Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
30. Mendung Setelah Malam Pertama


__ADS_3

Satu badan Rara rasanya mau remuk. Apa karena belakangan ia bolos olahraga yah sampai-sampai ototnya pegal-pegal? Atau ... memang kemarin Abimanyu yang terlalu gragas? Tapi apa pun itu sebabnya, Rara sampai mengerang panjang ketika bangun.


Bersusah payah dirinya masuk ke kamar mandi, berendam air hangat untuk setidaknya melepas lelah. Yang lucu, bibir Rara justru mengulas senyum. Ia tak tahu kenapa—atau mungkin ragu mengakui alasannya apa—tapi Rara merasa suasana hatinya hari ini sangat bagus.


Badannya sakit tapi pikirannya malah tenang dan hatinya tentram.


"Eh, Mbak ngapain?" tegur Rara ketika seorang pelayan sibuk melucuti seprei kasurnya.


"Tadi Bapak nyuruh bersihin kalo Mbak Rara bangun, Mbak."


Rara buru-buru datang, mencegahnya. "S-saya aja sendiri. Saya bisa sendiri." Telinga Rara panas saat matanya jelas-jelas melihat noda bekas darah. Apalagi saat mendekat ada aroma aneh yang membuat darahnya semakin panas.


Dasar Abimanyu! Bahkan kalau pelayan itu bertugas melayani, tapi ada juga kali yang tidak harus diperlihatkan ke mereka!


Pelayan malah terkekeh. "Enggak usah malu, Mbak Rara. Yang begini normal kok."


Normal sih normal tapi tetap saja!


"Po-pokoknya saya aja, Mbak. Atau paling enggak saya aja yang bawa ke tempat cuci. Nanti Mbak yang cuci tapi pokoknya di sini saya aja."


Pelayan geleng-geleng melihat kelakuan Rara tapi akhirnya menyerah. "Kalo gitu Mbak Rara mau makan apa? Bapak tadi bilang kalau udah bangun langsung makan."


Rara malah gugup mendengar hal itu. "Abimanyu ke mana?"


"Oh, Bapak di bawah, Mbak. Ada Mbak Olivia dateng katanya ngurusin kerjaan."


Olivia? Olivia itu siapa?


Ah, Rara ingat. Maksudnya teman Abimanyu yang menghubunginya waktu itu hingga Rara memergoki Abimanyu menangis?


"Mereka temen deket, yah?" Ini seharusnya pertanyaan tidak berguna tapi Rara malah kelepasan menanyakannya.


Apalagi ekspresi pelayan yang mendengar itu langsung jadi canggung. Ekspresi seseorang yang tahu ada sesuatu tapi juga tahu tidak boleh diungkapkan demi menjaga kesehatan mental.


"Iya, Mbak, temen dekat." Oelayan menjawabnya diplomatis saja. "Kalo gitu saya bikinin sarapan dulu, Mbak."


"Enggak usah. Saya bisa sendiri." Rara pun berhenti di sana. "Saya mau bikin sendiri, sekalian buat Abimanyu."


".... Iya, Mbak." Pelayan memutuskan untuk tidak banyak bicara dan langsung keluar.


Beberapa orang sempat khawatir akan datangnya nyonya baru, apalagi pengalaman mereka melayani Sakura yang emosian dan sangat menyebalkan. Tapi setelah melihat Rara tampak cukup manusiawi dan sopan, pelayan berharap Rara betah.

__ADS_1


Atau setidaknya tetap waras.


Rara pun membereskan seprainya ke dalam keranjang lalu pergi memakai baju yang tersedia untuknya di lemari. Baru setelah itu Rara turun, membawa seprai ke ruang cuci, lalu bertolak ke dapur untuk membuat makan siangnya.


"Biar saya aja, Mbak." Pelayan lain yang bertugas di dapur menolak sopan Rara karena merasa tuan seharusnya menunggu saja. Tapi Rara bersikeras ingin membuat sendiri karena di rumah pun ia terbiasa membantu Mama di dapur.


"Saya suka masak jadi maklumin yah kalo saya kadang-kadang mau masak sendiri." Rara tersenyum manis, membuat pelayan di sekitarnya langsung terpesona.


Mereka terlalu terbiasa pada Sakura sampai-sampai menduga kalau nyonya baru mereka juga akan sama.


Rara membawa nampan makan siang buatannya ke meja makan, mengatur sedemikian rupa untuk dirinya dan Abimanyu. "Abimanyu di mana?"


