
Beberapa hari sebelum Abimanyu mendatangi Rara.
Plak!
Plak!
Plak!
Plak!
Plak!
Plak!
Darah segar menetes dari kepala Abimanyu, membasahi karpet putih tempat ia berdiri tegap, menerima tamparan beruntun dari Arina. Luka yang disebabkan benturan akibat tendangan Banyu kembali terbuka setelah berulang kali kepalanya diguncang, namun Abimanyu berusaha kembali tegap setiap kali ia oleng.
"Abimanyu," kata Arina dengan nada geram, "kamu tahu kondisi kita sekarang?"
"Tau, Nyonya," jawabnya datar.
Jawaban yang membuat Arina justru kembali menamparnya.
"Lama-lama kubunuh saja serangga bodoh seperti kamu! Aku sedang lelah, kamu dengar?! Masalah datang dari berbagai arah dan kamu bukan meringankan tapi justru menambah masalah!"
Abimanyu terpejam tanpa membantah.
Sebenarnya kenapa Arina, istri kedua Mahesa begitu marah?
Tentu saja karena Abimanyu berbuat salah, menurut dari pertimbangan Arina. Dia biasanya bukan wanita yang pemarah seperti ini, apalagi sampai memukul bawahannya. Tapi tekanan dari kematian Mahesa Mahardika yang semakin dekat membuat kesabarannya habis seumur hidup.
Dia sudah sangat marah mendengar Abimanyu membiarkan Rose bertemu keluarganya, lalu Rose justru jatuh sakit dan sekarang masih tampak sekarat. Di antara semua calon penerus Mahesa, Arina paling menjaga Rose, karena itu jika sampai terjadi sesuatu pada Rose, dia mungkin akan menggoreng keluarga Abimanyu hidup-hidup.
"Arina, udah cukup." Rashi menghalangi ketika Arina hendak memukulkan tongkat jalannya pada Abimanyu. "Jangan lampiasin amarah sama orang lain."
"Diam!" Arina membentak keras, tapi sesaat kemudian dia jatuh ke kursi, tampak berusaha keras meredam amarahnya yang sudah berlebihan.
"Obatin luka Abimanyu dulu, Rendi," pinta Rashi.
Namun Abimanyu menghentikannya.
"Saya enggak pa-pa." Abimanyu menatapnya tenang walau kepalanya berdarah. "Saya minta maaf karena kesalahan saya Nyonya Arina jadi terganggu."
Rashi menghela napas. "Abimanyu, saya ngerti banget kamu bukannya sengaja soal kondisi Rose. Dia dari lahir udah lemah."
"Rose sudah lemah dari lahir," sahut Arina murka, "maka dari itu seharusnya orang bodoh ini tidak membawa-bawa anak berharga itu seenaknya!"
"Arina—"
"Aku diam saja sewaktu dia menghancurkan Aliansi, karena Senior Mahesa sendiri memaafkan dia. Tapi bukannya memperbaiki dirinya dan berhenti bermain-main, dia kembali membuat masalah. Sekarang apa lagi? Kamu mau membunuh Rose agar negeri ini hancur saja, begitu?"
"Arina!" Rashi menatap wanita itu tajam. "Udah! Biar aku yang ngomong! Kamu mending ke kamar Kak Mahesa!"
Arina jelas tidak takut pada Rashi dan nampaknya sudah terlalu tertekan sampai mau bertengkar, namun semesta masih berbaik hati. Seorang pelayan datang memberitahu sesuatu, yang mungkin tentang Mahesa, hingga Arina bergegas pergi.
__ADS_1
Begitu Arina sepenuhnya menghilang, Rashi kembali menghela napas.
"Maaf, Nak. Maklumin Arina. Dia cuma takut. Kamu tau kan kalau Rose kenapa-napa, organisasi pasti makin kacau?"
Abimanyu mengangguk formal. "Sudah udah bilang, ini salah saya."
Rashi tersenyum lemah. "Maaf, bikin kamu harus ngorbanin diri sendiri."
"Saya yang mutusin jalan hidup saya, Nyonya." Abimanyu mengerutkan kening menahan sakit, tapi tidak bersuara karena ingin cepat menyelesaikan ini. "Saya dateng ke sini juga karena ada permintaan."
"Permintaan?"
"Saya ... mau punya anak lagi."
Rashi sekilas tampak terkejut, walau sejurus kemudian dia tersenyum. "Ohya? Istri kamu hamil?"
"Maksud saya, saya 'rencananya' mau punya anak lagi."
".... Gitu, yah?" Rashi jelas sudah mengerti. "Kamu mau minta perlindungan buat dia juga, sama kayak Abirama?"
Abimanyu terdiam, butuh waktu untuknya bisa menggeleng. "Saya bakal langsung ninggalin keluarga saya begitu istri saya hamil. Dia yang bakal besarin sendiri."
