
Rose melihat Rara dan Banyu berjalan bersama menuju ke sebuah tempat. Itu jauh tapi terlihat. Pada ujung sebelah Barat tanah luas ini, Juwita bersama sejumlah orang tampak berdiri di dekat makam. Itu makam bagian dari keluarga mereka yang menjadi korban, termasuk orang tua Rara.
"Rosella." Suara Adji mengalihkan perhatian Rose. "Badan kamu?"
"Baik-baik saja. Omong-omong, maaf soal rumahmu." Rose bicara kasual karena meski umurnya hanya sekitaran Lila, kedudukannya jauh di atas Adji. "Dan juga soal anakmu."
Adji hanya tersenyum. Tidak menegur sikap Rose karena memang itu sesuai dengan statusnya. "Tagihannya sudah saya kasih ke Abimanyu."
"Begitu. Aku bersumpah akan mengganti setiap sudut rumahmu yang rubuh. Itu adalah hutang." Rose membuka kipas di tangannya, mengipasi diri sendiri. "Juga ... terima kasih."
".... Saya turut berduka."
"Tidak ada yang perlu didukakan soal aku. Paman sudah siap mati dan Mama juga begitu." Rose menatapnya tegas. "Aku yang berduka atas kehilangan yang kalian alami. Jika bisa kubayar dengan emas, katakan saja jumlahnya."
"Enggak perlu. Pak Mahardika banyak bantu saya semasa beliau hidup. Dan ini bukan masalah pribadi siapa-siapa. Ini masalah negara. Sebagai warga sipil, tentu saya sekeluarga bisa jadi korban."
Rose mendengkus. "Kamu berbelas kasihan karena aku anak kecil, huh?"
Tentu saja. Mana mungkin Adji menyalahkan seorang anak perempuan bahkan kalau dia adalah penerus dari legenda seperti Mahardika. Kematian siapa pun kemarin, mau disalahkan pasa Rose pun, dia tidak akan mampu menerimanya.
"Jangan terlalu lama berdiri. Kamu belum pulih. Ayo, saya temani minum teh." Adji menepuk lembut punggung anak itu. "Juga mungkin ada yang perlu kita omongin."
Rose hanya mengangguk. Mereka akhirnya duduk di meja yang dipersiapkan Banyu untuk Rose-nya tersayang. Baru saja teh dihidangkan, seseorang datang membungkuk pada Rose.
"Nona."
Jeffrey, asisten pribadi dari Dion, penerus Mahesa yang lain.
"Ada apa?"
"Nona diminta segera kembali ke kediaman utama. Pertemuan Pertama akan segera dilaksanakan."
Rose menghela napas. Rasanya baru beristirahat sebentar, tapi sudah waktunya bekerja. "Aku mengerti."
"Sebelum itu, Nona, ada pesan untuk Nona."
"Dari siapa lagi?"
"Tuan Besar Mahardika."
Rose tertegun. Tanpa banyak basa-basi ia menerima secarik surat khas yang terbuat dari kulit dan bukan kertas. Tulisan tangan Mahesa yang ia hafal langsung menyapa Ross.
Dari sampingnya, Adji memandangi perubahan ekspresi Rose semakin lama dia membacanya. Entah apa pesannya namun yang jelas itu sangat penting.
"Panggil Abimanyu kemari."
__ADS_1
Adji sedikit mengerutkan kening saat mendengar nama anaknya. Pria paruh baya itu mengamati sampai Abimanyu datang. Seketika dia berkata, "Udah waktunya pertemuan?"
Rose menggulung kembali suratnya. "Benar."
"Kalo gitu saya panggil Olivia sama Abirama dulu."
"Sebentar." Rose mencegahnya. "Ada sesuatu dari Paman."
"Pak Mahardika?"
"Dia menyuruhku bersikap baik padamu."
"Apa?"
"Kekacauan kemarin hanya berlangsung tiga hari," Ross memejam, "tapi dampaknya kemungkinan bisa sampai enam puluh tahun kemudian."
"...."
"Kehilangan Paman bisa dibilang kehilangan segalanya. Dan hal yang paling harus kujaga sekarang adalah budak—maksudku, anak buah yang bisa dipercaya." Rose membuka matanya, menatap Abimanyu dengan wajah cemberut. "Aku mengizinkan kamu kembali pada istrimu jadi pastikan setia padaku sampai mati."
Abimanyu syok. "Pak Mahardika ... nyuruh kamu kayak gitu?"
"Tentu saja tidak, Bodoh. Kenapa juga Paman harus menyuruhku mengatur rumah tanggamu?" Eose mendengkus. "Sudah kubilang Paman menyuruhku bersikap baik."
"...."
"...."