"Di kamarnya Mbak Olivia, Mbak."


Pelayan di sebelah pelayan lain yang barusan menjawab langsung menyenggol lengan rekannya. Harusnya tadi dia bilang kamar tamu saja, jangan berterus terang mengatakan kamar Olivia. Itu kan tidak wajar seorang teman wanita punya kamar sendiri di rumah teman laki-lakinya yang punya istri. Walau dulu Sakura pun tidak banyak berkomentar mengenai hal itu.


Rara yang mendengar perkataan pelayan tentu saja terkejut. Tapi sesaat setelah itu Rara berhasil mengatup mulutnya dan tidak bertanya.


Ya Tuhan, hal tersulit dalam hubungan ini ternyata adalah sadar diri bahwa mereka bukanlah suami-istri normal. Rara padahal sudah berulang kali mengingatkan diri.


"Ranaya." Suara Abimanyu tiba-tiba terdengar dari belakang.


"Kalo saya enggak pulang jam empat, kamu pulang ke rumah orang tua kamu dulu."


"Mau ke mana?"


"Ada kerjaan." Abimanyu cuma membalas singkat lalu pergi tanpa menyadari mendung di wajah Rara.


Jangan sedih, begitu Rara membisiki dirinya. Dalam hubungan ini memang normal Abimanyu bersikap dingin.


Tapi kemarin dia bilang enggak bakal selingkuh, bantah diri Rara yang lain.


Omongan buaya dipercaya, ejek Rara yang satu lagi.


*


Sedangkan Abimanyu yang tidak menyadari mendung di wajah Rara kini fokus menatap tablet berisi foto-foto artis yang menurut Olivia positif sebagai pemakai.


"Jalur antar satu orang ke orang lain agak susah sih, menurut gue." Olivia menarik keluar rokok dari tasnya seraya memandangi jalanan di luar jendela mobil. "Firasat gue aja tapi kayaknya karena lo, orang yang paling ngerugiin bisnis mereka, itu suaminya Sakura jadi ya mereka udah mastiin koneksi mereka sama Sakura enggak transparan. Gue udah tanya lima puluh artis yang pernah ngobrol sama Sakura, termasuk artis-artis yang fans-nya jutaan orang, tapi mereka kayak punya koneksi yang beda."


"Maksud lo orang yang ngejual narkoba ke Sakura sama orang yang ngejual narkoba ke artis-artis lain itu sengaja dibedain?"

__ADS_1


"Besar kemungkinan."


Abimanyu menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi, menghela napas panjang. "Gue enggak peduli soal Sakura dulu. Intinya orang paling atas di kelompok mereka siapa."


"Lo tau enggak segampang itu nyari." Olivia mendengkus. "Tapi, Abimanyu, gue ngerasa masalah ini tuh enggak sekecil yang kita pikirin."


"Kalo berkasnya masuk ke Aliansi, jelas masalahnya besar."


"Maksud gue kayak," Olivia menoleh, "I don't know why but there's something big is going on."


"...."


"Gue khawatir lo kenapa-napa."


Abimanyu sepertinya mengerti arah kekhawatiran itu. Memang ada kemungkinan ini hanya umpan kecil untuk menghancurkan sesuatu yang besar. Tapi apa pun itu Abimanyu tidak akan membiarkannya.


"Masa depan negara masa depan adek-adek gue juga." Abimanyu memejam. "Enggak bakal gue biarin ada yang ngerusak sistem yang udah disusun sama Mahesa Mahardika."


Olivia tersenyum. Memang selalu begitu Abimanyu yang dia kenal. "Tapi ngomong-ngomong lo kayaknya lumayan nikmatin hubungan kontrak lo."


Abimanyu mengangkat alis. "Kenapa enggak? Cewek ya enak."


"Dasar brengsek. Maksud gue tuh dari sisi lain."


"Gue suka cewek asal enggak cerewet."


"Juwita cerewet lo suka juga."


Sindiran Olivia yang terang-terangan hanya dibalas dengkusan oleh Abimanyu. Pria itu meletakkan kepalanya ke kaca jendela mobil, menatap ke langit cerah di atas sana.


"Abimanyu."


"Hm?"


"Kira-kira ada cewek yang bakal gantiin Juwita di hati lo?"


".... Enggak ada."


Tidak mungkin akan pernah ada.


*

__ADS_1


__ADS_2