Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
76. Kejujuran Satu Sama Lain


__ADS_3

Banyu sebagai pelaku tendangan pada abangnya itu tampak sangat puas, tapi di saat bersamaan dia menoleh, menarik kerah kaus Olivia yang barusan menendang Rara.


"Brengsek! Lo apain kakak gue, hah?!" murka Banyu.


Olivia mendengkus. "Yang nendang kakak lo kan lo sendiri."


"KAKAK CEWEK GUE! YANG COWOK BUKAN KAKAK GUE!"


"Darah enggak bisa bohong, Bocah." Olivia menepis tangan Banyu. "Lagian, bukan Abimanyu doang yang salah. Rara juga salah. Berantem kok di depan bocah. Gendheng!"


Lalu perempuan itu berpaling marah pada Rose.


"Rose! Lo tuh ngapain sih manas-manasin orang berantem?! Kalo mau hiburan ya lo tinggal nyalain TV, kenapa malah bikin orang berantem?!"


Rose menyesap minumannya sangat tenang, alias dari tadi tidak terusik sekalipun menonton pertengkaran yang sangat hebat.


"Aku kan cuma bicara apa adanya. Pendapatku saja. Memangnya di negara ini dilarang berpendapat, yah?" kata perempuan cantik tapi sialan itu.


"Jelas-jelas lo ngomong buat manasin mereka, Orang Sakit!"


Rose memiringkan wajah. "Itu sih karena mereka saja yang berhati sempit. Bukannya membicarakan masalah, mereka malah bertengkar. Bukan salahku, kan?"


"LO TUH YAH—"


"Yes, Lady, kamu enggak salah apa-apa." Banyu tahu-tahu sudah berada di dekat kursi Rose, meraih tangannya untuk dicium. "Maaf sudah mengganggu waktu santainya. Ngomong-ngomong kamu cantik sekali. Mataku rasanya mau buta."


Rose mengamati Banyu dengan satu alis terangkat. Dia tidak keberatan tangannya dicium. Malah kalau Banyu mencium kakinya sekarang pun Rose merasa biasa saja saking seringnya dia dipuja.


Gadis itu justru menunjuk Abimanyu di sana. "Dia kakakmu?"


"Bukan, Princess. Sama sekali bukan. Aku sama dia enggak ada hubungan darah."


Dari wajah saja sudah kelihatan mereka saudara kandung, satu bapak satu ibu.


Olivia memutar matanya, mendatangi Abimanyu dan Rara di sana. Abimanyu terlihat meringis sangat kuat. Memegangi kepalanya yang ternyata mengeluarkan darah akibat terbentur.


"Bi." Rara mengguncang lengan Abimanyu panik. "Bi, kamu denger aku? Kamu enggak pa-pa, kan?"


Abimanyu mengerang tapi menggeleng. Dia terlihat agak kesulitan saat menarik lengan Rara, untuk memastikan apakah dia terluka.

__ADS_1


"Sakit?" tanya Abimanyu, yang seharusnya juga sedang sakit.


Olivia hanya menghela napas menyaksikan mereka. Kalau harus jujur, provokasi Rose bukannya tidak memiliki arti. Gara-gara mereka bertengkar tadi, emosi-emosi yang mereka pendam jadi terlampiaskan dan perasaan mereka satu sama lain justru jadi terlihat jelas.


Walau menyebalkan, Rose itu cerdas dan luar biasa peka. Makanya mungkin dia sengaja memprovokasi Rara dan Abimanyu untuk mendamaikan mereka.


Atau mungkin saja niat utama dia cuma iseng. Entahlah.


"Olivia," geram Abimanyu. "Lo gila hah? Kalo lengan Ranaya patah, gue patahin tangan lo juga, sialan."


"Sini gue patahin depan lo kalo perlu." Olivia justru membalas kesal. "Bisa-bisanya lo berdua berantem depan anak lo, Abimanyu. Lo mau ngajarin apa ke anak lo? Ngajarin cara minta cerai?!"


Abimanyu terbungkam.


"Dan lo," Olivia menunjuk Rara, "kalo lo beneran ngerasa nih Goblok itu enggak mikirin lo lagi, ya lo tinggal tanda tangan surat cerai! Tapi kalo lo ngerasa dia sebenernya peduli sama lo, ya lo diem!"


"...."