"Kalau sudah mengerti jangan hanya diam seperti patung, Bodoh!" Rose mendelik. "Cepat bersiap! Aku ini orang sibuk!"
Abimanyu tersentak, masih sulit mencerna segalanya.
Namun Rose tidak peduli, menoleh pada Adji dan mengangguk padanya. "Maaf tidak bisa berbincang sekarang. Aku pergi dulu."
Adji tersenyum. "Kapan-kapan jangan sungkan mampir, Nak."
Rose membuang muka, walau sekilas dia terlihat menahan senyum.
Tatapan Adji berpindah pada Abimanyu yang masih terpaku kosong.
"Keajaiban ngeliat dia ngalah, kan?" gumam Adji. "Pak Mahardika pernah bilang ke Papa kalau keponakannya bahkan enggak mau dengerin beliau. Dia cuma mau sama keputusannya sendiri."
Sejak awal, gadis itu ingin menguasai Abimanyu dan memisahkan dia dari Rara. Mungkin karena dia merasa Abimanyu memperlakukannya cukup baik.
Tapi ... sepertinya dia juga belajar sesuatu dari kejadian ini.
__ADS_1
"Abimanyu." Adji menepuk bahu anaknya. "Kamu masih mau pisah?"
Abimanyu menunduk. "Aku udah bilang mau pergi," gumamnya nyaris tak terdengar. "Kalo sekarang aku bilang dikasih izin pun ... emangnya dia masih mau terima?"
"Jangan ngeremehin bodohnya perempuan." Adji mendengkus. "Mereka, udah tau sakit hati, udah tau bakal sering nangis, udah tau berat, tapi masih aja bodoh pertahanin. Masih aja bodoh sayang sama kita. Mau kamu bohongin jungkir balik pun bakal dimaafin kalo minta maaf. Kebodohan yang laki-laki susah buat lakuin."
Adji memukul keras punggung Abimanyu.
"Sana! Laki-laki ujung-ujungnya selalu minta maaf biar masalah kelar. Kalo mau nebus kesalahan, bikin istrimu senyum yang lebar."
Abimanyu menatap ke arah Rara, menemukan wanita itu tengah menangis di dekat kuburan orang tuanya.
Mayat kedua orang tua Rara sebenarnya dinyatakan hilang karena pencarian begitu sulit dilakukan di situasi ini. Namun Abimanyu, Banyu dan Cetta memutuskan untuk turun ke jurang agar bisa memakamkan mereka dengan layak.
"Kamu udah bodoh sayang sama aku." Abimanyu berbisik diam-diam. "Emang masih ada sisa buat sekarang?"
Ah, sialan.
Abimanyu merasa seperti pecundang karena pada akhirnya ia takut.
*
Sembari menunggu Abimanyu datang bersama Olivia dan Abirama, Jeffrey menoleh pada Rose yang tengah diperiksa oleh dokter.
"Nona."
"Hm?"
"Kenapa Nona berbohong?"
"Apa maksudmu?" Rose langsung membuka matanya dan terlihat jelas dia tahu maksud Jeffrey.
"Tuan Muda Dion membaca surat Nona sebelum meminta saya membawanya." Jeffrey berucap apa adanya. "Lalu Tuan Muda memberitahu saya kalau Tuan Besar Mahardika berpesan agar sejumlah kekayaan disisihkan untuk beberapa orang, termasuk Abimanyu. Untuk 'membayar' kesetiaannya juga membayar dampak kerusakan mereka kemarin."
Dengan kata lain, ucapan Rose soal 'berbuat baik' itu sebenarnya bohong. Mahesa secara jelas mengatakan perbuatan baik itu dilakukan dengan uang, tapi Rose mengatakan hal lain.
Padahal kekayaan yang seharusnya diberikan pada Abimanyu sudah Jeffrey bawa dan akan ia keluarkan begitu Rose memberi perintah.
"Paman menyuruh begitu karena tidak tahu situasinya." Rose kembali terpejam. "Abimanyu sudah cukup kaya untuk diberi harta. Tentu saja dia akan senang, tapi hanya sebatas itu. Untuk meminta kesetiaannya seumur hidup, aku harus merelakan sesuatu yang lebih berharga."
Dan juga ... sebentar lagi Rara akan punya anak. Jika kelahiran anak itu mempengaruhi emosi Abimanyu diam-diam, akan ada kemungkinan di masa depan Abimanyu berkhianat agar bisa pulang ke keluarganya.
Rose hanya melakukan apa yang diperlukan demi pertahanan diri. Tidak lebih dari itu.
*
__ADS_1
kalo makin dipanjangin lagi, kasian abimanyu sama rara-nya. gantinya ekstra part akan author suguhin adegan 'romantis' banyak-banyak. yang juga sebagai pembuka cerita anaknya abimanyu yang penuh air mata darah.