Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
49. Jangan Mati


__ADS_3

Hari-hari Rara menanti kepulangan Abimanyu diisi oleh banyak pelajaran, terutama dari kedua mertuanya. Papa Adji meluangkan waktu untuk mengajari Rara bagaimana cara memulai bisnis dan Rara sudah sepakat untuk menyerahkan dua puluh persen kekayaan pribadinya sebagai investasi atas nama Mama.


Dulu Rara pikir ngonten adalah jalannya mendapatkan uang hingga Rara banyak mengeluarkan uang pula agar punya kesempatan jadi terkenal, tapi sekarang Rara justru menolak-nolaki tawaran ngonten dari berbagai pihak tapi di tangannya sudah tersimpan sejumlah aset.


Di samping itu, Rara juga mendapat tawaran dari Juwita untuk membuka brand kosmetik milik bersama. 'Pekerjaan' yang Rara selama ini cari justru ia temukan di keluarga Abimanyu, bukan di teman-teman yang sejak lama berusaha ia dekati.


"Lo kayaknya bahagia banget," celetuk Banyu saat menemukan Rara tengah sibuk di depan laptop dekat kolam renang luar. "Bahagia abang gue enggak pulang?"


Rara tertawa. "Bukan gitu," balasnya seraya tersenyum lebar. "Bersyukur aja soalnya hidup aku jadi lebih sibuk sekarang."


"Orang sibuk kok bahagia." Banyu mendengkus.


Tapi dia datang, duduk di kursi santai sebelah kursi yang Rara gunakan. Pria itu tengah memegang semangkuk es krim dan mengulurkannya sebagai tawaran.


"Mau?"


Rara menggeleng. "Enggak suka mangga aku, maaf."


"Oh." Banyu menikmati es krimnya sendiri. "Ngomong-ngomong lo ... bahagia nikah sama Abang gue?"


"Kamu kan bisa liat sendiri."


"Lo enggak ngerasa bersalah sama Sakura?"


"...."


"Maksud gue bukan berarti gue bilang lo mesti ngerasa bersalah. Gue beneran cuma pengen tau soal ...."


"Kamu anak kedua yah?" Rara menutup laptopnya sejenak. Fokus menatap Banyu. "Anak tengah hitungannya kalo anaknya Tante Juwita enggak dihitung."


"Emang kenapa?"


"Aku anak tunggal." Rara tersenyum muram. "Orang bilang jadi anak tunggal itu enak. Emang sih, enak banget. Disayang banget, dijagain hati-hati banget karena satu-satunya. Tapi namanya manusia enggak mungkin seratus persen bahagia. Anak tunggal itu, apalagi yang disayang, itu dikekangnya minta ampun. Enggak boleh begini, enggak boleh begitu, enggak usah begini, enggak usah begitu. Mungkin aneh yah buat sebagian orang tapi aku tuh kadang suka iri sama mereka yang punya orang tua suka nyuruh. Kayak, kamu kerja dong cari uang sendiri, jangan taunya minta uang aja. Aku selalu pengen digituin juga. Karena aku ngerasa aku terlalu dimanja sampe enggak bisa berguna buat siapa-siapa."

__ADS_1


Banyu hanya menatapnya tanpa suara.


"Kamu anak kedua. Katanya anak kedua itu, anak tengah, cenderung enggak diperhatiin. Harapan tertinggi dikasih ke anak pertama, kasih sayang dilimpahin ke bungsu. Kadang-kadang anak kedua cenderung dilupain—walaupun mungkin enggak tapi rasanya kayak dilupain karena yah ada yang lebih duluan dan lebih di belakang yang mesti diperhatiin."


"...."


"Abimanyu bilang ke aku kalau kamu iri sama dia. Dalam arti kamu selalu berusaha ngasih yang terbaik, tapi orang tua kamu, terutama Tante Juwita, itu seakan-akan cuma fokus sama Abimanyu. Makanya enggak heran kalau kamu benci sama Abimanyu."


Banyu tampak menatap kosong permukaan kolam renang.


"Banyu, ini bukan nasehat ataupun ngajarin kamu soal kehidupan. Sama sekali bukan. Ini cuma pendapat pribadi yang aku sendiri berusaha terapin di hidup aku." Rara memejamkan matanya lembut. "Kamu dateng ke sini karena kamu terganggu, kan? Kamu terganggu kalau Abimanyu bikin masalah karena itu nyusahin Tante Juwita, tapi kamu juga terganggu kalau Abimanyu bahagia karena kamu ngerasa dia enggak pantes. nginget dosanya. Tapi, Banyu, kalau kamu gantungin hidup kamu ke hidup Abimanyu, emangnya kamu beneran bisa bahagia?"