"Gue enggak peduli lo sabar berapa tahun, lo ngerti?! Enggak usah ngomong-ngomong soal sabar, enggak guna! Lo berdua begini ujung-ujungnya cuma buat diri lo berdua sendiri! Lo enggak mau cerai dari Abimanyu karena lo terlalu Cinta, terus lo, Bi, lo sayang tapi takut ngelanjutin karena lo enggak mau lagi dibilang anak setan! Ngerti lo berdua? Itu bukan buat satu sama lain tapi buat diri kalian masing-masing. Lo berdua sama aja egoisnya jadi enggak usah ngebacot!"


*


"Are you okay, Buddy?"


Abirama langsung datang memeluk Olivia. "Abi kangen Onti."


"Onti juga kangen Abi. Maaf yah Onti lama liburan." Olivia tersenyum nyaman memeluk anak itu. "Cium Onti dulu, Nak."


Bocah itu mencium pipi Olivia, menciptakan lengkungan senyum lebar yang mungkin tidak pernah Olivia miliki selain dari anak ini. Hubungan Olivia dan Abimanyu sudah lama kandas, tapi sekalipun begitu, bagi Olivia, Abirama seperti anaknya sendiri yang ia saksikan tumbuh seiring waktu.


"Onti, Papa kenapa?"


Olivia mendengkus. Tapi masih ingat bahwa yang ia hadapi itu anak kecil hingga Olivia berbaik hati mengarang alasan. "Enggak, Sayang. Papa lagi latihan sama Om." Tangannya meraih tubuh Abirama, menggendongnya. "Yok, Onti bawa oleh-oleh buat Abi. Kita buka, yok."


Abimanyu cuma terdiam menyaksikan anaknya pergi. Walau caranya rada kasar, tapi rasa sakit di kepalanya membikin Abimanyu bisa berpikir lebih waras. Pria itu mengintip Rara sekali lagi, melihat istrinya tampak meringis akibat tendangan kuat Olivia di lengannya.


Pasti sangat sakit. Begitu-begitu Olivia mungkin dua belas kali lebih kuat dari Rara.


"Obatin tangan kamu dulu," ucap Abimanyu seraya menarik lembut lengan Rara satu lagi.

__ADS_1


Rara hanya tertunduk, mengikuti Abimanyu tanpa banyak bersuara lagi. Mereka pergi meninggalkan Rose yang kini tampak sibuk menanggapi omongan Banyu.


Mereka naik ke lantai atas, kamar yang Rara tempati semalam. Abimanyu tampak oleng saat dia berjalan, tapi memaksakan langkahnya pergi mengambil kotak pertolongan pertama.


"Sweater kamu buka."


Rara membuka luaran pakaiannya, membiarkan Abimanyu memeriksa bekas tendangan Olivia.


"Sakit?" tanya dia waktu menekannya.


Rara mengangguk tanpa suara.


"Jangan marah sama Olivia," gumam Abimanyu sembari membalut perban di sekujur lengan Rara. "Dia emang kayak gitu kalo nasehatin orang. Tapi bukan dia mau ngelampiasin marah. Yah, walaupun dia salah. Aku minta maaf ngewakilin dia."


"Enggak." Rara menjawab muram. "Aku emang salah. Wajar dia marah."


"...."


Abimanyu terlihat memiliki banyak hal di benaknya tapi justru memilih buat bungkam saja. Pria itu cuma memasangkan penyangga ke tangan Rara, memastikan tangannya berada di posisi tertekuk nyaman.


"Mungkin besok bakal lebam. Nanti kompres aja."


Rara tidak menjawab, justru mengulurkan tangan, menyentuh jejak darah di pelipis Abimanyu. "Kamu lebih parah," bisiknya lemah.


"Begini doang enggak sakit."


"...."


Mungkin Olivia dsn Rose itu sebenarnya cuma gregetan melihat mereka berdua hidup dalam sandiwara mereka masing-masing. Buktinya ketika Rara menyelipkan jemarinya di sela rambut Abimanyu, menarik wajahnya, dan menciumnya tanpa izin, Abimanyu sedikitpun tidak menolak.


Kebohongan mereka sama-sama terlihat justru ketika jarak antara keduanya terkikis. Rara menyerahkan segalanya, segala-galanya pada Abimanyu dan Abimanyu menerima seluruhnya tanpa banyak bicara.


Tidak ada teriakan satu sama lain.


Tidak ada keegoisan satu sama lain.


Yang ada hanya kejujuran bahwa sebenarnya mereka masih ingin bersama dan mengakhiri aksi saling memunggungi ini.


*

__ADS_1


__ADS_2