Lo nih—"
"Enggak pa-pa, kok." Rara menepuk punggung Abimanyu dan tersenyum. "Enggak pa-pa. Daripada ribut mulu, kalo emang mau tinggal bareng, emang kenapa?"
Rara tahu Abimanyu mau menghindari masalah. Dia mau mendorong mundur orang ini bahkan jika harus merelakan sejumlah uang besar.
Tapi Rara tidak rela.
2 miliar dia pikir sedikit? Cuma buat parasit ini, memangnya pantas 2 miliar diberikan?
Sebagai istri, tugas Rara adalah melindungi dompet suami!
__ADS_1
*