Banyu kembali menyendok es krim di tangannya. Dengan ekspresi muram dia bergumam, "Gue enggak ngerti lo ngomongin apa."


Bibir Rara hanya mengulas senyum kecil, juga kembali membuka laptopnya. "Anggep aja omongan enggak penting," balasnya seolah percaya.


*


Sudah dua puluh delapan hari. Hari ini adalah puncak dari perang dan skalanya bisa dibilang yang terbesar. Abimanyu menatap jam tangannya yang menunjukkan tanggal dan pukul berapa sekarang ini.


"Ya enggak gimana-gimana," balas Rohan menertawakannya.


"Dasar anak yatim!" ejek Samuel tak mau kalah.


"Kita ini kan judulnya mafia juga, yah," celetuk Denis. "Terus ngape jadi kita yang mati-matian bunuhin tero-ris sampe ikutan mati juga?"


"Lo semua, kenapa malah berdoa mati sih?" Salim menegur sebal. Nampaknya dia tegang dan merasa kalau candaan semacam ini tidak pantas dibahas sekarang.


Tapi Samuel malah berkata, "Oi, Bi, lo udah nulis surat wasiat enggak?"


"Gue kasih Olivia." Abimanyu memejamkan mata sejenak. "Kalo gue enggak balik, gue minta dia ngasih setengah duit gue ke Ranaya, sisanya buat keluarga gue."


"Lo pada mah anteng. Lah gue? Anak gue dua, bre," keluh Denis.

__ADS_1


"Gue juga punya anak, cok." Rohan menyambar.


Tapi pembicaraan itu terhenti oleh satu suara yang berkata, "Kalo kalian semua mati dan Aliansi masih idup berkat kalian, satu triliun buat keluarga kalian juga disanggupin."


Itu suara Hara, pemimpin mereka.


"Bisa enggak, Bos, gue enggak mati terus digaji satu triliun beneran?" Samuel langsung bertanya, tapi langsung diumpati oleh yang lain.


Abimanyu cuma ikut tertawa kecil. Paling tidak ketenangan mereka kembali berkat candaan itu. Dalam hatinya Abimanyu juga berharap bahwa ia bisa cepat pulang menemui Rara. Abimanyu merasa sedikit sedih membayangkan ia sungguhan tak pulang dan wanita itu kesepian tanpanya.


"Eksekutif, siap-siap."


Komando itu memangkas seluruh basa-basi, membuat semua orang fokus di tempat. Hanya butuh waktu satu menit untuk sebuah ledakan besar terjadi, memekak telinga siapa pun yang mendengarnya.


Abimanyu pun memimpin divisinya yang ditempatkan di garis depan penyerang. Suara tembakan demi tembakan kian mewarnai sunyi malam. Tanpa harus diapresiasi oleh siapa pun dan diketahui oleh siapa pun, sekelompok pria muda itu mempertaruhkan nyawa demi melindungi negara, terutama keluarga-keluarga mereka.


Sebuah misil diluncurkan dari pihak musuh, menghantam tempat Abimanyu berada. Ledakan dahsyat tak terelakkan. Abimanyu berguling di tanah, tak mampu mengendalikan tubuhnya yanh lemas akibat dampak ledakan. Telinganya berdengung dan darah mengalir dari kepalanya saat Abimanyu berusaha tetap memberi perintah serangan balasan.


Ketika semuanya hampir gelap gulita, Abimanyu merasakan sentuhan kecil di kepalanya.


"Abimanyu."


Suara-suara tembakan dan ledakan terasa sangat memusingkan, apalagi dengan luka berat di kepalanya. Abimanyu berusaha membuka mata untuk melihat siapa pemilik suara lembut itu.


"Juwita?"


Abimanyu melihat Juwita.


Tidak, tidak mungkin. Tidak mungkin Juwita ada di sini.


"Kisa—"


"Kamu enggak boleh mati," kata perempuan itu, menarik tubuh Abimanyu. "Aku siap jadi Juwita buat kamu jadi jangan berani mati."

__ADS_1


*


__ADS_2