Abimanyu : Pelakor Sewaan

Abimanyu : Pelakor Sewaan
65. Alasan Kisa


__ADS_3

Abimanyu tersenyum saat melihat ponsel barunya mati persis setelah ia mematikan panggilan dari Rara.


Dia mungkin akan menangis semalaman tapi Abimanyu tidak punya pilihan lain. Ia sangat mau berjanji untuk pulang tapi Abimanyu juga sadar kalau ia berhadapan dengan bahaya besar. Kalau sampai ia berjanji lalu tak bisa kembali, Rara pasti akan sangat terluka.


"Maaf, yah." Abimanyu berbisik pada angin. "Aku belum becus bikin kamu bahagia."


Begitu Abimanyu menyelesaikan urusannya dengan Sakura, ia bersumpah akan meluangkan banyak waktu dengan Rara.


"Lo udah selesai?" tanya sebuah suara yang seketika mengalihkan Abimanyu.


"Udah." Abimanyu mengantongi ponselnya dan berbalik. "Tapi lo serius mau nemenin gue, Bos?"


Dari semua orang, Hara sebagai bos dari Aliansi sekaligus perwakilan Mahesa Mahardika di organisasi mereka justru turun tangan langsung. Abimanyu berterima kasih karena peluang hidupnya meningkat pesat, tapi ia sedikit bingung kenapa Hara repot-repot.


"Istri pertama lo udah dihitung tero-ris begitu dia bocorin banyak informasi buat kepentingan pribadi." Hara membakar ujung rokoknya. "Gue perlu mastiin dia enggak ada di dunia lagi."


Abimanyu hanya berpaling memandangi lautan. Sedikit ia bersimpati pada Sakura yang menggila gara-gara Abimanyu.


Semuanya memang bermula dari Abimanyu memintanya menikah tanpa cinta. Berpura-pura mencintainya hingga dia berharap kehidupan mereka akan semanis dunia dongeng.


Tapi ... Abimanyu tidak bisa bersimpati lebih jauh. Karena pada akhirnya yang memilih jalan ini adalah Sakura sendiri.


*


"Ma, Pa."


Kedua mata Rara bengkak akibat tangisan. Namun wanita itu memaksa dirinya tidak hanya menangis melainkan juga bergerak. Dalam kondisi dada sesak dan rasanya dunia berguncang hebat, Rara mengambil tasnya, turun ke bawah menghampiri orang tuanya.


"Aku izin mau ke rumah suami aku dulu," kata Rara tanpa bisa mengatur suara gemetarnya.


"Kamu kenapa?" Papa langsung beranjak. "Kenapa nangis, Nak? Abimanyu kenapa?"


"Enggak pa-pa. Dia disuruh tugas jauh sementara jadi aku mau nganterin."


"Tugas? Tugas apa—"


"Pa." Rara menggenggam kuat lengan Papa berharap beliau paham setidaknya sekarang biarkan ia pergi.


Rara sudah mengerti bahwa Abimanyu mengemban tanggung jawab besar tanpa sepengetahuan siapa pun. Rara juga sudah mengerti bahwa kapan saja ia bisa kehilangan pria itu.


Tapi setidaknya Rara tidak mau berpisah begini. Tidak setelah mereka seolah-olah memang harus bercerai.

__ADS_1


"Oke." Papa mengangguk. "Kamu boleh pergi."


"Pa." Mama sempat mau menghentikan tetapi Papa menggeleng dan menyuruh Rara untuk segera pergi.


Wanita itu berterima kasih sambil bergegas menuju pintu keluar. Tapi baru saja Rara menginjakkan kaki di teras, sejumlah orang berseragam hitam tiba-tiba menghalanginya.


"Nyonya Ranaya Syiham?" kata seseorang yang maju dan menunjukkan tanda pengenal resminya. "Kami kelompok pengawal khusus yang ditugaskan menjaga Anda. Menurut perintah, Anda tidak boleh meninggalkan kediaman ini untuk keperluan apa pun. Saya harap Nyonya mengerti dan kembali ke dalam."


"Ada apa ini?" Papa ternyata mendengar hingga langsung keluar. "Kalian siapa?"


Rara hanya menutup matanya kuat-kuat, berusaha keras untuk tidak berteriak frustrasi. Telinganya bahkan sudah tidak bisa mendengar suara Papa berbicara dengan pengawal yang mengaku ditugaskan secara langsung oleh Menteri Pertahanan.


Dasar pria sialan itu. Apa kali ini dia benar-benar mau meninggalkan Rara? Bukankah seharusnya dia berjanji menghadapi ini bersama?!


*


Suara detak jam memenuhi ruang makan kediaman Abimanyu. Selain dari itu tidak ada lagi suara, termasuk suara tangisan bocah yang beberapa waktu lalu menghiasi rumah.