"Keputusan gila, kamu tau kan?" balas Rashi langsung. "Abirama yang dijamin sama organisasi aja belum tentu aman, apalagi yang lepas dari tanggung jawab kami. Enggak enak bebanin ini ke kamu, Abimanyu, tapi ... zamannya Mahesa Mahardika udah di ujung."
"...."
"Enggak peduli sekeras apa kita semua berusaha, kita enggak tau apa orang-orang yang bakal gantiin beliau itu mampu. Kamu sendiri tau rumor di belakang kayak gimana. Banyak yang bilang kalau Kak Mahesa mati, pembelot bakal muncul satu per satu. Arina, Deev, Number, Riv, orang-orang yang selama ini megang kekuasaan bareng Kak Mahesa bakal jadi target. Kamu inget Hara, kan? Siapa yang percaya Hara bisa ditangkep gitu aja? Padahal dia Number Zero, orang nomor satu di antara semua Number."
"...."
Abimanyu menunduk. Dari kemarin semesta terus membisikinya untuk tidak menuruti permintaan Rara, jangan memberinya anak bahkan sekalipun dia terluka.
Tapi ....
"Kalau saya bilang saya tetep mau punya anak, kira-kira Bos keberatan?"
"...." Rashi tersenyum pasrah. "Lakuin yang kamu mau. Salah atau bener, suatu saat kamu bakal tau."
Abimanyu ikut tersenyum. Lantas ia menunduk, membungkuk sebagai tanda hormatnya.
"Tolong sampein salam saya buat Bos."
"Kamu jangan lupa obatin luka kamu." Hanya itu balasan Rashi.
Kilas balik itu berakhir bersamaan dengan Abimanyu membuka mata, menemukan sosok Rara tengah terpejam lelah di pelukannya.
Ada sakit yang menyerang kepala Abimanyu, tapi mulutnya tak bersuara, hanya diam mengusap-usap kecil punggung istrinya.
Selama empat tahun ini, Abimanyu seringkali berpikir jika suatu saat Rara akan bertemu pria lain, jatuh cinta padanya dan melepaskan pernikahan mereka.
Abimanyu mengharapkan itu, terlepas dari bagaimana perasaannya. Karena dengan begitu Rara bisa lebih bebas dan baik-baik saja. Tapi perempuan ini ternyata lebih keras kepala dari yang Abimanyu pikirkan.
Dia ... malah jatuh cinta dengan orang yang salah.
__ADS_1
Hari itu, ketika Abimanyu berkata, "Jatuh cinta sama saya bukan dosa."
Rara menjawab, "Jatuh cinta sama kamu emang bukan dosa tapi kebodohan."
Ternyata dia benar. Itu benar-benar sebuah kebodohan. Tapi ... bukan sepenuhnya salah Rara. Yang membuat dia jatuh cinta jugalah Abimanyu.
"Udah aku bilang," bisik Abimanyu, "aku ini puzzle yang enggak cocok di semua tempat."
Entah Juwita, entah Sakura, entah Rara atau bahkan Olivia. Abimanyu adalah kutukan.
"Mmmmh."
Abimanyu menunduk. "Kenapa?"
Rara tersenyum dengan mata terpejam, tampak setengah tidur.
Ketika dia tidak menjawab, Abimanyu ikut tersenyum, memeluknya lebih erat.
Setidaknya untuk beberapa hari kedepan Rara bisa sepuasnya memeluk Abimanyu, jadi wajar jika dia terlihat sangat bahagia.
*
"Bocah," panggil Juwita pada Banyu yang sejak tadi sibuk memandangi foto Rose di kameranya.
Panggilan Juwita diabaikan saking sibuknya dia mesem-mesem. Tentu saja sebagai seorang ibu yang baik Juwita datang dan langsung mengetok kepalanya.
"Kalo dipanggil nyaut!"
"Aw!"
"Gitu doang sakit!"
"Juwita, kalo gue geger otak, yang pertama gue salahin elo yah!" protes Banyu, mengusap-usap bekas pukulan Juwita.
Juwita mendengkus. "Abi pulang, kan?"
".... Entah."
"Aku tau yah. Rara mana pernah bangun kesiangan kecuali lagi sakit."
Banyu mencebik. "Kenapa? Mau gue ngusir tuh Setan? Bentar, gue ambil garem sama air suci dulu."
"...."
"Kenapa lagi sih, Bu? Lo tuh kalo Abimanyu, emang enggak pernah mau—"
"Kalau," Juwita menatapnya serius, "kalau semisal aku minta kamu nikahin Rara, kamu mau?"
*
sekuel cerita ini akan segera dibuat, insyaa Allah 😇
dan author rencana mau menipiskan unsur politiknya supaya pembaca bisa fokus sama 'perasaan' tokohnya aja.
__ADS_1