Juwita sedang menemani Abirama tidur sedangkan Dian hanya mengurung diri di kamar setelah Abimanyu pergi. Di meja makan bersama hidangan koki, Banyu hanya memandanginya penuh kekosongan.


Pria itu menjatuhkan kepalanya ke sandara kursi, mengembuskan napas dari mulut hingga mulutnya menggembung. Siapa pun yang melihatnya sekarang pasti sadar Banyu sedang memikirkan sesuatu yang terlampau rumit untuk dipikirkan.


"Bawa Kisa turun," perintahnya singkat.


Perempuan berwajah Juwita itu dibawa turun dengan tangan terborgol. Pengawal membawanya berdiri di samping kursi, tapi Banyu memberi isyarat agar Kisa dibiarkan duduk.


"Lepasin borgolnya."


"Tapi, Pak ...."


"Lo berdua cowok, gue cowok, di depan banyak cowok," kata Banyu. "Kalo satu cewek beneran bisa kabur dari sini, lo semua termasuk gue potong burung aja."


Borgol Kisa seketika dilepaskan. Memang sudah mustahil dia kabur bahkan sekalipun dia berusaha setengah mati. Penjagaan Aliansi ditambah militer yang menyamar menjaga sekitaran rumah ini telah menghapus kemungkinan Kisa bisa melarikan diri.


"Maksud kamu apa manggil saya lagi?" tanya perempuan itu datar. "Atau apa? Kamu mau nanyain soal Sakura lagi?"


"Hm. Bisa dibilang lo belum dihukum mati ya karena lo masih punya guna." Banyu menopang dagu. Matanya memandangi sosok Juwita di wajah Kisa. "Jadi Sakura sekarang di mana?"


Untuk kesekian kali, Banyu menanyakan hal sama.


"Kalo saya kasih tau pun emang kenapa? Kamu mau kasih tau Abimanyu?" Kisa mengambil sendok tanpa diminta, memakan hidangan di meja tanpa ragu. "Kalian terlalu ngeremehin musuh kalian selama ini. Pegang omongan saya, Banyu, Abimanyu ENGGAK MUNGKIN pulang."

__ADS_1


"Gue sih enggak peduli-peduli amat itu Bangsat pulang apa enggak. Mau mati di sana juga bukan urusan gue."


"...."


"Gue lebih penasaran sama lo." Banyu tiba-tiba menahan tangan Kisa di atas meja, persis setelah dia mengiris daging.


Perempuan itu meringis tapi matanya terlihat tenang saat melirik Banyu.


"Lo tau yang lo jagain udah enggak guna sekarang. Siapa pun yang berusaha lo selametin, itu mungkin udah mati begitu Dian dimunculin. Tapi here you go, masih keras kepala."


"...."


"Lo nih menyedihkan yah." Banyu tiba-tiba melepaskan tangannya, tertawa mengejek. "Udah tau dijadiin alat, masih aja ngerasa lo punya harga."


Wajah Kisa seketika memerah. Itu bukan malu karena Banyu berani mengejeknya, bukan pula kesal karena Banyu menghinanya, tapi itu kemarahan. Kemarahan besar yang beberapa saat kemudian membuat Kisa beranjak, memegang pisau makan dan menerjang Banyu.


Tubuh Banyu jatuh begitu saja di atas lantai, menahan kuat-kuat pergelangan tangan Kisa yang hendak menusuknya. Tapi satu tangan lain Banyu gunakan memberi isyarat pada semua pengawalnya untuk menurunkan senjata mereka.


Karena nyatanya sekarang Kisa menangis.


"ORANG YANG BISA MILIH KAYAK KAMU EMANGNYA TAU APA SOAL SAYA?!" Begitu dia berteriak sambil terus berusaha menusuknya. "ORANG YANG BEBAS NGEJEK ORANG LAIN KAYAK KAMU TAU APA SOAL SAYA?!"


Banyu hanya menatapnya tanpa ekspresi.


"Tau," jawab pria itu tenang. "Gue tau."


"BERISIK! KAMU ENGGAK TAU! KAMU ENGGAK TAU MAKANYA KAMU CUMA—"


"Nyokap lo."


Persis setelah Banyu mengatakannya, ekspresi marah di sana berubah menjadi ketidakmampuan. Keputusasaan yang membuatnya mengerang dalam tangisannya.


"Yang mereka tahan nyokap lo, kan?" Banyu tetap melanjutkannya sekalipun gadis itu menangis kencang. "Satu-satunya hal di dunia yang bisa bikin anak mau ngubah mukanya sendiri, jadi musuh negara, bisa mati kapan aja, menurut gue cuma satu."


"...."


"Itu nyokap. Selalu nyokap."


*


sekali lagi, mohon pengertian pembaca yah. author lagi ngurus keluarga yang sakit. tangan author cuma 2. 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2